Idulfitri Biji-Bijian Tasbih

Ada teknologi sederhana bernama tasbih. Biji-bijian yang diuntai dengan tali, umumnya terdiri dari 99 buah bulatan. Pada setiap setelah bulatan yang ke-33, ada sebuah bulatan yang lebih besar. Ini digunakan untuk penanda berganti bacaan wirid. Break section.

Dengan menggunakan tasbih, orang dapat tetap khusyuk ber-dzikir memejamkan mata hingga larut menempuh inner journey tanpa perlu risau perihal jalannya hitungan. Tak hanya dalam ritual wirid, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang pun begitu larut. Larut pada rutinitas keseharian sampai tidak terasa oleh berjalannya waktu. Wah, Cepat sekali yah sudah tahun baru. Loh, kok sudah mau puasa lagi. Tidak terasa yah puasa sudah selesai. Dan seterusnya.

Untunglah kita dikaruniai Allah momentum bernama hari raya. Kita mempunyai Idulfitri, sebuah hari yang menjadi bulatan besar di antara bulatan-bulatan kecil hari-hari dalam tahun kehidupan yang kita lalui. Kalau saja tidak ada hari yang bernilai bulatan besar, jangan-jangan kita terlalu asik dengan rutinitas tak henti kita, larut dalam tuntutan profesi peran hidup kita, larut mengejar target-target yang tak ada ujungnya.

Saking cepatnya terasa waktu berjalan, tanpa ada pengingat untuk sejenak untuk melakukan murojaah, menghitung kembali, mengulang untuk meneliti lagi. Tak ada pengingat untuk berpindah dari satu sesi ke sesi berikutnya dalam proses penumbuhan diri.  

Hari senin itu banyak, selasa juga sama banyaknya, dan seterusnya. Tetapi senin di pekan ini adalah satu-satunya senin di hidup kita yang berbeda dengan senin lalu atau senin depan. Pun begitu dengan Idulfitri, puluhan hari raya sudah kita alami, tetapi Idulfitri tahun ini adalah hari yang berbeda dengan Idulfitri tahun lalu juga tahun yang akan datang.

Khusus tahun ini kita dibuat sadar oleh peristiwa pandemi. Bahwa Idulfitri bukan rutinitas belaka yang tiap tahun harus dikerjakan secara sama.

Selamat hari raya, selamat memasuki sesi baru penumbuhan diri. (Rizky D. Rahmawan)

Selamat Idul Fitri, Selamatkan Idul Fitri dari Hedonisme

JUGURAN SYAFAAT melakukan upaya menghidupkan kembali budaya menggali. Misalnya tentang fenomena Idul Fitri.

Islam bukanlah agama kerahiban, dimana tuntunannya hanya seputar penyepian, tirakatan, dan anti-keduniawian. Tuntunan seputar Idul Fitri menjadi anomali dari semua itu. Nabi SAW menghendaki kita merayakan hari pertama sesudah bulan Ramadhan ini dengan gegap gempita :

  1. Berbondong-bondong Sholat Ied di tanah lapang luas
  2. Memakai pakaian yang paling bagus (walau tidak harus baru)
  3. Menyiapkan santapan. Setiap orang harus bisa makan pada hari itu.

Itulah betapa hari raya harus benar-benar kita rayakan.

Sayangnya, tuntunan yang indah dari Nabi SAW mengenai Idul Fitri ini kini telah sedemikian rupa dikomoditasi oleh sang pemilik modal. Dengan jelinya sang pemilik modal melakukan ‘perampokan’ massal, dalam rangka mobilisasi uang dari masyarakat kepada mereka melalui berbagai aktivitas transaksi jual beli komoditas atribut seputar Idul Fitri.

Walhasil, Idul Fitri bergeser menjadi lebaran. Kegegapgempitaan mengamalkan tuntunan Nabi SAW bergeser menjadi pesta yang hedonistik. meng…nge…ri…kan..

Ketika sang pemilik modal dengan jelinya melakukan komoditasi Idul Fitri demi mobilisiasi uang. Maka, Maiyah tidak boleh kalah jeli. Maiyah tidak boleh mengelus dada kesesakan nafasnya akibat paranoid melihat fenomena ini. Karena sikap paranoid akan berpotensi membawa pada terjadinya fenomena “amputasi sosial”.

Apa amputasi sosial yang dimaksud? Yakni, niatnya memberantas hedonistiknya pesta, tapi malah menghapuskan ke-raya-annya hari raya Idul Fitri. Tidak, tidak bisa begitu, hari raya tetaplah harus raya.

Maka inilah PR kita bersama, untuk mengayak hedonisme yang ada di dalam hari raya, tapi tetap menjaga raya nya hari raya, jangan kekayaan sosial hari raya diamputasi menjadi sepi, tidak lagi raya. [] Rizky Dwi Rahmawan

:: Rizky Dwi Rahmawan | @Rizky165 ::