Reportase: INFORMASI RANJAU

REPORTASE JUGURAN SYAFAAT JUNI 2016

Malam mulai bergulir. Beberapa orang sudah tampak memadati sebuah Pendopo kecamatan Sokaraja. Tempat dihelatnya forum Juguran Syafaat. Forum rutin bulanan yang membahas banyak tema kehidupan.

Adanya forum ini, semoga saja menjadi sebuah tirakat bagi para penggiatnya maupun yang sudah bersedia hadir bersetia hingga dini hari. Tirakat untuk menjaga keseimbangan alam, dalam selalu mengerjakan tugas-tugas peradaban sejarah.

Nihil rasanya jika kesabaran dan kesetiaan tidak dibayar dengan tetes ilmu dari langit yang turun pada malam hari itu. Pelan-pelan sedulur yang hadir menyerap menjadikan bekal untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Forum malam hari ini diawali dengan tadarus Quran panjang, menghabiskan Juz ke 7 sesuai malam ke tujuh bulan Ramadhan. Quran dibaca secara tartil terpimpin dan digilirkan ke beberapa sedulur yang hadir. KAJ mengawali kekhusyukan malam hari dengan satu nomor musik “Hasbunallah”.

 ***

Mengungkap Akar Sokaraja

Kukuh, Hilmy dan Karyanto diawal menyapa para sedulur dan yang baru pertama kali mengikuti Juguran Syafaat, malam ini memasuki malam ke 7 Ramadhan. Beberapa sedulur berasal dari lokal Sokaraja mendapatkan informasi event dari media sosial. Juguran Syafaat malam ini mengambil tema ‘Informasi Ranjau’. Sebelum masuk ke tema, diawal sesi ini kedatangan narasumber Tokoh Sejarah dari lokal Sokaraja.

Kukuh menyapa sedulur yang hadir bahwa awal sesi digunakan untuk pemaparan sejarah Sokaraja yang digawangi oleh beberapa sesepuh dari lokal Sokaraja. Ini merupakan bentuk mencari informasi yang benar dalam upaya menetralisir informasi dari ranjau-ranjau informasi yang beredar mengenai sejarah Sokaraja.

Ahmad Taefur yang merupakan salah satu sesepuh dari Kecamatan Sokaraja, menceritakan kenapa daerah ini bernama Sokaraja. Dalam penjelasannya, Taefur bercerita bahwa nama itu muncul sejak abad ke 17 jaman kekadipatenan. Sokaraja berasal dari kata Soka yang berarti Kuda dan Raja yang berarti Raja penguasa. Dahulu, didaerah ini pernah menjadi tempat pemberhentian kuda dari seorang raja. Taefur begitu mahir menjelaskan satu persatu urutan sejarah daerah ini.

Kukuh merespon bahwa cara pihak luar untuk menghancurkan suatu bangsa adalah diantaranya dengan memutarbalikkan fakta sejarah sehingga para generasi penerus itu tidak tahu sangkan paran, tidak tahu seperti apa perjuangan-perjuangan para pendahulunya. Selanjutnya dipersilakan Sunardi, selaku Ketua Dewan Kesenian Sokaraja turut membagi pemaparannya tentang Sokaraja.

Sunardi yang kagum dan apresiatif terhadap forum Juguran Syafaat ini, mengawali bahwa Sokaraja selain terkenal menjadi kota santri, tapi juga memiliki sebutan kota seni. Karena didalam kecamatan ini terdapat setidaknya 18 orang dalang wayang kulit. Ini dikarenakan wayang kulit dijadikan media dalam berdakwah agama Islam pada jaman dahulu. Sunardi mengajak anak muda untu lebih mau mempelajari kebudayaan negeri sendiri daripada sibuk belajar budaya dari luar negeri yang tidak mempunyai milai luhur untuk kehidupan.

KAJ menjeda sesi diskusi dengan satu nomor apik “Amemuji”, sebuah aransemen musik “Ila Hilas tu” dengan irama lebih rampak.

Memasuki sesi berikutnya, giliran Titut Edi menuturkan pemikirannya. Seniman asli Purwokerto ini memang identik dengan pikiran nakal dan unik. Lebih dari itu, cara berpakaian dan gaya berbiacaranya selalu menjadikan sedulur yang hadir tertarik dan tidak sedikit terhibur.

“Banyak orang tidak waras. Ada orang pakai ikat dikatain kejawen padahal ikat itu untuk mengikat otak supaya tidak mambrah-mambrah kemana-mana. Banyak orang mengenal agama tapi tidak kenal Tuhan. Banyak orang bicara tentang ayat tapi ora ngerti maknane. Apapun agamanya apapun keyakinannya, Tuhan itu sangat dekat sekali.”, awal Titut Edi.

Titut Edi menyampaikan bahwa dalam sebuah pertunjukan seni cowongan yang dia geluti penuh dengan mantra kuno yang sebenarnya sebuah karya sastra. Karya sastra inilah yang diciptakan untuk anak-anak cucu hingga saat ini supayahidup kita selamat.

Kusworo menanggapi dengan mengingatkan bahwa tanggal 27 Mei kemarin Majelis Masyarakat Maiyah Padhang mBulan Jombang dibarengkan dengan hari kelahiran gurunda Emha Ainun Nadjib yang menginjak umur 63 tahun. Kusworo mengamati bahwa yang hadir malam hari ini jauh lebih banyak daripada biasanya. Orang yang datang ke Maiyah mempunyai bakat alamiah dalam tahan, sabar dan setia dalam menunggu turunnya ilmu hingga pagi dini hari.

“Jadi kalau di khasanah Jawa itu kana da peralihan kualitas waktu kejernihan turunnya ilmu dari ada istilah ‘Titioni, Gondoyoni sampai Puspo Tajem dan acara seperti ini biasanya sampai dini hari dan Alhamdulillah temen-temen di sini sudah terbiasa setia sampai jam 2-3 pagi untuk menunggu jatuhnya tetesnya ilmu. Dan saya kira itu yang sekarang kita sudah sulit anak-anak mungkin sudah cukup sulit menemukan wadah untuk bisa lebih kontemplasi seperti yang kita alami bersama. Sebuah tradisi melek mbengi dalam mencapai ngerti ilmuning urip.”, tambah Kusworo.

Hadiwijaya turut menceritakan pengalamannya di tahun 70an berproses bersama di Malioboro. Dimana pada saat itu juga Cak Nun menjalani proses menjadi sastrawan, sedangkan Hadiwijaya menjadi pelukis hingga saat ini. KAJ melantunkan shalawat “Alfa Salam, Ya Allah Ya Adzim, Shalli Wa Shallimda”, menambah kekhusyukan malam hari ini.

***

Senda Guraunya Allah

Memasuki sesi selanjutnya, Agus Sukoco mengupas terminologi sejarah yang berasal dari bahasa arab yaitu sajaroh yang artinya pohon. Sebuah pohon memiliki tiga komponen besar, yaitu akar, batang dan daun ranting buah. Pohon yang tidak nyambung ke akar maka tidak akan memiliki saluran untuk mengambil energi zat-zat yang membuat pohon itu hidup. Sehingga ketika pohon itu tidak hidup, dia tidak akan bisa menghasilkan buah. Keutuhan sejarah adalah lengkapnya komponen akar, pohon dan ranting buah.

“Hari ini, kita melupakan sejarah itu sama dengan memutus batang dari akar, kalau akar itu masa lalu yaitu sejarah kita, batang itu masa kini, buah itu masa depan. Maka buah hanya bisa diproduksi oleh pohon yang nyambung dengan akar. Pak Sunardi dan Pak Taefur tadi menyambungkan pohon masa kini dengan akar sejarah dengan Banyumas, Sokaraja, Purbalingga dan lain sebagainya sehingga kesejarahan itu yang perlu kita gali.”, sambung Agus Sukoco.

“Hari ini kita disambungkan justru dari akar yang lain, informasi-informasi yang merupakan ranjau dan jebakan tadi yang membuat kita sebagai pohon mati sehingga tidak mampu memproduksi buah. Kalau toh kita memproduksi buah, ada prestasi-prestasi ternyata buah itu hanya buah plastik. Atau prestasi-prestasi dan keberhasilan plastik yang sesungguhnya materialisme bukan produk dari pohon yang hidup. Karena hanya ketika pohon atau batang itu nyambung ke akar, dia bisa memproduksi buah sebenarnya.”, tambah Agus.

Merespon shalawat yang dilantunkan KAJ tadi, Agus mengulang lagi penjelasan dasar ilmu Maiyah, yaitu segitiga cinta dimana ada Allah, Muhammad dan kita. Shalawat adalah bentuk rasa syukur kita karena kita hidup menumpang pada rumah besar Allah yang bernama bumi, dan didalam rumah tersebut kita benar-benar ditempatkan satu kamar dengan Kanjeng Nabi. Maka apa saja yang dijatahkan dari Tuan rumah kepada si pemilik kamar, kita akan kebagian juga dengan jatah yang sama. ini adalah konsepsi syafaat, dimana keberkahan hidup, kebahagiaan hidip kita sekarang ini adalah bentuk syafaat dari kanjeng Nabi, karena kita sudah hidup satu kamar dengannya. Dan syafaat kanjeng Nabi bisa kita dapatkan bila kita senantiasa bershalawat kepadanya.

Agus Sukoco juga mengurai makna dari ayat Allah dalam Al Quran yang berbunyi, dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka. Dalam penjelasannya, Agus mengatakan bahwa jangan salah senda guraunya Tuhan, permainannya Tuhan pasti sebuah keseriusan nilai.

“‘Dunia ini permainan dan senda gurau’ itu yang ngomong Tuhan, jangan kita yang ngomong, kalau kita yang ngomong nanti jadi pembenaran akhirnya ngawur dan main-main.Tetapi Allah sendiri yang mengatakan dunia ini permainan dan senda gurau tapi kita harus merespon kehidupan yang merupakan permainan dan senda gurau menurut Allah itu dengan keseriusan. Maka ada 3 sikap dari kita yaitu sikap pikiran, sikap hati dan sikap tindakan, tiga-tiganya bermakna sungguh-sungguh. Sikap pikiran bernama ijtihad, sikap batin bernama mujahaddah, sikap laku bernama jihad.”, sambung Agus Sukoco.

Agus menganalogikan dengan pada saat jaman Pak Harto, dimana Pak Harto saat itu mengajak para kabinetnya untuk liburan dari kerja penatnya untuk bermain bola. Maka yang dilakukan Harmoko (menteri pada saat itu) adalah menggelar konferensi pers, membuat kaos tim, membeli sepatu dan sungguh-sungguh dalam memperiapkan permainan bola bersama Pak harto. Bagi Pak Harto, sepakbola bisa berarti liburan, tapi bagi Harmoko dan teman kabinet yang lain, sepakbola itu harus direspon dengan keseriusan dan kesungguhan baik dalam persiapan maupun ketika bermain nantinya. Tidak ada orientasi menang atau kalah dalam konsep berfikir para kabinet itu, yang ada hanyalah melayani tuannya bermain dengan sungguh-sungguh.

***

Merespon Ranjau

Fikry turut merespon dengan menuturkan bahwa sama seperti sedekah. Urusan kita adalah sedekah, memberi. Tapi urusan balasannya itu urusan Allah, jangan kita ikut memikirkannya. Pahala dan dosa itu hanya Allah yang menilai, kewajiban kita hanya terus berbuat baik. Disini kita sering bertukar peran dengan Tuhan, kadang kita ikut serta menghitung apa yang akan dibalaskan kepad akita sendiri.

Ndaru dari Karanglewas, mengungkapkan kegelisahannya dalam menemui berbagai infromasi yang penuh dengan ranjau saat –saat ini. Dalam hal ini, Ndaru menanyakan bagaiman jalan terbaik dalam menentukan informasi yang benar dan tepat dengan kondisi sekarang ini. Kegelisahan serupapun dialami Rizal dari Cilacap, pertanyaan yang dimunculkan adalah apakah kemunduran kebudayaan sekarang ini diakibatkan oleh adanya televisi. Wari dari Banyumas turut menyumbangkan pemikirannya bahwa pemberitaan pada media massa sekarang ini penuh dengan kobohongan.

Sunardi merespon apa yang ditanyakan Rizal, bahwa ketidakseimbangan informasi yang beredar saat ini dikarenakan oleh kepentingan penguasa modal dalam bisnis media yang hanya digunakan untuk mencari keuntungan pribadi semata.

“Tayangan iklan pada televisi sekarang ini penuh dengan ranjau-ranjau konsumerisme yang merupakan kepentingan bagi kapitalisme. Anak-anak sekarang tidak mengenal lagi budaya-budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita yang kalau kita pelajari sungguh sangat agung nilainya. Sebetulnya kurang imbang antara tayangan kepentingan bisnis iklan sementara mereka tidak mau mengorbankan kepentingannya untuk kebutuhan bangsa.”, sambung Sunardi.

Rizky merespon semua diskusi tadi dengan mengajak kembali para sedulur untuk menemukan definisi yang sebenarnya pada sebuah kata. Kalau ada kata informasi bukan melulu hal yang tertulis dalam koran, televisi maupun terdengar di radio. Tapi bisa jadi ada bentuk informasi yang lain seperti firasat, krenteg hingga ilham yang tetap wajib kita percayai.

“Seringkali berita itu hanya berfokus di Jakarta. Misalnya kalau menggunakan analogi yang ditemakan malam hari ini itu kita tinggalnya di Sokaraja, kalau jaman dulu mendapat informasi dari kentonganKentongnya itu sebatas radius se Sokaraja itu tapi sekarang kita sibuk mendengarkan kentongnya orang Jakarta, nah, apakah memang di sana kentongnya lebih nyaring dari pada di sini atau memang ada sesuatu yang dimaksudkan atau bagaimana kok kita jadi lebih mendengar kentongnya daerah lain dibanding kentong kita sendiri, mari kita gali bersama.”, sambung Rizky.

Khatibul Umam, salah seorang anggota Dewan dari pusat yang mewakili dapil Banyumas dan sekitarnya turut hadir malam hari ini. Khatibul menjelaskan bahwa dalam hal politik, yang perlu dikembangkan adalah politik blakasuta, sebuah idiom asli dari Banyumas. Politik blakasuta berarti politik yang apa adanya dan kembali pada niat yang bersih dan jujur. Dalam hal ini, Khatib menapresiasi forum-forum semacam Juguran Syafaat yang justru menjadi ladang yang sangat efektif dalam pelestarian kebudayaan daerah.

“Tidak mungkin agama bisa tembus ke Jawa kalau para penganjur agamanya tidak ngerti Jawa, para Wali tidak mungkin mengajarkan Islam kalau tidak mengikuti dan mempelajari seluk beluk agama atau kepercayaan atau adat istiadat atau tata cara hidup di masyarakat Jawa. Karena itu saya sependapat dengan gagasan-gagasan Mas Titut dan temen-temen di Maiyah ini untuk terus-menerus menghidupkan agama. Kalau niatnya memang syiar menghidupkan kebudayaan untuk niat kebaikan. Gusti Allah kan lebih tahu niat orang berkesini untuk apa.”, tambah Khatib.

Rayung yang beberapa kali menyumbangkan suara emasnya, kali ini dengan percaya diri melantunkan nomo rmusik dari Bimbo yang berjudul “Rindu Rasul”, sebuah tembang yang sangat sejuk dan kontemplatif.

Agus Sukoco kembali merespon bahwa substansi jebakan informasi sudah ada sejak awal kehidupan diselenggarakan oleh Tuhan. Yaitu Iblis menginformasikan kepada Adam bahwa memakan buah Khuldi adalah upaya untuk selamat tapi sesungguhnya informasi yang dilakukan Iblis adalah sebuah provokasi kepada Nabi Adam yang merupakan penyebab atau jalan bagi Adam untuk terdegradasi dari Ahsani Taqwim menjadi berderajat materi.

“Nah hari ini informasi bersifat provokatif dan jebakan-jebakan sebagaimana yang dilakukan oleh Mbah Moyangnya penjebak melalui informasinya itu baik melalui media massa dan yang lain. Nah kalau kita berangkat dari peristiwa jebakan awal dari terselenggaranya kehidupan alam semesta ini ketika informasi yang dari Iblis itu berarti yang dimaksud menjebak adalah informasi yang membuat manusia terdegradasi menjadi asfala safillin dari ahsani taqwim karena substansi manusia sesungguhnya adalah spiritualitas atau ruhaniah ketika dia kemudian mengkonsumsi segala informasi berupa ukuran-ukuran hidup yang mempengaruhi gerak pikiran dan lelakunya untuk makin materialism sesungguhnya dia sudah memakan informasi sebagaimana Adam memakan informasi dari Iblis. Ruang kebudayaan kita hari ini dipenuhi dengan patok-patok nilai yang mau tidak mau hidup kita mengarah kepada materialisme, kalau kemudian kita punya leluhur yang seluruh ekspresi kebudayaannya merupakan pagar patok dan rambu-rambu nilai yang membuat orang tetap eling lan waspada sehingga tetap terjaga kondisi ruhaniahnya”, sambung Agus Sukoco.

Agus mengurai sedikit Daur dari Cak Nun yang berjudul Berendah Hati Kepada Cahaya. Dalam penjelasannya manusia sekarang semakin mempercayai identitas-identitas sosial yang menempel pada dirinya, seperti camat, bupati, pengusaha dan lain sebagainya. Berbagai identitas sosial budaya yang kita percaya bahwa itu diri kita padahal substansi diri kita adalah ruhaniah atau sesuatu yang bersifat spiritual yaitu diri ruh. Informasi yang tidak menjadi ranjau adalah yang seluruh muatan nilainya menyadarkan kita bahwa kita harus makin tidak percaya bahwa diri kita adalah identitas-identitas sosial itu tadi.

“Kebahagiaan manusia adalah kalau dia sudah menyadari diri ruhaninya bertemu Tuhan pada peristiwa-peristiwa yang sering saya katakan yaitu menemukan hikmah kehadiran Tuhan. Diri kita yang bukan ini, yang diri ruhani itulah diri yang se-diri. Analoginya gini kalau anda misal ke Jakarta 5 tahun tiba-tiba ketemu dengan orang yang se-kampung dengan anda, pasti akrab sekali. Itu hanya orang yang se-kampung. Nah kita dengan Tuhan se-diri bukan hanya sekampung, betapa dekatnya karena se-diri bukan hanya se-kampung. Betapa dekatnya, betapa akrabnya maka Tuhan mengatakan ‘Aku lebih dekat dari urat lehermu’. Jadi kebahagiaan adalah ketika kita ketemu dengan asal usulnya. Nah, kemudian informasi yang saya sebut menjebak tadi adalah mengabarkan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat materi”, tambah Agus Sukoco.

“Maiyah merupakan upaya detoksifikasi, upaya untuk membebaskan dari racun-racun informasi yang membuat kita terdegradasi sebagaimana Adam turun derajat mejadi materi setelah asik-asiknya berada pada maqom ahsani taqwim itu. Sekali lagi awal mula ranjau informasi adalah dilakukan oleh Iblis yang mengabarkan pada Adam bahwa Khuldi harus dicapai harus diraih karena itu penyelamatan. Padahal itu merupakan jebakan meskipun itu merupakan skenarionya Tuhan juga.’, tukas Agus.

Agus Sukoco mengajak kembali untuk selalu bershalawat sebagai peneguhan atas komitmen berada di dalam kamarnya Rasulullah, sehingga kita mampu mengidentifikasi mana informasi yang ranjau mana yang bukan. Informasi-informasi yang masuk ke dalam kamar itu adalah informasi-informasi yang sudah dijamin keselamatan dan menyelamatkan.

Al dari purwokerto ikut merespon semua sesi diskusi tadi dengan sebuah syair yang dibacanya diiringi petikan gitar oleh Rayung. Rizky mengakhiri diskusi dengan menegaskan kembali bahwa kita patut bersyukur karena beruntung sudah bisa “sekamar” dengan Kanjeng Nabi, mendapatkan syafaatnya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Ujang dari KAJ melantunkan shalawat Tarhim dengan suaranya yang sangat merdu. Sedulur Juguran Syafaat yang hadir mengakhiri perjumpaannya malam hari itu dengan bershalawat melingkar bersamaan. Sedulur yang hadir pulang membawa oleh-oleh pendaran cahaya yang ditiupkan oleh malaikat-malaikatNya dini hari ini.[] RedJS

 

Mukadimah: INFORMASI RANJAU

MUQADIMAH JUGURAN SYAFAAT JUNI 2016

Ada satu jenis alat komunikasi yang diwariskan leluhur kepada kita, alat itu bernama kenthong. Jangan dulu terburu-buru menganggap kenthong itu alat yang tidak canggih, jika sebab kenthong hanya sekedar sebuah alat yang terbuat dari bambu atau kayu, yang dalam proses pembuatannya tidak membutuhkan mesin apapun, juga di dalamnya tidak ditanami chip atau sejenisnya. Sebagai sebuah media komunikasi sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat, kecanggihan kenthong terletak pada betapa simple pengoperasiannya, tetapi betapa akurat fungsi dan integritas informasinya. Kodifikasi ‘Siji-siji rajapati, loro-loro ana maling, telu-telu umah kobong’ menjadi hafalan di luar kepala oleh masyarakat, bahkan oleh mereka yang masih kanak-kanak.

Integritas media informasi bernama kenthong terlihat dari jelas penabuhnya, jelas siapa sumber beritanya. Hal ini berbeda dengan media pemberitaan modern, surat kabar dan portal berita online misalnya, sekalipun dihasilkan dari mesin cetak dan mesin berbasis teknologi informasi yang canggih, tetapi semakin canggih semua itu, semakin pelik kita dalam merunut integritas informasi yang dihasilkan. Seringkali kita tidak pernah benar-benar tahu siapa dibalik meja redaksi. Mendeteksi apa kepentingan sebuah informasi di blow up sedemikian rupa, di saat yang sama informasi lainnya dikabarkan sekadarnya, sementara informasi lainnya lagi disepikan dari pemberitaan. Pengenalan kita pada wajah para presenter yang membawakan berita, juga hafalnya kita pada suara narator di balik tayangan-tayangan tidak menjadi jaminan apa-apa bahwa kita sedang benar-benar diinformasii sesuatu oleh pihak yang sedang tulus memberi informasi.

Menemukan maksud yang sesungguhnya dari sebuah berita yang sampai pada kita adalah pekerjaan yang amat penting. Pekerjaan melelahkan yang seringkali lebih kita pilih untuk ditinggalkan, karena tak sabar ingin segera men-share membagikannya. Sementara itu, segala kemungkinan bisa saja terjadi, apakah yang sedang terjadi adalah pengalihan isu atau kah sebuah reaksi alamiah. Apakah sebuah informasi itu early warning betul-betul bagi masyarakat atau kah jangan-jangan akal bulus konspirasi. Apakah merupakan penggiringan opini, atau kah memang benar-benar indikator kesehatan nalar publik.

Pekan demi pekan berita silih berganti, bulan demi bulan informasi terus bertumpuk. Sebagian menjadi rumor yang meledak seperti ranjau dan kemudian kita termakan olehnya. Sementara sebagian lainnya menjadi isu yang kemudian kempes dengan sendirinya, pessss… persis seperti kentut.[] RedJS

Ibu Informasi, Keluarga Informasi, dan Masyarakat Informasi

Menurut natur dan ilmu kesehatan, seorang bayi yang mendapatkan asupan gizi melalui langsung menyusu kepada ibunya jauh akan lebih sehat, lebih mendapatkan zat-zat yang dibutuhkan bagi maksimalitas pertumbuhan dan kesehatan tubuhnya. Maka, sistem kekebalan tubuhnya juga makin sempurna dan menguat. Hasilnya, ia tidak gampang masuk angin dan akan berkembang menjadi organisme yang matang.

Demikian juga dalam hal informasi. Ada ibu informasi. Kepada dan darinya kita mendapatkan informasi. Jika ingin tahu kebenaran informasi, kita bertanya atau konfirmasi kepada sang ibu. Sebagai contoh sederhana, tersiar jadwal acara di suatu kota X. Kita lalu bertanya, benarkah kabar itu? Kemanakah kita mencari jawabannya? Ke ibu informasi. Dalam hal kegiatan atau agenda Cak Nun dan KiaiKanjeng, misalnya, informasi itu dapat diperoleh di CAKNUN.COM sebagai ibu informasinya.

Ibu Informasi

Ibu Informasi

Dengan begitu, kita tidak perlu terhembus oleh kabar yang belum pasti, tidak perlu “masuk angin”. Cukup sederhana: cek langsung ke sang ibu. Jika pada sang ibu tertera jadwal tersebut, berarti benar. Jika tidak tercantum, berarti tidak ada acara tersebut, atau mungkin belum saatnya diinformasikan.

Garis ke ibu itulah yang merupakan dasar dari sesuatu yang kemudian kita sebut keluarga informasi. Keluarga informasi adalah satu lingkungan kebersamaan dengan berbagai atau banyak penghuni di dalamnya. Satu sama lain diikat oleh kesamaan kebutuhan dan keterkaitannya terhadap satu, sekelompok, atau serangkaian rutinitas informasi. Terhadap informasi itu, kita saling memperhatikan berbagai aspek informasi itu sendiri: akurasi, persebaran, pertukaran, tolong-menolong, etika, patrap, pendayagunaan, pemanfaatan, check and recheck, dan segi-segi lainnya.

Kita bergerak ke satu contoh. Mungkin Anda pernah mendapatkan sms atau WA tetapi pesan itu tidak dilengkapi nama atau kejelasan si pengirim pesan. Anda mungkin bisa mengabaikannya. Tetapi kalau hal itu lumayan sering terjadi, capek juga kan. Kalau isinya tidak relevan dengan kita, mungkin itu pesan nyasar. Tetapi, kalau pesan-pesan itu memang relevan dengan urusan kita, kita jadi mikir-mikir. Lha iya wong se-urusan, kok tidak menyertakan nama sih? Perkembangan teknologi telekomunikasi belum sampai pada tahap di mana setiap gadget dilengkapi dengan list contact semua nomor yang beredar di seluruh nusantara berikut dengan nama-nama pemiliknya. Juga untuk nomor selular, tidak ada semacam buku Yellow Pages yang menyajikan nomor-nomor telepon kabel berikut nama dan alamatnya di suatu kawasan kota atau daerah.

Di dalam sebuah keluarga informasi, yang demikian itu tidak perlu dan tidak boleh terjadi. Jika mereka mau menyebut nama, sekurang-kurangnya hal itu memudahkan penyimpanan nomor tersebut di contact list, sebab tidak sopan juga memberinya nama yang bukan namanya karena sebenarnya si pemilik nomor itu punya nama, punya tuan.

Itu adalah salah satu contoh kecil saja, di antara contoh-contoh lain, yang menggambarkan bahwa kita memerlukan suatu imajinasi bahwa kita hidup di dalam sebuah keluarga. Satu sama lain punya keterkaitan, relasi, posisi dan peran masing-masing. Sebuah keluarga mengandaikan pula adanya pos-pos, yang masing-masing punya kandungan takaran tertentu terhadap informasi. Sebuah keluarga juga mengandaikan adanya struktur dan mekanisme. Di dalam keluarga itu juga terdapat suasana saling meringankan dan melegakan di antara para penghuninya.

Di dalam konteks Maiyah, ada dan makin meningkatnya keberadaan media (web dan media sosial) pada masing-masing simpul Jamaah Maiyah di berbagai tempat, dapat kita pahami dan kita harapkan sebagai penghuni-penghuni keluarga informasi Maiyah. Mereka tentu punya garis hubung kepada Ibu Informasinya, tetapi pada saat bersamaan, pada sejumlah hal, mereka adalah juga ibu-ibu informasi tersendiri untuk informasi, agenda, atau kegiatan di mana mereka adalah subjek utamanya. Kepada dan dari merekalah kita mendapatkan informasi yang berada di wilayahnya. Pada web CAKNUN.COM, link-link keluarga informasi Maiyah itu tertera pada LINK MAIYAH CAKNUN.COM yang ada di bagian bawah.

Sudah pasti, yang kita sebut keluarga informasi ini bukan barang yang sudah jadi, tetapi setidak-tidaknya, sejak sekarang kita mulai mem-file di dalam diri kita bahwa kita adalah bagian dari sebuah keluarga informasi. Kita bersama-bersama bergerak mengontribusikan terbentuknya soliditas keluarga informasi itu. Kita bersama-sama bekerja keras berproses menuju kematangan keluarga informasi Maiyah ini.

Di sisi lain, urgensi akan kesolidan dan kematangan keluarga informasi Maiyah itu kian terasa, karena pada dasarnya kita tidak ingin dan tidak setuju pada dijadikannya media internet sebagai sarana untuk melempar-melempar sesuatu dari kejauhan. Ide dasar dan prinsipil kita mengenai komunikasi dan interaksi adalah tatap-muka langsung (maka salah satunya, forum rutin Maiyahan atau Tadabburan tetap dilangsungkan). Tetapi karena ketersebaran jamaah di berbagai wilayah yang berjauhan, serta adanya kebutuhan pada kecepatan tersampainya informasi, maka media online dan media sosial menjadi perlu digunakan. Tujuan utamanya adalah tersampaikannya informasi.

Bila ditarik secara mendasar, Jamaah Maiyah telah mempelajari dan menyadari bahwa penjajahan modern sedemikian canggih dilaksanakan dengan berangkat dari mental tidak gentleman. Perang modern menyerang dengan menggunakan bom dan melempar dari jarak jauh. Dan sekarang, seperti diketahui dunia internet sangat memudahkan dan memassifkan pelemparan-pelemparan dari jarak jauh itu. Sementara karakter asli bangsa Nusantara adalah berhadap-hadapan, gentleman. Inilah pemahaman dasar yang Jamaah Maiyah pahami di dalam menggunakan media dengan memperhatikan bagaimana sejauh ini praktik bermedia berlangsung oleh para pengguna media.

Dalam posisi yang demikian itu, berangkat dari kesadaran akan ibu informasi dan keluarga informasi, selain untuk mencapai suatu kesolidan, pada perkembangannya melalui proses yang terus diasah dan diolah, ke depan Maiyah dapat menjadi satu contoh yang baik mengenai masyarakat informasi. Masyarakat dengan budaya, karakter, pola, dan manajemen informasinya tersendiri. Masyarakat yang mengawinkan informasi dan media dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas peradaban manusia. Itulah batas yang coba diambil oleh keluarga informasi Maiyah. [] RedJS

Sumber : https://www.caknun.com/2016/ibu-informasi-keluarga-informasi-dan-masyarakat-informasi/

Taqlid Buta, Taqlid Melek

Kita mengakses informasi di masa lalau, salah satu alatnya adalah menggunakan kata-kata. Namun, kata-kata yang merupakan instrumen linguistik adalah alat yang valid tetapi terlalu sederhana, penuh keterbatasan. Itulah kenapa ketika orang mengakses perkataan di masa lalu, orang seringkali berdebat dalam hal tafsir.

Kasus sederhana sebagai contoh saja, seorang simbah meninggalkan secarik tulisan “cucuku, belilah tali tambang yang panjang 20 meter lalu gunakanlah untuk hal yang bermanfaat”. Lalu cucu-cucunya, mendiskusikan kata-kata simbah itu. Diskusi berujung debat yang memanas dikarenakan di warung didesa itu hanya tersedia tali tambang yang maksimal panjangnya hanya 10 meter.

Debat yang memanas itu agaknya berpotensi untuk mereda setelah sang paman datang. Si Paman yang sangat dekat mengenal simbahnya itu bercerita “Simbahmu dulu itu hobinya membuatkan jemuran baju untuk tetangga-tetangganya. Untuk satu jemuran yang simbahmu buat, dia butuh tali 5 meter. Sudah kalian beli tali 10 meteran saja dua, terus dipotong-potong 5 meteran agar jadi 4 jemuran, karena pesan simbahmu untuk beli 20 meter tali tambang itu adalah maksudnya simbahmu ingin cucu-cucunya membuatkan jemuran untuk 4 tetangga-tetanggamu.”

“ooooh….begitu to paman”, sahut para cucu-cucunya. Para cucu tersebut mengikuti perkataan pamannya dengan tidak banyak cing-cong, mereka ber-taqlid kepada pamannya itu. Sebetulnya tidak ada paksaan para cucu untuk taqlid, kritisi saja itu perkataan si paman, cari referensi tulisan2 lain dari simbahnya, investigasi kata demi kata secara mendalam, untuk menjamin bahwa yang si paman sampaikan itu benar adanya atau tidak.

Tapi ketika referensi linguistik sudah tidak tersedia, mau bagaimana proses investigasi itu dilakukan? Tidak ada pilihan lain, selain taqlid kepada si Paman. Tapi, para cucu itu sebelum taqlid, tahu betul bahwa si paman adalah mengenal dekat simbahnya, dia tahu konstelasi hati dan rasa simbahnya, bukan asal njeplak.

Taqlid itu boleh dan sah-sah saja kok. Yang tidak boleh kan penyalahgunaan taqlid. Penyalahgunaan taqlid disebut taqlid buta, disuruh pak ustadz pakai celana panjang nurut, disuruh memakai lengan pendek nurut, padahal sudah kenal betul si ustadz itu memiliki sinkronisasi hati dan rasa dengan junjungan kita yang sejati belum? janganlah jadi ‘blind muqolid’ yang taqlid buta kepeada seorang tokoh. taqlid melek saja.[] Rizky Dwi Rahmawan

‘Ejakulasi Dini’ Menyimpulkan

Sebuah percakapan di internet mengomentari tentang sebuah artikel tulisan bunyinya begini :

X : Profesor yang menulis artikel di atas saya cari tidak ada. Wah, artikel ngarang ini pasti.
Y : Anda tidak menemukan profesor itu? Wah, berarti pencarian anda masih terbatas. Jangan terburu-buru menyimpulkan ‘ngarang’.

Tanpa sadar kita sering ejakulasi dini dalam menyimpulkan segala sesuatu. Padahal penelusuran kita masih terbatas. Budaya riset memang saat ini seperti kabur dari bagian dari keseharian. Yang berkembang justru budaya vonis : ini pasti benar, itu pasti salah. Padahal kebenaran tidak selalu berbentuk sebuah bundle paket siap saji yang tinggal kita lahap. Seringkali kebenaran adalah racikan bahan-bahan informasi yang harus kita ‘rajang-rajang’, kita ulek, kita adon, kita goreng, kita tiriskan, baru bisa dilahap sebagai sebuah kebenaran.

Misalnya, bagi orang yang anti informasi dari internet. “Informasi dari internet itu tidak bisa dipakai, karena tidak teruji kebenarannya!”, begitu kira-kira. Mari kita cermati ada dua komponen dalam kalimat tersebut.
1. Informasi dari internet tidak bisa dipakai
2. Informasi dari internet tidak teruji kebenarannya.

Karena tidak teruji kebenarannya maka informasi dari internet tidak bisa dipakai. Maka akan berlaku, kalau ada yang menguji kebenarannya, maka informasi dari internet dapat dipakai. Betul begitu bukan?

Maka sikap antipati terhadap informasi yang ada di internet adalah sebuah bentuk ‘amputasi’ yang memangkas potensi sumber-sumber kebenaran yang mungkin akan bisa kita ulek, goreng dan sajikan nantinya. Informasi dari internet dapat difungsikan sebagai pemantik sumber kebenaran, sebagai hipotesis untuk memulai pengujian dalam rangka menelusuri sebuah kebenaran.

Orang yang memiliki budaya riset, jiwa Iqra, semangat niteni, tidak akan mudah menghakimi sesuatu pasti benar dan pasti salah, pasti berguna dan pasti tidak berguna. Tapi akan memiliki keberanian untuk menerima sesuatu yang belum tentu benar, untuk diteliti lebih lanjut begitu pula sesuatu yang belum tentu salah untuk diteliti lebih lanjut.

Kepercayaan diri kita menempatkan diri pada posisi sebagai subyek peniliti kebenaran, membuat kita tidak mudah disuapi oleh dogma-dogma yang terlihat seperti benar, tapi sebetulnya menyimpang. [] Rizky Dwi Rahmawan

:: Rizky Dwi Rahmawan | @Rizky165 ::