Berbincang Santai usai Streaming #JSOKT

Sebab sebelum pandemi terbiasa kumpul-kumpul sampai jam 03.00, maka ketika selesai streaming Juguran Syafaat jam 22.00-23.00 suasana masih terasa segar untuk berdiskusi.

Para penggiat berdiskusi santai tentang berbagai hal diantaranya adalah pertanian berbasis kearifan lokal yang masih aplikabel diterapkan pada saat ini.

Mukadimah: FILSAFAT ORANG BIASA

Kalau sebuah tema tidak bisa dikupas dengan tuntas, pembenarannya adalah karena kehidupan ini seperti lapis-lapis bawang yang tak hingga tak pernah bisa habis meskipun terus ditempuh. Namun begitu, bagaimanapun tema demi tema tetap mempunyai fungsi operatif minimal sebagai penanda, “Oh, di waktu itu atau di umur itu kita pernah melewati kurikulum kehidupan tentang sebuah tema”.

Life is a journey. Tiap hari kita berjalan dan berpetualang. Mendapati tempat yang sama dan tempat yang baru. Menyelami makna yang sama dan makna yang baru. Sayangnya, seringkali kita terlalu sibuk mengulik buku-buku, hingga tak sempat menghitung dan mencermati pengalaman milik sendiri. Pengalaman yang merupakan patok-patok penanda bahwa dari waktu ke waktu kita tidak stagnan, melainkan terus mengalami penumbuhan diri.

Kemudian paradoksnya adalah, semakin meningkatnya penghargaan terhadap pengalaman diri sendiri, rasa-rasanya semakin tak cukup dari kebutuhan untuk menyempatkan membaca sebanyak-banyaknya buku. Melahap pola-pola pengetahuan sebagai alat bantu menstrukturkan pengalaman. Begitulah dinamika perjalanan di dalam membangun landasan berpikir di dalam diri. Terus menerus menempuhnya sehingga meskipun kita menjalani hidup sebagai orang biasa, tetapi dapat selalu mengambil keputusan dan tindakan secara matang.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Oktober 2020 LIVE! melalui Channel Youtube: Juguran Syafaat.

Mukadimah: EKONOMI SIMETRIS

Naluri dasar orang hidup adalah survive. Bertahan hidup, menyelamatkan diri. Hari ini, timpangnya ekonomi sudah miring bukan kepalang, memprihatinkan. Karenanya wajar apabila hari ini banyak terpotret pemandangan disekeliling kita, orang mengerjakan pengupayaan ekonomi walau hasilnya tidak cukup tetapi tetap dikerjakan. Mengapa? Sebab setidaknya ia sedang memenuhi dorongan naluri bertahan hidup.

Orang yang dorongan nalurinya terpenuhi, ia lebih bisa berpikir lebih luas dan lebih ke depan. Lagi, orang yang nalurinya terpenuhi akan terhindar dari kecemasan-kecemasan. Ia bergembira. 

Orang yang bergembira seperti demikian itu, selanjutnya ia akan tergerak untuk membuat orang lain gembira pula. Sekedar senyum pun ia simetris. Motivasinya tidak lain adalah menggembirakan orang lain. Senyum seperti itu menjadi bernilai sedekah. Orang yang seperti demikian itu akan semakin merasa gembira ketika ia kemudian memberi bersedekah lebih banyak. Berawal dari senyuman yang simetris meningkat hingga membuat kegiatan sosial, aksi filantropis bahkan sampai mewakafkan hidup untuk sesama. 

Sampai di sini kita mengerti, tugas mengerjakan misi-misi sosial bukanlah tugas bagi orang yang naluri survive pada dirinya belum teratasi. Lantas selanjutnya, cek di diri masing-masing, kita hari ini yang masih anti-sosial, sebabnya adalah persoalan survive hidup yang belum teratasi atau ada sebab lain berupa kecemasan-kecemasan yang tidak naluriah alias dibuat-buat?

Mukadimah: SEMAU-MAUMU

Kita tengah memasuki apa yang dinamakan screen culture. Budaya dimana layar sentuh memalingkan segalanya. Sepetak kecil layar yang membuat berita tidak lagi berjalan satu arah. Sepetak kecil layar yang potensinya mengalahkan mahalnya properti tepi jalan raya. Sepetak kecil layar yang membuka kesempatan bagi banyak orang untuk lebih bisa sama-rata.

Touchscreen dengan segala cache-nya menjadi saksi dari mana diantara kita yang benar-benar sibuk dan mana yang diam-diam masih selow. Sibuk memproduksi konten, atau selow menebar komentar. Sibuk menyerap realitas, atau selow sehingga terbius arus.

Masing-masing menentukan alat analisanya sendiri-sendiri. Apakah kita bagian dari generasi yang adaptif menghadapi cepatnya transformasi teknologi informasi, atau kita adalah bagian dari the nervous generation yang gagap dan gugup digulung kebaruan-kebaruan yang datang dengan begitu cepat.

Mereka membuat hoax dengan semau-mau, dengan berasumsi semua penyimaknya akan termakan terpedaya. Sementara kita memilih menyimak sekadarnya saja sembari terus menerus melatih geraham dan taring berfikir kita, untuk semakin peka mengamati pola-pola manipulasi yang hari ini terjadi. Sebab kita sadar bahwa hoax barulah bentuk manipulasi yang paling kasat mata. Sadar bahwa, yang sedang membombardir kita hari ini dengan begitu halus adalah narasi-narasi yang dibuat dengan semau-mau.

Kita berada di medan ‘Perang Narasi’. Data digunakan untuk melawan data. Fakta digunakan untuk menelan fakta. Data dan fakta dipaksakan untuk membuat sebuah cerita, dipakai untuk membuat argumentasi, yang semuanya dibuat dengan semau-mau. Kabur kebenarannya, digiring kaca mata kudanya sedemikian rupa, disediakan ranjau-ranjau hasutan tak kasat mata. Pikiran-pikiran yang tidak diasah bersiap-siap disihir oleh insepsi alur berfikir yang tidak nalar, yang dibuat dengan semau-mau, entah untuk kepentingan siapa. Sehingga merasa keadaan sedang baik-baik saja.[RedJS]