Buku Lahir Kembali

RESENSI

Judul Buku : Lahir Kembali Penulis : Agus Sukoco

Penerbit : SIP Publishing (Anggota IKAPI), tahun 2020 Jumlah Halaman : 350 lembar

“Bukanlah hidup kalau sekadar untuk mencari makan. Bukankah sambil bekerja seseorang bisa merenungkan suatu hal, bisa berdzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bisa mengamati macam-macam manusia, bisa belajar kepada sebegitu banyak peristiwa, bisa menemukan hikmah-hikmah, pelajaran dan kearifan yang membuat hidupnya semakin maju dan baik.” – Cak Nun

Buku berjudul ‘Lahir Kembali’ merupakan buku pertama dari penulisnya, Agus Sukoco. Alur cerita yang kental dengan perspektif sufistik, sosiologis serta antropologis melebur dalam satu bingkai romantisme yang terdiri dari 10 bagian. Tulisan ini memotret kisah perjalanan hidup seorang pemuda bernama Arya yang berusaha menemukan wirid hidupnya. Cerita dalam tulisan ini sangat dekat dengan realitas sosial yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian pertama penulis mencoba memberikan pengantar kepada pembaca mengenai keadaan suatu tempat pada lapisan paling inti dari peradaban kehidupan manusia yang biasa kita sebut dengan desa pada dewasa ini. Terlihat dalam cuplikan kalimat (hal. 1); “irama perubahan yang mulai menghasut kesadaran warganya untuk mengalihkan kiblat orientasinya kepada mitos baru yang bernama modernitas. Tahap transisi sejarah yang berdampak pada suasana kebatinan paling rawan”. Tahap transisi sejarah juga sangat mungkin berpengaruh atas perubahan sosial dalam masyarakat yang terjadi secara dinamis.

Soekanto dalam (Hatu, 2011) menyebutkan bahwa dengan adanya perubahan sosial, maka tatanan nilai dan sistem sosial pun ikut berubah. Hal tersebut sangat mempengaruhi pergeseran-pergeseran kejiwaan dan watak manusia yang memicu terjadinya culture shock atau gegar budaya (Kevinzky, 2011). Seperti yang terjadi pada tokoh Arya yang mengalami culture shock atau gangguan ketika segala hal yang biasa dihadapi ketika di desa tempat asalnya menjadi sama sekali berbeda dengan hal-hal yang dihadapi di tempat yang baru dan asing; kota. Sama seperti cuplikan (hal. 73); “ia merasa seperti tentara yang diturunkan dari pesawat di belantara paling perawan, asing dan liar”. Kondisi tersebut secara tidak langsung memunculkan babak kehidupan sekaligus penderitaan baru untuk Arya.

Cuplikan kalimat menarik lain pada (hal. 16); “penderitaan seringkali lebih membuat manusia memiliki jarak ideal untuk bisa melihat segala sesuatu dengan lebih tepat”. Memang, ketika seseorang sedang berada dalam keadaan menderita, menemui jalan buntu, secara tidak langsung akan memandang segala yang terjadi di sekitar diri lebih detail dan hati-hati, apalagi

dalam hal pengambilan keputusan. Pada saat-saat seperti itu yang dibutuhkan adalah diam, hening, merenung, meneliti lebih jauh. Pada saat-saat seperti itu pula manusia bergerak menuju satu titik paling nadir dan tidak akan menemukan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri dan Sang Maha Pencipta.“kesendirian dan rasa terbuang memang selalu menggerakkan jiwa untuk mencari sandaran” (hal. 72).

Satu cuplikan kalimat yang paling mencuri perhatian saya ada pada bagian menuju akhir tulisan (hal. 340); “Arya memusatkan hati kepada satu titik ketiadaan. Ketiadaan yang menjadi singgasana zat yang sungguh-sungguh ada”. Kutipan tersebut mengingatkan pada satu kalimat “Hasbunallah wani’mal wakiil” (cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik sandaran). Suatu kalimat yang agung, mengandung makna yang sangat dalam dan memberi pengaruh kuat.

Maka ketika batin sudah mulai menemukan ketenangan,  semesta dengan sendirinya akan menunjukkan sinyal atau jalan keluar dari keputusasaan. Selebihnya tinggal bagaimana kita sebagai manusia mau berjuang atau tidak untuk menemukan wirid kehidupan kita masing-masing.“Innallaha laa yughoyyiru maa biqaumin khatta yughoyyiruu maa bi’anfusihim” (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri) (QS Ar-Rad; 11).

Kesemua tulisan yang diusung dalam buku ini dikemas secara lugas dan renyah agar pembaca dapat menangkap dengan mudah nilai-nilai yang ada didalamnya. Melalui tulisan-tulisannya, penulis buku juga mengajak para pembaca untuk ikut larut dalam penghayatan nilai serta romantisme penemuan wirid kehidupan melalui runtutan peristiwa, pengalaman dan fenomena-fenomena yang dialami setiap tokoh.

Referensi:

Hatu, Rauf. 2011. Perubahan Sosial Kultural Masyarakat Pedesaan. Jurnal INOVASI.

Volume 8, No. 4, Desember. ISSN 1693-9034.

Kevinzky, Muhammad Hayqal. 2011. Proses dan Dinamika Komunikasi Dalam Menghadapi Culture Shock Pada Adaptasi Mahasiswa Perantauan (Kasus Adaptasi Mahasiswa Perantau di UNPAD Bandung). Skripsi. Universitas Indonesia.

Menjawab Keraguan Pembaca

RESENSI

Judul Buku : Menjawab Keraguan

Penulis : Yasin Fatkhur Rizqi

Penerbit : Azyan Mitra Media, tahun 2019

Jumlah Halaman : 150 lembar

“Saat Anda menjual atau meminjamkan buku pada orang lain, Anda tidak sedang menjual atau meminjamkan sekian ons tebal kertas, sekian tinta dan sekian lem. Namun Anda sedang menawarkan suatu kehidupan baru pada orang itu”
(Christopher Morley, penulis dan penyair Amerika tahun 40an).

Buku yang tipis saja. Isinya 29 esai dan 14 cerpen. Ini buku magnum opus pertama dari penulisnya, kumpulan tulisan yang memotret kisah keseharian juga kasus-kasus aktual yang saat itu ramai diberitakan media masa dengan menggunakan kacamata religi filosofi yang kental, sehingga bisa jadi tulisan-tulisan ini memiliki potensi akan Anda sukai, terutama jika Anda pengemar esai ala Gus Mus (Mustofa Bisri), Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), atau Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) di tahun 80 – 90an.

Keseluruhan tulisan dibuku ini tidak sepenuhnya baru. Anda yang mengenal penulisnya lewat jejaring pertemanan di dunia maya akan mahfum bahwa beberapa isi di buku ini diambil dari status lama laman facebooknya.

Esai pembuka berjudul Muhammad (hal. 3). Disini penulis mencoba memberi wawasan atau insight pada pembaca dengan pertanyaan keimanan; “adakah jaminan jika kita sejaman dengan para nabi dan rasul, kita akan mempercayai mereka sebagai mereka sebagai utusan Tuhan?”, insight yang sama ada di Fathul Nusantara (hal. 13); “jauh sebelum para nabi datang dengan kitab sucinya, bagaimana cara manusia beriman dan memahami ayat-ayat Tuhan?”

Esai menarik lain berjudul Re(solusi) (hal. 32); “betapa banyak konsep melangit telah lahir, tapi berujung di brangkas laci museum yang entah kapan dieksekusi. Entah karena terlalu banyak rencana, atau karena tidak bisa mengukur kemampuan”. Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa keinginan dan angan-angan manusia itu amat tinggi, tapi dibatasi oleh umur. Saya, yang manusia bukan kukang atau kura-kura Galapagos, memahami benar hal itu. Keinginan yang membumbung mendobrak atap asbes rumah, tapi akibat terlalu banyak mengkonsumsi senyawa kimia buatan sejak orok, tubuh jadi gampang letih dan sakit.

Esai pamungkas yang juga menjadi judul buku ini, Menjawab Keraguan (hal. 71) tentang hakikat waktu dan identitas sejati bukan sekedar simbol dan topeng; “dunia dan segala isinya seba mungkin. Satu-satunya yang pasti dalam hidup di dunia hanya kematian. Karena mati ini yang pasti, tiap saat yang tersisa inilah kita perlu serius mengisinya. Jangan terlalu lama hidup dalam bayang-bayang ide, apalagi keterjajahan menjalani bayang-bayang orang lain”.

Kesemua tulisan yang diusung dalam buku ini sengaja dikemas secara renyah dan enteng agar pembaca dapat menangkap nilai-nilai yang ada didalamnya secara mudah. Format tulisannya pendek-pendek dan beberapa mengambil kasus-kasus aktual yang saat itu ramai diberitakan media masa, sehingga walau subyektif, pembaca yang mengetahui kasus tersebut bisa mencernanya secara kontekstual.

Melalui tulisan-tulisannya, penulis buku juga tidak bermaksud menggurui dengan menceramahi pembaca dengan taktik-taktik atau tips-tips “how to” layaknya buku motivasi atau buku panduan praktis. Penulis buku lebih suka mengajak pembaca untuk ikut larut dan menyelami nilai-nilai pengalaman, kemudian mengeksplorasi rasa yang muncul didalamnya. Jadi, buku ini bukan menyuguhkan “tips siap saji”, tapi mengajak Anda merenung, mengeksplorasi, dan akhirnya menemukan sendiri ide-ide akar penyebab yang bisa menggerakan pembacanya, sehingga bisa menjadi influence cespleng jika Anda merasakan dan mengalami kejadian serupa dengan penulisnya.

Karena formatnya inilah, selesai membaca, bisa jadi si penulis berharap Anda bukannya mendapat ketentraman dan kenyamanan intelektual. Justru sebaliknya, bingung dan resah kemudian terbangun dari mimpi zona nyaman, tergerak mengisi keraguan-keraguan yang Anda temui mencari-cari terus menerus solusi jawaban. [DAP]