Terus Ber-progress Tidak Sepenggal-Sepenggal

Kiri dikira komunis
Kanan dicap kapitalis
Keras dikatai fasis
Tengah dinilai tak ideologis

Muka klimis katanya necis
Jenggotan dikatai teroris
Bersurban dibilang kearab-araban
Bercelana Levi’s di-bully kebarat-baratan

“Bingung” – Iksan Skuter

Hari terus berganti. Kalender bulan terus bergerak. September datang menggantikan Agustus, bulan monumental dan heroik bagi seluruh rakyat Indonesia. Rangkaian peringatan proklamasi kemerdekaan jamak dirayakan di mana-mana. Bahkan di masa Pandemi yang memaksa kita untuk jaga jarak dan menghindari kerumunan, masih ada saja yang nekad merayakan ulang tahun kemerdekaan dengan aneka lomba khas pitulasan.

Bagi Rohman, penggiat Maiyah asal Purbalingga, bulan Agustus adalah bulan yang selalu membuatnya bingung—senada dengan lagu “Bingung” dari Iksan Skuter yang malam itu dinyanyikan Hirdan. Sebagai seorang pemuda yang cukup terdidik di desanya, ia kerap kali dipercaya menjadi anggota Panitia Peringatan Hari Besar Nasional.

Yang membuat Rohman bingung adalah ingar-bingar perayaan pitulasan di kampungnya hanya sebatas acara senang-senang, bergembira-ria melepas kepenatan hidup. Proklamasi 17 Agustus sebagai peristiwa politik belum bisa dijadikan momentum refleksi yang kritis tentang cita-cita berbangsa dan bernegara.

Alam bawah sadar kebanyakan orang mengira Indonesia sudah selesai dengan penjajahan asing sejak tujuh puluh lima tahun yang lalu. Kita kurang waspada bahwa penjajah fisik telah beralih rupa menjadi sedemikian halus. Mengutip yang disampaikan Pak Toto Rahardjo melalui conference call di Juguran Syafaat (12/09) lalu, sekarang mereka tidak perlu mendatangkan VOC dan serdadu untuk menjinakan Indonesia, mereka kini datang sebagai teman baik—dengan membawa setumpuk kepentingan ekonomi-politik.

Pak Toto Rahardjo, aktivis pendidikan rakyat, malam itu dari kejauhan di Yogyakarta sana menemani rutinan edisi yang ke-90. Duduk santai di atas kursi besar dan dengan kepulan putih asap rokok yang menghiasi tampilan layar monitor, Pak Toto menjelaskan masa peralihan kolonialisme ke neo-kolonialisme atau yang sekarang santer disebut dengan neo-liberalisme dan globalisasi—narasi realitas ekonomi-politik yang jarang diketahui publik.

Menelusuri era Perang Dingin paska Perang Dunia II, saat itu banyak berdiri negara-negara baru yang melepaskan diri dari kolonialisme purba. Negara-negara baru di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang mencoba berdaulat mengatur nasib bangsanya tidak serta merta bisa melenggang mulus di tengah himpitan pengaruh dua ideologi besar dunia: kapitalisme dan komunisme.

Sebagian negara-negara baru itu terpesona dengan gagasan komunisme. Bahkan, menurut Pak Toto, situasi pada saat itu sudah pada taraf sentimen anti-kapitalisme dan anti-Amerika. Tidak mau kehilangan pengaruh (dan basically: akses pasar dan gerak modal lintas negara) maka Presiden Amerika, Harry Truman, meluncurkan kapitalisme dengan strategi bantuan finansial (hutang) dan kemasan nama baru (repackaging) yang lebih enak didengar, yaitu developmentalisme alias ideologi pembangunan.

Dan akhirnya, rencana Amerika berhasil. “Developmentalisme diterima oleh banyak negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia dengan Amin…amin… Ya robbal alamin,” seloroh Pak Toto.

Kejahatan neo-liberalisme dan globalisasi akan lebih mudah kita endus jika kita mau menengok realitas ekonomi makro Indonesia dewasa ini. Liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi sektor-sektor ekonomi yang menyangkut kebutuhan dan hajat hidup orang banyak dengan alasan ‘good goverment’. Kerusakan alam dan lingkungan hidup akibat industrialisasi yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

Lalulintas modal asing dan produk impor yang membanjiri pasar domestik dengan dalih ‘laissez-faire’. Neo-liberalisme dan globalisasi sangat mengagungkan pasar bebas atau ‘free market’ dan mereduksi hakekat manusia menjadi sebatas konsumen belaka (homo economicus). Konsumen dengan gaya hidup global, budaya global, dan identitas global. Globalisasi membuat kita sebagai komunitas masyarakat termarjinalkan.

Cengkraman gurita globalisasi nampaknya mustahil untuk dilawan. Aktor-aktor globalisasi seperti World Bank, IMF, dan Trans National Corporations sudah dan terus bergerak liar menancapkan hegemoninya lewat propaganda, iklan, pendidikan, bahkan institusi negara. Namun, menurut Pak Toto, situasi pandemi ini bisa menjadi momentum yang tepat bagi komunitas atau klaster untuk bangkit gotong-royong memberdayakan potensi-potensi lokalnya, sebab terpaan pandemi terbukti bisa menghambat laju globalisasi.

Hanya Covid-19 ini yang sudah sanggup menghentikan lalu lalang pesawat terbang dan kereta api. Hanya Covid-19 ini yang sudah sanggup membersihkan udara kota metropolitan dari cerbong asap pabrik. Dan, hanya Covid-19 ini yang sanggup mengingatkan orang tua agar tidak pasrah bongkokan kepada lembaga sekolah dalam mendidik anaknya.

Dalam kesempatan conference call tersebut, Pak Toto juga mengapresiasi upaya yang sedang dilakukan Kukuh Prasetiyo, penggiat Maiyah asal Purwokerto Timur, yang sedang concern di berbagai program pendampingan UMKM yang banyak digawangi oleh kalangan pemuda. Pak Toto sangat menekankan peran komunitas sebagai klaster. Beliau mengemukakan dalil Al Quran surat Ar-Ra’d ayat 11 di mana kelompok manusia disebut dengan terminologi kaum bukan umat atau negara.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d ayat 11)

Movement-nya memang tidak mudah, karena sampai saat ini mindset kita sudah terlanjur ‘apa-apa tuku’. Dan repotnya lagi, barang kebutuhan pokok (basic needs) itu sudah tidak mampu kita produksi sendiri. Ketika sayur, garam, kedele, beras, dan jagung saja impor, ini sudah sangat problematik.

Dari diskusi hangat sekitar tiga jam, akhirnya tercapai lima poin kesimpulan: Pertama, identifikasi kebutuhan pokok klaster yang memungkinkan bisa diproduksi mandiri. Kedua, pemetaan potensi klaster agar produksi tidak homogen. Ketiga, produksi untuk mencukupi kebutuhan sendiri dulu. Jangan terburu-buru untuk mengorientasikannya pada pasar. Keempat, mencatat pengeluaran harian keluarga. Meneliti pos pengeluaran yang bisa distop (produksi mandiri) dan yang tidak bisa diproduksi sendiri. Kelima, kesatuan alam berpikir dan bertindak dalam bingkai gotong-royong dan bebrayan agung dalam lingkup masing-masing klaster.

Dari lima pointers yang mestinya menjadi bahan tindak lanjut seluruh Jamaah Juguran Syafaat pada klaster terkecil di tempatnya masing-masing tersebut, mestinya kita masih mempunyai cukup waktu untuk pergi meninggalkan pandemi ini nanti dengan sudah membawa oleh-oleh perubahan diri.

Begitu ditekankannya penguatan klaster oleh Bapak Komunitas Indonesia itu tidak sama sekali Beliau menitikberatkan pada pemadatan kelembagaan kelompok tertentu. Hanya menitikberatkan pada identitas, pelembagaan dan jargon yang wah belaka hal tersebut masihlah berupa penggalan-penggalan dari prasyarat menuju kehidupan kolektif yang maju tak tertandingi.

Sebagaimana yang pernah disampaikan Pak Toto pada sebuah kesempatan di waktu yang lalu, identifikasi kemajuan kelompok diukurnya pada: Mandeg atau selalu ber-progress. Dari waktu ke waktu hendaknya kita senantiasa ber-progress membuat kesepakatan-kesepakatan bersama yang terus meningkat.

Maka muaranya, kita akan hidup di tinggal di dalam sebuah klaster yang kuat dan kokoh. (Febri Patmoko/RedJS)  

BINGUNG

BINGUNG

Kiri dikira komunis
Kanan dicap kapitalis
Keras dikatai fasis
Tengah dinilai tak ideologis

Sebait lagu “Bingung” dari Iksan Skuter yang dibawakan Hirdan IA di Juguran Syafaat malam tadi (12/9).

Sebuah lagu yang sesuai untuk dijadikan bahan elaborasi tema malam hari tadi. Gambaran realitas hari ini yang penuh stereotiping terhadap apa saja dan membuat jadi gamang saat hendak bertindak.

Celengan Rindu dan Celengan Pengetahuan

Ada pemandangan yang tidak lazim pada Juguran Syafaat edisi 7 September 2019 lalu. Di tengah-tengah jamaah nampak sosok berbaju loreng dan seorang lagi berbaju seragam warna coklat. Ya, mereka adalah Babinsa dan Babinkamtibmas kelurahan Sokanegara, kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas. Bapak Camat, selaku pemangku wilayah kecamatan Purwokerto Timur juga tidak ketinggalan, turut srawung menyapa jamaah yang duduk melingkari forum.

Kehadiran Bapak-bapak dari Forkompimcam ini tentu menjadi bukti materil bahwa pendopo kelurahan Sokanegara yang menjadi lokasi alternatif penyelenggaraan Juguran Syafaat bisa diterima dengan tangan terbuka.

Foto: Anggi Sholih

Force majeure, begitu kiranya yang menjadi alasan Juguran Syafaat tidak diagendakan di pendopo Wakil Bupati sebagaimana rutinan bulanan seperti biasanya. Tanpa bermaksud otak-atik gathuk, faktor force majeure pula Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh berhalangan hadir pada Juguran Syafaat edisi Agustus 2019.

Beban hutang Mas Sabrang untuk datang ke Juguran Syafaat kini sudah dituntaskan. Agenda padat seorang Penghulu Ilmu, menyambangi muda-mudi penggiat Maiyah Banyumas Raya dan daerah sekitarnya, setelah pada siang harinya beliau menjadi narasumber utama dalam seminar Karang Taruna Purbalingga yang bertema Maximizing Creativity in Creativ Economy Era.

Foto: Anggi Sholih

Saya terpantik dengan istilah ‘Penghulu Ilmu’—termaktub pada Panduan Workshop Simpul-Simpul Jamaah Maiyah yang ditulis oleh Mbah Nun, sekiranya patut untuk kita simak petikan tulisan Pak Dhe Toto Rahardjo dalam sebuah tajuk yang berjudul Kesadaran Organisme Maiyah : “Untuk bekerjanya Maiyah, hampir dua tahun belakangan ini, Cak Nun memperkenalkan konsep yang diambil dari khasanah tasawuf untuk menjadi pedoman pengelolaan Maiyah: Dzat-Sifat-Isim-Jasad. Dzat melambangkan ilmu/ide/gagasan, Sifat melambangkan pengolah ilmu/ide/gagasan, Isim melambangkan pentransformasi ilmu/ide/gagasan yang sudah diolah Sifat menuju Jasad di mana Jasad akan melaksanakannya dalam praktik, implementasi, pelaksanaan, dan penciptaan.”

Seperti telah kita ketahui bersama, “Dzat” meliputi tiga guru kita : Mbah Nun, Yai Fuad, dan Syeikh Kamba. Mas Sabrang melambangkan “Sifat”. Dan, kita-kita ini yang dalam ungkapan hiperbolik Mas Agus Sukoco sebagai kaum jomblo-dhuafa-tawakal berposisi sebagai “Jasad”.

Kemudian Saya juga ingin mengutip tulisan dari Caknun.com yang berjudul “Khalifah Islam dan Khilafah Silmi”. Potongan tulisan ini sengaja saya comot agar kita tidak lupa pada tujuan Maiyah sebagai sebuah majelis ilmu, disamping tujuan dan manfaat positif yang lain, tentu saja. Kutipannya seperti berikut ini, “Karena tugas kemakhlukan manusia adalah menghimpun ilmu dan menyusun strategi, agar ia lolos kembali ke kampung halaman aslinya, yakni Kebun Surga, di mana kemerdekaan mengalir, meruang, melebar, meluas, dan manusia memegang kendali aliran itu dalam dua rentang waktu: kekekalan dan keabadian. “Tajri min tahtihal anharu kholidina fiha abada”, begitu Allah mengindikasikan pintu pengetahuan tentang Surga.”

Foto: Anggi Sholih

Saya menarik dua poin dari kutipan tulisan tersebut di atas : ilmu dan strategi. Ikhtiar menghimpun ilmu sebagai bekal menyusun strategi dalam menyusuri perjalanan penuh ranjau agar bisa pulang ke negeri akherat dengan selamat. Kita hendaknya tak pernah bosan berburu ilmu dan piawai menyusun strategi supaya tidak gampang terombang-ambing dengan realitas atau keadaan di luar diri kita. Beririsan pada tema Juguran Syafaat, penguatan pondasi keilmuan dan strategi kuda-kuda menjadi penting di tengah arus deras informasi yang membanjiri gadget kita sehari-hari.

Ruang publik (public sphere) telah beralih rupa, tak lagi sekedar wujud fisik hamparan alun-alun kota, gardu pos ronda, emperan teras balai desa, atau lincak bambu di pengkolan depan rumah Kaki Darimun. Zaman telah berganti, mengubur tradisi dan kebiasaan manusia belakang zaman. Komunikasi guyub di atas lincak Kaki Darimun sudah menjelma cuitan atau komen-komen simpang siur nan gaduh di atas touchscreen.

Foto: Anggi Sholih

Kehadiran media sosial sebagai imbas perkembangan teknologi merupakan keniscayaan. Kita sulit untuk mengelak atau bersikap skeptis dengan memilih menjadi manusia gua yang tetap keukeuh pada pola interaksi ‘face to fece’, urai Hilmy Nugraha mengantarkan sesi obrolan juguran malam itu.

Mirisnya, fenomena ‘like and share’ belakangan ini telah menumbuh-suburkan peredaran berita-berita hoax, viral hasil penelitian yang terkategori junk science atau pseudo science, serta teori-teorian ala pakar madzhab medsos-iyah yang membahas beragam persoalan Ipoleksosbudhankam yang sangat rentan menjadi polusi yang menjalari alam pikiran masyarakat, ungkap Kusworo menambahkan hantaran diskusi.

“Berbagi atau sharing itu sudah menjadi naluri manusia”, Mas Sabrang mengawali pembicaraan dengan santai.

Nafsu berbagi kisah usai mendapat hal baru dan pengalaman baru, itu lumrah. Laiknya orang yang baru belajar pencak silat, biasanya kepengin segera menjajal kemampuan olah kanuragan, adu atos. Berkebalikan dengan jiwa seorang pendekar, sungkan beradu fisik. Mengalahkan diri sendiri menjadi obsesi terbesar bagi manusia level pendekar.

Pada dasarnya otak itu tempat “sampah”. Sebenarnya, kita susah sekali mengatur otak kita sendiri. Susah mengatur apa yang kita lihat dan dengar. Maka diperlukan kemampuan memilah informasi yang sudah terlanjur masuk. Pastikan kita punya kontrol penuh pada otak kita.

“Coba, kalian jangan membayangkan sapi warna putih berkepala dua! Jangan dibayangkan!”, pinta Mas Sabrang kepada audiens.

Meski perintahnya jelas “jangan membayangkan sapi putih berkepala dua”, imajinasi tentang sapi putih berkepala dua sudah keburu menjalari “tempat sampah” kita.

Foto: Anggi Sholih

Untuk itu, lanjut Mas Sabrang, kemampuan mendaur ulang “sampah” sangat diperlukan. Kemampuan ini yang perlu kita asah. Di sosial media, biarkan orang lain berteori. Yang diperlukan adalah sikap diri untuk mengontrol dan memilah mana yang berpotensi menumbuhkan diri kita, dan mana yang tidak berpotensi menumbuhkan diri kita, karena pada intinya jika kita sudah saling menumbuhkan maka akan tercipta society yang kuat.

Berangkat dari premis awal bahwa sharing itu naluri manusia dan pada dasarnya otak itu tempat “sampah”, saya pribadi menyimpulkan agar kita tetap selow ditengah gempuran informasi yang menyerbu perangkat digital kita. Seperti dikatakan Mas Sabrang, biarkan mereka berteori di sosmed. Sewagu apa pun bobot teori yang mereka unggah via sosmed, akan lebih banyak kegaduhan yang sia-sia jika kita menghadapi secara frontal. Membalas karya dengan karya, itu sikap yang lebih elegan dan beradab.

Respon-respon dari audiens yang hadir malam itu sungguh aduhai, ini diakui sendiri oleh Mas Sabrang. “Takone podo jero-jero, iki!”, ujarnya spontan.

Tercatat, Sulistiyo dari Cilongok, menanyakan perihal pola alam sadar dan pola alam bawah sadar manusia ; Maulana Arifin dari Kebasen, menanyakan relasi manusia dengan peradaban ; Alfan dari Karanglewas, menanyakan seputar eksistensi manusia versus kehendak Tuhan ; Abimanyu dari Kalibagor, menyoal pendidikan kritis. Arif Muchlasin dari Sumpiuh, bertanya mengenai psikologi Sigmund Freud dan Gordon Allport ; Jazuli dari Purbadana curhat soal makna; dan Ahmad alias Kenthung mengungkapkan kegelisahan tentang peran sosial pemuda di tengah masyarakat.

Beruntung sekali, Anung ‘Lodse’ Sumargo yang istiqomah mengawal juguran sampai tuntas bisa meredam gejolak pikiran kita melalui alunan musik cengkét-cengkét alias reggae. Lelaki berambut gimbal asal Sokaraja itu jamming dengan Ki Ageng Juguran, mensedekahkan kemampuan bermusiknya lewat nomor-nomor lagu yang berjudul “Kembali”, “Tempe Bongkrek”, “Bebas Merdeka”, dan “Di Tepinya Sungai Serayu”.

Foto: Anggi Sholih

Demikianlah reportase singkat ini kami buat, dan bilamana memiliki cukup energi, kami akan mengulas pembahasan Mas Sabrang saat merespon pertanyaan dari Mas Kenthung dan kawan-kawan dalam artikel pendek per topik wacana.

Semoga, banyaknya lalu lintas informasi pada majelis Juguran Syafaat edisi 78 tidak mengendap seperti “Celengan Rindu”-nya Ikhda Nurul Khasanah (vokalis Pena Pagi), tapi menjadi “celengan pengetahuan” di kepala kita masing-masing yang selanjutnya mengkoneksikan seluruh dot dot informasi atau pengetahuan tersebut menjadi pola baru yang bisa memecahkan masalah kita saat ini dan di masa mendatang. Semoga! [Febri Patmoko/RedJS]

Mukadimah: POLUSI TEORI

Kalaulah benar berlakunya sebuah ilmu adalah setelah melalui laku, niscaya jagad media digital tidak berisi berjejalnya orang yang hendak berbagi ilmu pengetahuan. Sedangkan yang terjadi hari ini, asalkan seseorang dapat menyusun sebuah tips atau sekedar kiat atas sebuah masalah tertentu, maka ia merasa sudah pantas untuk membagikannya sebanyak-banyaknya. Ia merasa sudah mengilmuinya.

Di saat yang sama, generasi instan hari ini seakan enggan menempuh sebuah laku terlebih dahulu untuk melakoni sebuah ilmu. Sebab yang lebih praktis dari menempuh penelitian, melakukan percobaan dan menjalani pengalaman atas sebuah ilmu baru adalah dengan cukup mencari kumpulan tips dan trik saja.   

Dan hari ini kita merayakan parade tips, bahkan festival ‘resep sukses’. Persoalan hidup apa yang tidak bisa dicari panduan kilatnya, angan-angan untuk menjadi apa yang tidak tersedia teori jitunya. Lantas pertanyaannya, apakah kita ini yakin akan memasuki pesta pora dari berkelimpahannya teori-teori dan melahapnya selahap-lahapnya, sedangkan kita belum menyiapkan alat pilahnya di dalam diri? Mana teori yang berkualitas, mana teori yang polutif.

Sementara sebagian dari kita kadung berhijrah dari kesibukan mengasah nalar berfikir.