Roller Coaster Kesusahan-Kegembiraan

Setiap orang adalah narasumber. Sebab pengalaman berproses yang dialami seseorang adalah ayat-ayat Tuhan yang tidak berharokat yang mestinya tidak satupun dilewatkan dari proses mengambil pelajaran. Masih memakai zoom untuk virtual forum, pada selasaan kali ini (28/04/2020) penggiat yang kebagian menjadi narasumber adalah Azis dan Fikry.

Work from home dimanfaatkan oleh Azis untuk mempraktekkan ilmu yang dia peroleh dari Sekolah Alam Cilacap tempat kedua anaknya menimba ilmu. Ilmu yang dimaksud yakni menyemai benih sayuran dengan media gedebog pisang (kulit pohon pisang).

Bagi si anak, kegiatan pembelaran ini berguna untuk memenuhi tugas belajar dari sekolah. Bagi si orang tua, kegiatan belajar ini adalah saluran kegiatan positif untuk eh siapa tahu angan-angannya terwujud. “Ada loh, orang yang hidup dari tanaman sawi. Kebunnya tidak luas, tetapi tiap hari panen, tiap hari ia jual sendiri ke pasar. Tanpa perantara”, ujarnya. Aih, siapa tidak kepincut menjadikan itu angan-angan coba, tiap hari panen, tiap hari menjual dan tiap hari mendapatkan uang.

Kegiatan bisnis tetap berjalan. Tambak udang vanamei yang ia geluti sedang terdampak lesu. Terpaksa ia harus merumahkan dua orang karyawannya. Kegelisahan tak berbeda jauh diungkapkan sang narasumber kedua, Fikry. Bagaimana ia mengusahakan dengan maksimal agar karyawannya di Studio Foto tidak sampai dirumahkan.

Ia pun memakai skala prioritas, yang paling harus dipertahankan adalah karyawan yang mempunyai tanggungan keluarga. Di tengah dampak sepi usaha, ia masih bersikukuh memegang value, “Mosok setiap kali mendapat omzet gedhe, Saya yang paling gedhe menikmati. Ini keadaan sedang begini, mosok Saya cari aman sendiri. Juragan capa apa?”, ungkapnya.

Fikry juga sharing tentang pengalamannya bergaul dengan big bos-big bos bisnis telekomunikasi. Terkait recovery keadaan hari ini, ia berpendapat bahwa bisnis-bisnis besar ketika sudah membaik akan memberi dampak yang lebih signifikan. Misalnya ada 6-7 perusahan telekomunikasi dengan perputaran 7-10 M perbulan membaik keadaannya, dampaknya baru akan sebanding kalau itu pedagang rumahan, butuh ribuan jumlah usaha. Oleh karena itu, peran pemerintah membuat aturan-aturan yang mendukung geliat bagi perusahaan nantinya sangat berpengaruh.

Dari realitas usaha, proyeksi keadaan, kemudian bergeser ke realitas berkomunitas. Ia mengaku kemampuan berbagi untuk sesama sudah sangat terbatas. Tapi ia komit, bentuk bantu teman yang ia lakukan adalah kalau ada teman yang jualan di whatsapp misalnya, ia upayakan untuk ikut nglarisi.

Hari ini ‘semua’ orang jualan di akun masing-masing. Entah meningkat berapa kali lipat. Sedangkan jumlah orang yang mampu beli menurun. Sebab masing-masing tentu saja memperketat skala prioritas belanjanya.

Penggiat lain merespons, Anggi, ia bercerita tentang ibunya, “Ibuku tuh orangnya nggak enakan sama orang. Jadi kalau ada yang jualan ya selalu dibeli”. Jadi terbaca, segmentasi penjual dadakan di era pandemi setidaknya ada dua: 1) orang yang ingin bantu teman, 2) orang yang nggak enakan. Mungkin masih bisa dianalisis lagi berapa lapis segmen lain yang belum terdeteksi.

Kemudian, Rizky merespons. Di balik kabar sedih-sedih di atas. Ada kabar gembira yang bisa kita kulik dari era Pandemi ini. Setidaknya ada dua: 1) Orang sekarang berbondong-bondong untuk hidup bersahaja. Jadi, kita yang sudah terbiasa hidup alakadarnya selama ini, gagap gaya hidup, minim ornamen dan fakir piknik, sekarang jadi banyak temannya. Enggak perlu minder lagi. Lalu, 2) Nilai uang meningkat berkali lipat. Sama-sama 100ribu, hari ini lebih terasa berharga dibanding beberapa bulan lalu. Jadi, coba buka lagi peluang-peluang usaha masa lalu yang malas mengambil karena cuan sedikit. Jangan-jangan margin yang remah-remah hari ini begitu berharga.

Pembahasan yang mestinya membikin kepyar malahan menjadi agak sepaneng. Sebab memang begitu dinamisnya realitas yang mesti dihadapi bagi beberapa orang saat ini betul-betul nyata adanya. Namun ada kenyataan yang dienyam secara berbeda pula. Febri dan Anjar misalnya, mereka masih melihat disekelilingnya, masyarakat masih nampak biasa saja. Tetap bepergian, tetap meramaikan pasar. Apa yang tidak normal dari keadaan ini? Itu mungkin yang terpikir dibenak mereka.

Yah, begitulah orang Indonesia, yang oleh Mbah Nun disebut ndemenake alias nyenengin. Sudah DNA-nya orang kita untuk membawa diri dengan baik-baik saja. Sebut saja pengalaman sehari-hari masing-masing kita pasti pernah mengalami, ada orang bertamu ke rumah kita, lalu kita menawarinya makan, jawabannya pasti menolak dengan keras, “Ah, sudah terima kasih. Masih kenyang. Baru saja makan”. Mana tahu orang itu tadi belum sarapan atau tadi malam berangkat tidur dengan lupa makan? Nyenengke tenan.

Lebih nyenengke lagi apa yang diceritakan oleh Huda. Atensi dia justru tersedot oleh pemandangan disekeliling rumah yang kebetulan lingkungan alim-alim. Orang terbelah antara aliran ibadah di masjid, dan ibadah di rumah. Gimana nggak nyenengke, di tengah roller coaster ekonomi, kondisi tidak stabil yang sering berubah mendadak, masih saja ada orang-orang yang dengan selow meributkan agama pada sisi-sisi yang rentan eksistensialisme.

Lepas dari semua itu, ini kondisi mungkin masih berubah dengan serba cepat. Tak perlu pusing kita mandeg memikirkian suatu hal. Cepat membaca keadaan. Cepat mengambil sikap. Itu lebih memberdayakan. (Rizky D. Rahmawan) 

Santiaji Pancasila

Kayaknya, sih, acuan moral mengenai pola hidup bersih sudah tertanam sejak kala usia sekolah dasar. Seingat Saya, nasehat mulia “Kebersihan adalah sebagian dari Iman” malah pernah terpacak pada lembar halaman tepi bawah buku tulis. Nyatanya, menginjak dewasa menuju tua, secara periodik Saya selalu saja khilaf menempatkan puntung rokok tidak pada tempat semestinya. Mohon maaf atas blunder yang saya lakukan ini.

Menyimak lalu lintas percakapan media sosial, terutama obrolan yang mengangkat tema-tema sensitif, saya tak ubahnya seperti nonton atraksi Limbad. Meresahkan, ngeri dan detak ritmik jantung berdentum kencang bersaing dengan notifikasi “beep” Wa Group Alumni SMP dan SMA. Hal itu saya alami manakala nemu penyebutan pekok! Koplak! bego dipeliara! anjing loe! dan ungkapan emosional yang se-famili lainnya.

Sebenarnya mereka paham kok, kalau itu perbuatan yang kurang menyenangkan. Sebagai mantan Buzzer Poros Kecepret–sintesa Kecebong dan Kampret, saya juga pernah fasih melantunkan “hate speech” semacam itu. Hingga kemudian saya berkenalan dengan Maiyah.

Dari fenomena masalah sosial di atas, terbentang dua variabel berjarak yang menimbulkan celah alam kesadaran, yaitu fakta atau keadaan (matter) dan makna (value) sebagai variabel tetap, sedangkan kesadaran (mind) merupakan variabel yang bebas.

Sabrang Mowo Damar Panuluh dalam khotbahnya pada Seminar dan Dialog Interaktif bertema Generasi Milenial Mengenal Pancasila yang dihelat DEMA IAIN PURWOKERTO pada Senin, 14 Januari 2019 kemarin mendeskripsikan dengan istilah pulau dan selat. Jelasnya, tong sampah adalah pulau fakta. Lalu  “Kebersihan sebagian dari Iman” serupa pulau makna. Selat yang tercipta dari pulau imajiner tersebut tentu tidak terisi air laut, tapi oleh kesadaran individu manusia.

Bagaimana kesadaran individu terbentuk? lanjut Mas Sabrang, banyak sebab yang melatarbelakanginya. Pengalaman inderawi, basis dan setting sosial sangat mempengaruhi kesadaran individu manusia sebagai produk sosial masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya kita jangan sampai terlalu gegabah untuk mem-vonis orang lain sebagai, katakanlah, “Tidak Pancasilais!” dengan tanpa terlebih dulu melacak riwayat historis-sosiologisnya.

Sesuatu yang jauh hari sebelumnya telah diingatkan Carl Gustav Jung, murid Sigmund Freud, “Thinking is difficult, that’s why most people judge“.

Kasus faktual dari Totman, nama samaran, ABG tua berambut gondrong yang nekad mbethot gas Vespa butut kesayangannya saat lampu merah menyala usai menyaksikan kekalahan Timnas adalah contoh kesadaran yang tak perlu kita “copy paste”.

Karyanto, nama samaran juga, suatu malam kehujanan, sendirian dan Pos Polisi kosong. Akan tetapi, Dia istiqomah memilih berhenti mengikuti petunjuk tulisan “Belok kiri ikuti lampu” sembari berdendang lirih beberapa bait lagu “Sandaran Hati” milik Band Letto. Usut punya usut, Karyanto baru saja “jadian” dengan wanita sholehah. Bentuk kesadaran jenis ini masih perlu untuk diseminarkan lagi.

Memasuki puncak seminar pada perjumpaan agung di Aula GSC Kampus IAIN kemarin, Saya malah sibuk dengan pikiran saya sendiri, berusaha mencari kepastian jawaban atas wacana yang dibangun Mas Sabrang sampai ketika tiba-tiba terbersit dalam ingatan quote dari Mbah Guru Emha Ainun Najib yang saya temukan via Instagram : “Bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu tidak terutama tergantung pada keadaan-keadaan yang baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu”.

Semoga orang-orang seperti Totman dan Karyanto di atas bisa menghayati quote ini secara arif.

Melangkah sesi diskusi, seorang audiens mengajukan pertanyaan yang seolah biasa saja tetapi memantik jawaban yang mengusik mindset kita selama ini : “Sebagai mahasiswa, kontribusi nyata seperti apa yang bisa dilakukan dalam hubungannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Sabrang hanya tersenyum. Menurut Beliau, selama ini dalam memandang dan memahami Pancasila Kita terlalu terpukau dengan teori politik kenegaraan yang canggih dan dipusingkan dengan nilai-nilai filosofi yang njlimet. Padahal, lanjutnya, hakekat Pancasila secara sederhana adalah bagaimana mengubah sesuatu yang kacau (chaos) menjadi lebih teratur (order).

Tak harus melulu tentang action setinggi bintang di langit malam. Cukup dengan merapikan kain sprei dan bantal usai bangun tidur, itu sudah Pancasila banget. Contoh kecil dari Mas Sabrang ini lantas disambut gelak tawa peserta seminar.

Pancasila sebagai hasil ijtihad politik Para Bapak Bangsa pendiri Republik berfungsi sebagai fundamen bernegara  atau united value dalam istilah Mas Sabrang. Sekaligus hal itu menjadi payung besar yang menaungi realitas kemajemukan Bumi Nusantara yang sudah sepatutnya kita tegakan bersama dengan penuh kesadaran “holopis kuntul baris”.

Kapolda Jateng yang pada kesempatan acara kemarin diwakilkan oleh Wakapolres Banyumas Kompol Heru Budiharto, S.I.K., M.I.K. yang juga turut serta menjadi narasumber menceritakan tentang pengalamannya ketika studi banding ke Jepang untuk mempelajari sistem pendidikan bagi Kepolisian.

Namun ternyata sistem yang dicangkok dari model pendidikan kepolisian Jepang gagal diterapkan di Indonesia. Menurutnya, hal itu lantaran bangsa Jepang dalam hal apapun lebih homogen, berbeda jauh dengan karakteristik bangsa Indonesia yang sangat heterogen dalam bentangan Sabang sampai Merauke, dari Rote hingga Miangas.

Dari “curhat” Pak Wakapolres itu, menjadi penting untuk kita garis bawahi bahwa dalam perumusan kebijakan publik hingga ijtihad politik seyogyanya tidak pernah lupa dengan sejarah dan akar sosiologis masyarakat kita yang begitu beragam.

Tak ketinggalan, atmosfir hangat dialog interaktif hari itu tak bisa lepas dari keceriaan Mas Bro Zulfikar Abdullah Iman Haqiqi alias Omen selaku moderator yang doyan ceplas-ceplos melempar jokes segar. Lewat leluconnya, Ia dengan sangat sukses berulang kali merapikan kerutan kening audiens, efek samping dosis materi obrolan yang memang rada berat.

Kiranya, patut kita apresiasi dengan memberikan “Like” beribu jempol untuk DEMA IAIN PURWOKERTO yang dengan begitu tega menyelenggarakan forum edukasi publik pada momen libur kuliah. Situasi yang semasa saya dulu menjadi mahasiswa lebih memilih untuk mudik ke kampung halaman.

Akhirnya, catatan dhuafa ini saya pungkasi dengan mengutip pernyataan dari Wakil Rektor III IAIN PURWOKERTO, Dr. H. Supriyanto, Lc., M.S.I. saat menyampaikan sekelumit pembukaan seminar, bahwa “Dulu dan sekarang, sebenarnya masalahnya hampir sama. Tak jauh dari urusan itu-itu saja. Yang beda hanya pemahaman dan sudut pandang yang dipakai.” []Febri/RedJS

Upgrade Penggiat Juguran Syafaat II

Upgrading II Penggiat JS : Memperbaharui Syahadah “kemahalan” berada di Maiyah

Bagi orang-orang yang memilih bergiat di Maiyah, yang pertama-tama mesti di-upgrade adalah kesadarannya. Mas Agus Sukoco di awal sesi Upgrading II Penggiat Maiyah Juguran Syafaat tempo hari menyampaikan bahwa kita ini tidak serta-merta begitu saja berada di tengah-tengah lingkaran Maiyah seperti hari ini. Ada proses panjang yang sudah kita tempuh berupa pencarian-pencarian.

Oleh karenanya, Mas Agus mengajak penggiat yang hampir semuanya hadir malam hari itu untuk menyadari arti “kemahalan” untuk membahasakan nilai keistimewaan atas diterimanya kita di tengah-tengah lingkaran Maiyah.

Sengaja ditradisikan di Juguran Syafaat setiap memasuki Bulan Ramadhan diselenggarakan kegiatan Upgrading. Pada Kamis malam Jumat, 1 Juni 2017 bertepatan dengan 7 Ramadhan 1438 H para penggiat Maiyah Juguran Syafaat berkumpul untuk mengikuti Upgrading yang kedua. Acara berlangung secara bersahaja tidak di hotel mewah sebagaimana lazimnya kegiatan upgrading, tetapi acara dilangsungkan di halaman belakang kediaman Mas Agus Sukoco. Beliau adalah ‘Sifat’ dari Simpul Juguran Syafaat.

Mas Agus sangat menekankan pentingnya menjaga kesadaran “kemahalan” berada di dalam Maiyah.Tujuannya adalah agar kita tidak salah memosisikan diri. Ajakan tersebut dimonumentalisasi dengan pengistilahan yakni, memperbaharui syahadah atau persaksian kita dalam ber-Maiyah.

Diulas pada malam hari itu adalah bagaimana Penggiat Maiyah memperbaiki skala-skala prioritas. Bermaiyah tidaklah sama dengan kita bergabung di dalam organisasi, komunitas, perkumpulan atau club apapun, demikian Mas Agus menandaskan. Bergabungnya seseorang di tengah-tengah lingkaran Maiyah lebih pada orientasi nilai-nilai substantif, bukan perkara identitas komunalitas belaka.

Maka penerapan dalan interpretasi personalnya adalah, apabila seseorang telah menyadari “kemahalan” arti diterima di tengah-tengah Maiyah dan juga menyadari bahwa orientasi berkumpulnya kita adalah sebab nilai-nilai substantif, ketika ada pertengkaran, perselisihan atau pertentangan dengan orang yang sama-sama berada dia tengah-tengah lingkaran Maiyah, kita dapat mengerem, mengalah dan mengeyampingkan itu.

Sebab, yang primer adalah menjalankan tugas-tugas dalam ber-Maiyah. Perselisihan yang timbul jangan sampai menganggu hal yang lebih primer, anggap saja itu dinamika komununalitas belaka. Sebelum tampil keras kepala, lebih baik masing-masing yang sedang berselisih bertanya ke dalam diri, apakah betul yang paling mahal dan bernilai adalah anugerah Maiyah atau ego diri sendiri?

Pada sudut pandang lain Rizky, salah seorang penggiat turut merespon. Bahwa kaitannya dengan syahadah atau persaksian Maiyah kembali, maka PR kita ke depan adalah bagaimana kita menepatkan kaliber.

Sebab kita telah diberi modal yang begitu mahal dan bernilai, misalnya dianalogikan bahwa kita ini kalibernya BUMN, maka hendaknya jangan kita memiiki cara berfikir, sikap mental dan kalkulasi-kalkulasi yang kalibernya adalah pedagang kaki lima. Sebab hal itu sama saja kita telah memboros-boroskan modal mahal yang telah dianugerahkan kepada kita.

Piweling soal menepatkan kaliber juga telah diamanatkan oleh Mbah Nun pada kesempatan internalan di Owabong Cottage pada Sabtu, 8 April 2017 yang lalu. Mbah Nun dalam kesempatan internalan saat itu menyampaikan bahwa posisi Maiyah adalah sebagai keris, maka tetaplah menjadi keris. Yakni dengan tidak ikut gaduh bersama mainstream. Sebagai keris, Mbah Nun memberi teladan bahwa selama ini Beliau tidak pernah ‘meminta’ kepada orang lain. Kecuali yang beliau lakukan adalah ‘memintakan untuk orang lain’.

Pada menjelang sesi akhir, Herman, salah seorang Penggiat ikut urun suara, ia mengajak untuk kita memetakan potensi masing-masing. Sebab di Maiyah memiliki sumber daya yang sangat kaya. Ada yang bergerak di bidang seni budaya, lalu pendidikan, kemudian perniagaan, juga agrobisnis serta pergerakan sosial.

Kalau semua itu bisa diramu, saling berbagi peluang dan jejaring satu sama lain, maka betapa semua itu menjadi potensi yang sangat luar biasa.

Pada malam hari itu diulas pula mengenai hakikat Perang Badar. Hakikat perang badar tidak ada motivasi lain selain menolong orang-orang yang lemah. Maka kontekstualisasinya adalah, bagaimana kita akan sangat terbantu untuk menolong diantara kita yang lemah, apabila kita meramu dan membangun potensi yang luar biasa yang dimiliki diantara kita sendiri.

Hingga menjelang Shubuh, kegiatan upgrading yang dimulai pukul 20.00 itu kemudian dipungkasi. Masing-masing tentu saja mendapatkan ‘sangu’ yang berbeda satu sama lain sesuai dengan konteks dan situasi pribadi masing-masing. Tidak ada kesimpulan, maklumat atau petisi apapun yang dihasilkan. Tulisan inipun hanya sebuah potret saja dari sisi redaksi. [] RedJS

71 Tahun Istiqomah Nirakati

Foto: Anggi FS

Tirakat tidak identik dengan ketidakpunyaan. Justru karena bangsa ini memiliki kekayaan yang mengagumkan, sehingga tirakat lekat menjadi tradisi keseharian. Bahkan di puncak kegembiraan berfestifal hari kemerdekaan, warga bergotong-royong di wilayahnya masing-masing menggelar tradisi ‘malam tirakatan’.

KAJ Accoustic tak ketinggalan untuk ikut andil berpartisipasi. Tahun ini teman-teman musisi KAJ Accoustic membersamai warga RT 01/06 di Desa Sokawera, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga dalam rangka malam tirakatan hari kemerdekaan RI ke-71.

Lantunan puji-pujian dan senandung sholawat mengestafeti susunan acara yang telah berlangsung sedari ba’da Isya di halaman Mushola Langgar Syafaat di kompleks kediaman Mas Agus Sukoco malam itu. Setelah warga bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, susunan acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan do’a bersama, baru kemudian sambutan-sambutan.

Sungguh warga negeri ini memiliki kekayaan kultural yang luar biasa. Hingga apa saja kegembiraan yang sedang dijalani semua ditransendensikan, dikaitkan dengan kehadiran Tuhan, diantaranya melalui persembahan do’a bersama dan tahlil. Berbagai jenis kenduri, kenduri menyambut kelahiran, tasyakuran rumah, pernikahan, hingga prosesi duka cita, hingga acara hari kemerdekaan, tahlil Laa Ilaha ilallah tak luput dilantunkan.

Malam itu seratusan warga tua-muda, lelaki-perempuan, termasuk anak-anak dan balita berkumpul bersama dalam suasana guyub, rukun bertetangga, rukub sesama warga. Acara kemudian dipuncaki dengan pembagian hadiah-hadiah yang diselang-selingi oleh lantunan Sholawat KAJ Accoustic. Suka cita dan kesyahduan berpadu. Anak-anak dan dewasa semua kebagian hadiah. Ada 32 mata lomba yang sudah digelar sejak awal Agustus kemarin. Ada pertandingan sepak bola, tenis meja, tarik tambang, makan krupuk, bahkan ada lomba menangis, lomba yang diperuntukkan khusus untuk anak-anak.

Hingga tengara pukul 23.00 seluruh hadiah sudah dibagikan, belasan senandung puji-pujian dan sholawat tuntas dibawakan. Acara kemudian diakhiri, dilanjutkan dengan pemutaran video wayang kulit dengan Dalang Ki Enthus Susmono.

Walaupun bangsa ini masih jauh dari berdikari sebagai ciri dari sebuah negara merdeka, tetapi rakyat tetap bisa bersuka cita dengan caranya sendiri. Walaupun setiap hari para elit penguasa terus ada saja yang membuat rusak kondisi, tetapi rakyat tetap istiqomah setiap tahun nirakati kemerdekaan bangsanya.
Dirgahayu!!! [] RedJS

Ihtifal Maiyah, Momentum yang Tak Boleh Dilewatkan

Hari itu adalah hari jum’at. Tanggalnya 27 bulannya Mei. Hari itu menjadi hari yang kami anggap begitu istimewa, karena pada hari itu guru kita Muhammad Ainun Nadjib genap berusia 63 tahun.

Sebagai rasa syukur atas kehadiran beliau di tengah-tengah kita, atas taburan ilmu yang begitu bermanfaat bagi hidup kita jamaah Maiyah, maka saya ingin menjadi bagian yang ikut serta nyengkuyung adanya perhelatan Ihtifal Maiyah. Acara tersebut dihelat di halaman rumah di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Jombang. Acara Ihtifal Maiyah ini di gelar sebagai edisi istimewa dari Maiyahan Padang mBulan. Maiyahan yang biasanya digelar setiap malam Purnama. Maiyahan yang menjadi ibu kandung dari lahirnya simpul-simpul Maiyah. Padang Mbulan sendiri sudah berusia 23 tahun, keberadaannya juga telah menginisiasi lahirnya simpul-simpul Maiyah di berbagai daerah di Nusantara.

Pada acara Ihtifal Maiyah yang digelar kemarin, penggiat simpul-simpul Maiyah dari seluruh negeri berkumpul. Semua hadir dengan penuh semangat, rasa-rasanya memang kami benar-benar tidak ingin melewatkan acara penting ini. Pokoknya kami harus hadir pada acara tersebut, begitu semangat yang ada pada kami.

Saya dan rekan-rekan penggiat dan jamaah Juguran Syafaat ikut berbaur bersama ribuan peserta ihtifal Maiyah. Kami seperti tenggelam, karena jumlah yang hadir begitu membludak, sementara jumlah kami masih hitungan jari.

Dengan menggunakan kereta api Logawa, Ba’da Shubuh kami bertolak dari stasiun Purwokerto untuk menuju Jombang.

Tanpa direncanakan di awal, ternyata kami tidak sendirian, di stasiun Lempuyangan Jogja bertemu dengan Fafa dan Ajik, mereka berdua dari Rembug Mocopat Syafaat (RMS). Tanpa janjian, kami duduk di gerbong yang sama bahkan bangku yang sama pula. Menakjubkan..

Sepanjang perjalanan pun kami jadi bisa saling berbagi, bercerita pengalaman dan banyak hal yang itu semua makin membuat asyiknya perjalanan.

Sesampai di Stasiun Jombang tanpa janjian pula,  ternyata kami bertemu dengan Mas Islamiyanto. Akhirnya kami dijemput bersama-sama untuk meluncur menuju Menturo. Selaku panitia penjemputan adalah rekan-rekan dari Bangbang Wetan.

Ketika kami tiba, di Pendopo Sentono Arum sedang berlangsung koordinasi simpul nasional bersama Harianton selaku koordinator. Sejenak kami berziarah, kemudian bergabung di dalam forum bersama rekan-rekan lainya yang berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Waktu makan bersama pun tiba. Kemudian acara dilanjutkan dengan bersih-bersih. Selanjutnya masing-masing menjalankan ritual pribadi: ngulat-ngulet, udad-udud dan ngopi-ngopi.

Di dalam Ihtifal Maiyah, kami diamanti rekan-rekan Penggiat dan Jamaah Juguran Syafaat untuk menyerahkan kado sederhana untuk Simbah.

Kado sekaligus ungkapan rasa syukur dan terima kasih yg sedalam-dalamnya kepada Guru kita atas seri tulisan DAUR yg setiap hari terbit. Tulisan baru yang belum pernah diterbitkan, maka dengan kepolosan kami, kami yang jarang sekali menulis, bahkan tidak kenal dengan budaya menulis maka sebisa-bisanya kami menulis, tidak lain hanya sebentuk apresiasi atas bermanfaatnya DAUR.

Kumpulan apresiasi dari rekan-rekan berupa tulisan tersebut kemudian kami bendel menjadi sebuah buku sederhana yang kami beri judul: “Takdzim”.

Mulai bakda Maghrib kami  mencari dan menyampaikan buku tersebut satu persatu. Sebelum penerima utama yakni Simbah guru Muhammad Ainun Nadjib.
Kesempatan ada, tapi kami gojag-gajeg sendiri merasa tidak pantas memberikannya, takut tidak dalam ketepatan  menghadap, tidak punya keberanian menyampaikan.

Sebenarnya mungkin tidak ada masalah, kami saja yang belum cukup berani menghadap langsung, bukan apa-apa, kami takut lancang, takut tidak empan papan, takut memberi kesan negatif dan lain sebagainya.

Hingga acara Ihtifal Maiyah dibuka, kami masih gojak-gajek sendiri. Belum berani menunaikan tugas kami menyampaikan buku “Takdzim” kepada si Mbah.
Kami mengikuti acara dari awal hingga akhir, dari pembukaan, kemudian penampilan-penampilan dari rekan-rekan simpul. Tampil pula Komunitas Lima Gunung pimpinan Tanto Mendut, juga Letto Band yang bukan sekedar menghibur kami lewat syair indahnya namun kami dikasih bocoran-bocoran syair yg syarat dengan kedalaman makna. Luar biasa kesan kami.

Acara kemudian disambung dengan acara Maiyah seperti format biasanya, pendaran ilmu dari guru kita, Cak Fuad, Mas Sabrang, Kyai Muzamil dan respon dari jamaah semakin  memperkaya ilmu kita.

Acara Ihtifal Maiyah kemudian di akhiri sekitar jam 03.30. Kami teringat ada tugas yang belum kami tunaikan. Mekanisme menuntun kami, waktu, suasana dan tentu saja keberanian kami menghadap akhirnya muncul. Didampingi oleh Gandhie, akhirnya tersampaikan juga buku sederhana pertama kami. Buku yang ditulis oleh bukan para penulis, banyak diantaranya bahkan baru pertama kali membuat tulisan.

Kami sangat berbahagia sekali buku sederhana kami di apresiasi oleh Simbah. Apresiasi dan wejangan dari Simbah menjadi bonus-bonus ilmu setelah semalaman kami ditaburi hidayah dan ilmu.

Simbah diantaranya menyampaikan, bahwa DAUR adalah tulisan yang tidak ada kata akhir. Saya  terperangah ketika Simbah menyampaikan bahwa apa yang sebetulnya ingin ditulis oleh Simbah justru belum tertuliskan.

Simbah juga menyampaikan bahwa acara Ihtifal Maiyah adalah momentum, dimana tepat hari ini matahari berada di atas ka’bah, itu berarti Kiblat kita jg harus lebih ditepatkan. Hal itu harus kita berlakukan ke dalam diri kita, internal simpul, makin disiplin, makin semangat, makin apa saja.

Ihtifal Maiyah ini tidak ada target apa-apa, targetnya ya ini seperti ini. Sudah seperti ini kita berkumpul dalam persaudaraan, berbagi senang, kebaikan, lalu apalagi. Kalau acara tidak dipuncaki tadi, mau sampai jam tujuh pagi kalian tidak akan bubar pasti, demikian kata Simbah. [] Karyanto

Menengahkan Para Sesepuh

Sarasehan Budaya “Menelusuri Ibu Kandung Sejarah Purbalingga” bersama K.H. Sholahudin Wahid, 24 Februari 2016

Upaya Kepengasuhan

Juguran Syafaat mencoba untuk mulai mempraktekan apa yang menjadi kesepakatan bersama dalam Silaturahmi Nasional kedua kemarin di Magelang yaitu tema besar Maiyah bertajuk “kepengasuhan”. Dalam kesempatan kali ini, menggandeng ormas Islam bernama Lakpesdam NU Purbalingga yang merupakan lembaga kajian dan peningkatan sumber daya manusia untuk Nahdlatul Ulama. Bahasa sekarangnya yaitu LSM-nya NU. Beberapa penggiat Juguran Syafaat sedang diperankan aktif untuk berkiprah didalamnya. Dan yang menarik, Juguran Syafaat dan Lakpesdam NU Purbalingga sedang mengupayakan ijtihad bersama dalam perumusan gagasan kontrol sosial dan kepemerintahan dalam bentuk intitusi budaya yang berakar dari sejarah otentik Purbalingga.

Siang tadi, mereka menggelar sebuah event berbentuk Sarasehan Budaya bertajuk “Menelusuri Ibu Kandung Sejarah Purbalingga”. Event ini merupakan acara perdana yang diselenggarakan Lakpesdam NU Purbalingga sejak kepengurusan terbaru pada tahun 2016 ini. Acara ini diselenggarakan di Bale Apung Purbalingga, sebuah tempat yang sangat nyaman dan representatif. Tampak hadir dan menempati kursi yang disediakan Wakil Bupati Purbalingga, Jajaran SKPD terkait, Kajari, Kapolres, beberapa anggota Dewan, Pimpinan Pondok Pesantren, internal NU dan juga tokoh ormas dan lintas agama Purbalingga. Sekitar 150 orang tampak memadati kursi hadirin.

Tepat pukul 13.00 WIB, acara diawali dengan persembahan musik-musik sholawat dari Ki Ageng Juguran. Ki Ageng Juguran yang mencoba konsisten dalam format akustik, mengajak bersholawat bersama mempersembahkan cinta dan rindu kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beberapa nomor lagu Jawa dibawakan secara apik oleh mereka, sembari menunggu acara resmi dimulai.

Sebagai narasumber utama kali ini adalah KH Sholahudin Wahid dari Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Ahmad Khotib dari PCNU Purbalingga dan juga Agus Sukoco yang kali ini mewakili Lakpesdam NU Purbalingga. Sarasehan dipandu dan dimoderatori dengan luwes oleh Rizky yang aktif sebagai penggiat Juguran Syafaat. Pukul 14.00 WIB, acara dimulai dengan pembacaan Al Quran oleh Sholeh dari Anshor Purbalingga, dilanjutkan satu nomor musik Syiir Tanpo Waton oleh Ki Ageng Juguran. Beberapa tokoh memberikan sambutan seperti dari PCNU, Rais Syuriah NU dan Wakil Bupati Purbalingga.

***

Sebuah Ijtihad Bersama

Rizky mengawali membuka diskusi dengan bersyukur bahwa acara kali ini bisa mempertemukan 2 generasi yang sangat jauh rentang waktunya, seperti kasepuhan dan kanoman. Selain itu juga kehadiran lima elemen NKRI versi Emha Ainun Nadjib juga terwakili dari hadirin yang datang, yaitu rakyat, cendekiawan, militer, agama dan budaya.

Agus Sukoco memberikan paparan pertamanya tentang gagasannya ini bahwa kita perlu menggunakan perpektif anastomistik, sebagai contoh meletakkan kepala sebagai kepala, dada sebagai dada, kaki sebagai kaki. Dalam kepemerintahan, terdapat analogi rumah tangga, seperti orang tua, anak dan pembantu. Siapakah dalam daerah kita yang berfungsi sebagai orang tua, anak atau pembantu rumah tangga? Sesungguhnya pemerintah itu adalah pembantu rumah tangga dari anak-anak rakyat yang dianalogikan sebagai anak dari bangunan besar “rumah tangga” masyarakat. Saat ini terjadi kerancuan dalam hukum ketatanegaraan yang menyebutkan pemerintah seolah menjadi orang tua atas rakyatnya, padahal mereka hanyalah pembantu yang digaji secara profesional yang bertugas mengurus kesejahteraan rumah tangga kemasyarakatan. Selanjutnya yang perlu dicari adalah, siapakah orang tua kita sebenarnya.

“Maka dalam hal ini, kami mencoba berijtihad, menelusuri siapakah kira-kira ibu kandung sejarah Purbalingga. Bisakah forum sesepuh nantinya berfungsi sebagai orang tua Purbalingga? Sebuah intitusi yang mampu mengontrol tugas pembantu rumah tangga kita.”, ujar Agus.

Ahmad Khotib membenarkan paparan singkat dari Agus tadi.  Khotib yang aktif di PCNU Purbalingga, dengan singkat menjelaskan bahwa yang terbaik berbicara sejarah adalah alam itu sendiri. Karena alam adalah guru dari semua guru. Khotib menekankan bahwa semua gagasan Agus tadi perlu dikaji empiris lebih dalam lagi agar terbukti benar menurut sejarah bukan hanya menurut keputusan hukum saja.

KH Sholahudin Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Sholah, diberikan waktu paparan terakhir nampak sangat tertarik dengan tema diskusi kali ini. Memang ada kaitan khusus antara Gus Sholah dengan Purbalingga karena kebetulan beliau memiliki teman dekat di Purbalingga yang masih dihormati sebagai sesepuh di Purbalingga, yaitu Raden Subagyo. Gus Sholah dalam rangkaian kunjungan kemarin ke Cilacap, menyempatkan bersilaturahmi dengan kawan lamanya itu. Selain itu juga bersedia mengisi sebagai narasumber pada Sarasehan Budaya kali ini.

Gus Sholah melihat kondisi saat ini bahwa apapun bentuk pemerintahannya, yang terpenting adalah perhatian pemerintah kepada masyarakat. Gus Sholah tidak pernah mempermasalahkan dasar negara sebuah negara, sebagai contoh Pancasila. Menurutnya, yang diubah bukanlah Pancasilanya, tapi bagaimana kita mengaplikasikan Pancasila dengan baik dan benar. Gus Sholah juga menuturkan bahwa sosialisasi empat pilar seharusnya bukan ditujukan kepada rakyat Indonesia, tapi justru kepada orang-orang yang duduk sebagai pemerintah Indonesia. Berbagai macam bentuk negara, maka itu hanyalah berfungsi sebagai bungkus saja. Isinya adalah produktifitas, kemakmuran rakyat dan tegaknya hukum. Disini, Gus Sholah mengambil banyak tema global dalam paparan panjangnya.

Rizky menjembatani sesi antar diskusi dengan sentilan bahwa siapapun orang tua masyarakat kita, maka fungsinya adalah sebagai pengawas rumah sosial kita. Agus menambahkan bahwa diskusi kali ini adalah upaya nyicil merangkai sebuah forum sesepuh yang nantinya bisa digunakan untuk fungsi kontrol sosial terhadap kinerja pemerintah daerah. Agus menjelaskan filosofi hukum, bahwa hukum itu bersifat pagar sedangkan moral kultural bersifat garis.    “Hewan membutuhkan pagar agar tidak lompat ke kebun orang lain, sedangkan manusia cukup dengan garis, ia tahu mana yang boleh dilewati mana yang tidak. Kita sebenarnya tidak perlu peraturan hukum agar tidak mencuri dan membunuh. Cukup akal dan hati nurarani kita saja.”, tambah Agus.

***

Sesi pertanyaan dibuka. Nampak banyak sekali yang mengacungkan tangan tanda ingin ikut urun rembug bersama. Bagus Arifin dari LSM Purbalingga, ikut menyatakan bahwa sejarah seharusnya bukan hanya menjadi nostalgia atas kejayaan-kejayaan jaman dahulu. Krisnanto dari Purbalingga dengan kritis ikut urun pikiran bahwa kitapun jangan lupa untuk menelusuri sejarah kita masing-masing. Pendeta Manurung ikut menyetujui gagasan besar ini. Manurung mendukung bahwa ini adalah bentuk kegelisahan anak muda Purbalingga atas apa terjadi sekarang. Manurung menambahkan bahwa kita perlu menghidupkan kembali falsafah para pendahulu kita yang menjadi nilai kehidupan yang mempengaruhi dari rakyat hingga pejabat. Umar dari Purbalingga ikut merespon dengan pernyataan bahwa gerakan forum sesepuh baiknya kita lakukan secara mandiri, mengambil ruang kosong yang ada di masyarakat dan tidak menunggu ruang dari pemerintah.

Agus Sukoco merespon pernyataan tadi dengan menuturkan bahwa segala ijtihad ini adalah bentuk NU ikut membantu pemerintah. Forum sesepuh ini nantinya dibentuk dari segala lapisan masyarakat yang mempunyai potensi kasepuhan dari wilayah dan bidangnya masing-masing. Khotib juga menambahkan bahwa gagasan besar ini perlu ditindak lanjuti tidak hanya sebagai wacana. Semua yang didiskusikan siang hari ini tentunya belum mengkristal betul, tapi cukup menjadi oase atas kegersangan pikiran kita selama ini. Gus Sholah turut merespon bahwa sikap kritis kita terhadap pemerintah adalah bentuk kita turut membantu kinerja mereka. Gus Sholah juga memaparkan sedikit tentang sejarah UUD 45, proses amandemen dan ketidaksetujuannya dengan beberapa undang-undang baru yang berjalan.

Menarik sekali perbincangan siang hingga sore hari ini. Tidak terasa 3 jam berlalu. Diskusi dari masalah sejarah lokal hingga konstitusi global dibungkus secara apik dalam event besar ini. Gerimis yang masih awet sedari tadi turut menyambut proses kenikmatan sharing pemahaman bersama. Tepat pukul 16.35 WIB, acara diakhiri dengan ditutup nomor musik “Hasbunallah” dipandu apik oleh Ki Ageng Juguran. [] Himly / RedJS