Yel Pancasila

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”
QS. At Taghabun: 12

Ma’asyirol Jum’ah Rohimakumullah,

Dalam kesempatan Sholat Jumat siang hari ini, Khotib mengajak Jamaah sekalian untuk tidak ada bosan-bosannya mengingat dan mensyukuri Rahmat Allah, yang tentu tidak ada habisnya kalo kita hitung dan rasakan.

Setidaknya selama kita hidup,  baik di keluarga, di dalam masyarakat maupun di dalam bernegara, di mana kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Dan dari rasa syukur itulah semoga menjadi pintu untuk kita semakin beriman dan semakin bertaqwa kepada Allah SWT. Shalawat salam kita sanjungkan kepada junjungan Baginda Nabi Agung Muhammad SAW.

Jamaah Jum’ah yang berbahagia,

Mohon ijin kepada Jamaah sekalian, kali ini Khotib akan membahas permasalahan yg agak ndakik, ngayawara agak tinggi yaitu tentang negara, tetapi semoga pembahasan Khotib masih dalam sudut pandang yang mungkin bisa dijangkau oleh setiap pribadi kita, yaitu ruang kesadaran dalam beragama yaitu Islam.

Karena saya Islam maka saya cinta negara ini, tidak bisa dibenturkan antara memilih beragama atau bernegara, memilih Islam atau pancasila. Darimana ide butir-butir Pancasila kalau tidak berasal dari Rukun Islam?

Jamaah Jum’ah,

Salah satu pedoman atau rukun negara kita baru-baru ini sedang dibuat ramai baik di media cetak, televisi maupun internet adalah mengenai Pancasila.

Dengan bermodalkan memahami makna rukun maka semoga bisa kita terapkan dalam memahami Pancasila sebagai rukunnya negara kita.

Kita ketahui rukun itu bersifat saling berkait, saling mendukung, saling menguatkan diantara satu dengan yang lainnya. Tidak bisa hanya berpedoman pada sholat saja, kemudian kita mengabaikan rukun Islam yg lainnya, karena akan berakibat pada rusaknya atau batalnya keislaman kita.

Pun dalam memahami Pancasila, tujuan negara ini berdiri sudah disepakati oleh para pendahulu kita terletak pada sila yang terakhir, yaitu sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Namun kita lihat di kanan-kiri, apakah prinsip keadilan sudah terwujud? Melimpahnya kekayaan negara seyogyanya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat diseluruh negeri dengan berprinsip pengelolaan yang berkeadilan.

Sila kelima bisa terwujud harus ditopang oleh sila sebelumnya yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Hendaknya sila ini dijalankan dengan benar oleh wakil rakyat, dengan pedoman hikmah kebijaksanaan untuk terwujudnya keadilan sosial.

Kalau keadilan sosial belum terwujud, berarti ada yang tidak benar pada sila keempat yang di emban oleh para wakil rakyat. Drama korupsi menjadi pemandangan rakyat setiap hari. Pemandangan yang tidak jarang membikin kita geleng-geleng kepala sendiri.

Dan kalau sila yang keempat bermasalah maka sumber masalah ada pada sila sebelumnya yaitu sila yang ketiga: Persatuan Indonesia. Ini tugasnya partai politik atau parpol yang seharusnya mendidik kadernya agar mampu menciptakan kebersatuan nasional, bukannya malah memperjelas terbentuknya gerombolan-gerombolan, geng-geng, kubu-kubu.

Bukannya bersatu demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat, yang ada aksi tipu, jual beli layaknya perdagangan, jegal menjegal, saling bunuh, dan pagelaran perang sesama saudara.

Dan tidak tercapainya sila ketiga berarti jelas ada yang salah dengan sila Kemanusiaan Yang Adil dan beradab. Sila yang kedua dan ini tugas dari Dinas Pendidikan Nasional. Dunia pendidikan dimandati tugas untuk menghasilkan manusia-manusia dengan kepribadian yang adil dan beradab.

Dan gagalnya dunia pendidikan dalam menghasilkan manusia yang beradab disebabkan oleh sila yang pertama yaitu ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan-jangan masih ada yang gagal dalam kita beragama.

Mengapa misalnya, semakin kita beragama makin keras akhlak kita. Mayoritas kita adalah pemeluk agama tapi kenapa kerusakan lingkungan di mana-mana? Dimanakah rahmatan lil ‘alamin-nya Islam?

Jamaah Jum’ah,

Islam pasti benar. Tetapi yang harus kita cari adalah apa yang belum tepat, apa yang tidak seharusnya di dalam kita berislam.

Dimanakah letak adanya hal yang tidak tepat dan tidak seharusnya? Mari kita cari bersama-sama dengan penuh kerendahan hati, hilangkan sombong-sombong dengan merasa paling benar, paling suci, paling masuk surga sehingga berakibat menyalah-nyalahkan orang lain, mengkafirkan satu dengan yang lainnya.

Jamaah Jum’ah,

Dengan pedoman memahami rukun semoga menjadi modal untuk bisa memahami butir-butir Pancasila sehingga dapat diambil beberapa kesimpulan, meskipun kesimpulan ini berlaku hanya pada kedalaman diri kita masing-masing.

Dalam berwudhu, ada syarat sah dan rukun yang harus kita tunaikan, apabila ada salah satu saja rukun yang kita abaikan, tidak kita lakukan maka batallah wudhu kita, tidak sah wudhu kita.

Pun demikian dengan sholat, tentu ada syarat sah dan rukun untuk bisa disebut kita telah mendirikan shalat. Dari takbir, berdiri, ruku’ hingga salam kanan kiri merupakan syarat rukun sah-nya sholat. Apabila ada yang tidak kita tunaikan maka hakikatnya sholat kita telah batal.

Jamaah Jum’ah,

Maka rukun negara kita adalah pancasila. Manakah rukun pancasila yang telah batal ditunaikan? Manakah yang gagal untuk diwujudkan? Apakah kegagalannya disebabkan ketidakmampuan ataukah disebabkan oleh kecurangan dan keserakahan?

Apabila dikarenakan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan semoga Allah memberikan pemakluman dan pengampunan. Namun, apabila dikarenakan kesengajaan berupa kecurangan dan keserakahan, kita serahkan kapada Allah SWT dan kita berlindung terhadap murka-Nya yang telah melenyapkan umat Nabi Nuh AS, Nabi Luth AS, Nabi Sholeh AS, Firaun beserta bala tentaranya dan kaum-kaum  terdahulu yang telah melampaui batas.

Jamaah Jum’ah,

Dengan memahami sesuatu yang mendasar dari ajaran Islam ini, semoga menjadi pedoman dalam memahami permasalahan-permasalahan, baik yang sifatnya kecil maupun yang lebih besar, mengenai negara, mengenai Pancasila atau apapun saja secara benar.

Terkecuali status negara hanya kita jadikan sekedar papan nama, Pancasila hanya kita berlakukan sebatas untuk slogan dan yel-yel saja. Kita bangga memperlakukan Pancasila justru untuk gagah-gagahan tanpa berusaha memahami apalagi menjalankannya. []

 

Mentadabburi Dinamisnya Al Quran dan Kehidupan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 2 Juni 2017

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
(QS. AL Baqarah: 30)

Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Di bulanRamadhan yang penuh dengan keberkahan ini, Khatib mengajak diri Khatib dan Jamaah sekalian, marilah untuk terus menerus berupaya meningkatkan keimanan kita menuju derajat taqwa. Iman atau percaya adalah cara terbaik untuk bisa sampai kepada derajat yg kita sebut taqwa.

Bahwa segala ajaran Islam, sebisa mungkin kita harus mencari kebenarannya dengan cara direngeng-rengengi, diilmui, dinalarkan. Meski sudah begitu, harus kita sadari bahwa tetap ada banyak hal di mana akal tidak akan sanggup menjangkaunya. Di situlah kemudian Allah memberikan metode yang disebut Iman.

Jangkauan ilmu di dalam Islam itu mencakup pengetahuan yang merupakan hal-hal sederhana berupa kegiatan keseharian, hingga pada pengetahuan Islam yang rumit.Bahkan meliputi pengetahuan langit yang butuh kekuatan ekstra untuk menjangkaunya.

Untuk pengetahuan tingkat langit ini, kita menggunakan iman. sedangkan untuk pengetahuan yang masih bisa dinalarkan, marilah kita sebisa-bisa untuk berupaya mengakali atau mengilmuinya.

Jamaah Jum’ah,

Pada kesempatan siang hari ini, Khatib mengajak untuk kita semua slulup, jebar-jebur mentadabburi kandungan dari Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30.

Bahwasannya di dalam memahami isi kandungan Al Quran itu ada 2 cara, yang pertama dengan pendekatan ‘tafsir’. Pendekatan tafsir adalah wilayahnya para ahli kitab, cendekiawan, alim ulama yang mumpuni di dalam disiplin ilmu tafsir. Kita menyebut orang yang memenuhi kriteria tersebut sebagai seorang mufasir.

Sementara itu, wilayah yang tersedia bagi orang awam seperti Khatib dan kebanyakan kita umat Muslim di dalam memahami kandungan ayat Al Quran, Allah memberi cara bernama ‘taddabur’.

Adanya pendekatan tadabbur menegaskan kepada kita bahwa Al Qur’an bukanlah monopoli bagi kaum alim ulama atau ahli kitab saja. Namun Allah memberikan ruang bagi kita, siapa saja untuk berinteraksi secara akrab dengan Al Quran, sehingga siapa saja dapat meniti kebenaran dan menikmati keindahan dari Al Quran.

Tadabbur bentuknya bisa berupa rengeng-rengeng semampunya. Patokannya bukan pada definisi formal sebagaimana tafsir yang analitis dan sistematis. Namun, patokannya adalah ketika seseorang bertadabbur Al Quran, seseorang dapat menangkap pesan baik dari ayat-ayat Al Quran yang produknya adalah kebaikan bagi Allah, Rasulullah SAW dan bagi sesama.

Maka orang yang rajin bertadabbur bisa dikenali dari cirinya yang makin hari makin giat dalam menjalankan ibadah selaras pula dengan makin baik akhlaknya terhadap sesama.

Jamaah Jum’ah,

Mentadabburi Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 30, kita akan menemukan sebuah ‘drama’ peristiwa di mana Allah dan Malaikat bercakap-cakap menjelang terjadinya penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika Allah menyampaikan rencana penciptaan tersebut, malaikat menyanggah. Menyanggah karena menganggap manusia hanya akan membuat pertumpahan darah saja sebagaimana yang malaikat saksikan pada sebelum-sebelumnya. Namun, Allah menjawab sanggahan itu dengan “Inni a’lamu ma la ta’lamun”, yang artinya “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

Jamaah Jum’ah,

Khatib jadi teringat drama pada malam-malam awal Ramadhan di Masjid kita tercinta ini, di mana anak-anak begitu gaduh dan ribut. Saat itu semua orang mungkin berfikiran bahwa anak-anak di keesokan malamnya juga hanya akan membuat gaduh dan ribut suasana tarawih.

Akan tetapi, lihatlah kejadian pada malam-malam selanjutnya, anak-anak perlahan lebih tenang dan khusyuk mengikuti tarawih. Khatib rasa anak-anak yang tadinya gaduh dan ribut tidak permanen berbuat demikian, sebab anak-anak juga mempunyai potensi untuk berfikir dan berkembang. Sehingga teguran dari Imam Taraweh, dan pemandangan dari orang dewasa yang merasa terganggu membuat mereka menyadari untuk berubah sikap, tidak lagi membuat gaduh dan ribut.

Jamaah Jum’ah,

Refleksi dari ‘drama’ penciptaan manusia dan drama shalat Tawarih tersebut adalah bahwa sering kali kita berlaku merasa sudah tahu bahkan merasa paling tahu.  Ketika menyaksikan sebuah kemungkaran dihadapan kita, kita menganggap selamanya pelaku kemungkaran itu akan tetap mungkar selamanya. Tak ada kesempatan insyaf, tak ada kemungkinan untuk berproses berubah.

Begitulah kehidupan manusia yang berlangsung dengan begitu dinamis. Pagi kafir, siang beriman, dan seterusnya berbolak-balik. Bukan wilayah kita untuk memasti-mastikan, karena hanya Allah saja yang tahu potensi perubahan seperti apa yang mungkin terjadi pada masa depan seseorang.

Sebab kehidupan yang kita jalani, juga Al Quran yang kita jadikan panutan bukanlah sesuatu yang statis dan linear, sebuah contoh tadabbur atas ayat dan atas peristiwa di atas semoga membuat kita lebih luwes bercengkerama dengan Al Quran dan lebih lincah menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan.

Di dalam bertadabbur kita tak elok tergesa-gesa membuat kesimpulan. Serta di dalam bertadabbur kita tidak bisa meninggalkan akhlak yang baik sebagai outputnya. Maka mari kita berdoa semoga kita senantiasa tetap dalam lindungan-Nya dari sifat ketergesa-gesa dan hasrat untuk memberi cap jelek kepada orang lain.

Semoga bermanfaat. []

Menggapai Sebenar-Benar Taqwa, Sesuai Batas Kesanggupan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 28 April 2017

Jamaah Jum’ah rohimakumullah,

Di awal khutbah kali ini, masih dalam suasana dan barokah bulan Rajab, Khatib mengajak diri Khatib dan Jamaah sekalian untuk sejenak khusyuk, yakni dengan cara diantaranya sejenak mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan keseharian, dengan menjalankan kegiatan sholat jumat sebagaimana yang sedang kita kerjakan saat ini.

Shalawat dan salam tetap kita sanjungkan kepada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. Beliau yang tiada lain adalah andalan kita ketika kelak kita harus menghadapkan wajah kepada Allah SAW, yang dari beliau syafaatnya senantiasa kita nanti-nantikan.

Jamaah Jum’ah,

Pada kesempatan siang hari ini Khotib akan mencoba mentadaburi firman Allah yang termaktub di dalam Al Qur’an yakni pada surat Al Baqarah ayat 208 :  “Yaa ayyuhaalladzina aamanuud khuluu fis silmi kaaffatan walaa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithon, innahu lakum ‘aduwwum mubiin”, yang artinya “Wahai orang-orang yg beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan, sungguh ia musuh yg nyata.”

Jamaah Jum’ah,

Khatib mengajak jamaah sekalian untuk mencermati mengapa pada ayat tersebut yang digunakan adalah kata “Silmi”, bukan kata “Islam”? Meskipun antara Islam dan Silmi memiliki akar kata yg sama, tetapi bukankah pada setiap kata yang terpilih pada susunan ayat Al Quran mengandung maksud tertentu yang patut untuk ditadabburi?

Pada susunan kata di dalam ayat tersebut terdapat kata “Silmi”, juga kita jumpai kata “Kaffah”. Silmi mengandung pengertian rasa aman, damai, tenang, muthmainah, yaitu inti nilai dari kesadaran yang dikandung oleh Islam. Sedangkan Kaffah mengandung arti total atau menyeluruh. Tetapi Kaffah juga dapat dimaknai sebagai masuklah secara bersama-sama.

Jamaah Jum’ah,

Perbedaan Islam dan Silmi, Islam itu struktur formalnya sedangkan Silmi adalah kandungan nilai-nilainya. Keseimbangan seseorang dalam beragama adalah membangun struktur formalnya tanpa meninggalkan mengerjakan nilai-nilainya.

Mengerjakan ibadah mahdhah dan muamalah adalah Islam, menebarkan kemanfaatan dari mengerjakan hal tersebut adalah Silmi. Menampilkan Identitas Islam, menebarkan kebermanfaatan Silmi.

Peningkatan kualitas Islam dan Silmi kita kemudian diukur dengan derajat taqwa. Allah SWT sendiri memberi pilihan-pilihan jalan taqwa yang memungkinkan untuk ditempuh, yang antara pilihan-pilihan tersebut harus dijalankan secara seimbang pula.

Pertama, taqwa diupayakan melalui pendekatan ilmu, sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat Ali Imron 102,  Ittaqullah haqqa tuqatihi”,   yakni “Bertakwalah kpd Allah dg sebenar-benar taqwa.”

Kedua, Taqwa diupayakan melalui pendekatan amal, sebagai manusia yang merasa penuh  dengan keterbatasan, berhadapan dengan berbagai kelemahan diri, panduannya adalah “Ittaqullah Mustatho’tum” sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat At Taghabun:16, yakni “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah sesuai kemampuanmu”.

Jamaah Jum’ah,

Secara ilmu,  kita dihadapkan pada samudera kebaikan yang diajarkan Islam yang nampaknya tidak mungkin ada yang sanggup diantara kita menjalankannya secara total, secara menyeluruh. Maka marilah kita temukan amal kebaikan yang sesuai batas kemampuan diri kita masing-masing, yang terpenting dalam kita beragama berbuah kemanfaatan bagi sekeliling.

Bahwa yang harus total itu Silmi-nya. Bahwa Silmi harus dimasuki secara bersama-sama. Totalitas dan kebersamaan itu adanya pada ruang nilai, bukan pada dimensi formalistis Islam yang lebih cenderung pada identitas-identias. Maka, hendaknya kita jangan sampai terjebak dalam upaya menuntut diri termasuk juga menuntut orang lain dalam kaitannya beragama secara melampaui batas.[]

Asyura Sepanjang Bulan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 20 Oktober 2017

Jamaah Jum’ah rohimakumullah,

Syukur alhamdulillah senantiasa kita haturkan kpd Allah swt. Di mana hingga detik ini kita sekalian masih diberi kenikmatan sehingga dpt memenuhi panggilan sholat jumat pada siang hari ini dlm keadaan sehat, ditengah keadaan dimana pada penghujung bulan Muharram atau orang Jawa menyebutnya dg bulan Sura ini banyak saudara, kerabat, tetangga di kanan kiri kita banyak yg diberi cobaan, baik cobaan berupa sakit dan lain sebagainya.

Dan kita berdoa semoga saudara, kerabat, tetangga kita diberi kekuatan dan kesabaran dlm melewati cobaan demi cobaan. Shalawat salam kepada junjungan kita, panutan dan Imam kita, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang senantiasa kita harapkan syafaatnya baik selama di dunia hingga akhirat nanti.

Jamaah Jum’ah,

Bulan Muharram atau bulan Sura kata orang Jawa adalah penanda awal tahun baru Hijriah. Tahun kalendernya orang Islam. Kata Sura sesungguhnya berasal dr kata Asyura yaitu nama sebuah hari yaitu tanggal 10 Muharram. Di mana pada hari itu terjadi peristiwa besar dalam tragedi keluarga Kanjeng Nabi, yaitu salah satu cucu kembar atau putra dari Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yakni Imam Husain dipenggal dan kepalanya di arak ramai-ramai dan menjadi tontonan sejauh 21 km oleh khalifah Yazid bin Muaiwiyah.

Dan peristiwa itu juga sekaligus sebagai penanda akhir dari pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Sesuai Hadist Kanjeng Nabi bahwa Khulafaur Rasyidin tidak lebih berumur 30 tahun.

Peristiwa itu tentu menjadi sebuah peristiwa paling menyedihkan dalam perjalanan kita sebagai umat Islam. Imam Husain, cucu kesayangan dari Rasulullah SAW, panutan dan Imamnya umat manusia rela mengorbankan diri demi menghindari dan meredam peperangan perebutan kekuasaan pada saat itu tetapi tidak terhindar dari peristiwa aniaya.

Dan atas peristiwa kepahlawanan dari Imam Husain itu, setiap umat Islam di segenap penjuru dunia memperingati terhadap hari yang sangat menyedihkan ini. Tentu berbeda-beda ungkapan sedih dan berkabungnya, ada yg memperingati sebagai hari berkabungnya umat Islam seperti di Iran, di Karbala, mereka melakukan drama menyakiti diri sendiri sebagai ungkapan sedih dan dalam rangka ikut merasakan sakit sebagaimana sakitnya Imam Husain. Imam Husain sungguh telah mengorbankan dirinya atas kebengisan dari Khalifah Muawiyah, akhlaknya umat terhadap cucu dari panutannya yaitu Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Jum’ah,

Tidak berbeda dengan kita sebagai orang Jawa, ungkapan kesedihan dalam memperingati hari paling berkabung atas cucu Kanjeng Nabi ini bukan hanya tanggal 10 Muharram saja yang kita sebut sebagai Asyura, melainkan sepanjang bulan Muharram kita bertaffakur sehingga kita sebut bulan ini dg bulan sura atau bulan Asyura. Kita tidak rela hati, tidak tega di bulan ini membuat pesta, hajatan atau acara apapun yang nuansanya kebahagiaan.

Keluarga Nabi sedang berkabung kok kita sebagai umatnya malah berpesta pora, sedang kalau tetangga sebelah kita sedang ditimpa musibah saja masa kita tega membuat pesta, nanggap dangdutan keras-keras dan berhura-hura ria.

Ini tentu akhlak. Ini tentang moral sebagai seorang umat. Tidak ada dalil atau hadistnya. Maka kita kenal orang Jawa menghindari menyelenggarakan hajat pada bulan sura. Ora ilok alias tidak elok katanya.

Jamaah Jum’ah,

Khasanah Jawa terkenal dengan pesan-pesan moral yg mampu di ramu dg baik dan penuh piwulang, maka Khotib dan kita sekalian patut bangga dilahirkan dengan darah orang Jawa.

Orang Jawa menyematkan nama penyangga pintu dengan sebutan kusen, kusenan. Kata kusen adalah simbol dari nama Imam Husain dengan dialek Bahasa Jawa di mana sebagai penyangga pintu. Kalau tidak ada kusenan maka pintu tidak bisa tegak berdiri, sedang nama pintu sebagai jalan untuk kita bisa masuk ke dalam ruangan atau rumah. Pintu adalah simbol dari Ali bin Abi Thalib sesuai hadist Nabi :

“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya dan siapa yang hendak memasuki kota itu hendaklah melalui pintunya”
[HR Al-Hakim dan Ibnu Ma’in]

Melalui kecerdasan Imam Ali lah banyak ilmu Rasulullah terjelaskan melalui hadist-hadist periwayatan. Dan melalui Imam Ali bersama putri kesayangan Fatimah Az-Zahra lah keturunan Rasulullah bisa diturunkan hingga sekarang yang kita kenal sebagai para Habaib.

Jamaah Jum’ah,

Sedemikian apiknya, orang jawa membuat sanepan penuh piwulang. Maka apabila ada yg njawal dengan mengatakan bahwa bulan Sura itu sama saja, sebab semua hari atau bulan itu baik, maka orang itu berarti tidak memahami piwulang tentang apa itu ora ilok.

Khotib setuju bahwa semua hari itu baik, seperti halnya Allah menciptakan semua jenis kayu, tentu semua jenis kayu itu baik. Namun, ketika kita akan membangun rumah misalnya, tentu jenis-jenis kayu yang semuanya baik itu pasti terlebih dahulu dipilah-pilah, mana yang pas untuk tiang, mana kayu yang kokoh untuk penglari, mana kayu yg cocok untuk usuk, reng dan lain sebagainya. Kalau salah perhitungan, tiang menggunakan kayu alba sementara usuk menggunakan kayu yg keras, maka siap-siaplah rumah ambruk dalam waktu yang tidak begitu lama.

Begitupun dengan hari, tentu semua hari itu baik, tetapi mana yang paling tepat untuk keperluan menyelenggarakan hajat dan mana yg kurang tepat tentu ada perhitungan.

Jamaah Jum’ah,

Dalam memaknai segala hal tdk bisa kita hanya mengandalkan dalil, fiqih, atau hukum saja. Tetapi ada tingkatan lain di atasnya yaitu akhlak atau moral. Meskipun tidak ada dalil, selama tidak berseberangan dengan prinsip-prinsip fikih maka akhlak bisa menjadi acuan sikap. Fiqh itu mengajarkan benar dan salah, sedangkan akhlak itu mengajarkan tentang baik dan buruk, termasuk ilok dan ora ilok.

Dan atas semua itu semoga kita mampu meramu fiqh dan akhlak dengan baik. Hingga pada akhirnya semoga kita mampu memahami tingkatan paling puncak dalam setiap sikap kita yaitu tingkatan taqwa. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bertaqwa. Sikap dan pertimbangan tingkah lakunya dengan pertimbangan taqwa. Sikap dan pertimbangan tingkah lakunya sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Dan semoga tahap demi tahap kita diberi kemampuan dan dituntun lewat hidayahnya Allah SWT.

Amiiin Amiin.. Ya Robbal ‘Alamiin.[]

 

Hari Panen Raya Ruhani

Materi Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1435 H. 

Hari yang kita nanti-nantikan telah tiba, hari raya, hari yang lebih istimewa dari 364 hari lainnya. Hari raya Idul fitri adalah hari istimewa, karena hari ini adalah hari panennya kita. Takbir dikumandangkan, berbondong-bondong menghamparkan sajadah melaksanakan sholat Ied, semata-mata karena rasa syukur tiada terkira kepada Allah swt yang telah menganugerahkan hari ini, hari dimana kita bisa panen raya ini.

Hari ini kita bukan sedang berbahagia karena panen padi, bukan juga karena sedang panen jagung. Kebahagian kita bersama hari ini lebih dari sekedar panen hasil bumi, karena hari ini kita diijinkan Allah untuk panen raya hasil langit, yakni panen raya ruhani. Setelah sebulan kita menanami ladang bernama Ramadhan dengan tanaman kebajikan, yang tanaman itu dijaga dengan galengan puasa, dirawat dari hama maksiat dan dirondai dengan menghidupkan malam, kini telah tiba saatnya untuk kita melaksanakan panen raya.

Maka beruntunglah kita yang selama sebulan ini diberi oleh Allah ladang bernama Ramadhan kemudian memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sehingga hari ini kita bisa panen raya. Dan merugilah mereka yang selama sebulan ini diberi oleh Allah lahan subur dan menjanjikan ini, tapi justru tidak menanam apa-apa, sehingga mereka hanya bisa gigit jari karena tidak ada yang bisa mereka panen di hari raya ini.

Betapa Allah menunjukkan sifat Rohman dan Rohimnya kepada kita saat ini. Allah memberi kita ladang Ramadhan, tanpa menuntut kita untuk membayar sewa sepeserpun, pokoknya tinggal pakai saja ladang itu. Mau ditanami sedikit boleh, ditanami banyak bisa, ditanami banyak sekalipun silahkan. Dan ketika hari panen tiba, Allah tidak menagih bagi hasil kepada kita sedikitpun. Sungguh Allah telah menunjukkan cinta-Nya yang sejati kepada kita sehingga kita bisa menikmati 100% hasil panen atas semua kebajikan yang telah kita tanam.

Maka setelah kita berbahagia atas hasil panen raya kebajikan Ramadhan, kini kita puncaki dengan ungkapan syukur kita kepada Allah, karena atas Rohman dan Rohim-Nya Allah yang masih mengijinkan kita berpanen raya raya ruhani di hari ini.

Kemudian, rasa-rasanya tidaklah afdol kebahagiaan dan rasa syukur ini kalau kita belum menyapa tetangga kanan dan kiri kita, saudara yang dekat maupun jauh, juga kerabat kita. Maka dari itulah pada kesempatan dimana kita sedang berbahagia dan sangat bersyukur kali ini, kita makin sempurnakan dengan menyapa tetangga, saudara dan kerabat semuanya seraya memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama ini, baik lahir maupun batin.

Selanjutnya setelah panen raya kita jalani, saatnya kita keluar dari ladang, saatnya kita tinggalkan ladang Ramadhan untuk pergi ke pasar agar dapat menjual hasil panen kita. Dengan itu, maka tanaman kebajikan yang kita tanam akan bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya oleh kita sendiri.

Namun sebelum itu, kita lihat dulu bagaimana kualitas panenan kita kali ini. Kualitas panenan antara satu sama lain pasti berbeda-beda. Diantara tiga ini, termasuk yang manakah kualitas panenan kebajikan kita, masing-masing dari kita menilai diri sendiri saja. Kita tidak perlu mengisi rapor orang lain.

Pertama : Kualitas Muslimin. Muslim berarti selamat, kualitas muslimin adalah kualitas yang selamat, tidak rusak oleh hama wereng copras-capres, tidak digerogoti tikus karena nyathil uang sana-sini. Maka tanda kualitas ini adalah, dia menjadi pribadi yang selamat, dengan tetangganya akur walau beda pilihan capres misalnya, dengan masyarakatnya terlindungi karena tidak punya urusan kejahatan.

Kemudian yang kedua : Mukminin. Kualitas ini lebih tinggi, karena bukan hanya selamat tetapi juga aman. Aman karena ditanam dengan kesucian. Suci itu bukan cuma perkara tidak pernah kentut sehingga wudhunya tidak batal. Suci kalau di olahraga namanya sportif, kalau di musik adalah tidak fals, kalau di organisasi bentuknya profesionalitas. Suci kalau di ladang itu airnya tidak mencuri, pekerjanya dibayar tidak khianat.

Mukmin itu berarti aman. Maka tanda kualitas jenis ini adalah, pribadinya hadir dimanapun selalu membuat orang disekelilingnya aman : aman hartanya, aman nyawanya dan aman martabatnya.

Dan yang ketiga adalah : Mutaqqin. Mutaqqin adalah derajat yang Allah janjikan akan diberikan kepada orang yang berpuasa, yakni derajatnya orang yang bertaqwa. Apakah taqwa itu? Taqwa adalah kita senantiasa terbimbing untuk mendeteksi perintah sehingga kita mengikutinya dan untuk mendeteksi larangan sehingga kita meninggalkannya.

Bagaimana kemampuan deteksi itu bisa kita peroleh? Caranya tidak lain adalah dengan senantiasa melibatkan Allah disetiap aktivitas kita. Saat mencangkul, ingat Allah. Saat menanam benih, di hati ada Allah. Saat merawat dari hama, di benak ada Allah. Saat tanaman siap dipanen, yang ada hanya syukur kepada Allah. Maka bisa kita bayangkan betapa berkualitasnya tanaman yang setiap tahap pengerjaannya Allah dilibatkan, walaupun hanya dilibatkan dalam bentuk dihadirkan dalam ingatan dan benak kita.

Taqqobalallohu minna waminkum…, mudah-mudahan kualitas jenis mutaqqin inilah yang kita peroleh, atas upaya kita menanami sebulan penuh Ramadhan dengan kebajikan. Taqqobal yaa Kariim.

Maka selanjutnya, saatnya kita pergi ke pasar untuk menjajakkan hasil panenan kita ini. Ke pasar dalam artian kita pergi ke dunia nyata, bukan hanya di atas sajadah dan di dalam masjid saja, tapi nilai-nilai Ramadhan kita bawa kemanapun kita melangkah.

Sehingga selama 11 bulan kedepan kita lalui dengan cara pandang dan cara bersikap yang baru dan lebih baik. Sebagai muslimin kita lebih pandai menjaga lisan, tindakan dan keputusan kita sehingga kita selamat. Sebagai mukminin kita disiplin menjunjung nilai-nilai Qur’ani sehingga bukan hanya khattam bacaan kita, tapi juga khattam pengaplikasian Qur’an dalam keseharian kita. Maka dengan begitu, kehadiran kita tidak menjadi ancaman bagi orang lain, tetapi justru membuat mereka aman dengan keberadaan kita.

Dan sebagai muttaqin kita senantiasa melibatkan Allah dalam setiap tindakan dan keputusan kita. Mau bertamasya, yg kita pilih tempat yg mengingatkan kita kpd Allah. Pergi belanja, yg kita pilih untuk dibeli yg disukai Allah. Menyekolahkan anak, yang membuat anak lebih dekat kepada Allah, dan sebagainya.

Demikianlah dengan Ramadhan dan Idul Fitri ini Allah sedang memberi kesempatan kepada kita untuk menambah tinggi derajat kita sebagai manusia, menambah kaya ruhani kita. Kita saksikan betapa Allah baik kepada kita, betapa Allah mencintai kita. Allah masih dan akan terus mencurahkan cinta-Nya kepada kita. Maka 11 bulan ke depan, kita suguhkan hasil Ramadhan kita kepada sekeliling kita, tidak lain dalam rangka membalas cinta-Nya kepada kita.

Allah memberi rejeki kepada kita karena Allah mencintai kita. Kita mencari rejekipun, karena wujud cinta kepada Allah. Ketika kita melakukan apapun dalam rangka cinta kepada Allah, bukan karena ego dan keserakahan kita, mudah-mudahan Allah anugerahi kita derajat mukhlisin.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung. Saat itu malaikat bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?” Allah menjawab, “Ada, yaitu air” (Api akan padam jika disiram oleh air). “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat. Allah menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera bisabergulung-gulung menjadi gelombang kekuatan angin). Kemudian para malaikat masih bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahui adalah gambaran orang yang ikhlas. Ia bersedekah bukan karena pamrih, bukan pula karena pencitraan. Peristiwa sedekah adalah peristiwa cinta, Ia butuh bersedekah karena butuh membalas cinta-Nya Allah. Karena Allah telah mengungkapkan cinta-Nya kepada kita makhluk-Nya terlebih dahulu, salah satunya dengan anugerah dihadirkannya ladang suci Ramadhan dan hari panen raya ruhani Idul Fitri ini.

Allah memberi kita ladang dan mengijinkan panen tanpa menagih sewa dan bagi hasil kepada kita. Karena Allah tidak sedang berbisnis dengan kita. Semata-mata semua itu adalah sedekah Cinta-Nya kepada kita.

Akhirnya, selamat Hari Raya Idul Fitri semoga semua pengistimewaan kita atas hari ini tidak ada yang luput satupun hanya untuk ungkapan syukur dan balasan cinta kita kepada Allah semata.[] RZ/RedJS