MAMPIR MEDANG (42) : SALAH MANCAK

Allah tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan yang dimiliki hamba-Nya. Apa betul itu?

Ya betul, sebab itu firman.

Lalu kenapa ada orang yang putus asa sebab tidak kuat menanggung hidup?

Coba diperiksa apa yang ditanggung dalam hidup kita. Sebab jangan-jangan bukan bebannya terlalu berat, tetapi kita saja yang salah mancak.

Sehingga keseleolah pergelangan tangan kita.

Misal seseorang harus mancak atau menerima beban seonggok batu yang berat kilogramnya sudah dihitung pasti sanggup diterima oleh ukuran orang dewasa. Tetapi kok bisa keseleo? Iya bisa, sebab tangan salah posisi.

Mau batu yang jauh lebih ringan pun, akan tetap keseleo kalau begitu cara mancak-nya.

(Diolah dari: Agus Sukoco)

Reportase: SALAH LOGIKA

Orang Barat maju dalam hal teknologi eksternal, sedangkan orang timur maju dalam hal teknologi internal. Namun, diam-diam Barat mencuri teknologi internal kita yakni mistisisme timur yang mereka transformasikan dalam berbagai istilah baru seperti psikoterapi, metafisika, psikologi transpersonal dan lainnya. Akan tetapi bagaimanapun, Barat akan kalah bakat dalam mengembangkan teknologi internal kita itu, sebagaimana kita selalu tertinggal sekalipun bersusah payah mengejar teknologi eksternal yang dipunyai Barat. Jadi, jangan salah logika kita merasa lebih rendah dari Barat, kita hanya beda bakat saja dengan mereka.

Selain dicuri oleh Barat, mistisisme timur dicaci habis-habisan oleh kelompok Islam Puritan dengan stigma: tabbaruk, bid’ah dan churafat. Disini kita juga jangan salah logika lagi, jangan sampai kita terseret oleh upaya redefine mereka atas ajaran yang Rasulullah bawa sesuai kepentingan mereka. Lakukanlah pendalaman atas agama Islam, betapa banyak sinkronisasinya dengan kearifan lokal Nusantara.

Nusantara pernah jaya di masa lalu. Logikanya, tidak mungkin ada konsep yang bisa mengantarkan kejayaan selain Islam, itu kalau kita meyakini Islam. Jangan terjebak oleh istilah, hanya karena pada saat Pra abad ke-6 Masehi, istilah Islam belum dipakai. [] RedJS

 

Salah Guna, Benar Guna

Kampanye anti narkoba, tapi bergambar ketua lembaga kampanye anti narkoba. itu maksudnya apa? saya mencoba mengira-ira. Apakah memang narkotika itu harus dijauhi? Tidak, yang harus dijauhi adalah PENYALAHGUNAAN narkotika. Narkotika, morfin, ganja, marijuana, dll boleh kok digunakan, asal oleh tenaga medis dan orang-orang yang mengetahui ilmunya.

Inilah yang keliru, begitu mendengar kampanye penyalahgunaan, seolah-olah kata itu menjadi 100% haram. Dalam pandangan saya, kampanye anti narkoba dengan baliho-baliho adalah confuse, bingung dan membingungkan. pertama : kenapa obyek primer di baliho itu justru ketua lembaganya? Apa karena numpang anget selagi nyaleg? Amanah darimana orang yang numpang anget dengan statusisasi sosial seperti itu?

Kedua : dengan jumlah orang yang melihat baliho tidak terbatas, itu menjadi banyak manfaatnya atau banyak mudharatnya. Berapa anak muda yang justru tahu pertama kali tentang narkoba dan penasaran ingin mencobanya justru karena setiap hari tiap berangkat sekolah lihat itu baliho?

Lebih spesifik pasti lebih baik. Kepada segmen masyarakat A misalnya, media promonya adalah brosur, materinya adalah tentang pencegahan. Kepada segmen masyarakat B misalnya, media promonya berbentuk pelatihan misalnya, materinya adalah penyembuhan. Dan seterusnya. Itu lebih ngena sasaran.

Belum lagi dampak, kita menjadi lahirnya sikap antipati membabi buta. dikiranya narkotika pasti jelek. morfin pasti jahat, dll. Hal serupa ini terjadi di tempat lain, misalnya di pengajian-pengajian, ada ceramah bahaya PENYALAHGUNAAN logika. Eh dampaknya malah seluruh jamaah pengajian antipati 100% dengan logika dan tidak pernah menggunakan logika. Owalah cah ayu, cah bagus.. yang tidak boleh itu penyalahgunaan logika. Logika tetap harus digunakan, asal jangan disalahgunakan. Sama seperti Narkotika tetap harus digunakan di kalangan medis misalnya, yang tidak boleh itu disalahgunakan.

Apa akibatnya kalau kita tidak pernah menggunakan logika? [] Rizky Dwi Rahmawan