Mukadimah: KEBERUNTUNGAN EKSPONENSIAL

Kalau pikiran-pikiran yang buruk akan menarik datangnya nasib-nasib yang buruk, maka pikiran-pikiran yang baik akan mendatangkan keberuntungan dan nasib-nasib yang baik lainnya.

Kalau pikiran yang baik itu tidak hanya berhenti sekadar dipikirkan, tapi diwujudkan ke dalam upaya-upaya dan tindakan-tindakan, maka bersiaplah dengan kemungkinan datangnya keberuntungan yang berlipat ganda.

Kalau tindakan tidak sekedar tindakan, tetapi penuh dengan lipat ganda energi, jerih payahnya multiple effort, mestinya nasib yang baik yang akan menghampiri tidak hanya berlipat ganda saja, tetapi bahkan dapat saja ia berlaku secara eksponensial.

Bersama-sama kita akan melingkar mencari adakah hubungan antara pikiran, tindakan dan nasib serta hukum-hukum yang berlaku pada interelasi ketiganya itu dan apakah Allah tunduk pada hukum-hukum itu atau hukum tersebut tetap tunduk kepada Allah di Juguran Syafaat edisi ke 103 bulan Oktober 2021.

Mukadimah: MEMANEN PIKIRAN

Kita tidak pernah tahu seberapa sebenarnya skala kapasitas dan kaliber peran jika tak pernah mencoba “njajal awak” bertandang keluar. Padahal, pergi keluar selain bisa untuk menjajaki kaliber diri juga bisa bermanfaat untuk mendapatkan respons. Meski random, seringkali respons tersebut berguna untuk bahan perbaikan.

Kita ini memilih menjadi diri yang growth mindset atau fixed mindset, itu dulu. Karena satu-satunya cara menuju terjadinya aktualiasi pikiran pada panen raya tindakan adalah terlebih dahulu berlangsungnya pertumbuhan. Kemudian orang-orang di luar sana yang akan menilai seberapa kualitas hasil panen berupa tindakan, yang tidak lain adalah luaran dari bagaimana kita mengerjakan olah pikiran. Respons positif maupun negatif adalah booster untuk meng-improve hasil panen esok hari yang meningkat kualitasnya.

Kegamangan beraktualisasi juga kerap muncul dari distraksi inspirasi. Terlalu silau pada prestasi-prestasi besar orang lain, sehingga kita tidak mampu mengapresiasi tahapan-tahapan kecil diri sendiri di dalam tumbuh. Yang padahal itu juga adalah prestasi-prestasi. Maka, malapetaka yang harus diantisipasi jauh-jauh hari adalah jangan sampai kita sampai pada suatu hitungan usia dimana kita menarik kesimpulan, ‘ternyata idealisme itu memang mahal’. Dan kitapun berhenti membuat inisiatif-inisiatif.

Padahal pesan Mbah Nun, “Jangan pernah kehilangan inisiatif, download terus sama Allah. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan menemukan. Penemuan tidak selalu hal-hal besar, hal-hal sehari-hari”.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi 102, bulan September 2021 live di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Mukadimah: PIL PAHIT AUTOKRITIK

Atas apa saja yang hari ini sudah berhasil kita capai, kita bersyukur. Atas apa saja yang hari ini belum kita capai, kita mengevaluasinya. Kita tiba di hari ini tidaklah ujug-ujug, melainkan dari rentetan panjang keputusan demi keputusan yang kita buat kemarin dan dahulu. Setiap hari membuat keputusan, satu, sepuluh, seratus, seribu keputusan, tak terhitung.

Betapa sulitnya membuat keputusan yang selalu benar. Pengharapan penuh kepada Allah untuk ihdinas shiratal mustaqim sepertinya memang tidak untuk waktu yang kelak, melainkan untuk hari ini presisi menjalani hari-hari.

Sebab kehidupan ini begitu dinamisnya, keacakan kejadian mengandung jutaan probabilitas kemungkinan. Daya pikir rasional, olah kondisi jiwa, organisasi-disorganisasi posisi diri ditengah keberadaan orang lain, faktor alam, hingga force majure bahkan sekalipun keputusan kita benar, outputnya belum tentu sesuai yang diharapkan. Jalan pintas saat masalah datang, mudahnya adalah menyalahkan orang lain. Namun hati-hati, apabila tidak obyektif bisa saja kita terjebak pada sikap blaming of other. Sikap yang tidak membuat keadaan menjadi lebih baik sama sekali.

Sikap sebaliknya adalah menyalahkan diri sendiri. Yang apabila tidak obyektif justru membuat mental lemah oleh guilty feeling. Sikap yang membuat kita makin lemah dihadapan sebuah masalah. Menemukan sikap obyektif antara kedua hal tersebut, itulah autokritik. Posisi pandang seorang yang sedang mengerjakan autokritik adalah mengamati atau mengobservasi, bukan menghakimi. Pahit memang. Tetapi yang diserap adalah unsur-unsur yang memberdayakan.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi ke-101 bulan Agustus 2021 secara virtual melalui Youtube Channel Juguran Syafaat.

Mukadimah: REPETITIVE LEARNING

Menjadi teachable adalah dambaan setiap orang. Seorang teachable senantiasa memiliki dorongan yang kuat untuk tumbuh dengan belajar, sehingga apapun kondisi dirinya hari ini tidak lebih penting dibandingkan dengan segenap potensi yang ia miliki untuk berkembang hingga batas yang tak hingga.

Mengerjakan pembelajaran hidup dengan gembira pada setiap prosesnya. Tidak merasa terburu-buru menarget hasil peningkatan diri yang bombastis, spektakuler dan revolusioner. Melainkan evolusioner. Bahkan, ia tidak jatuh mentalnya meskipun seakan-akan semuanya jalan ditempat dan tidak kemana-kemana, karena ia memahami bahwa salah satu prinsip utama di dalam belajar adalah perulangan. Mungkin memang sedang ada SKS kehidupan yang sedang harus diulang.

Sebab mind-technology pada manusia tidak di desain sebatas mengerjakan fungsi transfer file. Melainkan bagaimana pemahaman, pengetahuan dan kesadaran baru yang diterima dapat diinternalisasi ke dalam diri. Terinstal menjadi kebiasaan, lantas mengaktual menjadi perangai karakter. Perulangan-perulangan adalah sebaik-baik dari proses internalisasi ilmu.  

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat penyelenggaraan edisi ke-100 di bulan Juli 2021 di Youtube Channel Juguran Syafaat.

Mukadimah: EVOLUSI SOLUSI

Ada gape antara kemampuan seseorang menghadirkan solusi dengan besarnya masalah yang ia hadapi. Gape itu ada diawali dari keliru cara berfikir tentang wajibnya terus belajar, sebab seseorang mengira belajar keperluannya hanya untuk kewajiban mencari kerja.

Kemampuan berfikir solutif adalah output dari seseorang yang memilih untuk tidak berhenti belajar. Belajar dari pola pengalaman, menganalisa setiap pilihan pengambilan keputusan, menghitung dampak positif dan negatif dari keterlibatan kita di setiap peran.

Berfikir solutif membuat sebuah masalah dapat direduksi dampak negatifnya hingga seminimal mungkin. Meski begitu, berfikir solutif tidak selalu serta menjamin hadirnya solusi penyelesai sebuah masalah. Sebab semaksimal apapun, manusia kadarnya hanya berupaya dan mengiba. Solusi bisa hadir hanya karena Allah menganugerahkannya bagi kita.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Juni 2021 di Youtube: Juguran Syafaat

Mukadimah: AKTIVASI KESEMPATAN

Sebuah kebaikan terjadi bukan hanya karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan. Oleh karenanya, kita perlu memilih ekosistem hidup yang sebaik-baiknya, yakni yang paling kondusif menghadirkan kesempatan untuk berbuat baik. 

Kesempatan adalah barang mahal, karena banyak variabel yang menentukan kehadirannya. Momentum, titimangsa, afirmasi dan apresiasi positif adalah diantaranya. Mengasah kecerdasan antisipatif di dalam diri tujuannya adalah ketika waktunya kedunungan kesempatandatang, kita tidak lantas gagal menangkapnya dan justru melewatkannya begitu saja.

Maka, antitesis dari sikap aji mumpung itu bukanlah sikap melewatkan sebuah kesempatan begitu saja. Kesempatan berbuat baik, kesempatan berbagi, kesempatan menumbuhkan diri, kesempatan ikut andil berkontribusi, kesempatan menorehkan sejarah peran, kesempatan membangun pijakan baru, kesempatan menjadi subyek, wah, ternyata ada begitu banyak kesempatan, resolusi pandang kita sampai-sampai tak sanggup meng-capture-nya.

Sikap antitesis yang lebih memberdayakan adalah mengaktivasi sekecil apa pun potensi kesempatan, dengan tidak ragu-ragu untuk do something! Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Mei 2021 dalam format virtual forum melalui Youtube Channel: Juguran Syafaat.