MAMPIR MEDANG (56) : Ora Ilok

Ketika seseorang berpuasa, dia akan memiliki kekuatan ekstra dibanding pada saat tidak berpuasa. Keputusannya untuk menahan lapar, haus dan hal-hal yang sebetulnya dibolehkan demi sebuah keutamaan seolah menjadi tawanan yang membuat ia lebih mampu menahan diri dari sesuatu yang buruk atau mengerjakan sesuatu yang baik dengan berlipat ganda.

Lalu, bagaimana jika disebuah wilayah dilakukan puasa sosial. Apa itu puasa sosial? Yakni kesepakatan kultural yang disepakati dan ditaati berlakunya di sebuah wilayah. Kesepakatan kultural itu diantaranya berupa paugeran “ora ilok” yang dijaga bersama-sama oleh seluruh penghuni wilayah untuk tidak melanggarnya. Dengan kata lain, secara bersama-sama orang-orang mempuasai untuk mengerjakannya.

Maka di wilayah yang masih nguri-uri kesepakatan kultural berupa ora ilok-ora ilok itu, biasanya desa atau dusun tersebut masih terjaga kharisma, terpelihara kramatnya. Wilayah itu kemudian menjadi relatif terjaga dari pageblug, bencana dan keburukan-keburukan.

Begitulah puasa memberikan dampak, baik puasa mahgdoh, maupun puasa sosial.

(Diolah dari: Agus Sukoco)

Mentadabburi Puasa Kita

Puasa Ramadhan menurut tafsir adalah ibadah menahan lapar dan minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari bagi umat Islam pada bulan Ramadhan. Di samping menafsiri makna dan maksud segala hal, yang tidak kalah utama untuk kita lakukan adalah merenungi dan menghayati atau disebut pula dengan istilah taddabur.

Kalau ilmu tafsir, kita harus mempunyai keahlian khusus dan hanya orang-orang dengan kualitas tertentu yang boleh menafsiri sebuah ayat atau hadist. Sedangkan taddabur itu  boleh dilakukan oleh siapa saja. Siapapun saja kita yang memiliki akal dan hati, kita boleh men-tadabburi banyak hal terkait tentang hidup kita.

Pada kali ini di bulan suci Ramadhan yang penuh barokah ini marilah kita mencoba mentadabburi puasa yang sedang kita jalani. Pintu tadabbur yang pertama, dalam puasa yang kita tahan atau kekang itu rasa lapar dan haus sesuai batas waktu yang dilarang. Dalam hal ini, siapakah pengendalinya? Pengendalinyya tidak lain adalah diri kita sendiri. Yang dikekang juga diri kita sendiri. Ibaratnya kita memenjarakan diri kita sendiri, membatasi diri kita sendiri dan yang bertindak sebagai sipir penjaganya juga adalah diri kita sendiri.

Nah, kalau pihak yg mengekang dan yang dikekang adalah diri kita sendiri, sebenarnya kalaupun kita hendak curang juga tidak ada masalah, kan?
Setidaknya antara kita dengan diri kita sendiri bisa bernegosiasi mencari bentuk kecurangan yang seolah-olah hal itu bukanlah sebuah tindak kecurangan. Sangat mungkin bentuk kecurangan itu dilakukan dengan tidak perlu ada yang tahu kecuali kita sendiri yang membocorkannya.

Kemudian pintu tadabbur berikutnya, pada peristiwa puasa, yang kita jalani itu kan urusanya adalah pengekangan terhadap diri, kita tidak makan itu bukan karena tidak ada makanan yang tersedia, tapi kita memutuskan tidak makan meskipun lapar dan meskipun ada makanan lezat di hadapan kita. Jadi hakikat puasa sesungguhnya adalah perjalanan batin, sebuah perjalanan yg tidak nampak, sebuah jalan kesunyian. Bukan perjalanan keluar, tapi perjalanan ke dalam, menyusuri kedalaman. Kedalaman apakah itu? Tidak lain adalah kedalaman batin kita dimana setelah setahun lamanya kita disibukkan dengan perjalanan yang sifatnya jasad, materi, perjalanan yang ukuranya keluar dari diri kita, menembus langit, membelah bumi dan lain sebagainya.

Pintu tadabbur yang lain lagi, puasa itu jalan sunyi, demikian  kata Simbah. Tersedia makanan tapi tidak dimakan,  tersedia kursi tapi tidak diduduki, tersedia tanah tapi tidak dipagari. Puasa itu jalan sunyi. Menggambar tapi tidak terlihat, bernyanyi tapi tidak terdengar, menangis tapi tidak terperhatikan. Puasa itu jalan sunyi. Menjadi tanpa eksistensi, pergi menuju kembali, hadir tanpa mengharap untuk dikenali.

Di zaman modern mengajarkan kepada kita bahwa yg dinamakan kebahagiaan itu adalah saat kita mampu melampiaskan keinginan kita, membeli ini dan itu, bisa memiliki ini dan itu, memakan ini dan itu, menguasai ini dan itu. Melakukan apa yang orang lain tidak mampu melakukannya, hanya kita saja yang bisa melakukanya. Dan inilah yg terjadi saat ini tanpa bisa kita pungkiri. Banyak orang melakukan apa saja bahkan menghalalkan cara untuk bisa memenuhi pelampiasan keinginan, dengan cara korupsi, menipu, merampok, mencuri, membunuh dan lain sebagainya. Sebagai wujud pelampiasan dan wujud hilang dan matinya pengekangan dalam diri kita. Sehingga apa saja kita lakukan tanpa ada rasa bersalah, sekepenak wudele dhewek.

Dan pada bulan yg penuh barokah ini kita berupaya melakukan perjalanan sunyi, di mana dunia penuh hiruk pikuk pelampiasan keinginan-keinginan, kita justru mengekang keinginan kita. Kita tidak menghindar dan menjauhi rasa sengsara yang ditakuti oleh banyak orang, tetapi kita justru menampung kesengsaraan itu dengan menahan lapar, haus, dan dan menahan nafsu.

Hingga kita sekalian akan mengerti bahwa kebahagiaan itu bukan hanya urusan pelampiasan-pelampiasan, yang dengan itu semua kita butuh materi dan usaha sebagai alat bayarnya, namun kebahagiaan itu juga bisa kita raih saat kita mampu menahan, mengekang, memenjarakan, bahkan menginjak-injak keinginan-keinginan kita sendiri. Terbukti betapa bahagianya saat kita berbuka puasa dengan meneguk segelas teh pahit pun membuat rasa kegembiraan yang luar biasa dan tidak mampu digambarkan dengan kata maupun kumpulan kalimat.

Dan masih ada begitu banyak pintu perenungan dan penghayatan untuk menjadi sarana kita mentadabburi puasa yang sedang kita jalani. [] Karyanto

Puasa Kresek Nasional

SEBELUM MARAK penggunaan kantong kresek, orang-orang jaman dulu menggunakan tenggok untuk wadah belanjaan mereka. Wadah dari anyaman bambu yang cantik hasil kreativitas nenek moyang ini dahulu bisa dibuat semua orang, sehingga tidak perlu membelinya. Selain tidak perlu membeli, wadah ini juga dikenal sangat go greenTenggok tidak mengandung bahan yang tidak dapat didaur ulang, karena tenggok terbuat dari bambu 100%, tanaman yang memiliki siklus tanam yang pendek, regenerasinya cepat dan pertumbuhan populasinya terpelihara.

Untuk perkakas minum, sebelum mengenal kemasan galon dan dispenser, orang-orang dulu menggunakan gogok, wadah air minum dari bahan tembikar, yakni tanah liat yang dibentuk lalu dibakar. Selain gogok itu ramah lingkungan, gogok diakui aman karena tidak bereaksi terhadap air yang diwadahinya. Bahkan bukan hanya aman, tetapi juga mampu menjaga kualitas pH air.

Kertas nasi yang terbuat dari kertas berlaminasi bahan plastis juga tidak dikenal oleh orang-orang dulu. Daun pisang dan daun jati menjadi pilihan untuk alas nasi dan aneka makanan lainnya. Daun yang dipilih oleh orang-orang dulu adalah daun yang mengandung lapisan lilin alami.

Centong nasi dibuat dari glugu atau kayu kelapa, tidak seperti sekarang terbuat dari plastik, bonus saat kita membeli rice cooker. Sebelum kita mengenal rice cooker dan kini juga ada slow cooker, penanak nasi yang digunakan oleh orang-orang dulu adalah pasangan antara dandang tembaga dan kukusanKukusan terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk kerucut. Cara kerjanya, kukusan diisi beras yang sudah diliwet sebelumnya, dikukus diatas air didalam dandang.

Kalau hari ini kita memilih puasa kresek nasional, sebetulnya kita baru membuka pintu untuk tenggok melenggang kembali di keseharian dan peradaban kita. Itu juga kalau tidak dicegat oleh tas trendy berbahan kain yang benangnya jangan-jangan masih mengandung zat plastis pula. Kampanye puasa kresek nasional ini akan dapat diefektifkan jika tenggok dikampanyekan sebagai gaya hidup, sehingga ibu-ibu atau remaja tak lagi merasa malu dan gengsi tapi justru merasa bangga ketika pergi berbelanja ke supermarket atau ke mall dengan menenteng tenggok. Lebih akan efektif lagi jika anak-anak sekolah dan mahasiswa diberi ekstrakurikuler khusus pembuatan tenggok. Sehingga tenggok akan menjadi piranti milik warga, bukan lagi ditangkap sebagai komoditas oleh para penguasa modal.

Setelah paket kebijakan puasa kresek nasional dan ekstrakurikuler pembuatan tenggok itu berhasil. Kita juga masih mempunyai PR panjang dalam rangka mewujudkan kebiasaan go green di masyarakat. Kita harus mengkampanyekan juga gogok, daun pisang, daun jati, dandang, kukusan, centong kayu, siwur (gayung batok kelapa), ilir (kipas dari anyaman bamboo), rinjing (container box berbahan bambu) dan masih banyak piranti ramah lingkungan lainnya.

Beruntung teknologi ramah lingkungan itu ada di negeri kita sendiri, warisan orang-orang dulu, sehingga tak perlu impor pengetahuan. Beruntung tanah kita masih subur, kebun kita masih luas, bambu, kayu dan daun-daunan masih leluasa untuk kita membudidayakannya. Tinggal gaya hidup kita saja, mau berubah atau tidak.[] Rizky Dwi Rahmawan

Modus Penyeimbang

Diantara saudara-saudara kita ada yang untuk menemukan hidupnya kembali harus lebih dulu mengalami gagal ginjal, stroke, liver, atau kehilangan satu kakinya. Penyakit jasmani yang kronis menjadi penebus untuk memperoleh kesehatan hati. Hal tersebut merupakan mekanisme alamiah alam untuk menarik manusia agar senantiasa selalu berada pada garis orbitnya, sesuai dengan hukum keseimbangan.

Ketika manusia kehilangan keseimbangan naturalnya, misalnya akibat hatinya disesaki oleh polusi materialisme : haus jabatan, gejolak ambisi, gairah mencuri dan korupsi, alam akan segera menjalankan mekanisme sunahnya, yakni mekanisme penyeimbangan. Sebagai contoh, ada seorang kaya raya, tetapi hatinya kikir, perilakunya arogan, perangainya congkak tiba-tiba rumahnya kerampokan, istri dan anaknya dianiaya. Hingga pada akhirnya keluarganya jatuh miskin dan barulah ia sadar, perilaku dan perangainya berubah menjadi baik. Maka serentetan peristiwa perampokan itu merupakan modus dari mekanisme penyeimbangan alam.

Kekikiran, arogansi dan kecongkakan orang tersebut adalah bentuk ketidaksemimbangan akibat ketidaksiapan mentalnya menyikapi keberlimpahan yang dia terima. Kemudian perampok yang datang itu sesungguhnya adalah perwujudan dari energi alam yang mencari orang kaya tersebut untuk membuatnya kembali kepada orbit alamiahnya.

Banyak ragam bentuk tagihan keseimbangan yang dilakukan oleh alam untuk menjaga ‘mizan’ atau keseimbangan nilai yang dikehendaki Tuhan. Dalam khasanah kearifan lokal orang jawa memiliki filosofi, “Ngunduh wohing pakarti” juga “Sapanandur arep ngunduh”. Kepekaan spiritual orang-orang tua kita telah menangkap informasi alam mengenai nilai- nilai yang harus dijaga dalam perilaku hidup kita. Karena segala perangai dan tabiat kita tidak akan lepas dari sensor alam. Dan semua akan kembali menagih dengan perhitungan yang tidakbias kita manipulasi akurasinya.

Kemudian di dalam Islam kita mengenal Idul Fitri, yaitu hari dimana kondisi manusia mencapai kesucian kembali setelah dicuci oleh lelaku puasa Ramadhan. Puasa sesungguhnya merupakan metode pengambilan jarak rohaniah kita dengan materi. Dalam kondisi ‘berjarak” secara rohani itulah manusia berada pada maqom atau posisi ideal sesuai kodrat awal. Puasa adalah jalan alternatif (tarekat) spiritual untuk menyeimbangkan diri kepada orbit alamiah sebelum diseimbangkan secara paksa oleh alam.

:: Sokawera, Purbalingga 29 juli 2013

:: Ditulis oleh : Agus Sukoco
:: Diedit oleh : Rizky Dwi Rahmawan