Terus Ber-progress Tidak Sepenggal-Sepenggal

Kiri dikira komunis
Kanan dicap kapitalis
Keras dikatai fasis
Tengah dinilai tak ideologis

Muka klimis katanya necis
Jenggotan dikatai teroris
Bersurban dibilang kearab-araban
Bercelana Levi’s di-bully kebarat-baratan

“Bingung” – Iksan Skuter

Hari terus berganti. Kalender bulan terus bergerak. September datang menggantikan Agustus, bulan monumental dan heroik bagi seluruh rakyat Indonesia. Rangkaian peringatan proklamasi kemerdekaan jamak dirayakan di mana-mana. Bahkan di masa Pandemi yang memaksa kita untuk jaga jarak dan menghindari kerumunan, masih ada saja yang nekad merayakan ulang tahun kemerdekaan dengan aneka lomba khas pitulasan.

Bagi Rohman, penggiat Maiyah asal Purbalingga, bulan Agustus adalah bulan yang selalu membuatnya bingung—senada dengan lagu “Bingung” dari Iksan Skuter yang malam itu dinyanyikan Hirdan. Sebagai seorang pemuda yang cukup terdidik di desanya, ia kerap kali dipercaya menjadi anggota Panitia Peringatan Hari Besar Nasional.

Yang membuat Rohman bingung adalah ingar-bingar perayaan pitulasan di kampungnya hanya sebatas acara senang-senang, bergembira-ria melepas kepenatan hidup. Proklamasi 17 Agustus sebagai peristiwa politik belum bisa dijadikan momentum refleksi yang kritis tentang cita-cita berbangsa dan bernegara.

Alam bawah sadar kebanyakan orang mengira Indonesia sudah selesai dengan penjajahan asing sejak tujuh puluh lima tahun yang lalu. Kita kurang waspada bahwa penjajah fisik telah beralih rupa menjadi sedemikian halus. Mengutip yang disampaikan Pak Toto Rahardjo melalui conference call di Juguran Syafaat (12/09) lalu, sekarang mereka tidak perlu mendatangkan VOC dan serdadu untuk menjinakan Indonesia, mereka kini datang sebagai teman baik—dengan membawa setumpuk kepentingan ekonomi-politik.

Pak Toto Rahardjo, aktivis pendidikan rakyat, malam itu dari kejauhan di Yogyakarta sana menemani rutinan edisi yang ke-90. Duduk santai di atas kursi besar dan dengan kepulan putih asap rokok yang menghiasi tampilan layar monitor, Pak Toto menjelaskan masa peralihan kolonialisme ke neo-kolonialisme atau yang sekarang santer disebut dengan neo-liberalisme dan globalisasi—narasi realitas ekonomi-politik yang jarang diketahui publik.

Menelusuri era Perang Dingin paska Perang Dunia II, saat itu banyak berdiri negara-negara baru yang melepaskan diri dari kolonialisme purba. Negara-negara baru di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang mencoba berdaulat mengatur nasib bangsanya tidak serta merta bisa melenggang mulus di tengah himpitan pengaruh dua ideologi besar dunia: kapitalisme dan komunisme.

Sebagian negara-negara baru itu terpesona dengan gagasan komunisme. Bahkan, menurut Pak Toto, situasi pada saat itu sudah pada taraf sentimen anti-kapitalisme dan anti-Amerika. Tidak mau kehilangan pengaruh (dan basically: akses pasar dan gerak modal lintas negara) maka Presiden Amerika, Harry Truman, meluncurkan kapitalisme dengan strategi bantuan finansial (hutang) dan kemasan nama baru (repackaging) yang lebih enak didengar, yaitu developmentalisme alias ideologi pembangunan.

Dan akhirnya, rencana Amerika berhasil. “Developmentalisme diterima oleh banyak negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia dengan Amin…amin… Ya robbal alamin,” seloroh Pak Toto.

Kejahatan neo-liberalisme dan globalisasi akan lebih mudah kita endus jika kita mau menengok realitas ekonomi makro Indonesia dewasa ini. Liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi sektor-sektor ekonomi yang menyangkut kebutuhan dan hajat hidup orang banyak dengan alasan ‘good goverment’. Kerusakan alam dan lingkungan hidup akibat industrialisasi yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

Lalulintas modal asing dan produk impor yang membanjiri pasar domestik dengan dalih ‘laissez-faire’. Neo-liberalisme dan globalisasi sangat mengagungkan pasar bebas atau ‘free market’ dan mereduksi hakekat manusia menjadi sebatas konsumen belaka (homo economicus). Konsumen dengan gaya hidup global, budaya global, dan identitas global. Globalisasi membuat kita sebagai komunitas masyarakat termarjinalkan.

Cengkraman gurita globalisasi nampaknya mustahil untuk dilawan. Aktor-aktor globalisasi seperti World Bank, IMF, dan Trans National Corporations sudah dan terus bergerak liar menancapkan hegemoninya lewat propaganda, iklan, pendidikan, bahkan institusi negara. Namun, menurut Pak Toto, situasi pandemi ini bisa menjadi momentum yang tepat bagi komunitas atau klaster untuk bangkit gotong-royong memberdayakan potensi-potensi lokalnya, sebab terpaan pandemi terbukti bisa menghambat laju globalisasi.

Hanya Covid-19 ini yang sudah sanggup menghentikan lalu lalang pesawat terbang dan kereta api. Hanya Covid-19 ini yang sudah sanggup membersihkan udara kota metropolitan dari cerbong asap pabrik. Dan, hanya Covid-19 ini yang sanggup mengingatkan orang tua agar tidak pasrah bongkokan kepada lembaga sekolah dalam mendidik anaknya.

Dalam kesempatan conference call tersebut, Pak Toto juga mengapresiasi upaya yang sedang dilakukan Kukuh Prasetiyo, penggiat Maiyah asal Purwokerto Timur, yang sedang concern di berbagai program pendampingan UMKM yang banyak digawangi oleh kalangan pemuda. Pak Toto sangat menekankan peran komunitas sebagai klaster. Beliau mengemukakan dalil Al Quran surat Ar-Ra’d ayat 11 di mana kelompok manusia disebut dengan terminologi kaum bukan umat atau negara.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d ayat 11)

Movement-nya memang tidak mudah, karena sampai saat ini mindset kita sudah terlanjur ‘apa-apa tuku’. Dan repotnya lagi, barang kebutuhan pokok (basic needs) itu sudah tidak mampu kita produksi sendiri. Ketika sayur, garam, kedele, beras, dan jagung saja impor, ini sudah sangat problematik.

Dari diskusi hangat sekitar tiga jam, akhirnya tercapai lima poin kesimpulan: Pertama, identifikasi kebutuhan pokok klaster yang memungkinkan bisa diproduksi mandiri. Kedua, pemetaan potensi klaster agar produksi tidak homogen. Ketiga, produksi untuk mencukupi kebutuhan sendiri dulu. Jangan terburu-buru untuk mengorientasikannya pada pasar. Keempat, mencatat pengeluaran harian keluarga. Meneliti pos pengeluaran yang bisa distop (produksi mandiri) dan yang tidak bisa diproduksi sendiri. Kelima, kesatuan alam berpikir dan bertindak dalam bingkai gotong-royong dan bebrayan agung dalam lingkup masing-masing klaster.

Dari lima pointers yang mestinya menjadi bahan tindak lanjut seluruh Jamaah Juguran Syafaat pada klaster terkecil di tempatnya masing-masing tersebut, mestinya kita masih mempunyai cukup waktu untuk pergi meninggalkan pandemi ini nanti dengan sudah membawa oleh-oleh perubahan diri.

Begitu ditekankannya penguatan klaster oleh Bapak Komunitas Indonesia itu tidak sama sekali Beliau menitikberatkan pada pemadatan kelembagaan kelompok tertentu. Hanya menitikberatkan pada identitas, pelembagaan dan jargon yang wah belaka hal tersebut masihlah berupa penggalan-penggalan dari prasyarat menuju kehidupan kolektif yang maju tak tertandingi.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Pak Toto pada sebuah kesempatan di waktu yang lalu, identifikasi kemajuan kelompok diukurnya pada: Mandeg atau selalu ber-progress. Dari waktu ke waktu hendaknya kita senantiasa ber-progress membuat kesepakatan-kesepakatan bersama yang terus meningkat.

Maka muaranya, kita akan hidup di tinggal di dalam sebuah klaster yang kuat dan kokoh. (Febri Patmoko/RedJS)  

Competition in Wisdom

Jagat alam raya (makrokosmos) dan jagat manusia (mikrokosmos) menyajikan hamparan pristiwa dan jutaan informasi. Dalam teori alam berpikir, seliweran informasi yang masuk ke dalam benak manusia digambarkan sebagai titik (dot) yang banyak sekali. Lalu, bilamana titik-titik informasi saling terkoneksi membentuk garis, terciptalah pengetahuan (knowledge). Garis imajiner ini juga mencerminkan konteks pengetahuan manusia.

Kemudian jika diagram titik-titik itu menyala, berarti muncul insight. Puncak hirarki berpikir adalah dua atau lebih garis dengan titik yang menyala, yaitu hadirnya kebijaksanaan (wisdom). Penjelasan teoritis tersebut di atas disampaikan Rizky untuk menjabarkan pantikan dari moderator berupa keluhan di mana dirinya merasa sudah pernah mendengar sebuah uraian Mas Agus Sukoco, tapi seperti mendapatkan kebaruan pengalaman dan pemahaman ketika pada kali lain mendengar uraian tersebut kembali.

Di awal sesi Juguran Syafaat edisi Agustus 2020 lalu, Mas Agus melontarkan sebuah ilustrasi pemahaman. Diilustrasikan oleh beliau tentang kelakuan monyet dan akhlak manusia ketika mendapati makanan. Andai sepuluh monyet diberi sebungkus kacang, mereka akan berebut hingga saling mencakar satu sama lain.

Namun, situasi berebut tidaklah terjadi jika sekumpulan manusia, misalnya, disuguhi seplastik jeruk. Hal ini dikarenakan adanya sebuah keadaban. Yang terjadi adalah buah-buah jeruk ini akan dibagi secara adil. Bahkan adakalanya masing-masing individu saling menolak dan mempersilakan rekan-rekannya saja yang menikmati hidangan jeruk tersebut.

Tak perlu terburu-buru manusia untuk berbangga diri, sebab pada kenyataannya pemandangan keadaban hari ini lebih menonjol pada kebudayaan saling berebut. Tak ubahnya seperti ilustrasi bagian pertama. Kebudayaan saling berebut antar sesama  manusia di dunia telah merambah luas meliputi ranah politik, ekonomi, sampai soal-soal sepele dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Pada titik inilah, menurut Mas Agus, urgensi kehadiran Maiyah sangat diperlukan untuk mengembalikan fungsi akal-budi manusia yang terus merosot.

Merespon fenomena saling berebut tersebut, Febri urun diskusi meluasi dan mendalami bahasan. Baginya, berebut atau berkompetisi dan atau yang dalam teks ilmu sosial diistilahkan mekanisme pasar, merupakan unsur yang muncul secara alamiah dan sulit dihindari dalam setiap segmen kehidupan.

Ada dimensi kehidupan yang membutuhkan suasana bebrayan, namun ada dimensi hidup yang memerlukan kompetisi utamanya pada bidang-bidang kehidupan yang menyangkut perihal alokasi sumber daya yang harus dikerjakan secara efektif dan efisien. Tanpa kompetisi berarti tidak ada kalah-menang. Bila semua tampil jadi pemenang tak ada yang mendera nasib sebagai pecundang, maka urusan atau jatah pekerjaan yang kurang enak tentu tidak akan ada yang bersedia mengambilnya.

Diskusi kian hidup dan makin lepas, meski awalnya agak menegangkan. Bukan menegang karena debat kusir, melainkan sebab mimik dan intonasi Febri yang kelewat serius. Pada Juguran Syafaat dengan tema “Multiversitas” malam hari itu sekiranya ada empat poin penting yang berhasil diproduksi: Pertama, pelajaran mengenai ilmu kompetisi sebetulnya sangat penting. Harapannya adalah sesengit apapun tensi kompetisi, fungsi akal harus tetap terjaga. Jangan sampai fungsi akal kendor dan merosot.

Kedua, watak kompetisi senantiasa melahirkan predikat menang-kalah. Namun inilah ujian mental bagi para pelaku kompetisi. Kalau mau lulus, seyogyanya yang menang tidak tergiring menjadi besar kepala, dan yang kalah tersisih hendaknya tidak perlu kecil hati atau putus asa.

Ketiga, meruhanikan kompetisi. Menjadikan kompetisi sebagai instrumen detektor diri atas fadhilah Tuhan. Maksudnya, jika kita kalah dalam suatu kompetisi, penghikmahannya adalah mungkin minat-bakat (fadhilah) kita memang bukan di situ. Kita perlu mencari ruang-ruang dan arena sosial lain yang memungkinkan eksistensi kemakhlukan kita bisa lebih optimal.

Dan keempat, bonding anti-sliding. Regulasi hukum positif atau “rule of the game” sudah dibuat sedemikian rupa sebagai pagar moral demi terwujudnya harmoni sosial. Kalau ada pihak yang rela mencederai aturan main dan melanggar fairplay, pasti ia sedang kehilangan bonding alias keterhubugan atau kedekatan dengan mitra kompetisinya.

Melemahnya bonding ini, dari satu perspektif keilmuan merupakan faktor sebab. Sedangkan dari perspektif Marxist merupakan faktor akibat, yaitu akibat “mode of production“. Ini soal runyam, seperti mencari jawaban pertanyaan: telor sama ayam duluan yang mana?

Keluarga adalah prototipe ideal dan alamiah dalam menjalin interaksi sosial dan membangun suasana bebrayan agung di mana bonding masih terjalin. Karyanto menimpali, sudah semestinya unit sosial terkecil ini bisa menjadi panduan pokok dalam menjalani kehidupan sosial yang lebih besar seperti desa, kabupaten, dan negara.

Kompetisi yang tidak sehat mustahil terjadi sekiranya masing-masing individu memiliki jalinan rasa sebagai satu keluarga, sebagai sahabat. “Mosok sesama teman nyalip di tikungan”, Rizky berseloroh. Gerrrrrr… pecah tawa spontan para kru streaming di dalam ruangan seluas lapangan bulutangkis yang menjadi studio broadcasting malam hari itu.

Menambah gayeng dan tidak sepaneng forum berdurasi dua jam setengah ini, Hirdan dan Toto ikut melibatkan diri dalam beberapa nomor lagu yang dibawakan secara akustik.

Selain mendiskusikan dengan luas dan luwes rentang begitu panjang dari esensi kompetisi hingga urgensi menjaga keterhubungan atau bonding, malam hari itu para narasumber juga saling berbagi deep-insight dari pengalaman masing-masing berkuliah di multiversitas Maiyah.

Pengalaman persentuhan keilmuan yang satu sama lain berbeda, latar belakang problematika dan tantangan hidup yang tidak seragam serta atensi dan intensi yang juga tak sama amat membuat wajar apabila satu sama lain dari setiap Jamaah Maiyah memiliki deep-insight yang berbeda satu sama lain. Multiragam. (Febri Patmoko/RedJS)

Berkumpul Grubyag-grubyug vs Menjadi Sindikat

Terjadinya gotong royong sejatinya adalah efek dari terpenuhinya prasyarat sebelumnya yakni tatanan masyarakat yang adil dan saling percaya satu sama lain. Demikian Karyanto selaku moderator mencoba menuturkan ulang apa yang pernah disampaikan oleh Mbah Nun mengenai gotong royong.

Pantikan berikutnya disampaikan oleh Febri, salah seorang penggiat yang ikut urun sharing di sesi-sesi awal Juguran Syafaat dalam format virtual gathering edisi Juli 2020 ini. Febri menyampaikan bagaimana dahulu misalnya peristiwa hajatan salah seorang warga dikerjakan dengan mekanisme gotong royong yang amat apik, satu sama lain saling urun hingga kemudian acara dapat terselenggara.

Gambaran keindahan gotong royong di tahun 70-an kemudian disampaikan oleh Pak Titut secara lebih rinci. Ia terkenang pengalaman meminjam lampu petromak, senjata penerangan terhebat pada masanya untuk bersama-sama lembut membuat kembar mayang. Ada yang urun jeruk, nanas dan sebagainya lalu pada malam hari bersama-sama merangkai dekorasi pelaminan dengan gembira.

Meski aksi gotong royong telah berubah drastis oleh perubahan zaman, tetapi Pak Titut menilai bahwa ia belum serta merta punah. Terutama di desa-desa, kerigan bersih-bersih lingkungan, petani bersama-sama mencangkul sungai tanpa bayaran, untuk tujuan bersama-sama memelihara pengairan ladang dan sawah.

Hingga yang paling aktual adalah merebaknya tradisi delivery order sebagai implikasi dari social distancing, itu juga bentuk sindikasi yang menguntungkan berbagai pihak, begitu ujarnya.

Gotong Royong Berangkat dari Kesamaan Masalah

Musim pandemi belum berakhir. Pemerintah Banyumas yang bulan lalu sudah mengumumkan kurva keterjangkitan melandai, kini menanjak lagi. Keadaan serba tidak pasti masih terus berlangsung. Mas Nael, salah seorang penggiat yang tinggal di Purbalingga memberikan sharing, bahwasanya selain wabah Covid-19, di desanya yakni di Desa Karangklesem juga menjangkit Wabah Demam Berdarah.

Dari keprihatinan atas keadaan wabah berganda-ganda tersebut, sejumlah pemuda diajak difasilitasi untuk membuat aksi positif, yakni membuat “Kelompok Peduli Sampah”. Kelompok ini semacam Bank Sampah, berupaya menertibkan lagi urusan persampahan dalam rangka membuat lingkungan yang meningkat kesehatannya sehingga dapat turut mencegah dari meningkatnya berbagai wabah penyakit.

Bersesuaian dengan tema malam hari itu “Sindikasi Kebaikan”, best practice dari pendirian Bank Sampah yang digagas oleh Mas Nael dan sejumlah pemuda menjadi aplikasi nyatanya. Mengapa aksi sindikasi yang amat baik ini bisa terbentuk, tidak lain karena para anggota merasakan kegelisahan atas sebuah masalah yang sama, sehingga semuanya kemudian dapat bergerak bersama-sama. Warga amat antusias untuk ikut nyengkuyung, sudah 177 rumah dari 600 rumah di seluruh desa mendaftar menjadi anggota. Semenjak tiga bulan berjalan, kini pengurus sudah bisa mendirikan sebuah kantor sederhana. Selain mengurusi distribusi sampah rumah tangga, kini juga sudah ada diversifikasi kegiatan lainnya yakni tabungan lebaran. Dan ke depan target terdekat adalah dari modal gotong royong bersama-sama, hendak mendirikan e-Warung.

Hilmy selaku moderator merespons, kalau pergerakan Mas Nael dan kawan-kawan terlihat begitu signifikan hanya dalam tiga bulan sudah amat baik perkembangan kegiatannya ia mengaku tidak heran. Sebab ia melihat sendiri bagaimana proses panjang sebelumnya, bagaimana Mas Nael dan sejumlah pemuda menata lingkungan dengan amat baik, mendampingi tumbuh kembang generasi baru melalu Madin sejak usia amat belia, menata kamtib, mencegah kriminalitas maka apa yang dicapai hari ini bukanlah sesuatu yang serta-merta.

Best practice Mas Nael ini membenarkan hipotesis Karyanto yang diambil dari kutipan penyampaian Mbah Nun mengenai pra-syarat gotong royong di atas. Ada alas yang disiapkan terlebih dahulu, sehingga gotong royong dapat digulirkan dengan langsam. Ilustrasi nyata dari yang dikerjakan oleh Mas Nael dan kawan-kawan pemuda desa di sana juga membenarkan respons yang disampaikan oleh Adi, bahwa perlu ada “penghasut” kebaikan, supaya sebuah program yang baik dapat terwujud terlaksana.

Berorientasi Esensi ketimbang Bentuk

Lebih jauh Hilmy juga mengkritisi praktek aktivisme gotong royong yang cenderung berorientasi pada target-target pelembagaan. Pada sosialisasi koperasi misalnya, hendaknya pegiat koperasi tidak melulu mentarget pada pendirian lembaganya, melainkan nguri-uri lagi, koperasi sebagai solusi pada zamannya mengandung esensi apa saja sih di dalamnya, lalu apa aplikasi yang paling presisi untuk diterapkan pada situasi masa kini. Jadi, tidak melulu memindahkan apa yang pernah jaya pada masa lalu mentah-mentah menerapkannya pada situasi kali ini.

“Mungkin dulu koperasi pernah hebat, tetapi sekarang dengan kultur masyarakat yang berubah, bisa jadi tidak harus dipaksa dengan padatan lama itu. Tugas kita membuat bentuk-bentuk yang baru yang relevan.”, ujarnya.

“Kalay saya mempunyai PT atau CV dan substansi gotong royong berlangsung di dalamnya, bukankah itu juga bagus?”, Himy melanjutkan.

Kemudian, Karyanto mencoba mengurai lebih detail mengenai perkumpulan yang berbasis sindikasi dan membedakannya dari yang sekadar grubyag-grubyug. Menurutnya, selain ada kesamaan motivasi menghadapi masalah yang sama, sebuah sindikasi terbentuk karena ada pelaku-pelaku yang solid juga ada tujuan yang jelas untuk dicapai.

Jangan-Jangan Tidak ada Pilihan Lain

Berbagai contoh praktek sinergi yang bernilai “sindikat” kemudian diungkap oleh Kukuh yang ia amati berlangsung di jejaring Unit Ekonomi Produktif (UEP) Karang Taruna Kabupaten Banyumas di mana ia sebagai pendirinya. Sederhana misalnya, berbagi ongkos kirim dengan mengangkut barang dagangan bersama-sama itu sudah sebuah praktek sindikasi yang baik sebab memperingan biaya bersama-sama.

Kemudian respons dari Rizky, bahwa jangan-jangan perlunya kita membangun “sindikat” antar teman kita sendiri bukan hanya untuk keperluan efisiensi seperti yang diutarakan oleh Kukuh di atas. Tetapi, Ber-sindikat adalah memang satu-satunya jalan untuk menang atas keadaan. “Kita ini sudah kalah previlese dengan yang lain, tetapi masih merasa mampu maju sendiri-sendiri”, tandasnya.

“Padahal pedagang krupuk di pasar itu mereka saling berkongsi. Fotokopi padang itu jalan bareng. Supplier marketplace itu impor 1-2 kontainer digotong bareng-bareng”, lanjutnya.

Lalu tutur bergabung juga Penggiat Juguran Syafaat yang ada nun jauh di sana di Brunei Darussalam yakni Pak Wadil. Meskipun berada jauh tetapi tiap edisi Juguran Syafaat selalu menyimak dari jauh. Ia menyampaikan berbagai perkembangan kondisi pandemi di Brunei di mana telah mencapai puncak kurva beberapa bulan lalu pada angka keterjangkitan 164 orang. Ia menyampaikan bahwa sejak dua bulan yang lalu situasi di Brunei relatif biasa saja, pemandangan orang bermasker tidak lagi mencolok, masyarakat cenderung lebih tenang. Meskipun demikian, kegiatan Sholat berjamaah masih menggunakan Protokol Covid-19, pun begitu outlet dan berbagai fasilitas publik wajib mengintegrasikan diri pada aplikasi BruneiHealth.

Selain mengikuti Maiyahan dari jauh, Pak Wadil juga cukup intens berkomunikasi dengan teman-teman di tanah air. Tak segan ia memberikan dukungan pengembangan usaha bagi teman-teman di sini. “Bagi saya pandemi ini adalah saatnya  berpraktek ria dari segala ilmu yang sudah kita dapatkan.”, tukasnya.

Hingga pukul 22.00 lewat Juguran Syafaat kemudian segera dipungkasi. Selain masih menunda pelaksanaan gathering reguler di Pendopo Wabup meskipun sudah dipersilakan pada bulan lalu, Maiyahan virtual ini juga masih berupaya memadatkan durasi pelaksanaan. Adaptasi ini merupakan upaya agar penyimak live streaming tidak kelelahan secara psikologis, mengingat atmosfir pertemuan langsung dan pertemuan virtual tentu menguras energi yang berbeda.

Meskipun Pak Titut batal membawakan nyanyian dengan alat musik bas betot barunya yang ia tunjukkan tadi, tetapi pesan Pak Titut yang satu ini amat baik untuk dipegang. Bahwa, kita jangan mendewa-dewakan uang, jangan seperti orang kota yang sedikit-sedikit uang. “Iya, kalau Corona ini segera selesai, kalau masih lama bagaimana? Kalau kota-kota tidak dikirimi logistik dari desa, uangnya ada tetapi pasarnya tidak ada dagangan bagaimana?”, ujarnya.

“Jangan mendewa-dewakan uang. Jangan pula mendewa-dewakan internet, karena sewaktu-waktu bisa mbledug. Hendaknya kita hanya menuhankan Tuhan melalui hati nurani yang dipenuhi kebaikan yang positif”, pungkasnya. (Redaksi Juguran Syafaat) 

Me-refresh Pelajaran Lama: Ilmu Menghadapi Kekalahan

Berpatokan pada dalil Trilogi Kebenaran yang berbunyi: ana benere dhewek, ana benere wong akeh, lan ana bener sing sejati; maka format sinau bareng sesungguhnya memiliki peran yang strategis. Di samping tafsir mengenai kebenaran yang rentan menimbulkan konflik dan perpecahan, tradisi rembug yang menjunjung tinggi nalar sehat demi maslahat bersama juga masih susah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi agenda dari Sinau Bareng sesungguhnya itu indah sekali.

Namun demikian, luasnya tema dan perbincangan Sinau Bareng di Juguran Syafaat malah sering membuat saya gelagepan bingung dhewek. Sebagai manusia pembelajar level pemula, saya justru sering mendapatkan pengalaman belajar yang bukan pada materi atau substansi perbincangan sepanjang berlangsungnya Juguran.

Juguran Syafaat edisi bulan juni mengangkat tema ‘Loncatan Terukur’. Tak banyak yang bisa saya pikirkan mengenai apa dan bagaimana loncatan yang terukur itu. Yang terngiang di benak saya setelah membaca pengantar tema Juguran adalah the Loser yang kalah dan kemudian menyalahkan keadaan. Sedangkan the winner yang selalu berupaya menjadikan apapun keadaan yang dihadapi, dan dirinya harus menjadi pemenang.

Bagi saya peribadi, petikan kalimat di atas sangat dahsyat. Perbendaharaan kalimat “suci” yang telah hilang ditelan lupa akibat tertimbun gelontoran pengetahuan dan informasi era media sosial. “Tak menyalahkan keadaan”, kaidah bijak ini kali pertama saya catat dari para pelatih top sepak bola bilamana anak asuhannya menelan kekalahan. Ini me-refresh pelajaran yang pernah saya dapati puluhan tahun silam saat Coach Fabio Capello masih mengarsiteki AC Milan.

Selanjutnya, emoh larut oleh keadaan akibat pandemi Corona–serta enggan terganggu lagi Juguran online akibat kualitas sinyal yang buruk, saya segera membeli kartu selular baru dari provider yang berbeda yang telah terbukti memiliki kekuatan sinyal paling bagus di area tempat saya tinggal. Tak lupa juga menyiapkan lampu jari (PLC) berkekuatan 45 watt, kipas angin standing fan, dan kemeja formal. Pokoknya, segala sumber daya disiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti Juguran Syafaat via aplikasi Zoom.

Kurva Lokal yang Melandai

Kabar baik disampaikan oleh Wakil Bupati Banyumas yang malam hari itu juga ikut bergabung di dalam streaming via Zoom, Pak Dewo menyampaikan bahwa kurva data PDP dan ODP pandemi Covid-19 di wilayah Banyumas terlihat melandai. Bahkan jumlah pasien PDP di RSUD Margono Sukarjo sudah nol persen.

Saat ini Pemkab Banyumas melalui masing-masing SKPD sedang sibuk menyiapkan protokoler kesehatan untuk menghadapi New Normal. Sebagai tahap uji coba New Normal di bidang pariwisata, Pemkab Banyumas baru akan membuka dua objek wisata, yaitu Baturaden dan Limpakuwus. Sedangkan bidang pendidikan, pembukaan sekolahan direncanakan paling akhir dari seluruh Pemkab di Jawa Tengah. Demikian beberapa poin uraian Pak Sadewo yang disampaikan dengan logat dan nada bicara yang begitu cethar membahana.

Di tengah suasana obrolan yang mulai menghangat—mungkin terpancing dengan gaya bertutur Pak Wabup yang berapi-api, moderator Kukuh Prasetiyo menghantarkan pertanyaan dari seorang pemirsa streaming Juguran Syafaat mengenai efek New Normal di bidang pertanian dan lingkungan.

Pak Titut Edi Purwanto, SAS. (Sarjana Alam Semesta) merespon pertanyaan tersebut dengan enteng-enteng saja. Baginya, kegiatan di sektor pertanian berjalan seperti hari-hari biasa. Tidak terhambat sama sekali. Tidak repot sebagaimana ruang-ruang publik, kantor, pasar, dan pabrik yang harus menyusun protokoler kesehatan Covid-19. Tentu saja lanjaran buncis dan kacang panjang tidak harus direnggangkan pula jaraknya ikut-ikutan social distancing.

“Justru melalui makhluk utusan Tuhan yang bernama Covid-19, kita dituntun untuk kembali ke alam. Memakmurkan alam dan bumi dengan ruh cinta kasih. Aja pating mbesasat kaya setan“, pungkas Pak Titut sambil terkekeh.

“Sawah dan kebon pancen tempat paling aman”, Karyanto menimpali uraian Pak Titut.

Bukan tanpa alasan Karyanto berucap demikian, sebab ia sendiri sudah membuktikan kala mengalihkan anaknya bermain ke sawah sebagai upaya preventif dari silent carrier pemudik di kampungnya.

Transformasi Syahadat

Menjelang jam sepuluh malam, tiba giliran Mas Agus Sukoco urun perspektif. Menurut beliau, persoalan Covid-19 ini semestinya tidak hanya dilihat dari sudut pandang medis. Ketakutan dan kecemasan akan lebih bisa diminimalkan jika kita mau memakai kacamata rohani.

Hikmah selalu diambil dari peristiwa pahit. Tidak ada hikmah yang diproduksi dari peristiwa hidup yang membahagiakan. 

“Alhamdulillah, rejekiku gampang banget bulan ini. Semoga ada hikmahnya”, seloroh Mas Agus.

Kerepotan umat manusia akibat pandemi Corona seyogianya menjadi triger untuk mengevaluasi perjanjian primordial kita dengan Tuhan, yakni syahadat. Mas Agus menengarai bahwa lonceng kematian yang ditabuh Corona tidak jauh-jauh dari ihwal tabiat buruk manusia dalam mengelola alam semesta.

Syahadat ‘lisan-personal’ perlu ditransformasi menjadi syahadat ‘teologis-praksis’ yang berkontribusi positif bagi society. Syahadat teologis harus bisa dikonversi ke dalam syahadat bidang ekonomi-bisnis, politik, dan kebudayaan.

“Selama ini, antara Tuhan dan perilaku keseharian manusia ora tau gathuk“, Hilmy selaku moderator memberikan respons.

Virus Psikologis

Sekitar dua jam setengah durasi Juguran Syafaat online yang dipancarluaskan dari studio utama di Java Explosure, Purwokerto, akhirnya dipungkasi oleh Rizky yang malam itu mengingatkan bahwa dampak sistemik virus Covid-19 ini dapat mengakibatkan wabah “virus” psikologis yang berbahaya.

Krisis ini sudah memukul sendi-sendi perekonomian dan kebudayaan dengan telak. Oleh karenanya, krisis ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Bolehlah kita kemarin terjun bebas luar biasa, tetapi di bawah sini harus ditemukan letak keberadaan pir pegas yang bisa melentingkan kita meloncat lebih tinggi.

Dan krisis, apabila dikacamatai sebagaiman para the winner, adalah jenis batu yang lebih besar untuk alas kita meloncat lebih tinggi. Loncatan yang sesuai dengan sumber daya yang kita miliki. Bukan loncatan akibat obsesi imajiner dari sikap dendam terhadap penderitaan belaka, atau sebab melihat orang lain sudah dapat meloncat lebih tinggi.

Kalah dari orang lain tak mengapa, yang penting loncatan yang sanggup kita buat benar-benar sesuai dengan kesanggupan diri. Tak perlu berkecil hati apabila loncatan orang lain terlihat lebih memukau. (Febri Patmoko)

Selangkah Lebih Maju dari Ikhlas-Tidak Ikhlas

Kampal-Kumpul Mencari Apa?

Hari masih pagi, Jumat 14 Februari pukul 08.27 waktu Banyumas dan sekitarnya. Hirdan memulai percakapan Whatsapp Application Group, “Pagiii gaesss… Nanti malam Juguran Syafaat…”.

Hirdan merupakan Penggiat Maiyah yang usianya paling muda. Aliran darah muda mendorong keberaniannya untuk mengambil inisiatif mengobarkan semangat teman-temannya agar bangkit dan bahu-membahu mempersiapkan agenda bulanan Simpul Maiyah di Banyumas Raya. Narkim, rekan penggiat yang ahli Pewayangan, memberinya julukan “Hirdan Parikesit”.

Aksi berbalas pesan pagi itu berlanjut panjang laksana teks dialog naskah drama. Saling cek dan ricek. Koordinasi sana-sini. Update kesiapan minuman kopi, termos pemanas, karpet, sound system, sampai dengan kesiapan mobil pengangkut.

Semua persiapan boleh dibilang lancar jaya meski sebagian penggiat diliputi perasaan cemas. Juguran Syafaat edisi ke-83 tidak digelar di akhir pekan seperti biasanya, tapi dimajukan sehari karena alasan non teknis.

Selepas Isya, rasa cemas pergeseran jadwal berefek pada ketidakhadiran jamaah mulai pupus. Berangsur pelan Jamaah Maiyah mendatangi balai pendopo Wakil Bupati Banyumas, njugur lesehan di Jumat malam. Musim hujan dan perubahan jadwal ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap antusiasme jamaah.

Dari informasi yang kami terima, hanya Ikhda yang teledor membaca publikasi pergeseran jadwal. Guru muda sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang sering mensedekahkan alunan vokalnya di Juguran Syafaat ini tidak mencermati kolom tanggal acara yang tertera di poster. Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Ikhda Nurul Khasanah kudu rela kehilangan malam bertabur cinta.

Terkait kehadiran jamaah, ada sedikit cerita menarik dari Hamzah. Demi malam juguran, pria asal Sokaraja tersebut sejak sore hari sudah harus momong anak balitanya keliling blusukan kampung. Taktik ini diterapkan supaya anaknya lelah dan bisa cepat tidur pulas di malam hari, lantas dirinya bisa leluasa pergi ke forum juguran dengan hati tenang. Taktik cerdik, mungkin layak ditiru bagi anda yang punya balita.

Lha, memangnya kampal-kumpul Maiyahan mau mencari apa atau siapa? Mengutip baris pertanyaan Hilmy Nugraha dalam tulisannya di Caknun.com bulan kemarin.

Bersama-sama mencari kegembiraan dan mencari ilmu kehidupan. Hidup hanya sekali, sesudah itu mati. Hidup harus dijalani dengan gembira dan ikhlas biar bernilai ibadah. Mas Anung “Lodse” Sumargo yang malam itu menebar atmosfir kegembiraan melalui nyanyian reggae juga salah satu bentuk laku ibadah.

Ikhlas, Menginspirasi, Aksi Kolektif, Merajuk kepada Allah

Mencari ilmu itu keharusan. Pembekalan ilmu akan menambah bobot atau kualitas ibadah yang akan dan sedang dilakoni. Harapannya adalah bisa semakin presisi dalam menempuh perjalanan “sangkan-paraning”. Perjalanan melingkar “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un” yang licin dan terjal.

Majelis ilmu Maiyah irit melontar kosa kata “benar-salah”. Maiyah lebih sering menggunakan kata “presisi”. Pijakan mana yang paling presisi dalam menghadapi sejembreng fenomena sosial yang mengemuka.

Perbincangan malam itu mengupas tema “Sedekah Prioritas”. Ada ragam pendapat dari masing-masing jamaah dan mereka semua mencari titik temu yang paling pas.

David, mahasiswa dari Unsoed, mengawali sharing session soal perilaku manusia yang cenderung kepo saat melihat orang lain memasukan uang ke dalam kotak infaq. Padahal, menurut David, infaq merupakan privasi masing-masing orang. Fahmi, dari SMU 2 Purwokerto, menegaskan ajaran moral tentang keikhlasan: jika tangan kanan memberi sesuatu kepada orang lain hendaknya tangan kiri tidak melihatnya.

Berikutnya, Dian dari Hijabers Community, menceritakan seputar akitivitas sedekah yang diposting via media sosial yang menurut pengalamannya dapat memberi inspirasi kepada masyarakat luas. Ada kalanya pelaku sedekah itu sebetulnya ikhlas, namun sengaja dipajang di media sosial biar orang lain mengiranya tidak ikhlas, tambah Jalal yang mengutip uraian Mbah Nun saat Sinau Bareng.

Saat perbincangan berkutat soal riya, pamrih, dan ikhlas, Bachtiar menyuguhi wacana sedekah dari sisi yang berbeda. Menurut pengakuannya, ngelarisi dagangan wong cilik merupakan panggilan batin yang kerap kali dilakukan dalam sedekah kesehariannya. Tapi mengingat uang sakunya pas-pasan, dengan jujur diakui, kadang terbersit pikiran balasan sedekah dari Tuhan.

Perespon terakhir, Niki dari Kalimanah, mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi lewat sedekah saja. Kemiskinan, terutama kemiskinan struktural perlu ditanggulangi dengan aksi kolektif untuk mengembalikan keberdayaan masyarakat dengan membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya sistemik.

Kejernihan hati dan sikap batin menjadi penting untuk meredam gejolak atau dilema ‘kepo-privasi’. Rasa ingin tahu atau kepo atas besaran infaq orang lain bisa menjadi motivasi kita dalam rangka mengikhtiari fastabiqul khoirot. Walaupun pada sisi sempit yang lain malah hati kita bisa tersundut panas.

“Aduh, deneng infaq-e enyong lewih cilik, ya! Berarti surgane enyong lewih endep kiye tah!” Ungkap moderator Kukuh Prasetiyo sambil guyonan.

Pamrih dalam bersedekah itu lumrah. Asalkan pamrih yang ditujukan kepada Tuhan. Ada koneksi batin antara manusia dengan Tuhan. Mengharap dan merajuk kepada Allah, ya nggak apa-apa. Pancen nyatane Allah Maha Kaya. Lagian ke mana lagi harus mengadu selain kepada Allah?

Yang berbahaya adalah pamrih kepada rumus hitung-hitungan sedekah. Rumusan lipat ganda bilangan sedekah. Karena rumusan ini hanya penafsiran buatan manusia saja. Begitu, seperti disampaikan Rizky yang menjadi tandem Kukuh malam hari itu di dalam ber-cas-cis-cus.

Mengejar Akhirat, Dunia Mengikuti

Himpitan ekonomi dan beban hidup merupakan kondisi rentan yang dapat mengikis nalar sehat. Oleh karenanya wajar jika sebagian masyarakat tergelincir pada konsep sedekah yang transaksional. Mereka juga kepengin hidup berkecukupan. Dan yang sudah cukup, terobsesi nambah kekayaannya lagi. Demi amannya hidup.

Mungkin di dunia ini hanya Abdurrahman bin Auf yang memiliki tekad hidup melarat. Kisah manusia langka sahabat nabi ini diceritakan oleh Mas Agus Sukoco yang malam itu berjibaku “rebutan” mic dengan Pak Titut Cowongsewu. Alkisah, Auf merasa resah setelah dirinya mengetahui hizab orang kaya lebih berat ketimbang orang miskin. Lalu, dengan segala cara, seluruh harta kekayaanya dihabiskan supaya kelak di akherat tanggungg jawabnya enteng.

Kesempatan emas untuk hidup melarat datang menghampiri saat ia menjumpai kurma-kurma busuk di sebuah pasar. Dengan percaya diri, Auf memborong seluruh kurma busuk di seantero pasar. Ia puas dan bahagia sampai kemudian datang seorang utusan Raja Yaman yang berniat membeli seluruh kurma busuk yang dimilikinya dengan harga berpuluh kali lipat. Auf tak bisa mengelak, karena kurma busuk itu akan digunakan sebagai obat wabah penyakit yang tengah menjangkiti negeri Yaman.

Dalam satu fakta, ada sejuta makna. Peristiwa yang dialami Abdurrahman bin Auf bisa kita ambil pelajaran dan hikmah. Sosok Auf bisa jadi adalah representasi ajaran moral agama yang berbunyi : “kejarlah akherat maka dunia akan mengikuti”.

Di sisi yang sekuler, jika mengejar dunia mungkin kita berhasil meraih dunia dan mungkin gagal, tapi yang pasti akhiratnya mental.

“Urip pada nguber-uber ndunya bae. Mikiri ndunya bae. Kuwe sing merekna wong jaman siki pada gampang konslet. Mobile tah iya Pajero, jebule panas njaba-njero…. Numpake mobil mewah. Becere maring Mall, entonge limangatus ewu. Mbarang bayar parkir limangewu perak, ngerasa eman-eman…. Jijeih pisan. Bakhil…!”, begitu nasehat Pak Titut yang dengan segenap daya ganggu visual penampilannya terlampau sulit untuk dijabarkan melalui aksara.

Yang jelas, apalah artinya Juguran Syafaat tanpa kehadiran Pak Titut.

Tulung keproki, keproki, keproki…!

Perlunya Sistem Distribusi

Ngomong-ngomong soal sedekah, entah mengapa jamaah yang mensedekahkan argumentasi banyak banget. Dua kali lipat dari biasanya. Pun dengan nomor-nomor lagu yang disedekahkan Ki Ageng Juguran (KAJ). Tak tanggung-tanggung pula, empat vokalis KAJ hadir menghangatkan suasana. Sebagian jamaah tentu sudah tidak asing dengan wajah Ujang dan Fadel, tapi Abah Slamet dan dik Alda masih memunculkan tanda tanya dibenak pemirsa.

Rangkaian sesi demi sesi telah dilewati. Tadarusan, tawasul, sholawatan, nyanyi-nyanyi, jual-beli argumen, ngopi, ngerokok, ngemil, dan yang sekadar duduk melamun sambil pencet-pencet HP juga boleh. Malam Sabtu yang meriah penuh warna. Surga yang tersembunyi, kata Pak Titut.

Oleh-oleh kesimpulan yang bisa menjadi bahan renungan bersama adalah mayoritas masyarakat kita itu ahli sedekah, namun populasi penduduk dengan taraf hidup kurang layak tidak serta-merta berkurang. Hal ini ditengarai lantaran kita masih sibuk dengan urusan ikhlas dan tidak ikhlas. Alih-alih berpikir maju selangkah untuk merancang sistem distribusi sedekah yang optimal. “Perlu kecermatan dan kehati-hatian, seperti effort sedekah perusahaan (CSR) yang minimal namun menuai corporate branding yang maksimal”, begitu analogi Kusworo.[Febri Patmoko/RedJS]

Tidak Sebab Urutan Waktu, melainkan Kesan

“November Rain”, sebuah judul lagu dari band lejen asal Amrik yang pastinya sudah akrab di telinga anda yang lahir di era 80-an. Tatkala meng-khilafah-i waktu dan jarak tempuh perjalanan pulang dari Sinau Bareng Caknun.com di Kadipiro, Bantul, saya merefleksi diri bahwa akhir bulan di tahun 2019 yang saya jalani serupa dengan “Desember Rain”. Ini hanya istilah konotatif hasil otak-atik-gathuk yang saya ciptakan sendiri. Mohon jangan gagal paham.

“Desember Rain” atau Hujan di bulan Desember, yang secara kasunyatan saya dihujani banyak curahan ilmu di Maiyah. Mulai dari pengalaman pertama mengikuti Silatnas Maiyah di Semarang (6-8/12/2019), Menghadiri Milad Gambang Syafaat di Masjid Baiturrahman (25/12/2019), Sinau Bareng Caknun.com di Rumah Maiyah (04/01/2020), Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di desa Karanggintung (06/01/2020), dan agenda rutinan Simpul Maiyah Juguran Syafaat Purwokerto (11/01/2020).

Foto: Anggi Sholih

Sejujurnya, tiga moment hujan ilmu Maiyah seperti yang tercantum di atas terjadi pada awal bulan Januari. Tapi biar tulisan ini tidak kehilangan sisi dramatisnya, anggap saja yang tiga moment terakhir juga terjadi pada bulan Desember. Jadi, mohon kerjasama dan pengertian anda.

Tetesan hujan ilmu Maiyah yang pertama saya terima langsung dari Marja Maiyah, Mbah Nun, kala beliau menyempatkan ngerawuhi Silatnas Maiyah di gedung UMKM Semarang. Dalam forum tersebut, Mbah Nun menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar. Menurut Mbah Nun, Maiyah itu seperti arus air sungai yang bergerak mengalir secara istiqomah hanya oleh dorongan mata air di hulu sungai.

Melalui pembelajaran di Maiyah, kita ditemani oleh para Marja untuk bisa menemukan dan mengenali hulu mata air sumber inspirasi kehidupan, yaitu Tuhan. Maiyah tidak mendidik manusia gerbong kereta yang melaju kesana-kemari kehilangan independensi dan otentitas diri. Takluk terombang-ambing tirani lokomotif kebudayaan jahiliyah.

Dari rutinan Maiyahan Gambang Syafaat yang bertepatan dengan milad ke-20, saya meraih setetes makna konsep “Persatuan dan Kesatuan”. Dijelaskan Mas Budi, “Persatuan” itu merupakan penyatuan dari banyak entitas yang majemuk. Masing-masing entitas saling menguatkan dan kolaboratif dengan tidak menghilangkan sifat serta karakter khasnya.

Beda dengan konsep “Kesatuan” yang menghapus sifat dan karakter khas dari masing-masing entitas. Mereka melebur menjadi satu entitas baru dengan sifat dan karakter yang baru pula. Maka dari itu, sila tiga Pancasila berbunyi “Persatuan Indonesia”, bukan “Kesatuan Indonesia”. Bhineka Tunggal Ika menjadi latar historis dan filosofisnya.

Ternyata, saya perlu menempuh perjalanan darat sejauh 208 KM untuk sampai pada pemahaman makna “Persatuan dan Kesatuan”. Andai saya tidak salah duga, konsep Sinau Bareng di Maiyah itu juga dilandasi oleh semangat Persatuan. Melingkar duduk bersama, menata hati dan menjernihkan pikiran. Dengan segala keunikan yang dimiliki setiap simpul, kita berproses bersama untuk saling menumbuhkan dan merawat kemanusiaan.

Tetesan hujan ilmu Maiyah yang ketiga saya dapati di Kadipiro pada kegiatan Sinau Bareng Caknun.com. Mas Sabrang dengan segala talenta yang dimilikinya itu ternyata kerap gagal menulis. Menurut Mbah Nun, Mas Sabrang sering gagal fokus. Kekayaan pengetahuan Mas Sabrang malah mengganggu fokus atau topik tulisan yang sedang digalinya. Isi tulisan melebar ke mana-mana, kacau. Berkebalikan dengan yang saya alami, saya malah bingung mau nulis apa. Terkendala referensi pengetahuan yang cuma selebar pelataran rumah.

Kisah Mas Sabrang yang pernah ngalami keruwetan dalam menyusun tulisan, bagi saya pribadi menjadi semacam suplemen obat pelipur lara. Berarti aku iki ono kancane, ora dewekan. Meski sebab masalahe jan-jane beda adoh banget.

Moment yang keempat sebetulnya bukan lagi tetesan ilmu Maiyah, tapi udan deres. Yang karena turun begitu deras, tubuh saya basah kuyup. Udan deres ilmu Maiyah melanda teras rumah Pak Kadus Hilmy di desa Karanggintung, Sumbang, Banyumas. Transit hampir tiga jam sebelum memulai Sinau Bareng di lapangan Karanggintung, Mbah Nun menebar banyak sekali benih-benih ilmu.

Mengingat apa yang disampaikan Kusworo dalam Juguran Syafaat di Pendopo Wakil Bupati Banyumas kemarin (11/01/2020), suatu peristiwa bisa awet tersimpan rapi di dalam memori kita karena ada yang mengesankan. Unsur kesan, bukan urutan waktu. Kusworo kemudian mencontohkan, baju yang dipakai seminggu yang lalu mungkin kita sudah lupa, tapi tidak akan pernah lupa dengan baju yang kita kenakan saat resepsi pernikahan puluhan tahun silam.

Sesuai teori yang dirumuskan oleh Kusworo, saya menangkap satu kesan “aneh” pada Mbah Nun saat beliau memimpin briefing singkat dengan Pak Rektor IAIN Purwokerto, Mas Helmy, Mas Dony, dan Kiki (Ketua Panitia CNKK dari IAIN). Kesan saya, Mbah Nun sangat profesional. Nggak main-main. Dengan ribuan jam terbang yang telah dikantongi KiaiKanjeng, Mbah Nun kok masih bisa menyempatkan kordinasi ini-itu.

Foto: Anggi Sholih

Dalam radius yang tidak memungkinkan untuk nguping secara utuh, samar-samar Mbah Nun menanyakan tema Sinau Bareng kepada Kiki. Lalu, Mbah Nun juga mengatakan bahwa dirinya tidak akan banyak memberikan mauidhoh hasanah. Ruang dakwah akan diberikan kepada anak-anak muda atau mahasiswa. Kita akan lebih banyak workshop, dan nanti lagu yang dibawakan KiaiKanjeng ini, ini, dan ini.

Kordinasi yang terjalin apik antara Mbah Nun, Mas Gandi, Mas Helmy, Mas Yudhis, dan Mas Dony patut menjadi teladan kita dalam merawat  Maiyah di internal Simpul. Detail, terencana, terukur, dan bersungguh-sungguh (tapi tidak lupa gembira).

Kordinasi dengan bingkai semangat Persatuan untuk mewujudkan misi Maiyah –  yang menurut Mas Tri Wahyu merupakan jalan revolusi sosial yang sangat halus.

Kordinasi dengan kanan-kiri (ukuwah) dan atas-bawah (spiritual), ibarat Tali Goci Layangan yang seimbang. “Layangan bisa mabur muluk duwur pisan, tegak lurus nang nduwur ubun-ubun sirah. Kuwe merga Tali Goci Layangan sing seimbang”, begitu kata Pendekar Cowongsewu, Kaki Titut, saat menjelentrehkan filosofi Tali Goci Layangan.

Foto: Anggi Sholih

Pak Sugeng Barkop turut memberikan uneg-uneg tentang Simpul Maiyah via jalur pribadi empat mata di belakang Pendopo Wakil Bupati. “Aku melu Juguran merga kepengin ngrewangi Mbah Nun. Ngrewangi ben ilmune Mbah Nun bisa nyebar maring bocah-bocah”, ungkap Pak Sugeng sambil ngelap cangkir dan piring-piring wadah jamuan Juguran.

Ngrewangi proses distribusi ilmune Si Mbah bagi anak-cucunya yang membutuhkan pencerahan dan pemahaman keilmuan yang lebih presisi, seperti Bahtiar Adi Febriantoro, yang sempat ngalami dilema saat berjabat tangan dengan kaum hawa yang bukan mukhrim. Ada juga Suprapto, yang merasakan urutan dzikir dari Mbah Nun sangat logis (Laa robba illalloh, Laa malika illalloh, Laa ilaha illalloh).

Lain lagi dengan cerita Mas Wakijo yang enggak tahu di Maiyah mau nyari apa, tapi malah sering menemukan hal-hal yang spesial dalam hidupnya. Satu contoh kongkrit, Mas Wakijo menemukan jodoh lewat medium Maiyah. Mas Wakijo juga menemukan kebahagiaan, kebersamaan, ruang, dan nambah seduluran. Benar-benar sosok Maiyah sejati, Saya doakan semoga Mas Wakijo bisa istiqomah ber-Maiyah sampai tua seperti Dewa Cupumanik Astagina : Mbah Hadiwijaya.

Foto: Anggi Sholih

Kebhinekaan Jamaah Maiyah itu kenyataan, persatuan Jamaah Maiyah itu ikhtiar. Juguran Syafaat Edisi-82 yang mengetengahkan tema “Kurikulum Diri Sendiri” sudah diobrolkan selama enam jam lebih. Mungkin saja di bulan depan –  seperti usulan Mas Yunan yang terpesona dengan keunikan poster-poster Juguran Syafaat – kita mengangkat tema “Kurikulum Poster Maiyah”. Atau mumpung masih di awal tahun, bisa juga kita mengusung tema “Kurikulum Juguran Syafaat”. [Febri Patmoko/RedJS]