Mukadimah: FILSAFAT ORANG BIASA

Kalau sebuah tema tidak bisa dikupas dengan tuntas, pembenarannya adalah karena kehidupan ini seperti lapis-lapis bawang yang tak hingga tak pernah bisa habis meskipun terus ditempuh. Namun begitu, bagaimanapun tema demi tema tetap mempunyai fungsi operatif minimal sebagai penanda, “Oh, di waktu itu atau di umur itu kita pernah melewati kurikulum kehidupan tentang sebuah tema”.

Life is a journey. Tiap hari kita berjalan dan berpetualang. Mendapati tempat yang sama dan tempat yang baru. Menyelami makna yang sama dan makna yang baru. Sayangnya, seringkali kita terlalu sibuk mengulik buku-buku, hingga tak sempat menghitung dan mencermati pengalaman milik sendiri. Pengalaman yang merupakan patok-patok penanda bahwa dari waktu ke waktu kita tidak stagnan, melainkan terus mengalami penumbuhan diri.

Kemudian paradoksnya adalah, semakin meningkatnya penghargaan terhadap pengalaman diri sendiri, rasa-rasanya semakin tak cukup dari kebutuhan untuk menyempatkan membaca sebanyak-banyaknya buku. Melahap pola-pola pengetahuan sebagai alat bantu menstrukturkan pengalaman. Begitulah dinamika perjalanan di dalam membangun landasan berpikir di dalam diri. Terus menerus menempuhnya sehingga meskipun kita menjalani hidup sebagai orang biasa, tetapi dapat selalu mengambil keputusan dan tindakan secara matang.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Oktober 2020 LIVE! melalui Channel Youtube: Juguran Syafaat.

Lahir Bersama

Dua puluh enam adalah umur dimana remaja yang sedang meniti keseriusan, kesetiaan, dan rasa sayang menuju kedewasaan untuk mengetahui, menemukan arah yang tepat dalam berbagai hal.

Tema Dhaluman Jahula menjadi tema untuk menjadi pondasi awal dan kuda-kuda hati ini menjalani dan mentadaburi Majelis Ilmu Maiyah PadangMbulan berusia 26 tahun menurut tanggal Masehi, menjadi menarik dimana situasi manusia disekeliling kita tidak memahami dirinya dalam ruang dan waktunya.

Saya sangat bersyukur dalam perjalanan keilmuan ini, saya menemukan ada mata air kehidupan yang sangat baik untuk mencuci ( wudlu) , hiruk pikuk kehidupan sehari 24 jam yang oleh Mbah Nun sebut dalam sebuah video Akik Maiyah ( kita harus sregep dan tandang, saya menyebut nya kalo malas adalah perbuatan dosa), ini bisa menjadi acuan, passing atau Long Pass dalam sepak bola untuk terus mengalir dan bergerak bola itu. Tidak ada yang sia – sia Allah menciptakan semua ini untuk hambanya.

Selalu terasa getaran cinta ini untuk selalu menyayangi dan rasa kangen terus menerus untuk Ber Maiyah, tidak ada rasa merasa bisa, tahu dan mengerti persoalan apapun, bisa rumangsa udu Rumangsa bisa, kita hanya berusaha memahami dan mengerti posisi yang pas agar setiap persoalan tidak terlalu tertindas dan sedih.

Dua puluh enam tahun menjadi istimewa karena PadangMbulan dan saya memasuki cakrawala baru, usia baru untuk terus bisa mencoba dan mengerti posisi yang tepat agar apapun yang dilandasi dengan akar cinta dan kasih sayang bisa berbuah dengan baik.

Terimakasih sedulur Maiyah nusantara. Terus yakin dan bersyukur atas apa yang dikehendaki Allah atas diri kita.

Mukadimah: HOLOPIS KUNTUL BARIS

Momentum itu sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan kita menungguinya. Tetapi apabila menunggu sesuatu yang tak pasti adalah pekerjaan yang menjenuhkan, lebih baik momentum itu kita sendiri yang menciptakannya. Untuk menggotong sebuah benda yang berat, beberapa orang dapat mengangkatnya bersama-sama dengan diberi aba-aba agar energi terkumpul sehingga tercipta sebuah momentum. Diaba-abailah “Satu..!!dua..!! tiga..!!” dan sebuah lemari besar pun terangkat.

Aba-aba tak harus ditunggu dari siapa pun. Kita yang sedang menggotong dengan beramai-ramai dan beramai-ramai pula meneriakkan aba-aba itu pun bisa. Ini seperti lazim nya di jaman kakek buyut kita dahulu, mereka menggotong kayu gelondongan berukuran begitu besar, tanpa alat berat. Mereka terbantu oleh teriakan serempak mereka sendiri “Ho..!!lo..!!pis..!!kun..!!tul..!!ba..!!ris..!!”. Beban yang begitu berat pun bisa terangkat. Satu teriakan, satu tahapan gerakan atau langkah. Begitu pulalah, satu aba-aba yang disetia, melahirkan satu tahapan movement.

Kalau hari ini kita sudah beramai-ramai berkumpul, kalau hari ini kita sudah berpadu sinergi tetapi movement yang kita harapkan tak kunjung terjunjung, bahkan di antara kita ada yang begitu solidnya mengorganisir diri, tak cukup itu, mereka me-merger tak hanya waktu dan tenaga bersama-sama, tetapi juga pikiran bahkan hingga modal, ada yang membentuk dari mulai korporasi hingga koperasi,tak sedikit yang staminanya terkuras untuk bejibun program kepedulian sosial dan berbagi, tetapi gelondongan perubahan tampak masih gagal untuk bergeser. Apakah gerangan sebabnya?

Sebab nya jangan-jangan adalah, suara masing-masing kita hanya menjadi suara gaduh belaka, sehingga tidak berfungsi menjadi sebuah aba-aba. Sehingga momentum perubahan pun tak kunjung tercipta.[RedJS]

BERTANAM KESUBURAN DI KEBUN-KEBUN MAIYAH

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia…” (QS. Al-An’am: 70)

Sampai hari ini sudah tak kurang-kurang Maiyah menyayangi Indonesia. Dan masih tersedia berlaut-laut cinta dan ilmu untuk lebih menyayanginya. Tetapi tanah Indonesia tidak merekah oleh biji cinta Maiyah yang ditanam padanya.

Maka mulai bakda Idulfitri 1438 H Jamaah Maiyah mengkonsentrasikan hidupnya yang primer-wajib ke dalam dirinya, keluarga masing-masing dan jaringan persaudaraan Maiyah. Yang sekunder-sunnah untuk luar Maiyah: Ummat Islam, Bangsa dan Negara Indonesia, dan ummat manusia.

Secara lebih lengkap latar belakang dan proses sebab akibat kenapa Haluan ini diambil, secara simultan dicari, dirembug, dan ditemukan oleh Jamaah Maiyah, serta diungkap oleh Redaktur Maiyah sesudah menggalinya dari Marja’ Maiyah.

Primer-Wajib:

Dengan bekal ilmu, pengetahuan dan pengalaman bermaiyah, Jamaah Maiyah memastikan penghidupan ekonomi diri dan keluarganya masing-masing. Mengambil keputusan tentang apa yang dipilih untuk dikerjakan dan diperjuangkannya, demi memastikan “wala tansa nashibaka minad-dunya“.

Jamaah Maiyah yang sudah stabil dengan pijakan penghidupannya bersama keluarganya, merintis peningkatan daya penghidupan itu, mempermatang kemampuan keusahaannya, merajut sinergi sesama Jamaah Maiyah, melebarkan jangkauannya, menaikkan kadarnya, memperkuat akarnya serta memperlebat pembuahannya.

Jamaah Maiyah memacu “wala tansa nashibaka minad-dunya“, memperluas dan memperkaya wilayah-wilayah ijtihad keusahaannya, kreativitas produktifnya, inovasi dan invensinya, berakar dan berpijak pada fadhilah atau bakat atau kecenderungan masing-masing.

Tidak ada batas bagi ijtihad usaha itu: tanah, logam, bunyi, huruf, angin, energi, maya, rupa, dan segala kemungkinan rezeki dari Allah. Termasuk memaiyahkan kekayaannya, harta bendanya, energi dan spirit rohaniahnya.

Wala tansa nashibaka minad-dunya” Jamaah Maiyah dimaksimalkan sampai tingkat setinggi dan seluas apapun, sampai kemungkinan mencipratkan atau melimpahkan manfaat bagi masyarakat sekitar, ummat, bangsa dan Negara Indonesia maupun Dunia. Tetapi tetap meletakkannya di dalam niat primer-wajib “atakallahud darol akhirah” dengan konsentrasi wajib mengolah kesuburan Kebun Maiyah.

Sekunder-Sunnah:

Jamaah Maiyah di setiap titik dan lingkaran:

  1. Mempersiapkan tradisi Wirid Kesuburan Kebun Maiyah.
  2. Menjajaki ketersediaan “Pasukan Tahlukah” untuk mobilisasi “Hizib Wabal”.
  3. “Memperbanyak Kekasih Allah”.
  4. Menginvestasi butir-butir emas berlian mutiara yang Allah memfadhilahkannya hanya di Maiyah.

Muhammad Ainun Nadjib⁠⁠⁠⁠
17 Juli 2017

Sumber : https://www.caknun.com/2017/bertanam-kesuburan-di-kebun-kebun-maiyah/

Menyambut 2017 dengan Silatnas 2016 Jannatul Maiyah

Pertemuan Silatnas 2016 penggiat simpul Maiyah telah berlangsung pada 16-17 Desember 2016 di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta. Silatnas 2016 ini dihadiri oleh perwakilan 23 simpul Maiyah dari berbagai daerah: Surabaya, Tuban, Madiun, Semarang, Solo, Ungaran, Salatiga, Yogyakarta, Purwokerto, Pemalang, Tasikmalaya, Bandung, Lampung, dan lain-lain.

Berbeda dengan dua silatnas sebelumnya, Silatnas 2016 ini dirancang secara lebih praktis dengan agenda utama Isim Maiyah mendengarkan updateperkembangan, uneg-uneg, pertanyaan, maupun hal lain yang perlu didiskusikan dan dicari formula implementasinya. Selain itu, dalam Silatnas di Kadipiro ini, para perwakilan Simpul Maiyah diajak menggali dan menyerap ilmu dari Cak Nun, Pak Toto, dan Mas Sabrang pada sesi tengah malam di hari pertama.

Perwakilan-perwakilan Simpul bergiliran menyampaikan perkembangan masing-masing Simpul, baik yang berhubungan dengan kegiatan rutin yang mereka gelar maupun penataan organisme di masing-masing lingkup, dan hal-hal lain eksternal yang mereka hadapi. Hampir sebagian besar berbicara soal detail spesifik, sekalipun beberapa yang lain berkaitan dengan perilaku dan pemahaman. Persoalan spesifik dan teknis ini sangat penting, karena di wilayah ini akan terepresentasikan ekspresi nilai Maiyah yang diwakili oleh masing-masing simpul.

Foto: Adin

Sebelum mereka berbicara, Sekjen Isim Maiyah memberikan pengantar, di antaranya menyangkut perilaku jamaah Maiyah di media sosial. Berangkat dari pengantar itu, para perwakilan satu per satu menyampaikan update. Penyampaian ini langsung mendapatkan respons dan saran-saran dari Sekjen Isim Maiyah yaitu Ahmad Syakurun Muzakki. Apa yang mereka kemukakan terentang mulai dari soal media sosial, penataan acara, apa yang harus dilakukan Simpul ketika di wilayahnya ada Sinau Bareng CNKK, kenyataan implementasi simpul sebagai bagian dari keluarga informasi, persoalan simpul-simpul baru yang masih muda, bagaimana memilih orang yang bisa dijadikan orang tua atau sesepuh bagi Simpul di tempat masing-masing, bagaimana membawa diri agar tidak dianggap sebagai satu di antara ormas dan aliran-aliran yang ada, bagaimana merespons harapan spesifik masyarakat, hingga soal bagaimana memahami pemikiran Cak Nun dengan segenap roso dan hati nurani.

Dari keseluruhan paparan yang berlangsung dua sesi, 16 malam dan 17 pagi, didapatkan saran-saran dan rekomendasi global dari Sekjen Isim Maiyah. Di antaranya,

  1. Isim Maiyah menyarankan agar teman-teman Simpul Maiyah atau Jamaah Maiyah meningkatkan kedewasaan dalam bermedia sosial serta teman-teman Simpul Maiyah dapat memaksimalkan manfaat Ibu Informasi yaitu caknun.com.
  2. Isim Maiyah menyarankan agar setiap Simpul pada Maiyahan rutinnya menyempatkan membahas dan mengkaji perkembangan ilmu Maiyah di caknun.com.
  3. Isim Maiyah mengharapkan agar mulai 2017 Simpul-Simpul Maiyah lebih mandiri dan independen dalam mengorganisir dirinya, dan agar hal ini bisa optimal dan berkualitas, setiap Simpul Maiyah hendaknya memiliki roso Maiyah sehingga dapat menimbang dan menentukan dengan baik tatkala berupaya menemukan ketepatan, kepatutan, dan kelayakan dalam melaksanakan aktivitas Maiyahan maupun aktivitas lain yang berhubungan dengan Maiyah.
  4. Isim Maiyah menyarankan agar para penggiat Simpul Maiyah di kota atau daerahnya kebetulan berlangsung Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk berkoordinasi dengan Sekjen Isim Maiyah untuk kelancaran dan maksimalnya acara.

Poin-poin yang diperoleh dari paparan-respons dan saran-saran atau rekomendasi itu dimaksudkan memperkuat dan membekali para Simpul Maiyah dalam melaksanakan Maiyah sebagai Majelis Ilmu (dengan guru utama Cak Nun, Cak Fuad, dan Syaikh Nursamad Kamba) dan anjuran Cak Nun pada saat Padhangmbulan bulan November lalu bahwa Jamaah Maiyah (atau sejak malam itu disebut Cak Nun dengan Jannatul Maiyah) lebih-lebih dalam situasi-situasi saat ini mengonsentrasikan dirinya di dalam Kebun Maiyah untuk (ke dalam) melakukan Ziro’ah (“menanam”) dan (ke luar) Shoum (puasa) dan Shadaqah (lumo atau murah hati). Di dalam kemandirian dan independensi itu, hubungan antara Isim Maiyah dengan simpul-simpul Maiyah adalah keperluan bersama untuk melakukan “hujan deras” informasi, manfaat, nilai, dan ilmu kehidupan. Sementara itu, Pak Toto Rahardjo menyarankan agar para Simpul Maiyah dapat lebih menggali dan mengeksplorasi ilmu dari Cak Fuad dan Syaikh Nursamad Kamba.

Rekomendasi Marja’ Maiyah

Selain Isim Maiyah mendengarkan dan merespons apa-apa yang disampaikan perwakilan Simpul Maiyah, Cak Nun juga berkenan memberikan wawasan dan saran agar seluruh pemikiran dan perencanaan penggiat Simpul Maiyah dapat maksimal. Setidaknya ada tiga saran penting Cak Nun selaku marja’ Maiyah.

Pertama, Cak Nun merekomendasikan agar pertemuan atau Maiyahan bulanan pada masing-masing Simpul diselenggarakan dari semangat Sinau Bareng, dikelola dan diformulasikan juga oleh semangat Sinau Bareng sebagaimana selama ini Cak Nun dan KiaiKanjeng lakukan.

Kedua, terutama sekali dengan perkembangan nasional akhir-akhir ini, para Simpul Maiyah tak boleh lupa dan harus menyadari akan apa yang oleh Cak Nun sebut sebagai Solusi Segitiga Cinta (Allah, Nabi Muhammad, dan hamba). Bulatan bumi ada di dalam segitiga cinta itu. Masalah-masalah di dalam bulatan bumi ini tak bisa dicari rumusannya dari dalam bulatan bumi itu sendiri. Di dalam bulatan bumi itu ada keluarga kita, komunitas kita, dan bangsa Indonesia. Solusi atas masalah di setiap titik itu harus berasal dan dicari dari getaran dan aliran cinta segitiga itu. Poin ini harus lebih banyak dipelajari, dipahami, dan dieksplorasi oleh masing-masing Simpul Maiyah.

Ketiga, Cak Nun menyarankan dan merekomendasikan agar dalam setiap mengupayakan atau memperjuangkan apapun saja, para Simpul Maiyah hanya menyandarkan harapan kepada Allah semata. Wa ila Robbika Farghob.

Foto: Arul

Demikianlah, dengan saran dan rekomendasi, khususnya dari Cak Nun, Silatnas 2016 Jannatul Maiyah di Kadipiro 16-17 Desember 2016 lalu, harapannya para penggiat Simpul Maiyah dan Jamaah Maiyah atau Jannatul Maiyah dapat menapakkan kaki ke 2017 dengan meningkatkan presisi, keseimbangan, dan kematangan ilmu dan laku dalam menjalankan aktivitas Maiyah yang resonansinya tak hanya ke dalam tetapi juga ke luar. Tentu saja, rekomendasi-rekomendasi tersebut harus disertai pemahaman dan internalisasi terus-menerus termasuk dalam bentuk dituliskan agar tak hilang ditelan waktu. [] RedJS

sumber : https://www.caknun.com/2016/menyambut-2017-silatnas-2016-jannatul-maiyah/

Ihtifal Maiyah, Momentum yang Tak Boleh Dilewatkan

Hari itu adalah hari jum’at. Tanggalnya 27 bulannya Mei. Hari itu menjadi hari yang kami anggap begitu istimewa, karena pada hari itu guru kita Muhammad Ainun Nadjib genap berusia 63 tahun.

Sebagai rasa syukur atas kehadiran beliau di tengah-tengah kita, atas taburan ilmu yang begitu bermanfaat bagi hidup kita jamaah Maiyah, maka saya ingin menjadi bagian yang ikut serta nyengkuyung adanya perhelatan Ihtifal Maiyah. Acara tersebut dihelat di halaman rumah di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Jombang. Acara Ihtifal Maiyah ini di gelar sebagai edisi istimewa dari Maiyahan Padang mBulan. Maiyahan yang biasanya digelar setiap malam Purnama. Maiyahan yang menjadi ibu kandung dari lahirnya simpul-simpul Maiyah. Padang Mbulan sendiri sudah berusia 23 tahun, keberadaannya juga telah menginisiasi lahirnya simpul-simpul Maiyah di berbagai daerah di Nusantara.

Pada acara Ihtifal Maiyah yang digelar kemarin, penggiat simpul-simpul Maiyah dari seluruh negeri berkumpul. Semua hadir dengan penuh semangat, rasa-rasanya memang kami benar-benar tidak ingin melewatkan acara penting ini. Pokoknya kami harus hadir pada acara tersebut, begitu semangat yang ada pada kami.

Saya dan rekan-rekan penggiat dan jamaah Juguran Syafaat ikut berbaur bersama ribuan peserta ihtifal Maiyah. Kami seperti tenggelam, karena jumlah yang hadir begitu membludak, sementara jumlah kami masih hitungan jari.

Dengan menggunakan kereta api Logawa, Ba’da Shubuh kami bertolak dari stasiun Purwokerto untuk menuju Jombang.

Tanpa direncanakan di awal, ternyata kami tidak sendirian, di stasiun Lempuyangan Jogja bertemu dengan Fafa dan Ajik, mereka berdua dari Rembug Mocopat Syafaat (RMS). Tanpa janjian, kami duduk di gerbong yang sama bahkan bangku yang sama pula. Menakjubkan..

Sepanjang perjalanan pun kami jadi bisa saling berbagi, bercerita pengalaman dan banyak hal yang itu semua makin membuat asyiknya perjalanan.

Sesampai di Stasiun Jombang tanpa janjian pula,  ternyata kami bertemu dengan Mas Islamiyanto. Akhirnya kami dijemput bersama-sama untuk meluncur menuju Menturo. Selaku panitia penjemputan adalah rekan-rekan dari Bangbang Wetan.

Ketika kami tiba, di Pendopo Sentono Arum sedang berlangsung koordinasi simpul nasional bersama Harianton selaku koordinator. Sejenak kami berziarah, kemudian bergabung di dalam forum bersama rekan-rekan lainya yang berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Waktu makan bersama pun tiba. Kemudian acara dilanjutkan dengan bersih-bersih. Selanjutnya masing-masing menjalankan ritual pribadi: ngulat-ngulet, udad-udud dan ngopi-ngopi.

Di dalam Ihtifal Maiyah, kami diamanti rekan-rekan Penggiat dan Jamaah Juguran Syafaat untuk menyerahkan kado sederhana untuk Simbah.

Kado sekaligus ungkapan rasa syukur dan terima kasih yg sedalam-dalamnya kepada Guru kita atas seri tulisan DAUR yg setiap hari terbit. Tulisan baru yang belum pernah diterbitkan, maka dengan kepolosan kami, kami yang jarang sekali menulis, bahkan tidak kenal dengan budaya menulis maka sebisa-bisanya kami menulis, tidak lain hanya sebentuk apresiasi atas bermanfaatnya DAUR.

Kumpulan apresiasi dari rekan-rekan berupa tulisan tersebut kemudian kami bendel menjadi sebuah buku sederhana yang kami beri judul: “Takdzim”.

Mulai bakda Maghrib kami  mencari dan menyampaikan buku tersebut satu persatu. Sebelum penerima utama yakni Simbah guru Muhammad Ainun Nadjib.
Kesempatan ada, tapi kami gojag-gajeg sendiri merasa tidak pantas memberikannya, takut tidak dalam ketepatan  menghadap, tidak punya keberanian menyampaikan.

Sebenarnya mungkin tidak ada masalah, kami saja yang belum cukup berani menghadap langsung, bukan apa-apa, kami takut lancang, takut tidak empan papan, takut memberi kesan negatif dan lain sebagainya.

Hingga acara Ihtifal Maiyah dibuka, kami masih gojak-gajek sendiri. Belum berani menunaikan tugas kami menyampaikan buku “Takdzim” kepada si Mbah.
Kami mengikuti acara dari awal hingga akhir, dari pembukaan, kemudian penampilan-penampilan dari rekan-rekan simpul. Tampil pula Komunitas Lima Gunung pimpinan Tanto Mendut, juga Letto Band yang bukan sekedar menghibur kami lewat syair indahnya namun kami dikasih bocoran-bocoran syair yg syarat dengan kedalaman makna. Luar biasa kesan kami.

Acara kemudian disambung dengan acara Maiyah seperti format biasanya, pendaran ilmu dari guru kita, Cak Fuad, Mas Sabrang, Kyai Muzamil dan respon dari jamaah semakin  memperkaya ilmu kita.

Acara Ihtifal Maiyah kemudian di akhiri sekitar jam 03.30. Kami teringat ada tugas yang belum kami tunaikan. Mekanisme menuntun kami, waktu, suasana dan tentu saja keberanian kami menghadap akhirnya muncul. Didampingi oleh Gandhie, akhirnya tersampaikan juga buku sederhana pertama kami. Buku yang ditulis oleh bukan para penulis, banyak diantaranya bahkan baru pertama kali membuat tulisan.

Kami sangat berbahagia sekali buku sederhana kami di apresiasi oleh Simbah. Apresiasi dan wejangan dari Simbah menjadi bonus-bonus ilmu setelah semalaman kami ditaburi hidayah dan ilmu.

Simbah diantaranya menyampaikan, bahwa DAUR adalah tulisan yang tidak ada kata akhir. Saya  terperangah ketika Simbah menyampaikan bahwa apa yang sebetulnya ingin ditulis oleh Simbah justru belum tertuliskan.

Simbah juga menyampaikan bahwa acara Ihtifal Maiyah adalah momentum, dimana tepat hari ini matahari berada di atas ka’bah, itu berarti Kiblat kita jg harus lebih ditepatkan. Hal itu harus kita berlakukan ke dalam diri kita, internal simpul, makin disiplin, makin semangat, makin apa saja.

Ihtifal Maiyah ini tidak ada target apa-apa, targetnya ya ini seperti ini. Sudah seperti ini kita berkumpul dalam persaudaraan, berbagi senang, kebaikan, lalu apalagi. Kalau acara tidak dipuncaki tadi, mau sampai jam tujuh pagi kalian tidak akan bubar pasti, demikian kata Simbah. [] Karyanto