Mukadimah : Tradisi Diskusi

Kita mungkin masih bisa melacak sejak kapan masyarakat kita menganut tradisi menonton diskusi. Yakni sejak tontonan-tontonan diskusi berupa talkshow dan sejenisnya menjamur di channel televisi. Namun yang pasti, kita akan kesulitan melacak sejak kapan masyarakat kita menjadikan diskusi sebagai tradisi hidup sehari-hari. Di desa atau di kota, di dalam ruangan atau di luar ruangan, dengan atau tanpa meja, diprogramkan atau spontanitas, diskusi-diskusi sudah demikian melekat dalam tradisi keseharian masyarakat kita sejak entah dimulai di jaman kapan.

Tradisi njugur, nyangkruk atau kongkow kemudian dihadapkan pada keniscayaan modernitas yakni mewabahnya individualisme. Hingga pada akhirnya orang kemudian jengah dengan gempuran gaya hidup individualistis.  Akan tetapi, orang-orang kadung tidak lagi memiliki kompetensi diskusi yang  baik. Skill berdiskusi tidak lagi malakah mendarah daging sebagaimana matangnya kecerdasan interpersonal mbah-mbah kita jaman dulu . Kecerdasan alamiah yang menjadi modal dasar membangun hidup yang kaya raya : sugih sedulur.

Bisa jadi hilangnya skill kompetensi dan menurunnya kecerdasan jenis tersebut yang membuat tradisi menonton diskusi menjadi hal yang begitu dinikmati oleh kebanyakan diantara kita. Juga fenomena ketimbang berdiskusi dengan kawan di kiri-kanan saat perjalanan, orang kini lebih happy memasang handsfree memilih berdiskusi dengan entah siapa di balik layar berukuran tidak lebih dari 6 inchi.

Entah apapun bentuk pilihan diskusinya, kita mendapati ada diskusi yang menyenangkan, ada pula diskusi yang menjenuhkan. Ada diskusi yang menyelesaikan masalah, juga ada diskusi yang justru menambah jumlah masalah. Yang disalahkan mungkin bukan diskusinya, melainkan manusia yang berdiskusi. [] RedJS

Memohon Untuk Berdiskusi

Dimulai sejak Demak, Islam telah menginspirasi Bangsa Nusantara dalam membangun tatanan hidup. Kemudian Pajang, dilanjutkan Mataram, lalu NKRI tahun 1945 hingga hari ini. Benih nilai langit bernama Islam bertemu dengan tanah subur ‘jiwa’ Bangsa Nusantara telah melahirkan peradaban bernama Demak, Pajang, Mataram Islam dan NKRI. Transisi dan transformasi peradaban dari Demak hingga NKRI tentu sebuah dinamika yang tidak lepas dari berbagai keterpengaruhan.

Seandainya tokoh utama masing-masing fase sejarah itu bisa di undang kembali untuk berdiskusi. Raden Patah dan Wali Sanga mewakili Demak, Hadiwijaya/ Jaka Tingkir mewakili Pajang, Sutawijaya/ Panembahan Senopati, Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Juru Mertani mewakili Mataram, Bung Karno, Bung Hatta, KH Hasyim Asy’ari mewakili NKRI. Beliau-beliau kita mohon untuk berdiskusi, sementara seluruh tokoh yang hari ini berperan, dari pemimpin formal maupun informal jangan ikut berdiskusi karena terbukti hanya sibuk untuk bertengkar dan gaduh. Transformasi dari Demak hingga NKRI mungkin bisa kita tahu letak kekurangan dan kelebihannya melalui beliau-beliau.

Sesekali mungkin kita butuh melancong ke alam imajinasi sejarah semacam ini agar siapapun kita hari ini tidak terlalu ‘GR’ merasa paling hebat dan berhak atas Republik ini. Apalagi ada orang, kelompok, golongan dan penganut paham yang sama-sekali tidak memiliki ‘tali’ nilai dengan proses panjang sejarah perjalanan Bangsa Nusantara tetapi sedang paling ‘petatang-peteteng’ di atas panggung.

Ini tanah kami, ini rumah kami, ini wilayah yang dititipkan Tuhan kepada kami Bangsa Nusantara. Siapakah kamu, tiba-tiba datang tanpa etika masuk ke kamar kami, menyantap dengan rakus hidangan di meja makan tanpa sisa sambil membawa ribuan orang dari kampungmu untuk ikut mengambil barang-barang warisan nenek moyang kami.[] Agus Sukoco