Mukadimah: FILSAFAT ORANG BIASA

Kalau sebuah tema tidak bisa dikupas dengan tuntas, pembenarannya adalah karena kehidupan ini seperti lapis-lapis bawang yang tak hingga tak pernah bisa habis meskipun terus ditempuh. Namun begitu, bagaimanapun tema demi tema tetap mempunyai fungsi operatif minimal sebagai penanda, “Oh, di waktu itu atau di umur itu kita pernah melewati kurikulum kehidupan tentang sebuah tema”.

Life is a journey. Tiap hari kita berjalan dan berpetualang. Mendapati tempat yang sama dan tempat yang baru. Menyelami makna yang sama dan makna yang baru. Sayangnya, seringkali kita terlalu sibuk mengulik buku-buku, hingga tak sempat menghitung dan mencermati pengalaman milik sendiri. Pengalaman yang merupakan patok-patok penanda bahwa dari waktu ke waktu kita tidak stagnan, melainkan terus mengalami penumbuhan diri.

Kemudian paradoksnya adalah, semakin meningkatnya penghargaan terhadap pengalaman diri sendiri, rasa-rasanya semakin tak cukup dari kebutuhan untuk menyempatkan membaca sebanyak-banyaknya buku. Melahap pola-pola pengetahuan sebagai alat bantu menstrukturkan pengalaman. Begitulah dinamika perjalanan di dalam membangun landasan berpikir di dalam diri. Terus menerus menempuhnya sehingga meskipun kita menjalani hidup sebagai orang biasa, tetapi dapat selalu mengambil keputusan dan tindakan secara matang.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Oktober 2020 LIVE! melalui Channel Youtube: Juguran Syafaat.

Mukadimah: BERTINDAK GLOBAL

Jumlah orang yang menginginkan keadaan tetap begini amatlah minoritas dibanding jumlah orang yang menginginkan hadirnya perubahan. Namun, mengapa gerakan perubahan kerap kali mandeg di tengah mereka masih terus berjalan?

Sebab satu orang dengan lainnya memiliki gambar yang berbeda satu sama lain dari perubahan yang diangan-angankan. Hal itu bergantung pada banyak hal: Pada alur pengalaman yang berbeda, wilayah keilmuan yang berbeda, daya olah modalitas diri dan motif atas kepentingan yang juga berbeda satu sama lain.

Maka, idealnya ada muktamar ide perubahan tingkat global untuk membentuk set berpikir dan set bertindak yang serempak. Akan tetapi, kalau hal itu dirasa tidak masuk akal untuk dilaksanakan pilihan yang lebih masuk akal ditempuh adalah masing-masing dari kita meluaskan hingga seluas-luasnya alasan kita untuk bertindak, mendobrak batas-batas kesepenggalan dari setiap motif kepentingan, modalitas diri, penguasaan disiplin ilmu dan  pengalaman-pengalaman yang tak pernah direkonstruksi.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi September 2020 melalui live Youtube Juguran Syafaat.

Mukadimah: MULTIVERSITAS

Pasangan hidup itu berjodoh. Rumah yang engkau tinggali itu berjodoh. Jalan rezeki yang engkau anut itu berjodoh. Pun begitu dengan ilmu yang engkau enyam, itu juga berjodoh. Terhadap apa-apa saja yang antara engkau dan padanya memiliki bonding, terdapat keterhubungan, itu berjodoh.

Puncak intelektualitas ilmu adalah ketika engkau bisa mentransformasi sebuah hipotesis atas pengamatan dan pengalamanmu menjadi sebuah tesis. Akan tetapi, intelektualitas bukanlah satu-satunya puncak dari pengupayaanmu atas ilmu. Ilmu diupayakan dengan tidak berhenti pada pemenuhi capaian diri, tetapi dengan mengitung betul-betul eksplorasimu itu dengan pengaruhnya terhadap cuaca sosial yang aktual. Eksplorasi yang ditempuh tak hanya secara fakultatif, tetapi universal bahkan multiversal.

Di Maiyah engkau mengupayakan ilmu dengan memilih bidang, cekungan, lekukan serta kedalaman mana saja yang engkau sukai. Mengerjakan mengiris lapis-lapis ilmu itu dengan segenap daya kognisi, afeksi dan konasi yang modalitas satu dengan lain orang berbeda. Dan memuncakinya dengan merawat bonding keterhubungan dengan sang ilmu terus-menerus sepanjang waktu dengan begitu ragam pilihan penempuhan cara.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Agustus 2020 Live di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Mukadimah: SINDIKASI KEBAIKAN

Indonesia kini dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah atas, dari sebelumnya negara berpenghasilan menengah bawah. Pencapaian itu bukanlah hal yang sulit, sebab dalam proses terwujudnya peningkatan itu, kita rakyat bawah cenderung tidak ngapa-ngapain. Yang kita lakukan hanya berupaya hidup tetap seimbang, tidak jatuh mental oleh keadaan, belanja hanya yang perlu dan selalu standby dari panggilan untuk berbagi.

Krisis ini kita hadapi tidak dengan cengeng, melainkan gembira terus, berusaha berdaya terus dan sebisa-bisanya mencari kiat, tips, trik, jalan celah ataupun jalan keajaiban apapun saja supaya life must go on. Diantara tips yang banyak dislogankan saat ini adalah, “Membeli dari teman sendiri!”. Memang teman, kerabat dan tetangga adalah wahana kompromi sumber daya, segala sesuatu menjadi tidak harus ditempuh dengan transaksi yang net.

Sebetulnya yang bisa dibeli dari teman bukan hanya produk yang ia jajakan. Kita juga bisa membeli pengetahuan dan keahlian mereka, mengakses networking yang mereka miliki juga mengharapkan apresiasi dan dorongan motivasional dari mereka. Tanpa memiliki teman, untuk mendapatkan kesemuanya itu akan menjadi begitu mahal, harus membeli database dan toolkit strategi atau membayar untuk mengikuti sebuah seminar sukses.

Kegiatan kolaborasi yang bukan sekedar foto aksi adalah bagaimana sekelompok orang meneliti apa-apa yang bisa ‘dibeli’ dari temannya satu sama lain. Kemudian mengandalkan itu dan memandang apa-apa saja yang datangnya dari luar sebagai faktor tambahan saja. Membangun atmosfir positif yang di dalamnya terdapat kegiatan saling membagi dan menyerap sumber daya adalah cara hemat untuk membuat sebuah pencapaian yang meningkat.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Live! Juli 2020 di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Mukadimah: AGRARIS POPULIS

Mendadak Agraris! Setelah disinfektan dan handsanitizer populer kemarin, lalu disusul oleh sembako, kemudian hari-hari ini semua orang menyuarakan tenang bertanam-tanam. Memang, sudah hampir dua bulan kita dipaksa puasa dari keperluan yang tidak esensial, maka yang pokok untuk diupayakan mulai makin kentara. Dari gaya hidup yang terus-menerus menguras biaya, menjadi new-normal yang lebih bersahaja. Dari sikap individualistik merasa bisa mencukupi segala sesuatu sendiri, menjadi kegembiraan saling berbagi.

Kolaborasi sosial besar-besaran yang sudah berlangsung tanpa komando selama ini harus terus berlanjut. Kalau hasil pendapatan pada isi dompet menurun, kita mulai bisa bercita-cita berbagi dengan sumber daya yang kita miliki lainnya. Biji dan potongan sayuran sisa yang hari ini tampak tak berguna, kalau ia dijodohkan dengan media tanam yang baik dan dengan cara merawat yang tepat beberapa bulan akan menjadi hasil panen untuk sendiri dan bisa untuk berbagi. 

Untuk memulai, tak harus menunggu khawatir besok makan apa. Sebab butuh waktu dari disemainya benih menjadi hasil yang bisa dipanen. Waktu untuk mempelajari teknik yang benar. Waktu untuk menghidupkan naluri agraris yang sebetulnya itu adalah set up default orang-orang bangsa kita. Waktu untuk tumbuhan menempuh sunatullah pertumbuhannya. Sebab bertransaksi dengan alam itu berbeda dengan bentuk transaksi dengan warung, atau dengan importir. 

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Mei 2020 esok dalam wahana Virtual Gathering secara Live! di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Mukadimah: MENGALAMI MASA DEPAN

Ini bisa jadi akan panjang. Mulailah menanam memanfaatkan lahan: Rimpang (jahe,dkk), bawang, cabe, tomat, bayam, brokoli, dkk. Demikian kata seorang ahli kesehatan. Kalau kita memikirkan resiko terburuk ke depan, kita menjadi berpersiapan baik, tetapi khawatirnya imunitas kita jadi menurun. Sebaliknya, kalau kita mengikuti saran-saran motivasional, hati boleh merasa gembira, imunitas kemudian meningkat tetapi jangan-jangan kita menjadi lengah menghadapi perubahan keadaan.

Kita tidak tahu apa yang masih akan terjadi dan hendak sepanjang apa keadaan ini. Jangankan kita, pemimpin-pemimpin dunia saja hari ini diuji betul-betul tentang forecasting capability. Cakap atau tidak sih mereka didalam memproyeksi masa depan? Semakin cakap iya memproyeksi masa depan, semakin cepat dan tepat keputusan yang diambil hari ini.

Kita pun ikut urun bersalah. Sebab kita mengenali Al-Qur’an lebih sebagai kitab masa lalu. Padahal ia juga kitab tentang masa kini dan masa depan. Sehingga kita tak punya metodologi untuk menghubungkan prediksi dari rumus-rumus dan angka-angka statistik dengan kebeneran masa depan yang diinformasikan Quran.

Melalui rumus dan angka mungkin kita bisa mengintai masa depan, tetapi dengan melibatkan Al-Qur’an mestinya kita bisa membaca pola-pola dari yang sudah kita alami kejadiannya. Bagaimana sebetulnya adab terhadap masa depan, supaya kita tepat bersikap hari ini? Juga supaya kita tidak ketakutan sekaligus tidak pula menjadi ceroboh?

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi April 2020 yang sekaligus Milad yang ke-7 esok dalam wahana Virtual Gathering secara Live di Youtube Channel.