JS Sewindu Sinau Bareng Perkoperasian

Siang hingga sore hari kemarin (10/4), sejumlah 19 orang rekan-rekan Juguran Syafaat mengikuti Sinau Bareng Perkoperasian bersama Mbak Dwi Niti Wuriasih dari DinakerkopUKM Banyumas.

Acara ini adalah bagian dari semangat revival yang menjadi refleksi pemaknaan utama Milad ke-8 Juguran Syafaat 13-04-2013 s.d. 13-04-2021.

Jer Bertumbuh Mawa Bea

Juguran Syafaat edisi 79 yang bertemakan Ekonomi Simetris adalah perjumpaan pertamaku dengan maiyah. saat itu aku duduk di belakang mengamati dunia baru di dalam kepala yang menyenangkan, aneh dan baru pertama kalinya menyaksikan forum yang menggabungkan semua komponen serta komposisisi keseimbangan antara diskusi, sholawatan, spiritual dan humor sangat efektif menyegarkan suasana.

Pada edisi berikutnya aku mencoba berangkat lebih awal agar bisa duduk di depan dan seperti biasanya di sesi awal akan ada perkenalan, perkenalan waktu itu dipandu oleh Mas Naim yang pada saat itu juga betanya padaku apa tujuan mengikuti forum ini? Kemudian Aku menjawab ingin menggali potensi akal pikiran yang ada di otakku. Jawaban itu muncul waktu menikmati nuansa diskusi yang berbeda dari biasanya dihari pertama. Sejak saat itu aku mempunyai sebuah horizon yang ingin dituju. Aku tau kalau aku mau kemana.

Edisi demi edisipun terus berlalu. Cara belajar terbaik adalah dengan bertanya atau menciptakan pertanyaan dan biarkan Tuhan melalui kebijaksanaan waktu yang akan menjawabnya. Mencari apa itu Maiyah beserta komprehensi apa saja yang ada di dalamnya tersedia sangat banyak di internet. Bagiku aplikasi Symbolic menjadi simulasi yang paling tepat sebagi wahana untuk menggali ilmu, berinteraksi dan memberi manfaat dengan cara berbagi atau saling membantu memecahkan masalah orang lain. Sehingga output-nya menjadi bangga karena telah berkontribusi dan saling menyangga.

Aku merasakan pertumbuhan diri selama di Maiyah, menemukan jawaban jawaban atas pertanyaan dan kegelisahan. Di Maiyah aku diajari untuk berfikir kritis, skeptis dan konfirmatif, agar dapat memuculkan altruisme untuk melakukan hal hal yang bermanfaat. Itulah outputnya, karena sehebat apapun ilmu akan di uji pada skala sosial. Waktu adalah alat tukar untuk mendapatkan apa yang diinginkan, itulah menurutku bea, biaya atau pengorbanan yang sesungguhnya yang rela dan gembira hati aku kerjakan di Maiyah.

Mukadimah: LINGKUNGAN INTRINSIK

Juguran Syafaat Sewindu mukadimahnya diawali dari pertanyaan: Oleh keberadaan forum ini, engkau mendapat keuntungan apa saja? Dan atas keberadaan forum ini, engkau mendapat kerugian apa saja? Apa-apa saja hal-hal yang membuat gembira merawat forum ini, dan apa-apa saja yang justru membuat engkau tidak nyaman, atau bahkan jikalau hingga membuat hidupmu terganggu.

Pertanyaan tersebut tentu saja bukan jenis customer feedback yang kemudian akan membuat forum diubah sedemikian rupa. Tidak demikian, melainkan Juguran Syafaat akan tetap otentik begini dengan segenap watak yang dimilikinya. Sebab ia adalah emergent yang lahir tidak untuk mencapai tujuan atau taktik mengejar perolehan tertentu.

Apakah Juguran Syafaat ini sekadar berfungsi sebagai oase, tempat ngaso dari lelahnya dunia atau lebih dari sekedar itu? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut justru akan lebih berguna untuk menakar lagi potensi kemanfaatan yang bisa masing-masing dapatkan untuk zona kepengasuhan di lingkungan masing-masing.

Sebab, dalam banyak potret komunalitas Maiyah, eskalasi organisme Maiyah bukan hanya terlihat dari pertambahan jumlah orang-orang yang melibatkan diri, melainkan ada shifting yang lebih besar yakni perubahan dari oase menjadi sebuah lingkungan intrinsik. Yakni lingkungan inti yang memberikan peran besar terhadap perubahan watak individu-individu yang terlibat di dalamnya.

Bersama-sama kita akan melingkar mensyukuri Juguran Syafaat Sewindu melalui Youtube dan Instagram Live Juguran Syafaat.

Terus Berdialektika

Apabila kita membaca artikel atau mendengar ceramah para cendekiawan, sering kita temui istilah-istilah asing yang berat. Berat di telinga dan berat di mulut. Sangat sophisticated sekali. Ada sederet istilah seperti civil society, bourgeois and proletariat, good goverment, oligarki, paradigma, floating mass, semantik, semiotika, hermeneutika, dan masih banyak istilah sulit lainnya.

Berbeda dengan tradisi lisan dan tulisan para intelektual umumnya, Mbah Nun hampir tidak pernah melempar istilah yang bikin kepala kita pusing tujuh keliling. Namun ada satu istilah dari khazanah pengetahuan Eropa yang kerap kali digunakan Mbah Nun dalam setiap forum Sinau Bareng, yaitu ‘dialektika’.

Ada apa dengan dialektika? Apa itu dialektika? Dialektika dipopulerkan oleh filsuf Jerman yang bernama Friedrich Hegel. Sebenarnya dialektika sudah dikenalkan ribuan tahun sejak era filsuf Yunani kuno. Dialektika berasal dari kata ‘dialegesthai’ yang artinya dialog. Bukan hanya dialog lisan, tapi juga dialog antar materi atau kenyataan. Tan Malaka menyebutnya: perbincangan antar materi.

Secara ringkas dialektika dirumuskan dengan tesis, anti tesis, lalu menjadi sintesis, dan akan terus bergerak maju atau spiral. Sebab posisi sintesis bisa menjelma menjadi tesis setelah muncul anti tesis baru.

Contoh kongkrit yang pernah terjadi di komunitas Juguran Syafaat, misalnya, tesis (Ikhda) ketemu anti tesis (Luqman) menjadi sintesis (pernikahan). Dan semoga sintesisnya tidak bergerak maju (tambah anu) atau mundur (layu). Kita berdoa dan berharap semoga sintesisnya akan langgeng sampai akhir hayat.

Contoh lain yang lebih kompleks dialami oleh Kukuh Prasetiyo. Proses dialektisnya bersama teman-teman komunitas Juguran Syafaat mengantarkannya pada proses penumbuhan diri di arena sosial dan organisasi yang digelutinya. Bermula dari moderator forum Juguran Syafaat (tesis), Kukuh mendapat kepercayaan di organisasi kepemudaan di Banyumas (anti tesis), lalu Kukuh sering didapuk menjadi moderator acara-acara diskusi ekonomi dan seputar UMKM (sintesis).

Mengutip nasehat bijak dalam dunia pendidikan: kuda dilahirkan, sedangkan manusia dibentuk. Bayi kuda dalam jangka waktu singkat bisa langsung makan rumput, berdiri, dan lari. Sedangkan bayi manusia memerlukan proses dialektika yang panjang untuk bisa makan nasi, berdiri, lari, lalu menjadi insan, abdullah, dan terus berjuang agar sampai pada derajat khalifatullah.

Delapan tahun usia Juguran Syafaat pada tanggal 13 April 2021. Masih belia, tapi sudah bukan bayi. Teruslah berdialektika!