Competition in Wisdom

Jagat alam raya (makrokosmos) dan jagat manusia (mikrokosmos) menyajikan hamparan pristiwa dan jutaan informasi. Dalam teori alam berpikir, seliweran informasi yang masuk ke dalam benak manusia digambarkan sebagai titik (dot) yang banyak sekali. Lalu, bilamana titik-titik informasi saling terkoneksi membentuk garis, terciptalah pengetahuan (knowledge). Garis imajiner ini juga mencerminkan konteks pengetahuan manusia.

Kemudian jika diagram titik-titik itu menyala, berarti muncul insight. Puncak hirarki berpikir adalah dua atau lebih garis dengan titik yang menyala, yaitu hadirnya kebijaksanaan (wisdom). Penjelasan teoritis tersebut di atas disampaikan Rizky untuk menjabarkan pantikan dari moderator berupa keluhan di mana dirinya merasa sudah pernah mendengar sebuah uraian Mas Agus Sukoco, tapi seperti mendapatkan kebaruan pengalaman dan pemahaman ketika pada kali lain mendengar uraian tersebut kembali.

Di awal sesi Juguran Syafaat edisi Agustus 2020 lalu, Mas Agus melontarkan sebuah ilustrasi pemahaman. Diilustrasikan oleh beliau tentang kelakuan monyet dan akhlak manusia ketika mendapati makanan. Andai sepuluh monyet diberi sebungkus kacang, mereka akan berebut hingga saling mencakar satu sama lain.

Namun, situasi berebut tidaklah terjadi jika sekumpulan manusia, misalnya, disuguhi seplastik jeruk. Hal ini dikarenakan adanya sebuah keadaban. Yang terjadi adalah buah-buah jeruk ini akan dibagi secara adil. Bahkan adakalanya masing-masing individu saling menolak dan mempersilakan rekan-rekannya saja yang menikmati hidangan jeruk tersebut.

Tak perlu terburu-buru manusia untuk berbangga diri, sebab pada kenyataannya pemandangan keadaban hari ini lebih menonjol pada kebudayaan saling berebut. Tak ubahnya seperti ilustrasi bagian pertama. Kebudayaan saling berebut antar sesama  manusia di dunia telah merambah luas meliputi ranah politik, ekonomi, sampai soal-soal sepele dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Pada titik inilah, menurut Mas Agus, urgensi kehadiran Maiyah sangat diperlukan untuk mengembalikan fungsi akal-budi manusia yang terus merosot.

Merespon fenomena saling berebut tersebut, Febri urun diskusi meluasi dan mendalami bahasan. Baginya, berebut atau berkompetisi dan atau yang dalam teks ilmu sosial diistilahkan mekanisme pasar, merupakan unsur yang muncul secara alamiah dan sulit dihindari dalam setiap segmen kehidupan.

Ada dimensi kehidupan yang membutuhkan suasana bebrayan, namun ada dimensi hidup yang memerlukan kompetisi utamanya pada bidang-bidang kehidupan yang menyangkut perihal alokasi sumber daya yang harus dikerjakan secara efektif dan efisien. Tanpa kompetisi berarti tidak ada kalah-menang. Bila semua tampil jadi pemenang tak ada yang mendera nasib sebagai pecundang, maka urusan atau jatah pekerjaan yang kurang enak tentu tidak akan ada yang bersedia mengambilnya.

Diskusi kian hidup dan makin lepas, meski awalnya agak menegangkan. Bukan menegang karena debat kusir, melainkan sebab mimik dan intonasi Febri yang kelewat serius. Pada Juguran Syafaat dengan tema “Multiversitas” malam hari itu sekiranya ada empat poin penting yang berhasil diproduksi: Pertama, pelajaran mengenai ilmu kompetisi sebetulnya sangat penting. Harapannya adalah sesengit apapun tensi kompetisi, fungsi akal harus tetap terjaga. Jangan sampai fungsi akal kendor dan merosot.

Kedua, watak kompetisi senantiasa melahirkan predikat menang-kalah. Namun inilah ujian mental bagi para pelaku kompetisi. Kalau mau lulus, seyogyanya yang menang tidak tergiring menjadi besar kepala, dan yang kalah tersisih hendaknya tidak perlu kecil hati atau putus asa.

Ketiga, meruhanikan kompetisi. Menjadikan kompetisi sebagai instrumen detektor diri atas fadhilah Tuhan. Maksudnya, jika kita kalah dalam suatu kompetisi, penghikmahannya adalah mungkin minat-bakat (fadhilah) kita memang bukan di situ. Kita perlu mencari ruang-ruang dan arena sosial lain yang memungkinkan eksistensi kemakhlukan kita bisa lebih optimal.

Dan keempat, bonding anti-sliding. Regulasi hukum positif atau “rule of the game” sudah dibuat sedemikian rupa sebagai pagar moral demi terwujudnya harmoni sosial. Kalau ada pihak yang rela mencederai aturan main dan melanggar fairplay, pasti ia sedang kehilangan bonding alias keterhubugan atau kedekatan dengan mitra kompetisinya.

Melemahnya bonding ini, dari satu perspektif keilmuan merupakan faktor sebab. Sedangkan dari perspektif Marxist merupakan faktor akibat, yaitu akibat “mode of production“. Ini soal runyam, seperti mencari jawaban pertanyaan: telor sama ayam duluan yang mana?

Keluarga adalah prototipe ideal dan alamiah dalam menjalin interaksi sosial dan membangun suasana bebrayan agung di mana bonding masih terjalin. Karyanto menimpali, sudah semestinya unit sosial terkecil ini bisa menjadi panduan pokok dalam menjalani kehidupan sosial yang lebih besar seperti desa, kabupaten, dan negara.

Kompetisi yang tidak sehat mustahil terjadi sekiranya masing-masing individu memiliki jalinan rasa sebagai satu keluarga, sebagai sahabat. “Mosok sesama teman nyalip di tikungan”, Rizky berseloroh. Gerrrrrr… pecah tawa spontan para kru streaming di dalam ruangan seluas lapangan bulutangkis yang menjadi studio broadcasting malam hari itu.

Menambah gayeng dan tidak sepaneng forum berdurasi dua jam setengah ini, Hirdan dan Toto ikut melibatkan diri dalam beberapa nomor lagu yang dibawakan secara akustik.

Selain mendiskusikan dengan luas dan luwes rentang begitu panjang dari esensi kompetisi hingga urgensi menjaga keterhubungan atau bonding, malam hari itu para narasumber juga saling berbagi deep-insight dari pengalaman masing-masing berkuliah di multiversitas Maiyah.

Pengalaman persentuhan keilmuan yang satu sama lain berbeda, latar belakang problematika dan tantangan hidup yang tidak seragam serta atensi dan intensi yang juga tak sama amat membuat wajar apabila satu sama lain dari setiap Jamaah Maiyah memiliki deep-insight yang berbeda satu sama lain. Multiragam. (Febri Patmoko/RedJS)

Mukadimah: MULTIVERSITAS

Pasangan hidup itu berjodoh. Rumah yang engkau tinggali itu berjodoh. Jalan rezeki yang engkau anut itu berjodoh. Pun begitu dengan ilmu yang engkau enyam, itu juga berjodoh. Terhadap apa-apa saja yang antara engkau dan padanya memiliki bonding, terdapat keterhubungan, itu berjodoh.

Puncak intelektualitas ilmu adalah ketika engkau bisa mentransformasi sebuah hipotesis atas pengamatan dan pengalamanmu menjadi sebuah tesis. Akan tetapi, intelektualitas bukanlah satu-satunya puncak dari pengupayaanmu atas ilmu. Ilmu diupayakan dengan tidak berhenti pada pemenuhi capaian diri, tetapi dengan mengitung betul-betul eksplorasimu itu dengan pengaruhnya terhadap cuaca sosial yang aktual. Eksplorasi yang ditempuh tak hanya secara fakultatif, tetapi universal bahkan multiversal.

Di Maiyah engkau mengupayakan ilmu dengan memilih bidang, cekungan, lekukan serta kedalaman mana saja yang engkau sukai. Mengerjakan mengiris lapis-lapis ilmu itu dengan segenap daya kognisi, afeksi dan konasi yang modalitas satu dengan lain orang berbeda. Dan memuncakinya dengan merawat bonding keterhubungan dengan sang ilmu terus-menerus sepanjang waktu dengan begitu ragam pilihan penempuhan cara.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Agustus 2020 Live di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Jujur Sejak Mbatin

Wong Banyumas Ora Gampang Kesasar

“Gumelaring jagat ana pojokan papat; lor, kidul, wetan, lan kulon. Kiye menunjukan nek wong Banyumasan ngerti arah. Ngerti posisi. Ora gampang kesasar. Terus, kain batik kothak persegi detugel melintang, dadine kain segitiga. Kiye menggambarkan gunung slamet. Terus, ana pancering jagat utawa kiblat. Pikirane wong Banyumas men ora mambrah-mambrah. Tetep nyawiji maring asal-usule wong urip.”,  dengan atraktif Titut Edi Purwanto menggunakan logat khas Bahasa Penginyongan menjelaskan makna filosofis dari “iket” Banyumasan.

Juguran Syafaat edisi Agustus 2019 disuguhi aksi demonstrasi oleh Kang Titut dan Kang Joni Jonte berupa kiat cerdik memakai iket Banyumasan. iket atau blangkon adalah tutup kepala dari kain yang dikenakan oleh kaum laki-laki dalam tradisi Jawa sub kultur Banyumasan di masa lampau. 

Kang Jonte, penggiat seni begalan yang juga berprofesi sebagai guru Seni Rupa SMP Negeri 2 Baturaden sempat dua kali membongkar pasang iket di depan Jamaah Maiyah dalam proses peragaan itu. Memang kaum muda seperti kita ini diharapkan bisa memahami nilai-nilai kearifan lokal. Tidak gamang dan gagap sejarah.

Leluhur kita nampaknya gemar sekali menyelipkan pesan moral melalui narasi simbolik. Nasehat bijak dalam manifestasi simbolik juga bisa kita temukan dalam cangkir, kupat, takir, berkat, dan lain sebagainya. Pada zaman itu, memilih media untuk menyampaikan pesan memang masih sangat terbatas. Lantas, kalau kita menukik lebih jauh, siapa kira-kira yang merumuskan pesan-pesan moral tersebut? 

Apabila kita menggunakan kerangka ilmu Maiyah, pesan-pesan moral dari leluhur pastinya dirumuskan oleh manusia nilai—manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana, Meskipun selanjutnya, di dalam panggung sejarah manusia, apa yang diharapkan atau dicita-citakan (das sollen) selalu menyimpang atau tidak sesuai dengan kenyataan (das sein).

Ketidaksejajaran antara idealitas dan realitas masih menjadi Pe-Er yang abadi pada setiap generasi di segala zaman. Mengutip kalimat sentilan dalam mukadimah, yakni “Klinik Tauhid”, Masjid megah mudah dijumpai di mana-mana hari ini, tapi kemajuan simbolik tersebut belum betul-betul kentara manfaatnya. 

Di banyak acara, ceramah pengajian lumrah menjadi sisipan. Pun demikian dengan fenomena hijrah, kini menjadi tren yang begitu menyorot perhatian. Duel identitas, tawuran narasi dan lain-lain sehingga meskipun Pancasila kita gembor-gemborkan setiap hari, tetapi Keadilan Sosial nampak masih jauh panggang dari api. Menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut nampak tidak sesederhana menemukan rumusan metode sosial baru. Sebagai Bangsa berketuhanan, masing-masing atau secara bersama-sama perlu menelisik sampai ke akar masalah, yakni bagaimana bentuk “dialog batin” antara diri kita dengan Tuhan yang menjadi motivasi dari seluruh tindakan dan keputusan kita.

Fikry Anshori, fotografer Java Exposure, mengawali perbincangan dengan simpulan bahwa men-tauhid merupakan kebutuhan mendasar pada diri setiap manusia. Masing-masing individu memiliki naluri primordial untuk berusaha mengenali siapa diri kita dan siapa yang menciptakan kita beserta alam raya seisinya. Efek turunan dari kebutuhan dasar men-tauhid adalah munculnya fenomena budaya-budaya baru dalam beragama. Misalnya, jilbab halal atau jilbab syar’i. Fikry kemudian memberi rambu-rambu : Apakah proses men-tauhid yang sedang kita tempuh itu benar-benar lahir dari kebutuhan asasi atau semata-mata karena kebutuhan pasar dan atau terseret arus budaya pasar (tren).

Langkah identifikasi, apakah proses men-tauhid yang sedang kita tempuh telah presisi (kebutuhan dasar) atau justru malah keluar alur (mengikuti tren), memang bukan perkara yang mudah. Menjadi umpan balik yang menarik disampaikan oleh Kang Dimas, penggiat Maiyah dari Simpul Masyar Maiyah Mahamanikam, Kalimantan Timur. Ia menekankan pentingnya latihan olah spiritual secara intens atau riadhoh. Yakni dalam bentuk merawat dan mengolah aplikasi batin anugerah Tuhan yang khusus hanya diberikan kepada manusia. Serta berlatih menyingkirkan ego, nafsu, dan sifat-sifat iblis lainnya agar kita bisa memasuki zona nol.

“Menyerah tanpa syarat, taat tanpa tapi”, ujarnya. Memasuki zona nol atau kita meniadakan diri, maka Tuhan mengada. Dan jika kita mengada, Tuhan meniada. Ini selaras dengan filosofi kereta wayang Jaladara yang ditarik empat ekor kuda. Kisah yang seringkali dituturkan oleh Eyang Hadi Wijaya yang malam hari itu berhalangan hadir. Beliau sang maestro pelukis Banyumas menuturkan kisah itu untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya pengendalian nafsu; ammarah, lawwamah, sufiyah, dan muthmainnah.

Alam Ciptaan adalah Kliniknya

Jamaah yang hadir di Juguran Syafaat sebagaimana para hadir di simpul-simpul Maiyah adalah mereka yang berasal dari kalangan yang sangat beragam. Leader Slanker Kabupaten Banyumas juga hadir dan turut sharing malam hari itu. Meski baru pertama kali nimbrung di deretan depan, tetapi tetap langsung bisa ajur-ajer. Sayangnya ketika di-request menyumbangkan satu nomor lagu, ia belum bersedia. Mungkin bulan depan lagi.

Memang jamaah yang datang itu beragam. Lepas dari keberagamannya itu, kita mempunyai satu kesamaan yakni open mind dan open heart terhadap peristiwa spiritualitas. Kita adalah orang-orang yang merindu mendekat kepada Tuhan, dengan rasa rendah diri kita masing-masing.

Ingin mendekat kepada Tuhan, apalagi hingga menginginkan melihat wujud Tuhan terlampau sulit kita persepsikan dan konsepsikan, karena yang terbatas (makhluk) tidak akan bisa menjelaskan Dzat yang tidak terbatas (Kholiq). Tak mesti mereka yang berbaju taqwa lebih berhak dibanding mereka yang berkaos oblong dan celana compang-camping.

Jalan yang paling mendekati mungkin untuk kita tempuh dalam melihat eksistensi Tuhan adalah dengan mentadaburi ciptaan-Nya. Dan untuk melakukan ini tak ada prasyarat khusus bagi siapapun saja. Bersaksi atas rumitnya alam semesta, manusia, dan kehidupan. Andai hati kita takjub melihat ciptaan-Nya, rohani kita akan menuju Tuhan. Hati kita kemudian menjadi bisa “nyawiji“.

“Mulane nek plesiran aja mung selfa-selfi thok. Nek ndeleng gunung, laut, hutan, utawa grujugan jajal latihan meresapi. Apa sing desawang, kuwe ayat-ayate Gusti Allah (ayat qauniyah). Tapi, pikirane wong jaman siki pada ora gutul!” Urai Kang Titut dengan nada tinggi.

Kebon gandhul, semilir angin sawah, kodok ngorek, pecicilane manuk emprit kawin, cara mabure manuk jokjali sing alon-alon, dan segenap flora fauna yang ada merupakan “Klinik Tauhid” yang mujarab. Obat penawar hati dari tipu daya dunia demi meraih sorga rasa. 

“Keproki… keproki… keproki…!”, Yel-yel ciri khas Kang Titut di akhir sesi perbincangannya malam itu diteriakkan duluan oleh seorang penggiat Maiyah yang duduk di barisan belakang. Kang Titut kecolongan. Oleh entah siapa, Saya menduga sih dia Kang Agung alias Kang Totman pelakunya.

Apa Sih Target Beragama itu?

Malam semakin larut, seturut dengan obrolan bertukar kalimat yang semakin pekat. Jamaah yang hadir begitu khidmat menyerap pendaran ilmu yang menyelinap masuk ranah kognitif. Di tengah tensi berpikir yang tengah meninggi itu tiba-tiba Kang Agus Sukoco melempar pertanyan yang sangat radikal : “Target akhir pada kondisi puncak seperti apa, sih, yang ingin kita capai dalam memanfaatkan instrumen yang bernama agama?”

“Apakah keputusan kita untuk menapaki jalan Islam demi sampai pada titik akhir atau tujuan puncak pencapaian menjadi orang yang kaya, orang tenar, karir meroket, sakti mandra guna?”, ujar Kang Agus. Kemudian ia menawarkan perspektif lain perihal visi hidup beragama, yaitu konsep Islam tentang “Tahadduts bin ni’mah“.

Al Quran, yang apabila isinya kita peras, akan menghasilkan saripati berupa surat Al-Fatihah. Lalu, jika Al-Fatihah kita peras lagi, maka akan menghasilkan kalimat Basmalah. Dan pada kalimat Bismillah itu, kita bisa menemukan sesuatu yang sangat ikonik pada sifat Tuhan, yaitu Rahman dan Rahim. Tuhan Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Jadi, pada hakikatnya, manusia adalah objek cinta Tuhan. Bilamana seorang hamba bisa merasakan guyuran cinta Tuhan, dia senantiasa meluapkan ekspresi penuh cinta kepada sesama di sekitarnya. 

Berbagi kenikmatan atau ber-tahadduts bin ni’mah. Laiknya lelaki muda yang beroleh kepastian kabar bahwa gadis idamannya ternyata juga mencintai dirinya. Situasi kejiwaan yang telah mendapat guyuran cinta merupakan bahan bakar yang efektif untuk menebar berkah dan rakmat kepada sesama. “Fenomena ini, misalnya, sering diwujudkan dengan mentraktir teman-temannya makan Baso.”, Kang Agus berseloroh.

Meski Di Batin tetapi Tetap Jujur

Upaya membuka selubung hitam atau penyakit hati agar receiver jiwa kita kian sensitif dalam menangkap pancaran sinyal cinta Tuhan memang ikhtiar yang tidak mudah. Sangat krusial. Tapi, sekali lagi, mengutip apa yang sudah disampaikan oleh Kang Dimas : istiqomah di-riyadhoh-i dan temukan dialog batin dengan Tuhan.

Dialog di dalam batin menyangkut motif-motif yang paling jujur, yang diri sendiri paling tahu. Lagaknya mengerjakan sebuah aksi moral, tetapi di batin sebetulnya yang dikejar adalah eksistensi berbasis social-branding. Ini sih bahasa saya sendiri. Inilah kekeliruan kebanyakan manusia, di kira apa yang terendap di batin itu tidak diendus oleh orang disekelilingnya. Sehingga ia merasa tak malu mengejar eksistensi terselubung, berbungkus aksi moral tertentu.

Padahal di frekuensi batin itulah, ruang dialog diri dengan Tuhan terbuka seluas-luasnya. Memangnya komunikasi dengan siapa lagi yang lebih penting selain komunikasi dengan Yang Maha Menciptakan segala sesuatu?

Demikianlah, karena esok paginya adalah hari selasa, maka dengan sebagian ketidakrelaan jamaah forum-pun diakhiri lebih awal. Menjelang jam 01.00 dini hari Juguran Syafaat ditutup. Sebagai forum edutainment, Juguran Syafaat hanya memberi ruang edukasi dan entertainment. sebatas lingkaran komunitas yang mencoba peduli dan perhatian pada tumbuh-kembang manusia agar tidak pernah lupa dan patah semangat dalam memikul tugas peradaban.

Semoga seluruh peristiwa transfer kognitif maupun transaksi enegetik malam hari itu bisa menjadi bekal melaksanakan peran dan batas tuntas tanggung jawab yang sudah kadung melekat pada diri masing-masing Penggiat dan Jamaah yang hadir. Setidaknya hati mongkog sepulang ber-forum bisa menjadi sangu untuk dibawa pulang. Syukur Alhamdulillah apabila diantara kita ada yang memperoleh lebih dari itu. [] Febri Patmoko/RedJS

Mukadimah: KLINIK TAUHID

Masjid megah mudah dijumpai dimana-mana hari ini. Di banyak acara, ceramah pengajian lumrah menjadi sisipan. Pun demikian dengan fenomena hijrah, kini menjadi tren yang begitu menyorot perhatian. Tugas selanjutnya adalah bagaimana menelisik kemajuan-kemajuan tersebut, agar jangan sampai menjadi sebatas peristiwa simbolik, melainkan menjadi peristiwa yang betul-betul kentara manfaatnya.

Kenapa tugas menelisik itu menjadi penting? Sebab sepertinya sebagai masyarakat kita tidak bergerak dari problematika yang begitu-begitu saja dari belasan tahun yang lalu. Duel identitas, tawuran narasi dan lain-lain sehingga meskipun Pancasila kita gembor-gemborkan setiap hari, tetapi Keadilan Sosial nampak masih jauh panggang dari api.

Menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut nampak tidak sesederhana menemukan rumusan metode sosial baru. Sebagai bangsa berketuhanan, masing-masing atau secara bersama-sama perlu menelisik sampai ke akar masalah, yakni bagaimana bentuk dialog batin dengan Tuhan yang menjadi motivasi dari seluruh tindakan dan keputusan kita.