Mukadimah: RUANG TUMBUH

Bertumbuh adalah bagian dari fitrah manusia. Keadaan jejaring sel-sel di dalam otak, pilihannya hanya dua, terus-menerus ditumbuhkan oleh stimulasi pengetahuan-pengalaman baru atau dibiarkan satu demi satu sel mati.

Ruang komunalitas juga dituntut untuk bertumbuh. Ruang-ruang yang stagnan yang enggan untuk bertumbuh akan ditinggalkan. Juguran Syafaat berterima kasih kepada setiap individu-individu yang berada di dalamnya dan terus khusyuk mengerjakan penumbuhan diri. Sehingga Juguran Syafaat tumbuh oleh akumulasi energi dari proses penumbuhan diri yang dikerjakan oleh masing-masing.

Resultan ide dan inisiatif positif yang disambut dengan dukungan positif lainnya. Sehingga terbangun pola sinergi yang berkesinambungan. Tumbuh di dalam sinergi yang sehat. Bukan satu pihak menyantuni dan pihak lain menggantungkan diri, melainkan semua komponen urun energi positif bersama-sama.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Februari 2021 LIVE di Youtube dan Instagram : Juguran Syafaat.

Selangkah Lebih Maju dari Ikhlas-Tidak Ikhlas

Kampal-Kumpul Mencari Apa?

Hari masih pagi, Jumat 14 Februari pukul 08.27 waktu Banyumas dan sekitarnya. Hirdan memulai percakapan Whatsapp Application Group, “Pagiii gaesss… Nanti malam Juguran Syafaat…”.

Hirdan merupakan Penggiat Maiyah yang usianya paling muda. Aliran darah muda mendorong keberaniannya untuk mengambil inisiatif mengobarkan semangat teman-temannya agar bangkit dan bahu-membahu mempersiapkan agenda bulanan Simpul Maiyah di Banyumas Raya. Narkim, rekan penggiat yang ahli Pewayangan, memberinya julukan “Hirdan Parikesit”.

Aksi berbalas pesan pagi itu berlanjut panjang laksana teks dialog naskah drama. Saling cek dan ricek. Koordinasi sana-sini. Update kesiapan minuman kopi, termos pemanas, karpet, sound system, sampai dengan kesiapan mobil pengangkut.

Semua persiapan boleh dibilang lancar jaya meski sebagian penggiat diliputi perasaan cemas. Juguran Syafaat edisi ke-83 tidak digelar di akhir pekan seperti biasanya, tapi dimajukan sehari karena alasan non teknis.

Selepas Isya, rasa cemas pergeseran jadwal berefek pada ketidakhadiran jamaah mulai pupus. Berangsur pelan Jamaah Maiyah mendatangi balai pendopo Wakil Bupati Banyumas, njugur lesehan di Jumat malam. Musim hujan dan perubahan jadwal ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap antusiasme jamaah.

Dari informasi yang kami terima, hanya Ikhda yang teledor membaca publikasi pergeseran jadwal. Guru muda sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang sering mensedekahkan alunan vokalnya di Juguran Syafaat ini tidak mencermati kolom tanggal acara yang tertera di poster. Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Ikhda Nurul Khasanah kudu rela kehilangan malam bertabur cinta.

Terkait kehadiran jamaah, ada sedikit cerita menarik dari Hamzah. Demi malam juguran, pria asal Sokaraja tersebut sejak sore hari sudah harus momong anak balitanya keliling blusukan kampung. Taktik ini diterapkan supaya anaknya lelah dan bisa cepat tidur pulas di malam hari, lantas dirinya bisa leluasa pergi ke forum juguran dengan hati tenang. Taktik cerdik, mungkin layak ditiru bagi anda yang punya balita.

Lha, memangnya kampal-kumpul Maiyahan mau mencari apa atau siapa? Mengutip baris pertanyaan Hilmy Nugraha dalam tulisannya di Caknun.com bulan kemarin.

Bersama-sama mencari kegembiraan dan mencari ilmu kehidupan. Hidup hanya sekali, sesudah itu mati. Hidup harus dijalani dengan gembira dan ikhlas biar bernilai ibadah. Mas Anung “Lodse” Sumargo yang malam itu menebar atmosfir kegembiraan melalui nyanyian reggae juga salah satu bentuk laku ibadah.

Ikhlas, Menginspirasi, Aksi Kolektif, Merajuk kepada Allah

Mencari ilmu itu keharusan. Pembekalan ilmu akan menambah bobot atau kualitas ibadah yang akan dan sedang dilakoni. Harapannya adalah bisa semakin presisi dalam menempuh perjalanan “sangkan-paraning”. Perjalanan melingkar “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un” yang licin dan terjal.

Majelis ilmu Maiyah irit melontar kosa kata “benar-salah”. Maiyah lebih sering menggunakan kata “presisi”. Pijakan mana yang paling presisi dalam menghadapi sejembreng fenomena sosial yang mengemuka.

Perbincangan malam itu mengupas tema “Sedekah Prioritas”. Ada ragam pendapat dari masing-masing jamaah dan mereka semua mencari titik temu yang paling pas.

David, mahasiswa dari Unsoed, mengawali sharing session soal perilaku manusia yang cenderung kepo saat melihat orang lain memasukan uang ke dalam kotak infaq. Padahal, menurut David, infaq merupakan privasi masing-masing orang. Fahmi, dari SMU 2 Purwokerto, menegaskan ajaran moral tentang keikhlasan: jika tangan kanan memberi sesuatu kepada orang lain hendaknya tangan kiri tidak melihatnya.

Berikutnya, Dian dari Hijabers Community, menceritakan seputar akitivitas sedekah yang diposting via media sosial yang menurut pengalamannya dapat memberi inspirasi kepada masyarakat luas. Ada kalanya pelaku sedekah itu sebetulnya ikhlas, namun sengaja dipajang di media sosial biar orang lain mengiranya tidak ikhlas, tambah Jalal yang mengutip uraian Mbah Nun saat Sinau Bareng.

Saat perbincangan berkutat soal riya, pamrih, dan ikhlas, Bachtiar menyuguhi wacana sedekah dari sisi yang berbeda. Menurut pengakuannya, ngelarisi dagangan wong cilik merupakan panggilan batin yang kerap kali dilakukan dalam sedekah kesehariannya. Tapi mengingat uang sakunya pas-pasan, dengan jujur diakui, kadang terbersit pikiran balasan sedekah dari Tuhan.

Perespon terakhir, Niki dari Kalimanah, mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi lewat sedekah saja. Kemiskinan, terutama kemiskinan struktural perlu ditanggulangi dengan aksi kolektif untuk mengembalikan keberdayaan masyarakat dengan membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya sistemik.

Kejernihan hati dan sikap batin menjadi penting untuk meredam gejolak atau dilema ‘kepo-privasi’. Rasa ingin tahu atau kepo atas besaran infaq orang lain bisa menjadi motivasi kita dalam rangka mengikhtiari fastabiqul khoirot. Walaupun pada sisi sempit yang lain malah hati kita bisa tersundut panas.

“Aduh, deneng infaq-e enyong lewih cilik, ya! Berarti surgane enyong lewih endep kiye tah!” Ungkap moderator Kukuh Prasetiyo sambil guyonan.

Pamrih dalam bersedekah itu lumrah. Asalkan pamrih yang ditujukan kepada Tuhan. Ada koneksi batin antara manusia dengan Tuhan. Mengharap dan merajuk kepada Allah, ya nggak apa-apa. Pancen nyatane Allah Maha Kaya. Lagian ke mana lagi harus mengadu selain kepada Allah?

Yang berbahaya adalah pamrih kepada rumus hitung-hitungan sedekah. Rumusan lipat ganda bilangan sedekah. Karena rumusan ini hanya penafsiran buatan manusia saja. Begitu, seperti disampaikan Rizky yang menjadi tandem Kukuh malam hari itu di dalam ber-cas-cis-cus.

Mengejar Akhirat, Dunia Mengikuti

Himpitan ekonomi dan beban hidup merupakan kondisi rentan yang dapat mengikis nalar sehat. Oleh karenanya wajar jika sebagian masyarakat tergelincir pada konsep sedekah yang transaksional. Mereka juga kepengin hidup berkecukupan. Dan yang sudah cukup, terobsesi nambah kekayaannya lagi. Demi amannya hidup.

Mungkin di dunia ini hanya Abdurrahman bin Auf yang memiliki tekad hidup melarat. Kisah manusia langka sahabat nabi ini diceritakan oleh Mas Agus Sukoco yang malam itu berjibaku “rebutan” mic dengan Pak Titut Cowongsewu. Alkisah, Auf merasa resah setelah dirinya mengetahui hizab orang kaya lebih berat ketimbang orang miskin. Lalu, dengan segala cara, seluruh harta kekayaanya dihabiskan supaya kelak di akherat tanggungg jawabnya enteng.

Kesempatan emas untuk hidup melarat datang menghampiri saat ia menjumpai kurma-kurma busuk di sebuah pasar. Dengan percaya diri, Auf memborong seluruh kurma busuk di seantero pasar. Ia puas dan bahagia sampai kemudian datang seorang utusan Raja Yaman yang berniat membeli seluruh kurma busuk yang dimilikinya dengan harga berpuluh kali lipat. Auf tak bisa mengelak, karena kurma busuk itu akan digunakan sebagai obat wabah penyakit yang tengah menjangkiti negeri Yaman.

Dalam satu fakta, ada sejuta makna. Peristiwa yang dialami Abdurrahman bin Auf bisa kita ambil pelajaran dan hikmah. Sosok Auf bisa jadi adalah representasi ajaran moral agama yang berbunyi : “kejarlah akherat maka dunia akan mengikuti”.

Di sisi yang sekuler, jika mengejar dunia mungkin kita berhasil meraih dunia dan mungkin gagal, tapi yang pasti akhiratnya mental.

“Urip pada nguber-uber ndunya bae. Mikiri ndunya bae. Kuwe sing merekna wong jaman siki pada gampang konslet. Mobile tah iya Pajero, jebule panas njaba-njero…. Numpake mobil mewah. Becere maring Mall, entonge limangatus ewu. Mbarang bayar parkir limangewu perak, ngerasa eman-eman…. Jijeih pisan. Bakhil…!”, begitu nasehat Pak Titut yang dengan segenap daya ganggu visual penampilannya terlampau sulit untuk dijabarkan melalui aksara.

Yang jelas, apalah artinya Juguran Syafaat tanpa kehadiran Pak Titut.

Tulung keproki, keproki, keproki…!

Perlunya Sistem Distribusi

Ngomong-ngomong soal sedekah, entah mengapa jamaah yang mensedekahkan argumentasi banyak banget. Dua kali lipat dari biasanya. Pun dengan nomor-nomor lagu yang disedekahkan Ki Ageng Juguran (KAJ). Tak tanggung-tanggung pula, empat vokalis KAJ hadir menghangatkan suasana. Sebagian jamaah tentu sudah tidak asing dengan wajah Ujang dan Fadel, tapi Abah Slamet dan dik Alda masih memunculkan tanda tanya dibenak pemirsa.

Rangkaian sesi demi sesi telah dilewati. Tadarusan, tawasul, sholawatan, nyanyi-nyanyi, jual-beli argumen, ngopi, ngerokok, ngemil, dan yang sekadar duduk melamun sambil pencet-pencet HP juga boleh. Malam Sabtu yang meriah penuh warna. Surga yang tersembunyi, kata Pak Titut.

Oleh-oleh kesimpulan yang bisa menjadi bahan renungan bersama adalah mayoritas masyarakat kita itu ahli sedekah, namun populasi penduduk dengan taraf hidup kurang layak tidak serta-merta berkurang. Hal ini ditengarai lantaran kita masih sibuk dengan urusan ikhlas dan tidak ikhlas. Alih-alih berpikir maju selangkah untuk merancang sistem distribusi sedekah yang optimal. “Perlu kecermatan dan kehati-hatian, seperti effort sedekah perusahaan (CSR) yang minimal namun menuai corporate branding yang maksimal”, begitu analogi Kusworo.[Febri Patmoko/RedJS]

Mukadimah: SEDEKAH PRIORITAS

Selain dibekali naluri untuk bertahap hidup, manusia juga di dalam dirinya dibekali naluri untuk diterima oleh sesamanya. Oleh karenanya manusia memiliki dorongan untuk senantiasa dapat ikut memberi. Dengan memberi, ia ‘membeli’ penerimaan diri dari sekelilingnya.

Terlebih sebagai umat beragama, kegiatan memberi adalah sebuah hal baik yang mengandung privilege berupa pahala. Semakin meningkat pemberian, semakin bertambah pula pahalanya. Pun demikian dari sisi psikologis, seseorang merasa bahagia sebab meraih kepuasan batin setelah ia memicu diri dengan pengalaman ikut berkontribusi. Oleh karenanya, dorongan ikut berkontribusi yang justru ditahan-tahan oleh diri sendiri seringkali malahan membuat batin gelisah.  

Bagi kita dengan rezeki berlebih, persoalan memberi tak butuh menghitung-hitung prioritas dari ketiga jenis dorongan di atas. Ketika salah memberi, harta masih tersisa inih. Akan tetapi, bagi kita yang dana sosial rutinnya hanya pas-pasan, harus berhitung cermat agar setiap pemberian kita efektif. Berguna untuk memenuhi dorongan naluriah, mendatangkan pahala sekaligus menciptakan kebahagiaan. Sayangkan apabila dana yang pas-pasan itu habis jadi pahala, tetapi tidak berdampak pada penerimaan diri. Atau menghasilkan penerimaan diri tetapi gagal melahirkan kepuasan batin misalnya.

Karena sedekah memang adalah persoalan kepekaan melihat siapa-siapa yang butuh untuk dibantu. Jangan-jangan disekeliling kita yang paling butuh untuk dibantu adalah diri kita sendiri.

Menjaga Nalar di dalam Tali Allah

Semenjak awal tahun terhitung di Kota Purwokerto ini telah terselenggara dua kali dialog publik. Forum dialog tersebut diselenggarakan oleh dua lembaga yang berbeda tetapi mengangkat wacana yang sama, yakni perihal nalar. Forum yang satu bertema “Nalar Demokrasi Kita: Antara Akal Sehat dan Akal Miring”, sedangkan forum lainnya mengusung tema “Mengokohkan Kebangsaan: Menjaga Nalar Sehat dan Berbudi.”

Di tengah arus deras informasi digital yang menginvasi gadget kita, nampaknya masyarakat kita telah mulai sadar bahwa peran nalar memang sangat penting adanya. Penalaran yang sehat membimbing kita menyimpulkan sesuatu secara presisi mendekati kebenaran. Benar atau tidaknya kesimpulan atas suatu hal tergantung cara bernalar serta fakta pendukung argumen alias premisnya. Metode penalaran juga memungkinkan kita menghindari tabiat prejudice berupa like, comment serta share sesuatu secaraasal-asalan.

Setelah dengan ribet Saya membongkar membongkar file pelajaran lama tentang silogisme (logika formal) dan penalaran induktif (logika material) yang sudah barang tentu telah terkubur di dasar memori bersama reruntuhan kenangan kisah pilu masa lalu, kemudian saya mencoba beralih rekreasi dengan mendatangi forum Juguran Syafaat.

Juguran Syafaat edisi 71 kemarin rupa-rupanya kedatangan tamu band musik Punk-Rock bernama “Fire Cracker“. Berbicara mengenai fakta pendukung argumentasi alias premis, kehadiran temna-teman Punk  malam ini bisa menjadi contoh praktis bahwa setelah mengenal Lukman Satrio Nugroho (vokal), Ade Budi Kristianto (gitar),  Agung Mugiono (drum), dan Aris Yanu (bass) dari dekat membuat prasangka dan stigma Saya terhadap Punk-Rock menjadi perlahan bergeser. Ini bisa terjadi akibat saya memperoleh fakta dan informasi baru setelah perjumpaan langsung dengan mereka.

Punk mempunyai ideologi, etika, prinsip hidup yang berlandaskan pada “Do It Yourself!” Begitu penjelasan Lukman, sang juru bicara “Fire Cracker” yang berasal dari Ajibarang itu. Anak-anak Punk mengorganisasi sendiri setiap kegiatan yang mereka lakukan, seperti membuat rekaman, membuat pertunjukan musik serta menciptakan media independen. Mereka menolak bergabung dengan label besar karena hakekat musik Punk adalah musik perlawanan atas hegemoni kekuatan dominan. Punk memposisikan sebagai antitesis kebudayaan atas tesis budaya popular.

Malam hari itu pada suasana njugur yang penuh warna turut hadir pula Alan Asprilla, seorang creative videomaker Guyon Banyumasan asal Wangon yang sempat booming dengan content “Hiyyaaa!!!”. Awal proses kreatifnya dalam memproduksi video lucu menurutnya bermula saat dirinya mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). “Andai Alan tak mengalami peristiwa pahit semacam itu, tentu perjalanan hidupnya akan menjadi lain”, Sergah canda Karyanto, moderator Juguran Syafaat yang lantas disambut tawa seluruh yang hadir di Pendopo Wakil Bupati Banyumas itu.

Alih profesi Alan dari seorang karyawan biasa yang kemudian banting setir menekuni produksi content video lucu memantik rasa penasaran Budhi, dari Dukuhwaluh. Ia penasasaran mencari tahu bagaimana awal mulanya memperoleh ide atau inspirasi. Sekedar urun rembug untuk Budhi, yang malam itu memang kerap kali berdiskusi bareng saya dengan berbisik-bisik, bahwa menurut Yusuf Qardhawi, jalan untuk mendapatkan inspirasi atau ilham bisa lewat usaha rohani maupun tanpa usaha. Quraish Shihab menulis pemahaman tentang ilham atau intuisi datang secara tiba-tiba tanpa disertai analisis sebelumnya, bahkan kadang tidak terpikirkan sama sekali. Potensi ini ada pada setiap insan, walaupun kekuatannya berbeda antara seseorang dengan yang lain. Ilham dalam bahasa Muhammad Nursamad Kamba adalah bisikan Ilahi. Intuisi, bagi yang segan menggunakan istilah bisikan Ilahi, inilah potensi maha dahsyat yang dimiliki manusia.

Sebagai makhluk surga yang tengah menjalani “outbond” di bumi, manusia tidak hanya diberi bekal perjalanan berupa akal (logika) untuk bernalar, tapi dilengkapi pula fitur hati nurani (metafisika) sebagai radar pendeteksi bisikan Ilahi. Hati nurani dalam kamus spiritual Agus Sukoco disebut “kitab teles”. Di lain sisi menurutnya ada “kitab garing” yang berwujud mushaf Al Quran. Dua fasilitas istimewa ini, yakni nalar dan nurani apabila berfungsi secara optimal bisa menghantarkan pada peran strategis manusia sebagai Khalifatullah fil ardh.

Seiring perjalanan waktu, sesi pertama Juguran Syafaat berakhir. Kemudian melangkah ke sesi kedua yang dalam kesempatan ini dirawuhi oleh sumber mata air ilmu yang absah secara otoritatif. Malam itu hadir Beliau dari Pondok Pesantren Ar Ridwan, Kalisabuk, Kecamatan Kesugihan, Cilacap yakni Gus Aziz. Sekitar 45 menit beliau menyampaikan wacana keislaman dan tanpa menyertakan satu pun dalil. Rohman Syarif Fajrin, salah seorang Penggiat Maiyah asal Purbalingga kemudian ngresulah akan keresahannya dengan fenomena mainstream beragama saat ini yang begitu tekstual-literalistik yang sedikit-sedikit dalil.

Menjawab pertanyaan Rohman atas fenomena formalistik dalam beragama, menurut Agus Sukoco, hal itu disebabkan selama ini kita menempatkan mushaf Al Quran sebagai titik awal. Akibatnya mirip sesorang siswa yang hanya sibuk menghafal kunci soal jawaban ujian alias apalan. Idealnya, mushaf Al Quran diposisikan sebagai titik sampai. Langkah taktisnya bermula dengan pembacaan realitas sosial-historis lebih dulu, lantas mencari korelasinya dalam teks-teks kitab suci melalui panduan akal dan hati.

Memahami teks dan konteks akan membawa seseorang pada sikap yang elegan, luwes, serta tahu empan papan. Nyambung dengan Agus Sukoco, Gus Aziz ikut menimpali dengan contoh singkat, padat, kongkrit, dan menghujam bumi. “Misalkan Kanjeng Nabi terlahir di Jawa, pastinya juga beliau memakai baju batik dan blangkon, kok. Berbusana sesuai lokalitas itu termasuk sunnah“. Ungkap Gus Aziz tanpa mau mengutip dasar dalil sunnah berpakaian berdasar lokalitas. Padahal sebetulnya saya pribadi sudah menanti dasar dalilnya.

Generalisasi, analogi dan hubungan kausal merupakan tiga varian menu dalam model penalaran induktif. Agus Sukoco, spiritualis sekaligus budayawan dari Purbalingga pada kesempatan malam hari itu lebih sering memakai pendekatan analogi dalam menjelaskan posisi Al Quran bagi orang yang buta huruf Arab. Ia kemudian melanjutkan bahwa cinta adalah dasar penciptaan manusia oleh Tuhan, yang berhak membenci Firaun adalah Allah SWT. manusia hanya boleh membenci perilaku negatifnya.

Peralihan malam menuju pagi ditandai oleh pantat dan tulang belakang yang mulai susah diajak berkoalisi. Sekitar pukul 02.00 dinihari kemudian moderator memungkasi forum. Saya yakin semua puas dan bisa menatap hari esok dengan lebih gemergah. Momen acara terbilang sukses jika menengok bersihnya piring-piring wadah jajanan pasar yang dihidangkan di tengah-tengah jamaah, karena orang yang doyan makan hanya dimiliki oleh orang yang bahagia.

Pembahasan “Wa’tashimu bihablillah” yang menjadi tema malam hari itu memang kurang mendapat porsi yang memadai. Namun, ditinjau dari kebhinekaan latar belakang sosial yang hadir pada malam hari itu rasanya hakikat wa’tashimu bihablilah secara riil malah sudah terjawab. Peristiwa mahal di dunia yang seperti saat ini adalah manakala sebuah forum bisa menyatu-padukan Gus dari pesantren, budayawan, seniman, pedagang, PNS, petani, salesman, mahasiswa, Punkers dan orang-orang yang gelisah untuk bersama-sama menjaga sehatnya nalar di dalam persaudaraan yang diikat erat oleh tali Allah SWT.

Usai menulis reportase ini saya termenung sejenak, rasanya akan lebih afdhal jika pendekatan ilmu logika dalam tulisan ini mengacu pada ilmu logika dalam khazanah keilmuan dunia Islam yaitu: mantiq. Sebab, mantiq lebih lengkap dan merupakan ilmu tingkat akhir. Tapi apa mau dikata, dibesarkan dalam lingkungan pendidikan umum membawa saya untuk lebih mengenal ilmu logika warisan filsuf Yunani Kuno. Dan, ah, memang saya masih harus lebih banyak belajar lagi. [] Febri Patmoko/RedJS

Mukadimah: WA’TASHIMU BIHABLILLAH

Seandainya sukses adalah kewajiban, pastilah bukan karena dalam hidup ini kita diharuskan untuk mengungguli orang lain. Semakin besar populasi manusia, semakin kaya peradaban ini akan pasokan ilmu pengatahuan, betapa makin beratnya untuk kita dapat tampil lebih unggul dari orang lain, bukan?

Alasan yang mungkin lebih bisa diterima adalah ketika kamu mengejar sukses, dikarenakan kamu tidak mau membuat repot orang lain atas keadaan dirimu. Termasuk hingga alasan kamu tidak ingin membuat repot negara. Sebab keadaanmu yang sukses, sehingga negara bisa lebih mengerucutkan prioritas tugasnya yakni pada mereka yang memang betul-betul butuh untuk ditolong.

Negara sudah sangat berat tanggung jawabnya. Hendak ngerusuhi dan ngerepoti rasanya tidak tega, bukan? Cara sederhana yang bisa ditempuh adalah dengan kita memilah antara mana keperluan sehari-hari kita yang bisa kerjakan sendiri, dan mana hal-hal yang memang harus diurus dengan melibatkan negara. Kemudian, kalau tidak betul-betul mendesak, usahakan jangan merepoti negara.

Lebih baik kamu merepoti keluarga, tetangga, atau sahabat kiri kanan. Mereka mungkin lebih ridho untuk direpoti olehmu, sebab dalam rangkanya adalah wa’tasimu bihablilahi jami’an.