Reportase: “Pageblug : Mewabahnya Materialisme”

Uang itu hanya benda mati, uang tidak bisa mengubah watak seseorang, uang hanya menunjukkan watak seseorang yang sebenarnya. Materialisme telah mewabah, menjadi pageblug yang merajalela dalam skala yang luas dan dalam waktu yang singkat. Sudah meratanya wabah ini membuat kita kehilangan akses informasi, tata nilai apa yang dijunjung oleh peradaban di negeri ini sebelum materialisme mewabah.

Sekalipun informasi itu bisa kita akses, tak bisa kita yakini bahwa kalau sekarang kasta tertinggi diduduki oleh pemilik modal, pada masa pra-pageblug, kasta tertinggi diduduki oleh pemilik akhlak terbaik, kaum brahmana. Kalau sekarang di puncak kesuksesannya orang riuh bermain property, berharap kekayaannya berlipat drastis, di jaman dulu orang di puncak kesuksesannya justru menepi, mengasingkan diri di gunung hingga akhir hayatnya.

Mari kita mengakses kembali tata nilai pra-pageblug, menata kasta yang lebih hakiki “Inna akromakum ‘indallohi adkokum”, kasta tertinggi itu bagi orang yang bertakwa, bukan pemilik modal yang berharta. [] RedJS

Mukadimah: “Pageblug : Wabah Materialisme”

Pada awalnya orang makan roti. Kemudian mereka dipaksa untuk makan tai. Keterpaksaan makin akut sampai akhirnya orang harus memaksakan diri merasakan tai yang mereka makan terasa menjadi roti. Kejadian ini kemudian turun pada generasi berikutnya, pada generasi berikutnya orang sudah tidak bisa membedakan lagi mana roti dan mana tai.

Turun lagi ke generasi berikutnya. Yang tersedia hanya tai. Dan mereka menganggap tai itu roti. Ketika mereka disuguhi roti, mereka malah marah-marah. Begitulah gambaran sebuah masyarakat yang telah mengalami pengkaburan nilai berkepanjangan. Kalau kejadian ini terus tidak dihentikan, apa yang akan terjadi pada generasi-generasi selanjutnya?

materialisme dan imaterialisme kini telah kabur letaknya di peta kehidupan kita. Entah kita sekarang diposisi generasi berapa tingkat keparahan kaburnya, sehingga individu-individu semacam kita saat ini hanya berhasil menghasilkan akumulasi kelompok masyarakat yang entah sakit, entah sehat. Di masyarakat kita, kini materialisme telah mendominasi. Bahkan menjadi semacam ‘azaz tunggal’.

‘Wong mati ora obah, yen obah medeni bocah. Wong urip nggolet duit’, begitu tembang Sluku-sluku batok dinyanyikan. Hanya sebatas nggolet duitlah visi besar hidup. Makanya kita tidak sulit saat ini menemukan materialisme dalam berbagai bentuk dan stratifikasinya. Ada cewek matre, pejabat matre, dokter matre, bahkan hingga ulama matre.

Herannya sebagian kita masih ada yang nyaman-nyaman saja hidup ditengah materialisme yang telah mewabah, telah menjadi pageblug. Bahkan malah kita ikut arus dengan latahnya. Sehingga, kisah Bima mencari Kawruh Sejatining Urip hanya sebatas kita kenal di pewayangan belaka. Alah mustahil menemukan sejatining urip, yang penting sekarang sebelum mati medeni bocah, nggolet duit saja yang banyak.

Siang hari bekerja berharap mendapatkan gaji, malam hari beribadah berharap mendapatkan surga sebagai imbalannya. Bukan salah mengharapkan imbalan surga, tapi akan menjadi salah kalau surga dimaterialisasikan sedemikian rupa sehingga seolah-olah itu adalah ujung akhir yang kita perjuangkan. Maka tidak aneh sekarang kita kalau mendapati orang mengejar surga, tapi kok dengan bengis begitu, bukannya dengan kasih sayang. Mereka memarjinalkan diri, merasa benar sendiri, menganggap yang lain bodoh, membatasi ruang peningkatan ilmunya, dan merasa sudah berhak atas surga. Bagi orang-orang macam itu, surga dalam benaknya adalah sebuah materi. Materi yang harus mereka gondol. Salah memahami tujuan dan salah memilih cara menuju tujuan adalah dampak dari materialisme yang telah mewabah menjadi sebuah pageblug ini.

Dampak berikutnya dari pageblug yang kebanyakan orang tidak menyadarinya ini adalah ketergantungan kita kepada hal-hal yang bersifat materi. Kita hidup tergantung pada gadget, kita hidup tergantung pada uang. Tidak ada gadget uring-uringan, tidak ada uang pusing bukan kepalang. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan gadget terbaik dan uang sebanyak-banyaknya. Seolah-olah gadget dan uang adalah sumber kehidupan, sampai lupa bahwa yang membuat kita hidup itu bukan dua hal itu, tetapi nafas. Sehingga merasa tidak penting mengenali nafas ini yang membuat keluar masuk di hidung di tubuh sebelah mana ya penggeraknya? kemudian siapa Yang Menggerakkan?

Selain tergantung pada karya-karya teknologi manusia seperti dua hal tersebut, kita juga menjadi gagap tidak bisa mengenali teknologi Tuhan yang ada di dalam diri kita, yang tidak perlu diriset lagi tinggal diaktivasi. Telepati dianggap mistik, self-healing dipercaya ada campur tangan jin, pemetaan karakter dengan personality plus disebut musyrik. Seperti mobil mewah bahkan lebih mewah fitur teknologi yang tertanam dalam diri kita, tetapi kita tidak bisa menggunakannya, karena memang kita sedang meriang, ketungkul mengelap ‘umbel‘ materialisme. [] RedJS

Modus Penyeimbang

Diantara saudara-saudara kita ada yang untuk menemukan hidupnya kembali harus lebih dulu mengalami gagal ginjal, stroke, liver, atau kehilangan satu kakinya. Penyakit jasmani yang kronis menjadi penebus untuk memperoleh kesehatan hati. Hal tersebut merupakan mekanisme alamiah alam untuk menarik manusia agar senantiasa selalu berada pada garis orbitnya, sesuai dengan hukum keseimbangan.

Ketika manusia kehilangan keseimbangan naturalnya, misalnya akibat hatinya disesaki oleh polusi materialisme : haus jabatan, gejolak ambisi, gairah mencuri dan korupsi, alam akan segera menjalankan mekanisme sunahnya, yakni mekanisme penyeimbangan. Sebagai contoh, ada seorang kaya raya, tetapi hatinya kikir, perilakunya arogan, perangainya congkak tiba-tiba rumahnya kerampokan, istri dan anaknya dianiaya. Hingga pada akhirnya keluarganya jatuh miskin dan barulah ia sadar, perilaku dan perangainya berubah menjadi baik. Maka serentetan peristiwa perampokan itu merupakan modus dari mekanisme penyeimbangan alam.

Kekikiran, arogansi dan kecongkakan orang tersebut adalah bentuk ketidaksemimbangan akibat ketidaksiapan mentalnya menyikapi keberlimpahan yang dia terima. Kemudian perampok yang datang itu sesungguhnya adalah perwujudan dari energi alam yang mencari orang kaya tersebut untuk membuatnya kembali kepada orbit alamiahnya.

Banyak ragam bentuk tagihan keseimbangan yang dilakukan oleh alam untuk menjaga ‘mizan’ atau keseimbangan nilai yang dikehendaki Tuhan. Dalam khasanah kearifan lokal orang jawa memiliki filosofi, “Ngunduh wohing pakarti” juga “Sapanandur arep ngunduh”. Kepekaan spiritual orang-orang tua kita telah menangkap informasi alam mengenai nilai- nilai yang harus dijaga dalam perilaku hidup kita. Karena segala perangai dan tabiat kita tidak akan lepas dari sensor alam. Dan semua akan kembali menagih dengan perhitungan yang tidakbias kita manipulasi akurasinya.

Kemudian di dalam Islam kita mengenal Idul Fitri, yaitu hari dimana kondisi manusia mencapai kesucian kembali setelah dicuci oleh lelaku puasa Ramadhan. Puasa sesungguhnya merupakan metode pengambilan jarak rohaniah kita dengan materi. Dalam kondisi ‘berjarak” secara rohani itulah manusia berada pada maqom atau posisi ideal sesuai kodrat awal. Puasa adalah jalan alternatif (tarekat) spiritual untuk menyeimbangkan diri kepada orbit alamiah sebelum diseimbangkan secara paksa oleh alam.

:: Sokawera, Purbalingga 29 juli 2013

:: Ditulis oleh : Agus Sukoco
:: Diedit oleh : Rizky Dwi Rahmawan