Figur Ulama yang Enggan Dikenali Sebagai Ulama

Ketika itu pada malam 20 Juni tiba-tiba saya ingin tidur cepat. Setelah membaca buku terjemah karya Ibnu Arabi ‘Fusus al Hikam’ saya meniatkan untuk tidur, ‘ya latifu.. ya khobir..’ saya lantunkan.

Tidak biasanya saya tidur dengan niat benar-benar ingin tidur. Biasanya scroll timeline medsos terlebih dahulu baru bisa ketiduran. Namun malam itu berbeda. Sayyidul istighfar meminta diucapkan sembari muncul sosok Buya di alam pikiranku.

Pikirku mungkin karena disetiap usai Maiyahan beliau selalu membaca doa itu hingga yang muncul dipikiranku beliau. Hingga pagi itu dikejutkan berita kepulangan Buya. Benar adanya bahwa Tuhan telah berkehendak bertemu dengan kekasihnya.

Amat bersyukur saya berkesempatan menjadi salah seorang mahasiswi Beliau. Buya Nursammad Kamba merupakan Marja’ Maiyah sekaligus pendiri jurusan Tasawuf dan Psikoterapi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Seorang dengan figuritas ulama tetapi tidak mau dipanggil ulama. Beliau tidak pernah berpenampilan layaknya ulama pada umumnya tidak sebagaimana para tokoh yang hanya ingin dihormati sebagai ulama. Menurut Beliau, ukuran alim tidaknya seseorang tidaklah diukur dari penampilannya saja melainkan bagaimana dia berbuat baik pada sesama.

Pernah suatu ketika saya berkunjung kepada Beliau, lalu saya memilih untuk duduk dibawah. Karena dalam tradisi pesantren salaf posisi kita tidak boleh lebih tinggi dari guru. Tapi beliau berbeda, saya diminta untuk duduk disebelahnya, sejajar dengannya. 

Hal lain yang paling mengesankan di mata saya adalah dalam event-event acara kampus ketika Beliau diundang untuk menjadi pembicara, Beliau tidak pernah mau menerima honorarium pembicara yang disiapkan oleh mahasiswa. Itu adalah bentuk apresiasi Beliau atas jerih payah mahasiswa yang sudah rela hati menyiapkan sebuah acara.

Bahwa memang pengabdian Buya di lingkungan akademik bukan hanya untuk mencari materi dan pangkat belaka. Melainkan benar-benar tulus ingin menyampaikan pengetahuannya.    

Beliau telah sungguh-sungguh memberikan pengaruh pada perubahan pola pikir Saya dalam memandang fenomena beragama kontemporer ini. Bagaimana bersikap dewasa dalam menyikapi kelompok yang congkak akan golongannya sendiri. Serta bagaimana untuk tidak fanatik pada ormas yang dianut. Objektifitas dalam beragama menjadi hal dasar yang beliau ajarkan untuk tidak berpihak pada aliran agama manapun. 

Di dalam buku ‘Kidz Zaman Now Menemukan Kembali Islam’, Beliau mempertegas mengenai cara hidup dengan menggunakan hukum fardu ‘ain. Dalam hukum fardu ‘ain seseorang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri dihadapan Tuhan-Nya kelak, bukan menggunakan fardu khifayah yang merasa tenang-tenang saja ketika orang lain telah melakukan kebaikan. Untuk itu merdeka atas diri sendiri menjadi hal mutlak dalam berhamba kepada Tuhan, di dalam mencintai Tuhan dan di dalam me-wahdah dengan Tuhan. 

“Cinta sejati yaitu cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mencintai tanpa menuntut berbalas dengan cinta”, adalah ungkapan Beliau yang begitu terngiang di benak Saya. Dan kini Buya telah menemui Sang Maha Cinta. Ibarat alun-alun yang selalu rindang dan sejuk berkat pohon beringin, Buya tidak pernah membiarkan siapapun yang berteduh dibawahnya merasakan panas dan gersang. Namun bagaimana nasib kami ini ketika pohon yang rindang itu kemudian selesai menunaikan tugasnya. Adakah kami bisa menjaga diri kami sendiri dari kegersangan?

Begitulah sejatinya tidak ada yang baik-baik saja ketika ditinggal kekasihnya. Setelah kepergian Buya, Saya terhenyak menyadari bahwa begitu banyak makhluk Tuhan yang mendoakan Beliau. Saya bersaksi atas amal jariyah Beliau, melalui ilmu dan pengabdian Beliau. Kullu nafsin daaiqotul mauts… (Nurul Istiqomah)

Niteni Jalan Rezeki

Pada waktu-waktu belakangan ini perhatian sebagian kita tertuju pada ribut di masyarakat akibat tidak tepatnya sasaran perolehan bantuan sosial. Situasi ekonomi yang merosot yang dialami banyak orang menjadikan masing-masing tertuntut untuk memikirkan nasib dirinya sendiri ketimbang berpikir untuk kepentingan yang lebih luas. Meskipun begitu, orang-orang yang tetap mengedepankan kepentingan bersama juga tidak sedikit. Semua itu tergantung pada beberapa faktor, tingkat rasa bersyukur, ketangguhan menghadapi keadaan dan kemampuan mengelola diri yang diantara kita berbeda satu dengan lainnya.

Hampir semua lapisan masyarakat terdampak secara ekonomi oleh Pandemi ini. Dari tukang bangunan, sopir, pegawai swasta, buruh pabrik. Pandemi juga memberi dampak pada sebagian mereka yang memiliki status menengah ke atas. Tidak sedikit dari mereka yang menanggung beban cicilan yang besar, termasuk tanggungan dari belanja barang mewah. Kondisi seperti hari ini seketika menjadi beban yang berat bagi sebagian mereka.

Dalam keadaan seperti ini, alangkah baiknya apabila kita mau meluangkan waktu untuk niteni lagi jalan-jalan perolehan rezeki kita selama ini. Dari proses itu, barangkali akan lahir secercah harapan untuk menentukan jalan mana yang masih dapat ditempuh untuk menjemput rezeki esok hari. Meskipun pada hakikatnya rezeki adalah sebuah “misteri” dari Tuhan. Rezekinya orang  beriman oleh Al-Quran diungkapkan sebagai minhaitsu la yahtasib. Jalan datangnya tidak diduga-duga, tidak disangka-sangka.

Pada Bulan April 2020 yang lalu, banyak beredar di medsos saya meme dengan kutipan KH. Maemoen Zubair (Mbah Moen), “Titeni yo, angger wulan April kok nyekel duwit, alamat setaun nggowo duwit. Iki ora ono kitabe, tapi keno gawe titenan”. Cobalah amati, apabila di bulan April memegang uang—dalam jumlah yang cukup banyak, maka kamu akan memegang uang dalam setahun. Ini tidak ada kitabnya, tetapi bisa menjadi bahan pengamatan.  

Saya tidak bermaksud menganalisis kebenaran kutipan tersebut. Akan tetapi, dari berseliwerannya kutipan tersebut di medsos saya, membuat saya memperoleh insight. Yakni bahwa ada perlunya kita niteni rezeki kita sendiri. Tentang darimana jalan rezeki itu hingga sampai pada kita. Cukupkah rezeki itu untuk setahun ini. Dan seterusnya. Situasinya tepat untuk niteni, sebab di suasana Pandemi ini, bukan hanya ekonomi individu-individu yang terpapar efeknya. Tetapi ekonomi negara juga ikut terpuruk. Kesemuanya akan terus saling mempengaruhi. Dan kita sama-sama tidak tahu akan sampai kapan keadaan ini berlangsung.

Tuhan menciptakan makhluk di bumi itu sepaket dengan rezekinya. “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi, melainkan dijamin Allah rezekinya” (QS Hud: 6). Setiap orang telah memiliki rezekinya masing-masing dan rezeki tersebut tidak tertukar di dalam kuasa Allah Ta’ala. Kedatangan rezeki itu pasti. Walaupun rezeki datang entah dari jalan mana, atau melalui siapa rezeki itu dititipkan, semua itu adalah “misteri” dari Tuhan.

Sangat mungkin di dalam rezeki kita terdapat titipan rezeki Allah untuk orang lain. Ketika seseorang menggeluti usaha, kemudian melibatkan orang lain untuk ikut bekerja, maka usaha yang seseorang geluti tersebut menjadi jalan dari datangnya rezeki dari Allah untuk para karyawan. Maka melibatkan orang lain ikut bekerja, atau juga termasuk mengerjakan kegiatan pemberdayaan sosial, hal itu tidak sebatas peristiwa horisontal hubungan manusia dengan manusia pula, tetapi terdapat nilai vertikal sebagai mekanisme jalan rezeki dari Tuhan.

Persambungan silaturahmi adalah hal yang sangat baik. Dari silaturahmi kemudian orang-orang satu sama lain akan mengetahui kekurangan dan potensi masing-masing. Mana yang perlu dibantu, saya bisa membantu apa, dan seterusnya. Dari interaksi tersebut kemudian orang-orang satu sama lain dapat saling berbagi pekerjaan. Saling mengisi dan melahirkan manfaat bersama-sama.

Misalnya ketika seseorang menekuni bidang pertanian. Mau tidak mau ia harus bersilaturahmi dengan orang-orang yang bisa mengerjakan lahan. Lalu berinteraksi dengan ahli tanaman, marketing serta konsumen. Lalu orang-orang diajak terlibat bekerja sehingga menimbulkan efek pemberdayaan. Maka, dari usaha yang seseorang geluti itu, mekanisme silaturahmi berlangsung, kegiatan pemberdayaan juga terjadi, efeknya adalah usaha itu menjadi jalan rezeki bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Pelajaran yang bisa dipetik kemudian adalah, ketika usaha yang seseorang jalani mengalami bangkrut seketika, yang dilakukan adalah melakukan evaluasi teknis manajerial. Kemudian sesudah itu, yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi atas nilai silaturahmi dan kegiatan pemberdayaan yang berlangsung. Sudah adilkah kerjasama berjalan? Sudah fair-kah pembagian untuk semua yang terlibat?  

Dari proses niteni semacam ini memungkinkan seseorang yang mengalami keterpurukan usaha bisa meningkat pengalaman bisnisnya sekaligus menjadi meningkat pula kualitas hubungan horizontal dan vertikalnya. (Arif Muhlasin)

Dari Indoktrinasi Menuju Intelektualisasi

Suatu waktu ada seorang kawan berkesah, dia mengatakan bahwa dia merasa takut pada saat di dalam benaknya terbetik pertanyaan yang bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dia dapatkan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Allah terbuat dari apa?”, “Mengapa Dia mau menciptakan manusia?”, atau “Di luar dunia itu ada apa? Apakah singgasana Allah berada di sana?”.

Saya rasa pertanyaan ini bukanlah hal tabu yang harus ditepis dalam pikiran kita, bukankan Imam Ghozali lebih banyak bertanya ketimbang mencari jawaban?. Pada hakekatnya pertanyaan-pertanyaan “aneh” semacam itu  adalah lumrah terbetik pada benak siapapun. Ada ungkapan khanzun makhfiy, Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar aku mengenal Diriku melalui makhluk-Ku.

Proses tersebut dinamakan Tawalli. Bisa jadi pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita merupakan cara Allah ingin mengenal Dirinya. Untuk itu setiap makhluk selalu diarahkan untuk  berfikir, mencari pengetahuan dengan cara menjawab pertanyaan tersebut. Namun apa yang terjadi? Telah berlangsung begitu lama pengetahuan yang diajarkan dengan dikelas-kelaskan ada agama, sains dan ada filsafat yang dibuat terpisah dengan Tuhan.

Mbah Nun selalu mewanti-wanti “Ora kena ora ono Allah”. Ilmu adalah pengetahuan yang di design untuk ngaweruhi hakekat Tuhan. Artinya setiap langkah atau kegiatan apapun harus ada  Allah didalamnya, sehingga definisi dari ilmu itu dapat terlihat jelas sebagaimana tujuannya, yaitu ngaweruhi Allah, mengetahui hakekat Allah.

Menjadi benar apa yang disampaikan Syeikh Kamba, bahwa kita terlalu lama menelan sistem pendidikan dengan cara indotrinasi. Sehingga akal kita menjadi non-aktif, jarang digunakan untuk berpikir. Potensi akal yang seharusnya dioptimalkan secara baik justru dimatikan dengan doktrin-doktrin yang harus kita terima sebagai kebenaran final. Sebagai akibatnya kita takut berfikir tentang Tuhan, takut pikiran melenceng dari doktrin-doktrin otoritas keagamaan.

Dengan alasan itulah sistem pendidikan yang mengedepankan cara-cara intelektualisasi menurut Syeikh Kamba harus dihidupkan kembali. Hal ini sesuai di dalam Al-Quran, yang mana Allah berpesan agar manusia memperluas pengetahuan tentang diri dan alam sekitar (QS. Fushilat:53).

Pengoptimalan potensi diri dan bakat yang ada pada diri manusia terutama potensi intelektual menjadi hal yang sangat diperlukan dalam praktik pendidikan hari ini. Penggunaan potensi indrawi, rasional sampai spiritual inilah yang dimaksud dengan proses intelektualisasi.

Ah, terasa begitu rindu Saya pada Maiyahan bareng Mbah Nun. Beliau selalu menyajikan berbagai pilihan atau jalan untuk berfikir tanpa memaksakan kita untuk menerima sebagai kebenaran. Kita selalu diminta untuk memproses dan menanyakan kebenarannya pada diri kita sendiri. (Nurul Istiqomah)

Idulfitri Biji-Bijian Tasbih

Ada teknologi sederhana bernama tasbih. Biji-bijian yang diuntai dengan tali, umumnya terdiri dari 99 buah bulatan. Pada setiap setelah bulatan yang ke-33, ada sebuah bulatan yang lebih besar. Ini digunakan untuk penanda berganti bacaan wirid. Break section.

Dengan menggunakan tasbih, orang dapat tetap khusyuk ber-dzikir memejamkan mata hingga larut menempuh inner journey tanpa perlu risau perihal jalannya hitungan. Tak hanya dalam ritual wirid, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang pun begitu larut. Larut pada rutinitas keseharian sampai tidak terasa oleh berjalannya waktu. Wah, Cepat sekali yah sudah tahun baru. Loh, kok sudah mau puasa lagi. Tidak terasa yah puasa sudah selesai. Dan seterusnya.

Untunglah kita dikaruniai Allah momentum bernama hari raya. Kita mempunyai Idulfitri, sebuah hari yang menjadi bulatan besar di antara bulatan-bulatan kecil hari-hari dalam tahun kehidupan yang kita lalui. Kalau saja tidak ada hari yang bernilai bulatan besar, jangan-jangan kita terlalu asik dengan rutinitas tak henti kita, larut dalam tuntutan profesi peran hidup kita, larut mengejar target-target yang tak ada ujungnya.

Saking cepatnya terasa waktu berjalan, tanpa ada pengingat untuk sejenak untuk melakukan murojaah, menghitung kembali, mengulang untuk meneliti lagi. Tak ada pengingat untuk berpindah dari satu sesi ke sesi berikutnya dalam proses penumbuhan diri.  

Hari senin itu banyak, selasa juga sama banyaknya, dan seterusnya. Tetapi senin di pekan ini adalah satu-satunya senin di hidup kita yang berbeda dengan senin lalu atau senin depan. Pun begitu dengan Idulfitri, puluhan hari raya sudah kita alami, tetapi Idulfitri tahun ini adalah hari yang berbeda dengan Idulfitri tahun lalu juga tahun yang akan datang.

Khusus tahun ini kita dibuat sadar oleh peristiwa pandemi. Bahwa Idulfitri bukan rutinitas belaka yang tiap tahun harus dikerjakan secara sama.

Selamat hari raya, selamat memasuki sesi baru penumbuhan diri. (Rizky D. Rahmawan)

Barter Otentisitas

“Ojo Kagetan, Ojo Gumunan”, materi semester satu yang nampak sepele padahal penting sekali. Efek buruk orang mudah takjub diantaranya adalah menjadi mudah meremehkan diri sendiri. Minderan jadinya. Orang minderan itu ibarat lomba lari sudah mengambil titik start mundur beberapa meter. Kalah di era serba bersaing seperti hari ini adalah nasibnya.

Efek berikutnya dari orang yang gampang gumunan adalah angan-angan untuk meniru. Meniru apa yang sudah ada alias meng-KW sebagus apapun tetap saja tidak bisa menjadi lebih baik dari yang ia tiru. Oleh sebab itu itulah, petuah untuk tidak mudah terkejut dan tidak mudah takjub itu berhubungan sangat erat dari angen-angen Mbah Nun supaya anak cucunya ndang menjadi orang-orang yang otentik.

Manfaat dari menjadi otentik diantaranya adalah kita tidak ikut pada arus yang sudah jenuh dan keruh. Penyeragaman apa saja, mulai dari seragam sekolah sampai cara dan gaya hidup yang diseragamkan dengan dirijen berbentuk kotak bernama televisi membuat orang di mana-mana nyaris sama. Sama yang ia butuhkan, sama yang ia kejar-kejar, sama yang ia takutkan. Ini mempermudah penyedia kebutuhan hidup untuk menyediakan apa saja secara mass-production.

Murahlah jadinya sebab sekali membuat langsung banyak, untung besarlah mereka. Lantas, bersaing dengan yang sepantaran kita saja berat sekali hari ini, apalagi sekarang harus bersaing dengan mereka yang sudah memiliki sarana-prasarana mass-production. Semakin mustahil-lah untuk memenangkan pertandingan hidup. Dengan menjadi otentik, memperkecil pula tingkat konsumsi terhadap hal-hal yang disajikan secara seragam itu.

Masih berkaitan dengan otentisitas diri berikutnya adalah bahwa sebetulnya hidup itu sederhana, kebutuhan sehari-hari, sedikit piknik, tabungan secukupnya dan asuransi untuk jaga-jaga. Untuk memenuhi semua itu tak perlu rasanya kita mesti memusuhi tiga belas keluarga terkaya di dunia yang konon simbolnya segitiga itu. Kita mah bukan ‘amput-amput’-nya mereka.

Kebutuhan kita sebetulnya tercukupi melalui barter dengan pelayanan diri terhadap kebutuhan orang lain yang sepantaran kita. Mestinya itu cukup. Yang membuat tidak cukup adalah pelayanan yang kita berikan tidak bisa optimal, nilai tambah yang kita berikan terlalu pasaran, solusi yang bisa kita tawarkan terlalu biasa-biasa saja. Andai kita terus menerus mengasah gergaji sisi tajam di dalam diri, mungkin yang kita bisa barterkan kepada orang lain bisa lebih bermutu. Proses saling barter otentisitas satu sama lain pun kemudian terjadi.

Terlepas nanti orang menganggap kita otentik atau tidak, sebutan orang itu nomor dua. Yang utama, kebutuhan orang lain kita penuhi, kebutuhan diri kita dipenuhi oleh orang lain. Melayani dengan motif barter kebutuhan seperti di atas rasa-rasanya juga tidak kalah mulia kok dari kegiatan melayani yang landasannya adalah semangat altruisme.[] Rizky D. Rahmawan

Rezeki dari Orang-Orang yang Berkumpul

Tak jauh dari tempat saya duduk, nampak seorang Ibu mengendarai sepeda motor yang pating kethanthil barang-barang dagangan sedang didorong oleh dua orang banser. Jalan menanjak dengan aspal yang rusak membuat perjalanan menuju Desa Petir, Purwanegara, Banjarnegara tersebut membutuhkan upaya yang memadai.

Dengan tas keranjang diboncengannya Si Ibu membawa tiga buah galon air minum. Di atasnya ditumpuki dengan meja kayu portable dalam posisi dilipat, gelas plastik, payung tenda dan kardus dagangan. Masih belum cukup itu saja, di depan jok masih nampak kandi berisi penuh barang. “Saya dari Purwokerto ini mas. Ternyata jauh sekali tempatnya”, Si Ibu menjelaskan. Berarti Si Ibu sudah menempuh sekitar dua jam perjalanan petang hari itu, dengan kondisi jalan yang tidak sepenuhnya mulus.

Lebih dari seratus lapak jualan deretan mengitari seantero lapangan desa tempat Sinau Bareng dihelat malam hari itu. Paling pojok diantara deretan lapak ada mobil bak terbuka reot yang hanya mengangkut sebuah diesel kecil. Dari diesel itulah lapak-lapak memperoleh aliran listrik sehingga bisa memendarkan lampu penerang. Wujud kemandirian kolektif ini patut untuk kita beri apresiasi.

Meskipun berada di pelosok, tetapi jumlah yang hadir tidak lebih sedikit ketika Sinau Bareng digelar di alun-alun Banjarnegara di tahun yang lalu. Lebih sepuluh ribu orang yang berkerumun menjadi berkah bagi penjaja dagangan yang hadir malam hari itu. Begitulah mekanisme dari gairah menjemput hidayah ilmu Allah menjadi berkah rezeki bagi saudara-saudara kita yang sedang berikhtiar bagi keluarganya. [] Rizky D. Rahmawan