Me-refresh Pelajaran Lama: Ilmu Menghadapi Kekalahan

Berpatokan pada dalil Trilogi Kebenaran yang berbunyi: ana benere dhewek, ana benere wong akeh, lan ana bener sing sejati; maka format sinau bareng sesungguhnya memiliki peran yang strategis. Di samping tafsir mengenai kebenaran yang rentan menimbulkan konflik dan perpecahan, tradisi rembug yang menjunjung tinggi nalar sehat demi maslahat bersama juga masih susah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi agenda dari Sinau Bareng sesungguhnya itu indah sekali.

Namun demikian, luasnya tema dan perbincangan Sinau Bareng di Juguran Syafaat malah sering membuat saya gelagepan bingung dhewek. Sebagai manusia pembelajar level pemula, saya justru sering mendapatkan pengalaman belajar yang bukan pada materi atau substansi perbincangan sepanjang berlangsungnya Juguran.

Juguran Syafaat edisi bulan juni mengangkat tema ‘Loncatan Terukur’. Tak banyak yang bisa saya pikirkan mengenai apa dan bagaimana loncatan yang terukur itu. Yang terngiang di benak saya setelah membaca pengantar tema Juguran adalah the Loser yang kalah dan kemudian menyalahkan keadaan. Sedangkan the winner yang selalu berupaya menjadikan apapun keadaan yang dihadapi, dan dirinya harus menjadi pemenang.

Bagi saya peribadi, petikan kalimat di atas sangat dahsyat. Perbendaharaan kalimat “suci” yang telah hilang ditelan lupa akibat tertimbun gelontoran pengetahuan dan informasi era media sosial. “Tak menyalahkan keadaan”, kaidah bijak ini kali pertama saya catat dari para pelatih top sepak bola bilamana anak asuhannya menelan kekalahan. Ini me-refresh pelajaran yang pernah saya dapati puluhan tahun silam saat Coach Fabio Capello masih mengarsiteki AC Milan.

Selanjutnya, emoh larut oleh keadaan akibat pandemi Corona–serta enggan terganggu lagi Juguran online akibat kualitas sinyal yang buruk, saya segera membeli kartu selular baru dari provider yang berbeda yang telah terbukti memiliki kekuatan sinyal paling bagus di area tempat saya tinggal. Tak lupa juga menyiapkan lampu jari (PLC) berkekuatan 45 watt, kipas angin standing fan, dan kemeja formal. Pokoknya, segala sumber daya disiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti Juguran Syafaat via aplikasi Zoom.

Kurva Lokal yang Melandai

Kabar baik disampaikan oleh Wakil Bupati Banyumas yang malam hari itu juga ikut bergabung di dalam streaming via Zoom, Pak Dewo menyampaikan bahwa kurva data PDP dan ODP pandemi Covid-19 di wilayah Banyumas terlihat melandai. Bahkan jumlah pasien PDP di RSUD Margono Sukarjo sudah nol persen.

Saat ini Pemkab Banyumas melalui masing-masing SKPD sedang sibuk menyiapkan protokoler kesehatan untuk menghadapi New Normal. Sebagai tahap uji coba New Normal di bidang pariwisata, Pemkab Banyumas baru akan membuka dua objek wisata, yaitu Baturaden dan Limpakuwus. Sedangkan bidang pendidikan, pembukaan sekolahan direncanakan paling akhir dari seluruh Pemkab di Jawa Tengah. Demikian beberapa poin uraian Pak Sadewo yang disampaikan dengan logat dan nada bicara yang begitu cethar membahana.

Di tengah suasana obrolan yang mulai menghangat—mungkin terpancing dengan gaya bertutur Pak Wabup yang berapi-api, moderator Kukuh Prasetiyo menghantarkan pertanyaan dari seorang pemirsa streaming Juguran Syafaat mengenai efek New Normal di bidang pertanian dan lingkungan.

Pak Titut Edi Purwanto, SAS. (Sarjana Alam Semesta) merespon pertanyaan tersebut dengan enteng-enteng saja. Baginya, kegiatan di sektor pertanian berjalan seperti hari-hari biasa. Tidak terhambat sama sekali. Tidak repot sebagaimana ruang-ruang publik, kantor, pasar, dan pabrik yang harus menyusun protokoler kesehatan Covid-19. Tentu saja lanjaran buncis dan kacang panjang tidak harus direnggangkan pula jaraknya ikut-ikutan social distancing.

“Justru melalui makhluk utusan Tuhan yang bernama Covid-19, kita dituntun untuk kembali ke alam. Memakmurkan alam dan bumi dengan ruh cinta kasih. Aja pating mbesasat kaya setan“, pungkas Pak Titut sambil terkekeh.

“Sawah dan kebon pancen tempat paling aman”, Karyanto menimpali uraian Pak Titut.

Bukan tanpa alasan Karyanto berucap demikian, sebab ia sendiri sudah membuktikan kala mengalihkan anaknya bermain ke sawah sebagai upaya preventif dari silent carrier pemudik di kampungnya.

Transformasi Syahadat

Menjelang jam sepuluh malam, tiba giliran Mas Agus Sukoco urun perspektif. Menurut beliau, persoalan Covid-19 ini semestinya tidak hanya dilihat dari sudut pandang medis. Ketakutan dan kecemasan akan lebih bisa diminimalkan jika kita mau memakai kacamata rohani.

Hikmah selalu diambil dari peristiwa pahit. Tidak ada hikmah yang diproduksi dari peristiwa hidup yang membahagiakan. 

“Alhamdulillah, rejekiku gampang banget bulan ini. Semoga ada hikmahnya”, seloroh Mas Agus.

Kerepotan umat manusia akibat pandemi Corona seyogianya menjadi triger untuk mengevaluasi perjanjian primordial kita dengan Tuhan, yakni syahadat. Mas Agus menengarai bahwa lonceng kematian yang ditabuh Corona tidak jauh-jauh dari ihwal tabiat buruk manusia dalam mengelola alam semesta.

Syahadat ‘lisan-personal’ perlu ditransformasi menjadi syahadat ‘teologis-praksis’ yang berkontribusi positif bagi society. Syahadat teologis harus bisa dikonversi ke dalam syahadat bidang ekonomi-bisnis, politik, dan kebudayaan.

“Selama ini, antara Tuhan dan perilaku keseharian manusia ora tau gathuk“, Hilmy selaku moderator memberikan respons.

Virus Psikologis

Sekitar dua jam setengah durasi Juguran Syafaat online yang dipancarluaskan dari studio utama di Java Explosure, Purwokerto, akhirnya dipungkasi oleh Rizky yang malam itu mengingatkan bahwa dampak sistemik virus Covid-19 ini dapat mengakibatkan wabah “virus” psikologis yang berbahaya.

Krisis ini sudah memukul sendi-sendi perekonomian dan kebudayaan dengan telak. Oleh karenanya, krisis ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Bolehlah kita kemarin terjun bebas luar biasa, tetapi di bawah sini harus ditemukan letak keberadaan pir pegas yang bisa melentingkan kita meloncat lebih tinggi.

Dan krisis, apabila dikacamatai sebagaiman para the winner, adalah jenis batu yang lebih besar untuk alas kita meloncat lebih tinggi. Loncatan yang sesuai dengan sumber daya yang kita miliki. Bukan loncatan akibat obsesi imajiner dari sikap dendam terhadap penderitaan belaka, atau sebab melihat orang lain sudah dapat meloncat lebih tinggi.

Kalah dari orang lain tak mengapa, yang penting loncatan yang sanggup kita buat benar-benar sesuai dengan kesanggupan diri. Tak perlu berkecil hati apabila loncatan orang lain terlihat lebih memukau. (Febri Patmoko)

Ranking Sejuta

Sebuah Interaksi Dialektis

“Apa kepriwe?”, kalimat tanya yang dilontarkan oleh moderator diskusi ini saya temukan saat berada di tengah-tengah komunitas Juguran Syafaat Purwokerto.

Alkisah pada suatu masa, Karyono, dengan intonasi suara dan mimik muka yang serius, menjelaskan panjang-lebar suatu topik perbincangan seraya memberi kesimpulan di akhir uraian. Bukan kesimpulan paripurna yang paten yang ia sampaikan, melainkan kesimpulan yang masih bisa “digoyang”, karenanya Karyono selalu tidak lupa untuk melontarkan kata-kata ajaibnya : “Apa kepriwe?”

Frasa dua kata dari kamus Banyumasan ini ternyata kali pertama dicetuskan oleh Anggi Fajar, penggiat JS yang membidangi dokumentasi dan publikasi. Frasa ini menjadi populer, setidaknya populer di telinga saya berkat dipopulerkan oleh Karyono yang belum lama ini saya ketahui bernama Karyanto.

“Apa kepriwe?”, ini menarik perhatian saya. Mencerminkan sikap kerendahan hati (tawadhu’) dan membuka celah kemungkinan argumen lain yang lebih baik (open minded). Pluralisme isi kepala adalah hal yang niscaya. Masing-masing individu sangat bisa memiliki ragam pendapat yang berlainan, bahkan pendapat yang saling-silang. 

Adanya perbedaan isi kepala terkait banyak hal yang mengitarinya. Penyebabnya antara lain karena perbedaan sudut pandang, jarak pandang, perbedaan metodologi berpikir, daya nalar, tingkat pendidikan, latar belakang sosial-budaya, pengalaman hidup, motif atau kepentingan pribadi, dan sebab-sebab lainnya.

Manusia level Khulafaur Rasyidin pun mempunyai respon berlainan kala menyikapi sabda Kanjeng Nabi yang mengisahkan adanya Malaikat-malaikat Allah SWT yang bertugas keliling mencari ahli dzikir. Seperti yang dikisahkan oleh Kiai Muzamil dalam Mocopat Syafaat edisi 17 Juni 2019:

Abu Bakar bertanya, “Ahli dzikir itu siapa ya, Rasul?”

“Ahli dzikir adalah orang yang menunaikan salat, membaca Al Quran, dan menghadiri majelis taklim!”, jawab Rasul SAW pada Abu Bakar.

Menanggapi hal tersebut, Umar bin Khatab lantas bertanya, “Jika ahli dzikir hanya ada pada orang-
orang yang beraktivitas di Masjid, bagaimana dengan orang-orang yang berada di luar Masjid?” 

Rasul SAW menjawab, “Di mana dan kapan saja, asal hatinya mengingat Allah SWT. Itulah ahli dzikir!”.

Lain lagi dengan tanggapan Usman bin Affan, “Seandainya Malaikat menjumpai ahli dzikir, hendak diapakan mereka ya, Rasul?”

“Mereka akan dirahmati!”, jawab Rasul SAW.

Respon yang paling aneh datang dari Ali bin Abu Tholib, “Ya Rasul, untuk apa Allah SWT. mengutus Malaikat mencari ahli dzikir? Bukankah Allah Maha Mengetahui?”.

“Jadi begini, Li, Ali!” Seloroh Kiai Muzamil yang sontak disambut pecah tawa Jamaah Mocopat
Syafaat di shaf utama depan panggung.

Malaikat yang semula “protes” kepada Allah SWT mengenai rencana penciptaan Adam, hendak diberi bukti empiris di bumi. Memang ada beberapa manusia yang berperangai buruk, merusak dan ingkar. Akan tetapi, masih tetap ada golongan manusia yang berpegang pada tali Allah, ahli dzikir.

“Malaikat ben iso ngerti, sing tek karep-Ku yo iki, menungso ahli dzikir sing koyo iki!”, ucap Kiai Muzamil dengan bahasa Jawa dialek Jogja campur Madura.

Saya pribadi, merasa terilhami oleh kata-kata ajaib Karyono, eh Karyanto, yang kemudian mendapat dasar material yang kuat setelah memperoleh pencerahan dari Kiai Muzamil mengenai kisah Khulafaur Rasyidin seperti yang diceritakan di atas.

Di kemudian waktu, saya tidak pernah lupa untuk turut menyisipkan “Apa kepriwe?” pada setiap obrolan keseharian, meskipun itu sekedar obrolan biasa di pos ronda. Ikhtiar kecil untuk membunuh kesombongan intelektual, di sisi lain sebagai upaya memancing respon pihak lawan bicara demi memperoleh pengetahuan atau pemahaman baru. Dalam buku filsafat yang tebal-tebal, mungkin ini yang disebut dengan: interaksi dialektis.

Definisi Memojokkan di balik “Poligami” dan “Jihad”

Pada sesi awal Juguran Syafaat lalu, sesuatu yang menarik diutarakan oleh Makdum Aliyahbana, salah seorang Jamaah asal Pekuncen. Ia membuka diskusi dengan melempar wacana tentang silsilah ilmu atau sanad dalam belajar ilmu agama. 

Dalam situasi dan konteks tertentu, sanad keilmuan memang penting. Ada suatu tema pembahasan dan pembelajaran yang memang memerlukan disiplin keilmuan dan sanad yang jelas. Misalnya pembahasan tentang poligami. Tanpa literasi yang cukup dan referensi yang valid (shahih), wacana poligami bisa berkembang liar menjadi semacam instrumen pemuas hasrat lelaki dengan dalih Sunnah Nabi.

Di lain dimensi, Maiyah mengajarkan agar kita memiliki kedaulatan berpikir dan kemerdekaan ruhani. Berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan. Mencari dan menemukan kebenaran secara otentik dalam setiap jengkal langkah hidup kita. Malam itu, dijelaskan secara gamblang oleh Agus Sukoco. Bahwa setidaknya ada dua hal yang dipojokan oleh orientalis terhadap eksistensi agama Islam, yaitu “poligami” dan “jihad”. Bahasa kasarnya, Islam dituding sebagai agama perang dan agama tukang kawin.

Sesungguhnya, motif poligami Kanjeng Nabi sangat mulia. Niat suci untuk menghidupi janda dan anak yatim korban perang. Anak yatim yang sedianya masih membutuhkan belaian kasih sayang seorang ayah. Motif politis menjadi bagian strategi poligami Kanjeng Nabi. Pada masa itu, budaya feodalisme masih sangat kental. Masyarakat terbelah tidak hanya karena hierarki ekonomi dan sosial, tetapi juga faktor ras. Ras yang satu merasa lebih unggul dari ras yang lain. Kanjeng Nabi mengangkat derajat suatu kaum dengan jalan menikahi seorang perempuan dari kalangan mereka.

Motif kompromi budaya. Kaum lelaki kawin dengan puluhan perempuan sudah menjadi budaya pada zaman jahiliyah tanah Arab era Kanjeng Nabi. Budaya yang telah tumbuh dan berkembang lama ini lantas diubah pelan-pelan oleh Kanjeng Nabi. Andai langsung dipotong dengan konsep monogami, ajaran-ajaran Islam akan mengalami resistensi yang tajam. Poligami dibolehkan dengan syarat dan ketentuan berlaku, diantaranya: empat saja cukup.

Kesimpulan akhir, saya memetik nilai-nilai Islam dalam diri Karyanto saat memoderasi Juguran Syafaat. Saya berguru dan belajar melalui kata-kata sakralnya “Apa kepriwe?”

Ranking Tidak Ranking, Tetap Belajar Hal Baru

Tensi diskusi yang mendalam tetapi tetap hangat semenjak awal Juguran edisi lalu itu untunglah tetap dibuat ulang-alik oleh hadirnya oase kegembiraan, Pak Titut. Bagi Jamaah Maiyah yang rutin menghadiri Juguran Syafaat tentu sudah mendengar kisah-kisah perjalanan ruhani Titut Edi Purwanto. Petani sekaligus seniman ini bisa menemukan nilai-nilai spiritual dari hasil interaksinya dengan pohon gandhul di ladang, bercakap-cakap dengan kodok di kebun, bahkan ngobrol dan doa bersama dengan orang gila di depan padepokan Cowongsewu miliknya.

Sudah barang tentu apa yang dialami oleh Mbah Titut sulit untuk diverifikasi secara ilmiah. Akan tetapi bukan berarti tidak mengandung ilmu didalamnya, seperti yang ditegaskan oleh Agus Sukoco, Indikator kita sudah pada track yang benar adalah kita semakin produktif dan semakin tenang, serta bertambah keimanan pada Tuhan. Hal itu persis tercermin dari keseharian Pak Titut dalam meng-“orang tua”-i komunitas lintas minat dan lintas karakter yang ada di Banyumas.

Kelompok Musik KAJ (Ki Ageng Juguran) setia menemani sepanjang Juguran berlangsung, beberapa orang mengaku salah satu motif hadir berturut-turut adalah untuk menikmati musik klangenan mereka itu.

Entah ranking satu, sepuluh atau sejuta tahun ajaran ini, bagi mereka yang masih sekolah dan kuliah, yang jelas semua berbahagia malam hari itu. Kalapun ranking satu di kelas, di luar kelasnya mungkin masih ada sejuta orang yang lebih hebat. Itu sudah bekal lebih dari cukup untuk menyadari bahwa hidup hendaknya tetap tawadhu’.

Pembahasan ranking sejuta rupa-rupanya tidak berhenti hingga pada Juguran edisi kali itu selesai. Seolah menjadi bekal sebulan, refleksi sehari-hari yang dihadapi individu-individu Penggiat juga tak jauh-jauh dari permenungan seputar frasa yang dijadikan tema Juguran Syafaat edisi lalu itu.

Agung Totman misalnya, ia tak pernah perlu merasa umuk atas bidang yang sudah ia kuasai, yang ia meraih ranking di dalamnya. Ia terus menerus mencari wawasan dan keahlian baru. Bahkan ia tak sungkan berbaur dengan para ibu-ibu muda untuk mengikuti pelatihan intensif membuat batik tulis. Pria “multitalenan” ini seolah tak cukup dengan apa yang sudah ia kuasai, meskipun sudah berderajat multi.

Pun begitu, dengan Penggiat lainnya, Narkim katakanlah, Ia yang dua tahunan ini menekuni industri otomotif tak gamang untuk berpindah-pindah area dan bidang kerja. Kehauasan akan ilmu tidak boleh di-stop hanya karena seseorang sudah merasa meraih ranking.

Meruhanikan Kompetisi

Meski ranking tidak penting, karena kira-kira begitu salah satu pointer yang didapat dari Juguran edisi lalu, tetapi bukan berarti meraih prestasi itu tidak perlu, mengikuti kompetisi juga dianggap tidak perlu.

Dekonstruksi yang berkembang pada diskusi-diskusi lanjutan justru sampai pada pemamahan bahwa apa saja haruslah diruhanikan. Termasuk kompetisi, ia harus diruhanikan. Ikut kompetisi itu bukan untuk obses menjadi yang terunggul. Melainkan ikut kompetisi itu dalam rangka mencari keabsahan, bahwa Tuhan betul-betul menaruh misi pada kita di bidang yang kita menangkan itu. Sebab bekal misi dari Tuhan tidak mungkin sesuatu yang kualitasnya setengah- setengah.

Jadi bahkan di dalam ikut kompetisi saja, yang primer adalah dialog komunikasi kita dengan Tuhan. Betul begitu? Apa kepriwe? [] Febri Patmoko/RedJS

Mukadimah: RANKING SEJUTA

Oleh karena aku unggul, maka aku ada. Seseorang takut untuk tidak menjadi yang terbaik, sebab resikonya adalah dianggap tidak ada. Atas alasan tersebut prestasi harus dikejar mati-matian. Sayangnya semakin hari kompetisi tidak semakin ringan. Justru untuk meraih prestasi keunggulan diperlukan kemampuan untuk mengalahkan mereka yang memiliki modal berlebih serta mereka yang memiliki akses-akses ‘jalan pintas’.

Demam rasa rendah diri jika diidap oleh mereka yang merasa hanyalah menempati ranking sejuta justru akan memperburuk keadaan. Hendak sharing kebahagiaan rasanya enggan, sebab kebahagiaannya tidaklah seberapa, tidak sehebat kebahagiaan yang didapat orang lain. Hendak sharing permasalahan hidup jauh lebih enggan, mosok sudah ranking teramat bawah masih menggendong bertubi-tubi masalah pula.

Mati-matian mengejar prestasi justru kemudian bisa mematikan reseptor untuk merasakan tahhaduts bi ni’mah. Peningkatan hidup yang terlalu perlahan tidak menjadi bahan untuk bersyukur. Pertumbuhan di dalam mengilmui hidup tidak dimaknai sebagai sebuah ‘pemberian’.

Orang-orang itu masa depannya terkunci pada sebuah angan-angan : Menjadi yang terunggul. Padahal mereka yang benar-benar unggul, justru adalah mereka yang tidak tertarik untuk ikut serta di dalam kompetisi.