Mukadimah: AGRARIS POPULIS

Mendadak Agraris! Setelah disinfektan dan handsanitizer populer kemarin, lalu disusul oleh sembako, kemudian hari-hari ini semua orang menyuarakan tenang bertanam-tanam. Memang, sudah hampir dua bulan kita dipaksa puasa dari keperluan yang tidak esensial, maka yang pokok untuk diupayakan mulai makin kentara. Dari gaya hidup yang terus-menerus menguras biaya, menjadi new-normal yang lebih bersahaja. Dari sikap individualistik merasa bisa mencukupi segala sesuatu sendiri, menjadi kegembiraan saling berbagi.

Kolaborasi sosial besar-besaran yang sudah berlangsung tanpa komando selama ini harus terus berlanjut. Kalau hasil pendapatan pada isi dompet menurun, kita mulai bisa bercita-cita berbagi dengan sumber daya yang kita miliki lainnya. Biji dan potongan sayuran sisa yang hari ini tampak tak berguna, kalau ia dijodohkan dengan media tanam yang baik dan dengan cara merawat yang tepat beberapa bulan akan menjadi hasil panen untuk sendiri dan bisa untuk berbagi. 

Untuk memulai, tak harus menunggu khawatir besok makan apa. Sebab butuh waktu dari disemainya benih menjadi hasil yang bisa dipanen. Waktu untuk mempelajari teknik yang benar. Waktu untuk menghidupkan naluri agraris yang sebetulnya itu adalah set up default orang-orang bangsa kita. Waktu untuk tumbuhan menempuh sunatullah pertumbuhannya. Sebab bertransaksi dengan alam itu berbeda dengan bentuk transaksi dengan warung, atau dengan importir. 

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Mei 2020 esok dalam wahana Virtual Gathering secara Live! di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Mukadimah: MENGALAMI MASA DEPAN

Ini bisa jadi akan panjang. Mulailah menanam memanfaatkan lahan: Rimpang (jahe,dkk), bawang, cabe, tomat, bayam, brokoli, dkk. Demikian kata seorang ahli kesehatan. Kalau kita memikirkan resiko terburuk ke depan, kita menjadi berpersiapan baik, tetapi khawatirnya imunitas kita jadi menurun. Sebaliknya, kalau kita mengikuti saran-saran motivasional, hati boleh merasa gembira, imunitas kemudian meningkat tetapi jangan-jangan kita menjadi lengah menghadapi perubahan keadaan.

Kita tidak tahu apa yang masih akan terjadi dan hendak sepanjang apa keadaan ini. Jangankan kita, pemimpin-pemimpin dunia saja hari ini diuji betul-betul tentang forecasting capability. Cakap atau tidak sih mereka didalam memproyeksi masa depan? Semakin cakap iya memproyeksi masa depan, semakin cepat dan tepat keputusan yang diambil hari ini.

Kita pun ikut urun bersalah. Sebab kita mengenali Al-Qur’an lebih sebagai kitab masa lalu. Padahal ia juga kitab tentang masa kini dan masa depan. Sehingga kita tak punya metodologi untuk menghubungkan prediksi dari rumus-rumus dan angka-angka statistik dengan kebeneran masa depan yang diinformasikan Quran.

Melalui rumus dan angka mungkin kita bisa mengintai masa depan, tetapi dengan melibatkan Al-Qur’an mestinya kita bisa membaca pola-pola dari yang sudah kita alami kejadiannya. Bagaimana sebetulnya adab terhadap masa depan, supaya kita tepat bersikap hari ini? Juga supaya kita tidak ketakutan sekaligus tidak pula menjadi ceroboh?

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi April 2020 yang sekaligus Milad yang ke-7 esok dalam wahana Virtual Gathering secara Live di Youtube Channel.

Mukadimah: PEMBAWA CUACA

Mengerjakan segala sesuatu hal di cuaca yang cerah tentu saja lebih mudah dibandingkan mengerjakan hal yang sama pada cuaca yang tidak mendukung. Itulah kenapa cuaca meskipun bukan faktor utama, tetapi ia penting untuk diperhatikan.

Pun begitu, mengerjakan tugas-tugas kehidupan dalam cuaca hati yang cerah, suasana batin yang baik akan lebih menguntungkan ketimbang kondisi yang ada sebaliknya. Mengapa kondisi bergembira harus dijaga dan dibangun? Sebab kehidupan menuntut tantangan yang tidak ringan bagi pribadi-pribadi yang memilih jalan pertumbuhan diri. Proses menuju sukses yang meningkat selalu berat. Akan makin berat kalau seseorang diliputi cuaca yang tidak mendukung.

Setiap interaksi pada sebuah social cyrcle, masing-masing mempunyai potensi kontribusi pengaruh terhadap cuaca tersebut. Ada anggota sosial yang menjadi manusia wajib, sebab hadirnya menambah kegembiraan. Ada juga yang sunnah, mubbah, makruh bahkan haram sebab tak andil pengaruh apa-apa pada proses pembentukan cuaca. Sebab mungkin, yang hanya ia pikirkan adalah dirinya sendiri saja.

Mukadimah: SEDEKAH PRIORITAS

Selain dibekali naluri untuk bertahap hidup, manusia juga di dalam dirinya dibekali naluri untuk diterima oleh sesamanya. Oleh karenanya manusia memiliki dorongan untuk senantiasa dapat ikut memberi. Dengan memberi, ia ‘membeli’ penerimaan diri dari sekelilingnya.

Terlebih sebagai umat beragama, kegiatan memberi adalah sebuah hal baik yang mengandung privilege berupa pahala. Semakin meningkat pemberian, semakin bertambah pula pahalanya. Pun demikian dari sisi psikologis, seseorang merasa bahagia sebab meraih kepuasan batin setelah ia memicu diri dengan pengalaman ikut berkontribusi. Oleh karenanya, dorongan ikut berkontribusi yang justru ditahan-tahan oleh diri sendiri seringkali malahan membuat batin gelisah.  

Bagi kita dengan rezeki berlebih, persoalan memberi tak butuh menghitung-hitung prioritas dari ketiga jenis dorongan di atas. Ketika salah memberi, harta masih tersisa inih. Akan tetapi, bagi kita yang dana sosial rutinnya hanya pas-pasan, harus berhitung cermat agar setiap pemberian kita efektif. Berguna untuk memenuhi dorongan naluriah, mendatangkan pahala sekaligus menciptakan kebahagiaan. Sayangkan apabila dana yang pas-pasan itu habis jadi pahala, tetapi tidak berdampak pada penerimaan diri. Atau menghasilkan penerimaan diri tetapi gagal melahirkan kepuasan batin misalnya.

Karena sedekah memang adalah persoalan kepekaan melihat siapa-siapa yang butuh untuk dibantu. Jangan-jangan disekeliling kita yang paling butuh untuk dibantu adalah diri kita sendiri.

Mukadimah: KURIKULUM DIRI SENDIRI

Alasan pertama kita harus membuat kurikulum belajar sendiri adalah karena pendidikan yang ada orientasinya adalah manusia untuk Industri, sedangkan hidup kita tidak selesai di Industri, masih sambung terus sampai akhirat nanti. Di mana kita belajar tentang sambungan hidup yang panjang itu, kalau tidak kita menyusun kurikulumnya sendiri?

Alasan kedua kita harus membuat kurikulum belajar sendiri adalah karena tidak ada yang lebih tahu tentang bakat khas, kelebihan dan kekurangan yang dimiliki selain diri sendiri. Mengikuti cara belajar orang lain yang modalitas belajarnya berbeda dan curiousity-nya berbeda hanya membuat kita belajar dengan kepunthal-punthal saja.

Alasan ketiga kita harus membuat kurikulum belajar sendiri adalah karena ketika kita kemudian telanjur mengalami telat belajar, yang mengalami dampak menderita akibat merasa gagal adalah diri kita sendiri. Iya, kalau disekeliling masih ada sahabat-sahabat yang masih mau empati dan menemani, dampak dari telat belajar tidak menderita-menderita amat dirasa jadinya.

Hidup kita selalu dikelilingi oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan. Untunglah peradaban manusia mengenal kosakata ‘belajar’. Dan mengerti bahwa belajar adalah proses yang berkurikulum.

Mukadimah: WARISAN DNA

Seringkali manusia mengeluh atas perubahan keadaan yang terjadi di luar dirinya, tanpa meresapi bahwa ada andil dirinya di dalam terjadinya perubahan itu. Manusia yang hakikinya subyek, kerap merasa sekadar obyek. Manusia yang hakikinya decision maker (penentu keputusan) acap merasa mikro dihadapan semesta yang terlihat sebagai makro.

Rentang jarak antara sebab dan akibat selalu menjadi ruang misterius. Tetap tidak sepenuhnya terpecahkan, meskipun sudah didekati dari berbagai pintu keilmuan. Hanya waktu saja yang nantinya akan membuktikan, apakah budaya baru yang nanti akan tercipta adalah warisan dari perilaku bijak dan keputusan sungguh-sungguh masing-masing kita, atau hal itu terjadi sekadar buah dari rentetan kebetulan-kebetulan yang tidak berpola.

Ya, masing-masing kita mempunyai potensi andil. Iya pula, setiap upaya diri untuk andil belum tentu beroleh hasil berupa perubahan seperti yang kita ingini. Sekurang-kurangnya sebuah upaya dikerjakan dengan sungguh-sungguh tetapi kemudian tidak beroleh hasil, setidaknya kita sudah berinvestasi untuk dapat mewariskan DNA berisi informasi yang lebih lengkap mengenai rumus-rumus perubahan.