Mukadimah : MELUBUK-MENGUFUK

Salah satu yang menjadi kunci dasar di Maiyah adalah eskatologi wajib hidup abadi. Hal ini mendasari kesadaran mengenai bagaimana hidup di dunia. Melalui hakikat penciptaan Adam, kita menyadari bahwa rumah sejati ialah surga, sementara di dunia ini Mbah Nun menyampaikan di dalam Kenduri Cinta edisi “Fundamentalisme Khandak” bahwa kita hanya outbond, aktivitas yang sebentar saja.

Kemudian pada edaran Kedaulatan Manusia Maiyah yang disusun oleh Sabrang disebutkan bahwa Maiyah adalah cara belajar kehidupan yang unik. Keunikan tersebut terlihat pada beberapa ciri yang melekat pada Maiyah, diantaranya : Tidak bersifat otoritatif; motif berkumpulnya menegasikan motif-motif yang ada selama ini; dan dibangunnya semangat mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar.

Selanjutnya pada butir keempat disebutkan bahwa: Dalam proses pembelajaran yang unik itu, maiyah cenderung menempatkan kasus perkasus hanya sebagai contoh, sehingga tidak terseret dalam wilayah pro-kontra, mendukung-menolak, memihak-memusuhi, setuju-tidak setuju.  Maka sudah semestinya, kita tidak perlu terpedaya oleh gejolak sosial apapun yang kita saksikan hari ini. Semua itu hanya laboratorium study kasus. Pun begitu dalam kita menempuh karir pribadi maupun kepengasuhan sosial adalah semata sebuah outbond.

Orientasi kita tidak boleh sesempit arena outbond. Harus melibatkan kedalaman hati hingga pada lubuknya. Lubuk hati terdalam tidak bisa diisi oleh pertengkaran-pertengkaran, oleh melik pencapaian dunia, baik harta atau jenis eksistensialisme apapun. Tidak ada keindahan apapun yang melebihi indahnya ufuk nun jauh di sana yang terus menerus berusaha kita tuju bersama. []  RedJS