Ben Ora Kesasar Bae

Perjalanan manusia dari gua garba sampai ke liang lahat adalah suatu perjalanan yang penuh ketidakpastian. Dari rentetan pristiwa ketidapastian itu hanya satu yang pasti, yaitu kematian.

Sebagai ikhtiar agar selamat dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian, manusia membekali dirinya dengan instrumen ilmu (science) dan ageman (din). Meski Allah sendiri memberi pilihan: faman syaa-a falyu’min waman syaa-a falyakfur. Yang beriman, berimanlah. Yang kafir, kafirlah.

Ilmu dipakai untuk memprediksi dan merancang sebab-akibat dalam pristiwa hukum alam (sunatullah). Ageman atau agama dipakai sebagai jimat selama perjalanan manusia menempuh sirath al mustaqim. Ilmu dan agama adalah sesuatu yang kohern.

Innaddina Indallahil Islam, sungguhnya agama di sisi Allah itu hanyalah Islam. Islam dari Allah, lalu di-breakdown menjadi formula Maiyah. Di tengah peradaban manusia yang salah ilmu dan salah ageman sekarang ini maka Maiyah menjadi sangat penting agar hidup manusia bisa berarti, ora mubah uripe lan ora kesasar bae. Sekali berarti sesudah itu mati.

Mukadimah: TADARUS PENGALAMAN

Pikiran kita lebih banyak dibentuk oleh pengalaman yang sudah kita lalui ketimbang oleh pengetahuan yang kita kumpulkan. Di dalam pengalaman seseorang terdapat bekas-bekas emosi positif dan negatif, karenanya seseorang dapat melakukan nostalgia. Di dalam pengalaman seseorang juga terdapat simpulan-simpulan benar dan salah atas banyak keputusan dan tindakan. Di dalam pengalaman seseorang juga terdapat bukit dan lembah, titik tertinggi dan titik terendah, representasi dari kurva penumbuhan diri yang sedang dikerjakan.

Seringkali seseorang melangkah ke depan tetapi tanpa sadar ia hanya berputar-putar di pusaran masalah yang sama dengan berulang dan terus berulang. Sebab pengalaman hanya diintip melalui spion, alih-alih menderasnya, membacanya berulang-ulang. Supaya dapat menemukan pembelajaran berupa pola-pola dari baik dan buruknya emosi, titik tertinggi dan titik terendahnya pencapaian yang pernah diraih lengkap dengan hukum sebab-akibat yang melekat di dalamnya, perolehan momentum keberuntungan dan kesialan serta ilham dan fadhilah yang Allah anugerahkan pada garis waktu yang sudah kita lalui.

Sehingga kita bisa menjadikan hari ini sebagai sebab yang lebih baik bagi pencapaian esok hari. Karena hari ini sejatinya kita sedang menuliskan pengalaman baru yang akan dibaca dengan berulang di masa depan, yang akan lebih membentuk diri kita di masa depan ketimbang pengetahuan.

Pengalaman adalah ayat-ayat dari Allah yang diturunkan kepada manusia secara unik dan sangat personal. Yang terjemahannya berupa pola-pola keputusan dan tindakan di masa lalu, tentu saja ada yang berkualitas ada yang tidak, ada yang berhasil ada yang gagal, ada yang berangkat dari kesungguh-sungguhan ada yang alakadarnya. Memang hendaknya diri kita jangan sampai memiliki nasib seperti nasibnya sebuah bangsa yang ditimpa oleh masalah yang sama dan terus berulang, yakni sebuah bangsa yang tidak pandai belajar dari pengalamannya sendiri.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi bulan Januari 2021 secara LIVE! melalui youtube: Juguran Syafaat.

Punyailah Mentor

Di dalam keluarga ada mentor. Siapakah yang seharusnya menjadi mentor? Hendaknya ialah kepala rumah tangga yang menjadi mentor. Ia yang menetapkan arah dan tujuan. Berperan menjadi navigator. Menyalakan cahaya agar jalan ke depan tidak gelap.

Begitu pula di dalam bisnis, sebaiknya tiap-tiap kita mempunyai mentor. Carilah mentor. Pilihlah ia yang fokus, totalitas dan juga ikhlas. Sekali lagi, mentor yang fokus, totalitas dan juga ikhlas. Mau membina tiap-tiap kita dengan tanpa pamrih.

Apabila seorang mentor tidak mengerjakan sesuatu dengan fokus, biasanya berakibat tim yang sedang ia bina menjadi ikut-ikutan tidak fokus pula.

Terbayang bagaimana apabila kita yang masih pemula tetapi tidak bisa fokus di dalam bekerja? Berjualan segala macam alias palugada seringkali menjadi pilihan. Ya, palugada, alias “Apa lu mau, gue ada!”.

Memang sih semuanya ada. Tetapi hanya satu yang tidak ada. Apa itu? Yang tidak ada adalah: PROFIT.

Sudah belasan tahun saya berbisnis dan mengajari orang-orang berbisnis, tetapi saya belum pernah melihat seorang pemula yang mengerjakan sesuatu dengan tidak fokus kemudian bisa sukses besar.

Pemula, apabila ia gagal fokus, yang sering saya lihat, so-so hasilnya. Memang sih mendapatkan hasil, tetapi alakadarnya. Mentornya mungkin aman-aman saja, tetapi kasihan para pemula yang dimentori olehnya.

Sekali lagi saya ulangi, temukan dan tentukan mentor yang all out juga ikhlas sepenuh hati mau membina kita. Kalau mentor hanya memikirkan dirinya sendiri, bisa-bisa tim yang ia bina hanya akan menjadi sapi perah saja.

Semoga teman-teman menemukan mentor yang tepat.

Gado-Gado Juguran Syafaat

Gado-gado dikenal sebagai makanan khas Betawi. Makanan yang termasuk jenis salad ini memiliki pembeda pada saus dressing-nya, yakni menggunakan asian peanut, bumbu kacang. Tidak seperti kebanyakan salad yang banyak melibatkan mayones di dalamnya.

Gado-gado terdiri dari sayuran hijau seperti selada, kubis, bunga kol, kacang panjang dan taoge. Sering juga ditambahkan dengan sayuran lain yakni pare dan mentimun. Di dalam gado-gado juga terdapat kentang rebus, telur rebus, tempe dan tahu serta kadang-kadang terdapat pula jagung pipil. Kapan Anda terakhir makan gado-gado?

Dengan analogi gado-gado di atas saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk mengenali Juguran Syafaat bukan hanya sebatas ke-khas-anannya sebagai forum diskusi yang ruhani minded. Namun, bahwa di dalam Juguran Syafaat tersusun oleh social cyrcle yang begitu kompositif.

Dengan analogi gado-gado pula, saya ingin mengajak pembaca sekalian mengganti obyek bahasan tentang keberagaman yang selama ini disetir hanya untuk membahas Islam dan minoritas, Pribumi dan Chinese, dll. Padahal, keberagaman profesi, kepakaran, konsentrasi keilmuan dari masing-masing nama di kontak ponsel kita, hal itu lebih menarik untuk dikulik, digali dan kemudian disambung-sambungkan.

***

Forum dapur penggiat Juguran Syafaat di penghujung tahun sengaja mengambil tempat berbeda, supaya bisa refresh sekaligus nyicil-nyicil merefleksi perjalanan setahun 2020 ini. Di Desa Wisata Karang Salam, Baturraden (23/12/2020) sejumlah penggiat berkumpul. Tepatnya di Kedai milik Pak Asong, salah seorang pegiat Desa Wisata di sana.

Forum dibuka dengan Hilmy ngudarasa kepada Pak Asong. Memang sebagai pamong desa ia berkeinginan keras bagaimana agar di desanya ada sesuatu yang dapat to attract perhatian publik. Pak Asong pun dengan antusias ber-sharing tentang serba-serbi Desa Wisata. Yang dapat  berkelanjutan adalah yang melibatkan komponen organik lokal, dan yang sudah bisa ditengarai pendek umur adalah yang hanya latah belaka.

Menurut Pak Asong, potensi agro di suatu desa adalah sesuatu yang masih bagus dibangun sebagai sebuah attraction. Tidak latah membangun agrowisata. Hilmy dengan tim-nya di Desa saat ini sedang menyiapkan infrastruktur IT Data Desa. Ini sesuai dengan challenge dari Pak Toto Raharjo ketika singgah di sana dahulu: membangun Datakrasi Desa. Nantinya sektor agro menjadi bagian yang signifikan akan terdongkrak pula.

Hadir juga di forum yang berlangsung sore hingga malam hari itu yakni Hirdan. Penggiat Juguran Syafaat yang ikut mewarnai suasana dengan petikan gitarnya. Ia sehari-hari adalah pelaku usaha di bidang agro. Efek dari pandemi membuat ia all out men-cemplung-kan diri pada perdagangan komoditas telur ayam. Dari yang awalnya hanya belasan peti telur ia jual, kini sudah nampak growth penjualannya hingga ratusan peti tiap bulan. Selain sudah mengerjakan retensi penjualan, yang mahal ia dapatkan adalah jejearing yang makin luas di komunalitas rantai nilai perdagangan telur ayam, toko grosiran, agen, peternak pemilik kendang, asosiasi wilayah, dll. yang harus terus menerus dijaga keberlangsungannya secara jangka panjang.

Kemudian Febri dan Anjar, keduanya sama-sama pelaku di bisnis retail. Meskipun petang hari itu tidak banyak berkisah tentang Penggiat Updates atas kahanan keseharian terkini mereka. Tetapi kesah Febri cukup terrefleksikan dari perjalanan hidup seorang Sosrokartono yang ia ceritakan panjang dan lebar kala itu. Bagaimana Beliau menjalani hidup dengan prestasi dan kegundahan yang silih berganti, pencarian peran diri di dalam hidup yang tak pernah berhenti.  Betapa gundahnya menelaah apa yang sebenarnya sedang terjadi di bisnis retail akibat sistem dagang yang begitu kapitalistik yang hari ini berlangsung.

***

Orang-orang dengan gulawentah yang begitu beragam sehari-hari masih sempat menyisakan waktu untuk berpikir mendekonstruksi dan mendiskusikan berbagai elaborasi itu kan sebetulnya sesuatu yang kontras. Namun seringkali kontras itu tidak terlihat jelas, sebab pada sebuah kumpulan yang dilihat hanya backdrop dan taglinenya saja, tidak melihat kentang rebus dan mentimun sepertihalnya pada gado-gado. Padahal masing-masing dari sayuran itu sebetulnya bisa kok disambungkan dengan bahan masakan lain sehingga tercipta makanan yang berbeda.

Kita bergeser 20 KM ke arah selatan, tepatnya di Desa Pangebatan. Seperti pada kabar sebelumnya, Pak Titut baru saja mendirikan gubug belajar bagi anak-anak, “Gubug Sawah Cowong Sewu”. Seorang ahli kebun yang mencoba hidup dengan “nyeni” ini memang membuat gado-gado Juguran Syafaat makin buket dan lezat rasanya. Kalau ditelusuri lebih jauh, “anak-anak asuh” Pak Titut ini banyak dan beragam, saudaranya ada di lintas kalangan, lintas komunitas. Gubug yang menurut saya tidak ada mewah-mewahnya itu saja yang meresmikan tidak tanggung-tanggung, Wakil Bupati.

Yang baru saja merilis karya ada M. Faisal, sebuah album musik bertajuk “Hymne Kehancuran”. Meskipun alirannya ‘bawah tanah’ tetapi tetap ada Allah dan Kanjeng Nabi disematkan di cover albumnya. Kemudian yang sedang merilis karya berikutnya yakni Mas Agus Sukoco, saat ini sedang pre-launcing novel “Lahir Kembali”. Melalui Novel ini, Mas Agus ingin nilai-nilai Maiyah mengalir lebih luas, utamanya untuk aplikasi self-empowerment bagi generasi muda.

Ketika saya sedang menyelesaikan tulisan ini, saya juga sedang ber-whatsapp dengan Pak Yusro. Seorang politisi senior Purbalingga yang selalu ngemong kita semua, yang memilih mandito menjadi Kepala Madrasah Aliyah (MA) El Qosimi di Purbalingga. MA ini adalah bagian dari Ponpes An-Nahl Asuhan Abah Fitron Ali Sofyan, salah satu pusaran lingkaran Jamaah Maiyah sedari sebelum forum Juguran Syafaat lahir.

Pusaran lainnya di dalam cyrcle Jamaah Maiyah Banyumas-Purbalingga adalah Majelis Kemis Pahing yang diinisiasi oleh Abah Jumad. Jadi selain kita mempunyai forum bulanan, juga ada forum selapanan setiap Rabu Legi malam Kemis Pahing. Kabar dariAbah Jumad, Ia sedang menanam 1.300 tanaman jahe merah. Dalam cyrcle bisnis jahe merah ini, ada juga Kang Amin yang dari hikmah pandemi ia merilis produk minuman serbuk jahe merah siap seduh.

Sohib kentalnya Abah Jumad yakni Kang Wanto. Kerap tampil di Juguran Syafaat dengan alunan sulingnya. Ia sedang menekuni budidaya Burung Murai. Lalu ada Kang Barno yang khas dengan blangkon dan kain luriknya. Ia bukan budayawan meskipun penampilannya seperti itu, tetapi ia adalah seorang penggerak koperasi yang saat ini sedang mengembangkan produk air minum alkali. Saat ini ia amat getol menggiatkan jejaring resellernya, nampak amat berbakat di dalam membekali reseller dengan trik dan tips marketing.

***

Karena tulisan ini nampaknya sudah terlalu panjang, kita kembali ke Kedai Pak Asong di Desa Wisata Karang Salam lagi saja. Tidak terasa sudah berjam-jam duduk-duduk di sana. Saya tidak jog kopi, tetapi menambah memesan air putih panas dan pisang goreng saja. Menemani refresh dan relaks sambil menikmati gemerlap kota Purwokerto dari ketinggian yang terlihat penuh lampu-lampu. “Wah, kalau Purbalingga dilihat dari atas ya paling yang terlihat cuma lampu Toko ABC, Toko Harum dan alun-alun. Haha”, Febri berkelakar memamerkan kerendah-dirinya.

“Ini harusnya kita sudah nyicil bikin audio-podcast ini”, ujar Hilmy. Melihat begitu banyaknya unsur penyusun gado-gado yang membuat tulisan ini terasa kepanjangan, saya sih setuju saja itu, nantinya bisa dicicil edisi per edisi, dijadikan program baru Juguran Syafaat di 2021.

MENTAKJUBI 2020

Selain metode Pendidikan guru-siswa dan mursyid-murid, ada tawaran model alternatif pendidikan yakni metode tawashau. Ini adalah metode peer learning dengan dua medium pembelajaran, yakni tawashau bil haq dan bis shobri. Metode peer learning memungkinkan proses belajar lebih berlangsung secara kultural, tanpa hirarki siapa mengajari dan siapa diajari. Proses peer learning adalah masing-masing khusyuk dengan KURIKULUM DIRI SENDIRI dan menjadikan social cyrcle tempat ia berada menjadi instrumen, inspirasi, referensi dan imajinasi dari penumbuhan diri yang dikerjakan.

Dengan semangat tawashau itulah tahun berangka kembar dimulai, 2020. Frasa penumbuhan diri menjadi sesuatu yang menjemukan di forum dapur Juguran Syafaat sebab sudah berestafet pergantian tahun demi tahun frasa tersebut selalu saja muncul dan muncul lagi menjadi bahan elaborasi. Penumbuhan diri adalah misi yang harus dikerjakan. Dengan menumbuhkan diri berarti seseorang mengerjakan SEDEKAH PRIORITAS ditengah-tengah kesibukan berbagai kegiatan sedekah regular mengisi kotak amal, berkontribusi pada komunitas, terlibat di aneka gerakan moral dan bhineka aksi sosial. Sebab dengan seseorang menumbuhkan diri, maka ia akan dapat menolong orang lain lebih optimal.

Muncul keharusan menjadi diri yang terus tumbuh asalnya dari dua dorongan, dorongan naluri di dalam diri, sekaligus dorongan dari luar diri berupa kewajiban sosial bahwa setiap kita yang telanjur terlibat pada sebuah komunalitas mau tidak mau berarti masing-masing memiliki peran menjadi PEMBAWA CUACA. Kalau saya gagal tumbuh, saya tidak mau merusak cuaca sekeliling tempat saya berada.

Dan tahun kembarpun hadir sepaket dengan peristiwa besar bernama pandemi. Siapa yang menyangka dan membayangkan sebelumnya hal ini terjadi. Menjadi adaptif dan lebih resilien menjadi tantangan. Atas sesuatu yang masih gelap akan menjadi apa terjadi dan sampai seberapa lama, orang-orang ditantang kesungguh-sungguhannya untuk memproyeksi masa depan, bahkan lebih dari sekedar memproyeksi, kalau bisa sampai MENGALAMI MASA DEPAN.

Menuju masa depan menggunakan kendaraan berupa angka dan grafik dijumpailah bahwa AGRARIS POPULIS yang terabaikan justru menjadi sektor yang paling selamat dari hempasan ekses sosial ekonomi dari ayat kauniah Tuhan bernama Covid-19. Kembali pada naluri agraris yang bersahaja, meninggalkan peradaban riuh penuh pesta, over-seremoni dan jenuh kerumunan. Juga kembali semua pihak sama-sama menyelamatkan nasib populasi dengan bantuan dan stimulus, sebab separuh lebih ekonomi bangsa ditopang oleh sektor konsumsi domestik.

Yang penting tidak sampai terpuruk, yang penting tidak sampai putus asa, sebisa-bisa membuat LONCATAN TERUKUR. Tidak keren bagi orang lain, tetapi kan yang tahu diri sendiri bagaimana tetap sehat jasmani dan rohani di tengah perubahan besar sosiokultural pandemi yang ternyata berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan kebanyakan orang pada awalnya.

Secara lahiriah orang dipaksa menjaga jarak. Tetapi secara hakikat orang-orang digiring untuk mengerjakan SINDIKASI KEBAIKAN. Berbuat baik dengan masing-masing khusyuk pada fungsi-fungsi individu sebagai bagian elementer dari sebuah komunalitas, bukan sekedar seremoni kebaikan, ini loh saya sudah berbuat baik, ini loh saya sudah menyumbang, ini loh saya sudah ikut grubyag-grubyug.

Bersyukur kita berada di MULTIVERSITAS Maiyah yang sedari awal mendapat sederet panduan bukan hanya protocol kesehatan melainkan protokol taqwa. Bagaimana adab dan sikap batin berlaku kepada virus, tatapan pandang yang sepresisi mungkin terhadap manajemen kepemimpinan di kala pandemi, mitos keseimbangan ekonomi-kesehatan, hingga pembatasan forum yang sedari awal diteladankan oleh Marja’ Maiyah hingga kemudian pemerintah bereaksi ketat terhadap kerumunan di waktu yang sebetulnya sudah begitu terlambat.

Pada akhirnya kita menyadari bahwa skenario ini bersifat global. Ayat yang begitu besar dari Dia Yang Maha Besar. Arus kejut yang menyadarkan bahwa kita adalah bagian dari masyarakat global yang semestinya selalu BERTINDAK GLOBAL. Malu rasanya kalau masih berperilaku ikut-ikutan, berbuat kecil-kecilan, terlelap di dalam narasi-narasi produk konspirasi apalagi terus-terusan over-worried terhadap keadaan.

Dari postulat hidup yang begitu rumit yang diajarkan mainstream modern, mumpung arus besar hari ini mengarah pada simplicity dan kebersahajaan, maka ada baiknya kita kembali menggenggam FILSAFAT ORANG BIASA. Yakni cara pandang terhadap kehidupan dari orang-orang yang memilih hidup sakmadya. Jernih membedakan batas pemisah antara sungguh-sungguh dan ngoyo, juga antaravisioner dan ngoyoworo, tidak lagi mengambil nrima ing pandum untuk tameng hidup nglentruk, berhenti memilah quote-quote yang hanya membuat nyaman pembenaran diri dan menakar dosis POPULER EFEKTIF.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita hati yang ridho, atas sesederhana apapun pencapaian yang mampu diraih di 2020 ini. Dari hal istiqomah sesederhana apapun yang sudah kita kerjakan, semoga menjadi penegas ALAMAT KEBERMANFAATAN letak titik koordinat bagi silaturahmi rezeki.

Menjadi Kelas Menengah Lokal yang Solutif

Pada Sabtu pagi, 19 Desember 2020 Saya ikut mendampingi Mas Agus Sukoco menghadiri sebuah sarasehan yang diikuti sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Purbalingga. Acara yang kami hadiri ini diinisiasi oleh Organisasi Masyarakat Lowo Ireng (LI). Acara ini menjadi bagian dari tahap ‘pendinginan’ paska sudah berlangsung lancarnya Pilkada.

Berlangsung di Warung DPR di daerah Karangsentul Purbalingga, ikut terlibat hadir di acara ini sejumlah Ormas, diantaranya Laskar Sangga Langit, Pemuda Pancasila, BPPI, Granat, GMBI, Banser Dan Kokam. Acara ini mengambil tagline “Merawat Kebersamaan Dengan Persaudaraan Pasca Pilkada Tahun 2020”.

Bertindak sebagai moderator adalah Mas Andi Pranowo. Kemudian narasumber selain Mas Agus Sukoco hadir pula Pak Dr. Indaru Setyo Nurprojo, akademisi dari Unsoed. Mas Yulianto selaku pimpinan Lowo Ireng Purbalingga sekaligus yang mbahurekso acara pagi itu mengawali dengan sambutan dan ucapan terima kasih kepada segenap kawan-kawan lintas elemen.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan sebuah teks deklarasi. Deklarasi tersebut bunyinya adalah, “Kami Ormas dan LSM di Kabupaten Purbalingga siap berperan aktif dalam menjaga Kondusivitas pasca Pilkada dan saling menjaga kebersamaan serta kerukunan antar Ormas  dan LSM di Kabupaten Purbalingga. Purbalingga Perwira NKRI Harga Mati.”

Seperti diketahui bersama, Pilkada di Purbalingga sudah berlangsung lancar dengan aman dan damai. Namun demikian, sudah menjadi tugas bersama-sama setiap elemen masyarakat apalagi kalangan pemuda penggerak untuk mengantisipasi setiap kemungkinan buruk. Deklarasi ini adalah bagian dari kegiatan antisipasi itu.

Kita tahu bagaimana lalu lintas isu hari ini dipenuhi dengan hempasan narasi-narasi yang seringkali berbenturan antara satu narasi dengan narasi lainnya. Sedangkan setiap anggota masyarakat sudah sedang sibuk dengan periuk nasinya sendiri-sendiri, mana sempat untuk merunut dari mana asal-usul sebuah narasi dan kemana anak panah narasi hendak dihempaskan.

Moderator mengalasi diskusi di awal sesi. “Di dalam kata kebersamaan tentu ada lawan katanya, perbedaan. Maka kemudian dari dua unsur ini kita bisa melihat pasti semua yang tercipta di dunia ini pasti ada lawan katanya. Maka kemudian sebagai insan yang kita berharap bisa jauh lebih dewasa untuk bisa menghargai perbedaan itu”, ujarnya.

Kemudian Pak Dr. Indaru menyampaikan, “Saya sebagai warga, saya titip kepada teman-teman yang punya basis jaringan, punya organisasi secara terstruktur, bisa membantu saudara-saudara kita di Purbalingga untuk kemudian bisa terwakili kepentingannya. Saya berharap kemudian teman-teman tidak kemudian terjebak pada proses Pilkada semata dan Kembali pada posisi dan visi-misi organisasi, kembali ke Langkah-langkah apa yang seharusnya oleh organisasi dan tentu kepentingan bersama yang harus dicapai bersama”.

Tiba giliran narasumber berikutnya yakni Mas Agus Sukoco. “Kita di modali nilai-nilai lokal untuk mendasari dan memotivasi semangat bersaudara. Nilai lokal yang saya maksud adalah ada prinsip-prinsip kebudayaan Jawa dan Nusantara yang sesugguhnya sudah sejak lama mengawal dan merawat kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa.”, Mas Agus menyampaikan.

“Saya ambil contoh, ada prinsip dalam jawa, “mangan ora mangan asal kumpul”. Pepatah ini selama ini di curigai sebagai sesuatu yang pesimis dan sumber kemunduran. Karena “mangan ora mangan asal kumpul” dimaknai sebagai grabyag-grubyug tidak produktif, akan tetapi jika di kaji lebih dalam itu wanti-wanti dari leluhur bahwa yang primer adalah kumpul. Jadi kumpul atau bersama itu diletakan sebagai sesuatu yang lebih penting dari mangan, atau sesuatu yang sifatnya material, kepentingan pragmatis”, lanjutnya.

“Ormas, LSM itu kalo kita posisikan, ia bagian dari kelas menengah di dalam struktur sosial dan budaya kita. Jadi ada keniscayaan alamiah di dalam bangunan sosial. ada kelas mapan atau elit, kelas bawah dan kelas menengah. Motor penggerak dan pengawal dinamika peradaban itu selalu kelas menengah”, paparnya lagi. Acara berlangsung dengan gayeng dan meriah. Mudah-mudahan inisiatif kecil semacam ini bisa menjadi bagian dari langkah solutif di tingkat lokal. Mengingat jika kita memandang skala nasional sepertinya persoalan sudah teramat ruwet. Kita nyicil-nyicil solusi-solusi sederhana saja di sini.