MAMPIR MEDANG (52) : Sukses Manusia, Sukses Tuhan

Tidak diciptakan jin & manusia melainkan untuk beribadah. Ibadah berupa pengabdian berbentuk apa saja, termasuk bekerja keras.

Kenikmatan manusia seharusnya adalah ketika sedang menjalani kodratnya sebagai Abdulloh, yakni mengabdi.

Maka suksesnya manusia adalah ketika ia bisa menikmati kerja keras yang ia jalani, pengabdian yang ia kerjakan.

Kalau kaya atau tidak lagi miskin, itu bukan suksesnya manusia, sebab itu regulasinya Allah. Menjadi kaya atau menjadi tidak lagi miskin itu bukan suksesnya kita, itu suksesnya Allah.

(Diolah dari: Agus Sukoco)

MAMPIR MEDANG (46) : TUHAN MAHA CEREWET

Hakikatnya Tuhan tidak tega menurunkan kita ke bumi. Analoginya adalah orang tua yang mengirim anaknya untuk melanjutkan sekolah di pesantren yang jauh.

Apa dikira orang tua tega? Orang tua tidak tega, tetapi harus tetap dilakukan. Demi sebuah misi bagi kebaikan anaknya.

Rasa tidak tega itu kemudian membuat orang tua berpesan banyak hal sebelum kita berangkat. Bahkan ketika sudah di bumi Tuhan masih saja dengan ‘cerewet’-nya memberikan pesan-pesan wejangan.

Semua itu berasal dari rasa tidak tega-Nya. Sepertihalnya orang tua yang tidak tega anaknya berangkat mondok, lalu cerewet berpesan ini itu banyak sekali.

Bahkan Dia menurunkan utusan untuk ‘menjenguk’ kita. Muhammad sebagai utusan-Nya untuk menjumpai kita di bumi, yang nomor satu adalah merepresentasikan ketidaktegaan.

Para ustadz yang menyimpang, bukan menyampaikan pesan-pesan dengan penuh rasa ketidaktegaan, tetapi malah sebaliknya, misalnya: “Kerjakan ini, kalau tidak Tuhan marah”.

(Diolah dari: Agus Sukoco)

MAMPIR MEDANG (33) : MELIHAT TUHAN DI SEBATANG ROKOK

Ketika di tengah malam saya terbangun, sebab terasa lapar di perut maka segera saja saya menyantap makan malam. Sehabis makan, sudah menjadi ritual saya adalah menyecap sebatang rokok.

Pada saat itu saya habis rokok. Sebab di desa, warung-warung sudah tutup.

Masih menjadi kebiasaan di desa saya pada waktu itu, warga buang air di sungai. Tepat saya membuka pintu hendak mencari angin di luar sebagai pelipur tak ada rokok, tiba-tiba seorang warga melintas di depan rumah saya. Rupanya ia baru saja kembali dari sungai, selesai buang hajat.

Mampirlah seseorang tersebut, berbincang berbasa-basi dan menawarkan sebatang rokok.

Siapa gerangan yang mengepaskan adegan bangun malam saya dan adegan buang hajat seorang warga itu? Sehingga pada malam itu saya ‘seolah-olah’ diantari sebatang rokok di saat saya membutuhkannya?

Kalau saya bangun lima menit saja lebih lambat, atau seorang warga itu selesai buang hajat 5 menit lebih cepat, tidak terjadi kejadian itu.

Dari peristiwa yang nampaknya sederhana itu, sebetulnya yang terjadi tidaklah sederhana. Tinggal bagaimana kita bisa melihat Tuhan di momentum hadirnya sebatang rokok malam hari itu. [] RedJS

Dipanggil dari Neraka

Ada dua orang di neraka hari itu dipanggil oleh Tuhan. Yang satu masuk neraka karena tidak pernah mentaati perintah Tuhan, yang kedua masuk neraka karena tidak pernah berbaik sangka kepada Tuhan.

Setelah selesai, yang satu dipersilahkan kembali ke neraka. Ia berjalan dengan perlahan sekali, lalu Tuhan memanggilnya kembali : “Kamu kenapa jalannya pelan sekali?”, tanya Tuhan. “Saya selama ini tidak pernah berbaik sangka kepada-Mu, maka ijinkan saya sekali ini saja berbaik sangka kepada-Mu. Saya berjalan sambil memikirkan, tidak mungkinlah Engkau hendak mencelakakan hamba-Mu ini”, jawabnya. “Oh, jadi kamu berbaik sangka kepada-Ku?” kata Tuhan. “Kalau begitu kamu keluar dari neraka”.

Kemudian giliran orang yang satunya dipersilahkan kembali ke neraka. Ia berjalan dengan cepat terbirit-birit, lalu Tuhan memanggilnya kembali : “Kamu kenapa jalannya cepat sekali?, tanya Tuhan. “Saya selama ini saya tidak pernah menuruti perintahmu, maka ijinkan kali ini saya mematuhi perintahmu”, jawabnya. “Oh, jadi kamu patuh pada perintah-Ku?” kata Tuhan. “Kalau begitu kamu keluar dari neraka”.

Begitulah cerita dua orang itu. Maka, sekarang kamu berbuatlah semaumu saja. Nanti, pas dipanggil Tuhan, kamu lakukan seperti yang dua orang itu lakukan…beres deh tidak jadi masuk neraka. Kalau kamu dipanggil…. hahaha

:: Cerita dari : Cak Nun