Mukadimah: SINDIKASI KEBAIKAN

Indonesia kini dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah atas, dari sebelumnya negara berpenghasilan menengah bawah. Pencapaian itu bukanlah hal yang sulit, sebab dalam proses terwujudnya peningkatan itu, kita rakyat bawah cenderung tidak ngapa-ngapain. Yang kita lakukan hanya berupaya hidup tetap seimbang, tidak jatuh mental oleh keadaan, belanja hanya yang perlu dan selalu standby dari panggilan untuk berbagi.

Krisis ini kita hadapi tidak dengan cengeng, melainkan gembira terus, berusaha berdaya terus dan sebisa-bisanya mencari kiat, tips, trik, jalan celah ataupun jalan keajaiban apapun saja supaya life must go on. Diantara tips yang banyak dislogankan saat ini adalah, “Membeli dari teman sendiri!”. Memang teman, kerabat dan tetangga adalah wahana kompromi sumber daya, segala sesuatu menjadi tidak harus ditempuh dengan transaksi yang net.

Sebetulnya yang bisa dibeli dari teman bukan hanya produk yang ia jajakan. Kita juga bisa membeli pengetahuan dan keahlian mereka, mengakses networking yang mereka miliki juga mengharapkan apresiasi dan dorongan motivasional dari mereka. Tanpa memiliki teman, untuk mendapatkan kesemuanya itu akan menjadi begitu mahal, harus membeli database dan toolkit strategi atau membayar untuk mengikuti sebuah seminar sukses.

Kegiatan kolaborasi yang bukan sekedar foto aksi adalah bagaimana sekelompok orang meneliti apa-apa yang bisa ‘dibeli’ dari temannya satu sama lain. Kemudian mengandalkan itu dan memandang apa-apa saja yang datangnya dari luar sebagai faktor tambahan saja. Membangun atmosfir positif yang di dalamnya terdapat kegiatan saling membagi dan menyerap sumber daya adalah cara hemat untuk membuat sebuah pencapaian yang meningkat.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Live! Juli 2020 di Youtube Channel: Juguran Syafaat.

Selamat Mengarungi Sakinah untuk Ikhda dan Luqman

Dua sejoli Penggiat Juguran Syafaat hari ini sah menyatukan hati dalam ikatan suci. Prosesi perkawinan yang dilaksanakan di masa transisi ini berlangsung lancar dan khidmat di Kuwarasan, Kebumen pagi tadi (1/7).

Ikhda kerap menghidupkan suasana juguran dengan lantunan suaranya yang merdu. Luqman kerap nderes Quran dengan tartil dan amat rajin menyimak dan mencatat di kala Maiyahan.

Dengan perbekalan mawadah dan rahmah, selamat mengarungi Sakinah.

Semoga Allah menempatkan Syeikh Kamba di Tempat Termulia

Setelah hari ini Allah menempatkan Syeikh Kamba yang kita cintai dan yang kita takdzimi di tempat yang berbeda dengan tempat di mana kita berada.

Semoga Allah SWT menguatkan kita semua jamaah Maiyah yang ditinggalkan, tetap dapat meneruskan gagasan dan misi mulia Beliau. Tidak kalah oleh keadaan, tidak patah oleh tantangan serta meyakini Beliau selalu membersamai setiap langkah kita, meski kita tak lagi bisa bersapa dengan Beliau sebagaimana sebelum hari ini karena sudah terpisah oleh Barzakh.

Ya Allah, ampunillah Beliau, berikanlah rahmat dan kelimpahan dari-Mu, maafkanlah Beliau.

Foto: Juguran Syafaat Edisi Januari 2016

Niteni Jalan Rezeki

Pada waktu-waktu belakangan ini perhatian sebagian kita tertuju pada ribut di masyarakat akibat tidak tepatnya sasaran perolehan bantuan sosial. Situasi ekonomi yang merosot yang dialami banyak orang menjadikan masing-masing tertuntut untuk memikirkan nasib dirinya sendiri ketimbang berpikir untuk kepentingan yang lebih luas. Meskipun begitu, orang-orang yang tetap mengedepankan kepentingan bersama juga tidak sedikit. Semua itu tergantung pada beberapa faktor, tingkat rasa bersyukur, ketangguhan menghadapi keadaan dan kemampuan mengelola diri yang diantara kita berbeda satu dengan lainnya.

Hampir semua lapisan masyarakat terdampak secara ekonomi oleh Pandemi ini. Dari tukang bangunan, sopir, pegawai swasta, buruh pabrik. Pandemi juga memberi dampak pada sebagian mereka yang memiliki status menengah ke atas. Tidak sedikit dari mereka yang menanggung beban cicilan yang besar, termasuk tanggungan dari belanja barang mewah. Kondisi seperti hari ini seketika menjadi beban yang berat bagi sebagian mereka.

Dalam keadaan seperti ini, alangkah baiknya apabila kita mau meluangkan waktu untuk niteni lagi jalan-jalan perolehan rezeki kita selama ini. Dari proses itu, barangkali akan lahir secercah harapan untuk menentukan jalan mana yang masih dapat ditempuh untuk menjemput rezeki esok hari. Meskipun pada hakikatnya rezeki adalah sebuah “misteri” dari Tuhan. Rezekinya orang  beriman oleh Al-Quran diungkapkan sebagai minhaitsu la yahtasib. Jalan datangnya tidak diduga-duga, tidak disangka-sangka.

Pada Bulan April 2020 yang lalu, banyak beredar di medsos saya meme dengan kutipan KH. Maemoen Zubair (Mbah Moen), “Titeni yo, angger wulan April kok nyekel duwit, alamat setaun nggowo duwit. Iki ora ono kitabe, tapi keno gawe titenan”. Cobalah amati, apabila di bulan April memegang uang—dalam jumlah yang cukup banyak, maka kamu akan memegang uang dalam setahun. Ini tidak ada kitabnya, tetapi bisa menjadi bahan pengamatan.  

Saya tidak bermaksud menganalisis kebenaran kutipan tersebut. Akan tetapi, dari berseliwerannya kutipan tersebut di medsos saya, membuat saya memperoleh insight. Yakni bahwa ada perlunya kita niteni rezeki kita sendiri. Tentang darimana jalan rezeki itu hingga sampai pada kita. Cukupkah rezeki itu untuk setahun ini. Dan seterusnya. Situasinya tepat untuk niteni, sebab di suasana Pandemi ini, bukan hanya ekonomi individu-individu yang terpapar efeknya. Tetapi ekonomi negara juga ikut terpuruk. Kesemuanya akan terus saling mempengaruhi. Dan kita sama-sama tidak tahu akan sampai kapan keadaan ini berlangsung.

Tuhan menciptakan makhluk di bumi itu sepaket dengan rezekinya. “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi, melainkan dijamin Allah rezekinya” (QS Hud: 6). Setiap orang telah memiliki rezekinya masing-masing dan rezeki tersebut tidak tertukar di dalam kuasa Allah Ta’ala. Kedatangan rezeki itu pasti. Walaupun rezeki datang entah dari jalan mana, atau melalui siapa rezeki itu dititipkan, semua itu adalah “misteri” dari Tuhan.

Sangat mungkin di dalam rezeki kita terdapat titipan rezeki Allah untuk orang lain. Ketika seseorang menggeluti usaha, kemudian melibatkan orang lain untuk ikut bekerja, maka usaha yang seseorang geluti tersebut menjadi jalan dari datangnya rezeki dari Allah untuk para karyawan. Maka melibatkan orang lain ikut bekerja, atau juga termasuk mengerjakan kegiatan pemberdayaan sosial, hal itu tidak sebatas peristiwa horisontal hubungan manusia dengan manusia pula, tetapi terdapat nilai vertikal sebagai mekanisme jalan rezeki dari Tuhan.

Persambungan silaturahmi adalah hal yang sangat baik. Dari silaturahmi kemudian orang-orang satu sama lain akan mengetahui kekurangan dan potensi masing-masing. Mana yang perlu dibantu, saya bisa membantu apa, dan seterusnya. Dari interaksi tersebut kemudian orang-orang satu sama lain dapat saling berbagi pekerjaan. Saling mengisi dan melahirkan manfaat bersama-sama.

Misalnya ketika seseorang menekuni bidang pertanian. Mau tidak mau ia harus bersilaturahmi dengan orang-orang yang bisa mengerjakan lahan. Lalu berinteraksi dengan ahli tanaman, marketing serta konsumen. Lalu orang-orang diajak terlibat bekerja sehingga menimbulkan efek pemberdayaan. Maka, dari usaha yang seseorang geluti itu, mekanisme silaturahmi berlangsung, kegiatan pemberdayaan juga terjadi, efeknya adalah usaha itu menjadi jalan rezeki bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Pelajaran yang bisa dipetik kemudian adalah, ketika usaha yang seseorang jalani mengalami bangkrut seketika, yang dilakukan adalah melakukan evaluasi teknis manajerial. Kemudian sesudah itu, yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi atas nilai silaturahmi dan kegiatan pemberdayaan yang berlangsung. Sudah adilkah kerjasama berjalan? Sudah fair-kah pembagian untuk semua yang terlibat?  

Dari proses niteni semacam ini memungkinkan seseorang yang mengalami keterpurukan usaha bisa meningkat pengalaman bisnisnya sekaligus menjadi meningkat pula kualitas hubungan horizontal dan vertikalnya. (Arif Muhlasin)

Dari Indoktrinasi Menuju Intelektualisasi

Suatu waktu ada seorang kawan berkesah, dia mengatakan bahwa dia merasa takut pada saat di dalam benaknya terbetik pertanyaan yang bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dia dapatkan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Allah terbuat dari apa?”, “Mengapa Dia mau menciptakan manusia?”, atau “Di luar dunia itu ada apa? Apakah singgasana Allah berada di sana?”.

Saya rasa pertanyaan ini bukanlah hal tabu yang harus ditepis dalam pikiran kita, bukankan Imam Ghozali lebih banyak bertanya ketimbang mencari jawaban?. Pada hakekatnya pertanyaan-pertanyaan “aneh” semacam itu  adalah lumrah terbetik pada benak siapapun. Ada ungkapan khanzun makhfiy, Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk agar aku mengenal Diriku melalui makhluk-Ku.

Proses tersebut dinamakan Tawalli. Bisa jadi pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita merupakan cara Allah ingin mengenal Dirinya. Untuk itu setiap makhluk selalu diarahkan untuk  berfikir, mencari pengetahuan dengan cara menjawab pertanyaan tersebut. Namun apa yang terjadi? Telah berlangsung begitu lama pengetahuan yang diajarkan dengan dikelas-kelaskan ada agama, sains dan ada filsafat yang dibuat terpisah dengan Tuhan.

Mbah Nun selalu mewanti-wanti “Ora kena ora ono Allah”. Ilmu adalah pengetahuan yang di design untuk ngaweruhi hakekat Tuhan. Artinya setiap langkah atau kegiatan apapun harus ada  Allah didalamnya, sehingga definisi dari ilmu itu dapat terlihat jelas sebagaimana tujuannya, yaitu ngaweruhi Allah, mengetahui hakekat Allah.

Menjadi benar apa yang disampaikan Syeikh Kamba, bahwa kita terlalu lama menelan sistem pendidikan dengan cara indotrinasi. Sehingga akal kita menjadi non-aktif, jarang digunakan untuk berpikir. Potensi akal yang seharusnya dioptimalkan secara baik justru dimatikan dengan doktrin-doktrin yang harus kita terima sebagai kebenaran final. Sebagai akibatnya kita takut berfikir tentang Tuhan, takut pikiran melenceng dari doktrin-doktrin otoritas keagamaan.

Dengan alasan itulah sistem pendidikan yang mengedepankan cara-cara intelektualisasi menurut Syeikh Kamba harus dihidupkan kembali. Hal ini sesuai di dalam Al-Quran, yang mana Allah berpesan agar manusia memperluas pengetahuan tentang diri dan alam sekitar (QS. Fushilat:53).

Pengoptimalan potensi diri dan bakat yang ada pada diri manusia terutama potensi intelektual menjadi hal yang sangat diperlukan dalam praktik pendidikan hari ini. Penggunaan potensi indrawi, rasional sampai spiritual inilah yang dimaksud dengan proses intelektualisasi.

Ah, terasa begitu rindu Saya pada Maiyahan bareng Mbah Nun. Beliau selalu menyajikan berbagai pilihan atau jalan untuk berfikir tanpa memaksakan kita untuk menerima sebagai kebenaran. Kita selalu diminta untuk memproses dan menanyakan kebenarannya pada diri kita sendiri. (Nurul Istiqomah)

Rumah, Sebaik-Baik Sekolah

Home Learning ternyata lebih menyenangkan ketika kita memberi atensi lebih pada apa yang ada di sekitar rumah. Menghubungkan ekosistem ikan di air dan tanaman di darat dalam satu daur nutrisi melalui metode aquaponik itu keren. Memang tidak langsung berhasil, tidak ujug-ujug mahir, yang penting belajar dulu.

Home Learning tidak sekedar memindahkan ruang kelas ke rumah, tidak pula sekedar mengganti upacara di lapangan menjadi di dalam layar.