Mukadimah: HAFALAN KESIMPULAN

Orang semakin tidak percaya diri menjalani prosesnya, sebab kian hari kian banyak dijumpai tampilan slide presentasi perjalanan sukses yang orang lain buat dan itu nampak begitu memukau. Padahal slide adalah ruang yang begitu terbatas untuk menampilkan gambaran sebuah proses secara lengkap, rincian alurnya serta lapis-lapis rasanya tak sanggup termuat keseluruhannya. Paling-paling yang sanggup tertampil hanyalah kumpulan kesimpulan-kesimpulannya saja.

Kesimpulan hasil penempuhan proses orang lain adalah salah satu pilihan bahan belajar yang berguna bagi diri kita. Akan tetapi, proses diri sendiri di dalam tahap-tahap penentuan keputusan, mengolah interaksi dengan lapis-lapis perasaan yang timbul karenanya serta mensikapi asa yang di satu waktu begitu terang dan di waktu lain gelap tak ada harapan, jangan dilupakan bahwa semua itu adalah bahan belajar yang jauh lebih bisa diandalkan.

Rute setiap orang bisa berbeda, jarak yang ditempuh pun berbeda. Presentasi yang terlihat memukau, pencapaian yang nampak hebat menjadi tidak berguna apabila kita tidak dapat menggunakannya dengan tepat akibat kita gagal mengenali sudah di titik mana hari ini kita sebetulnya sedang menempuh proses. Juga ketika kita tidak dapat menyelaraskannya dengan akan ke mana kita melanjutkan proses hidup kita ke depan.

Mukadimah: DUNYA LA TARHAM

Kok, waktu berjalan terasa begitu cepat? Cobalah toleh orang di kiri kanan dan tanyakan, ternyata banyak dari mereka pun merasa yang sama. Sebuah kebetulan belaka, atau fenomena apakah perasaan kolektif seperti ini? Mungkin fenomena ini adalah salah satu bagian dari sikap dunia. Dunia sedang ingin menunjukkan dirinya bahwa ia tidak lagi berpihak pada kita, kepada umat manusia. Sehingga waktu mempersempit diri, tidak lagi terasa leluasa.

Padahal zaman semakin maju, semakin tak terhitung pencapaian-pencapaian modern yang sudah berhasil di buat umat manusia. Salah satu pencapaian kemajuan itu adalah kita dimanjakan dengan gaya hidup malas. Hingga kenapa sebagian orang ingin kaya? Agar bisa membeli gaya hidup malas. Dunia seolah ada di pihak kita, mau memfasilitasi manusia untuk menjadi malas. Akan tetapi, ternyata malas itu adalah sebuah jebakan. Sebab dunia kini memberlakukan hukumnya : hukum kompetisi.

Kesempatan-kesempatan hanya berpihak pada segelintir orang. Mereka harus berebut untuk lolos. Dan hanya yang beruntung, atau yang sungguh-sungguh, atau yang banyak pahala, atau yang rajin tirakat saja yang pada akhirnya lolos test kemampuan dasar di dalam kompetisi hidup. Sementara terhadap dunia yang semakin menunjukkan sikap tidak berpihaknya, kita tak kunjung sempat bernegosiasi atau sekedar omong-omong untuk ngemong. Malahan kita satu sama lain justru membuat kesibukan sendiri. Yakni sibuk menunjukkan ketidakberpihakan satu sama lain dengan sesama kita. Dari politik sampai ekonomi, ada saja jalan untuk membuat dalihnya.

Memang, menunjukkan ketidakberpihakan itu sebuah hal yang bisa memacu adrenalin. Sensasinya bahkan melebihi sekedar naik kapal setan, tornado dan roller coaster. Ini lebih menantang, lebih menyenangkan.[]