Gado-Gado Juguran Syafaat

Gado-gado dikenal sebagai makanan khas Betawi. Makanan yang termasuk jenis salad ini memiliki pembeda pada saus dressing-nya, yakni menggunakan asian peanut, bumbu kacang. Tidak seperti kebanyakan salad yang banyak melibatkan mayones di dalamnya.

Gado-gado terdiri dari sayuran hijau seperti selada, kubis, bunga kol, kacang panjang dan taoge. Sering juga ditambahkan dengan sayuran lain yakni pare dan mentimun. Di dalam gado-gado juga terdapat kentang rebus, telur rebus, tempe dan tahu serta kadang-kadang terdapat pula jagung pipil. Kapan Anda terakhir makan gado-gado?

Dengan analogi gado-gado di atas saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk mengenali Juguran Syafaat bukan hanya sebatas ke-khas-anannya sebagai forum diskusi yang ruhani minded. Namun, bahwa di dalam Juguran Syafaat tersusun oleh social cyrcle yang begitu kompositif.

Dengan analogi gado-gado pula, saya ingin mengajak pembaca sekalian mengganti obyek bahasan tentang keberagaman yang selama ini disetir hanya untuk membahas Islam dan minoritas, Pribumi dan Chinese, dll. Padahal, keberagaman profesi, kepakaran, konsentrasi keilmuan dari masing-masing nama di kontak ponsel kita, hal itu lebih menarik untuk dikulik, digali dan kemudian disambung-sambungkan.

***

Forum dapur penggiat Juguran Syafaat di penghujung tahun sengaja mengambil tempat berbeda, supaya bisa refresh sekaligus nyicil-nyicil merefleksi perjalanan setahun 2020 ini. Di Desa Wisata Karang Salam, Baturraden (23/12/2020) sejumlah penggiat berkumpul. Tepatnya di Kedai milik Pak Asong, salah seorang pegiat Desa Wisata di sana.

Forum dibuka dengan Hilmy ngudarasa kepada Pak Asong. Memang sebagai pamong desa ia berkeinginan keras bagaimana agar di desanya ada sesuatu yang dapat to attract perhatian publik. Pak Asong pun dengan antusias ber-sharing tentang serba-serbi Desa Wisata. Yang dapat  berkelanjutan adalah yang melibatkan komponen organik lokal, dan yang sudah bisa ditengarai pendek umur adalah yang hanya latah belaka.

Menurut Pak Asong, potensi agro di suatu desa adalah sesuatu yang masih bagus dibangun sebagai sebuah attraction. Tidak latah membangun agrowisata. Hilmy dengan tim-nya di Desa saat ini sedang menyiapkan infrastruktur IT Data Desa. Ini sesuai dengan challenge dari Pak Toto Raharjo ketika singgah di sana dahulu: membangun Datakrasi Desa. Nantinya sektor agro menjadi bagian yang signifikan akan terdongkrak pula.

Hadir juga di forum yang berlangsung sore hingga malam hari itu yakni Hirdan. Penggiat Juguran Syafaat yang ikut mewarnai suasana dengan petikan gitarnya. Ia sehari-hari adalah pelaku usaha di bidang agro. Efek dari pandemi membuat ia all out men-cemplung-kan diri pada perdagangan komoditas telur ayam. Dari yang awalnya hanya belasan peti telur ia jual, kini sudah nampak growth penjualannya hingga ratusan peti tiap bulan. Selain sudah mengerjakan retensi penjualan, yang mahal ia dapatkan adalah jejearing yang makin luas di komunalitas rantai nilai perdagangan telur ayam, toko grosiran, agen, peternak pemilik kendang, asosiasi wilayah, dll. yang harus terus menerus dijaga keberlangsungannya secara jangka panjang.

Kemudian Febri dan Anjar, keduanya sama-sama pelaku di bisnis retail. Meskipun petang hari itu tidak banyak berkisah tentang Penggiat Updates atas kahanan keseharian terkini mereka. Tetapi kesah Febri cukup terrefleksikan dari perjalanan hidup seorang Sosrokartono yang ia ceritakan panjang dan lebar kala itu. Bagaimana Beliau menjalani hidup dengan prestasi dan kegundahan yang silih berganti, pencarian peran diri di dalam hidup yang tak pernah berhenti.  Betapa gundahnya menelaah apa yang sebenarnya sedang terjadi di bisnis retail akibat sistem dagang yang begitu kapitalistik yang hari ini berlangsung.

***

Orang-orang dengan gulawentah yang begitu beragam sehari-hari masih sempat menyisakan waktu untuk berpikir mendekonstruksi dan mendiskusikan berbagai elaborasi itu kan sebetulnya sesuatu yang kontras. Namun seringkali kontras itu tidak terlihat jelas, sebab pada sebuah kumpulan yang dilihat hanya backdrop dan taglinenya saja, tidak melihat kentang rebus dan mentimun sepertihalnya pada gado-gado. Padahal masing-masing dari sayuran itu sebetulnya bisa kok disambungkan dengan bahan masakan lain sehingga tercipta makanan yang berbeda.

Kita bergeser 20 KM ke arah selatan, tepatnya di Desa Pangebatan. Seperti pada kabar sebelumnya, Pak Titut baru saja mendirikan gubug belajar bagi anak-anak, “Gubug Sawah Cowong Sewu”. Seorang ahli kebun yang mencoba hidup dengan “nyeni” ini memang membuat gado-gado Juguran Syafaat makin buket dan lezat rasanya. Kalau ditelusuri lebih jauh, “anak-anak asuh” Pak Titut ini banyak dan beragam, saudaranya ada di lintas kalangan, lintas komunitas. Gubug yang menurut saya tidak ada mewah-mewahnya itu saja yang meresmikan tidak tanggung-tanggung, Wakil Bupati.

Yang baru saja merilis karya ada M. Faisal, sebuah album musik bertajuk “Hymne Kehancuran”. Meskipun alirannya ‘bawah tanah’ tetapi tetap ada Allah dan Kanjeng Nabi disematkan di cover albumnya. Kemudian yang sedang merilis karya berikutnya yakni Mas Agus Sukoco, saat ini sedang pre-launcing novel “Lahir Kembali”. Melalui Novel ini, Mas Agus ingin nilai-nilai Maiyah mengalir lebih luas, utamanya untuk aplikasi self-empowerment bagi generasi muda.

Ketika saya sedang menyelesaikan tulisan ini, saya juga sedang ber-whatsapp dengan Pak Yusro. Seorang politisi senior Purbalingga yang selalu ngemong kita semua, yang memilih mandito menjadi Kepala Madrasah Aliyah (MA) El Qosimi di Purbalingga. MA ini adalah bagian dari Ponpes An-Nahl Asuhan Abah Fitron Ali Sofyan, salah satu pusaran lingkaran Jamaah Maiyah sedari sebelum forum Juguran Syafaat lahir.

Pusaran lainnya di dalam cyrcle Jamaah Maiyah Banyumas-Purbalingga adalah Majelis Kemis Pahing yang diinisiasi oleh Abah Jumad. Jadi selain kita mempunyai forum bulanan, juga ada forum selapanan setiap Rabu Legi malam Kemis Pahing. Kabar dariAbah Jumad, Ia sedang menanam 1.300 tanaman jahe merah. Dalam cyrcle bisnis jahe merah ini, ada juga Kang Amin yang dari hikmah pandemi ia merilis produk minuman serbuk jahe merah siap seduh.

Sohib kentalnya Abah Jumad yakni Kang Wanto. Kerap tampil di Juguran Syafaat dengan alunan sulingnya. Ia sedang menekuni budidaya Burung Murai. Lalu ada Kang Barno yang khas dengan blangkon dan kain luriknya. Ia bukan budayawan meskipun penampilannya seperti itu, tetapi ia adalah seorang penggerak koperasi yang saat ini sedang mengembangkan produk air minum alkali. Saat ini ia amat getol menggiatkan jejaring resellernya, nampak amat berbakat di dalam membekali reseller dengan trik dan tips marketing.

***

Karena tulisan ini nampaknya sudah terlalu panjang, kita kembali ke Kedai Pak Asong di Desa Wisata Karang Salam lagi saja. Tidak terasa sudah berjam-jam duduk-duduk di sana. Saya tidak jog kopi, tetapi menambah memesan air putih panas dan pisang goreng saja. Menemani refresh dan relaks sambil menikmati gemerlap kota Purwokerto dari ketinggian yang terlihat penuh lampu-lampu. “Wah, kalau Purbalingga dilihat dari atas ya paling yang terlihat cuma lampu Toko ABC, Toko Harum dan alun-alun. Haha”, Febri berkelakar memamerkan kerendah-dirinya.

“Ini harusnya kita sudah nyicil bikin audio-podcast ini”, ujar Hilmy. Melihat begitu banyaknya unsur penyusun gado-gado yang membuat tulisan ini terasa kepanjangan, saya sih setuju saja itu, nantinya bisa dicicil edisi per edisi, dijadikan program baru Juguran Syafaat di 2021.

Menjadi Kelas Menengah Lokal yang Solutif

Pada Sabtu pagi, 19 Desember 2020 Saya ikut mendampingi Mas Agus Sukoco menghadiri sebuah sarasehan yang diikuti sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Purbalingga. Acara yang kami hadiri ini diinisiasi oleh Organisasi Masyarakat Lowo Ireng (LI). Acara ini menjadi bagian dari tahap ‘pendinginan’ paska sudah berlangsung lancarnya Pilkada.

Berlangsung di Warung DPR di daerah Karangsentul Purbalingga, ikut terlibat hadir di acara ini sejumlah Ormas, diantaranya Laskar Sangga Langit, Pemuda Pancasila, BPPI, Granat, GMBI, Banser Dan Kokam. Acara ini mengambil tagline “Merawat Kebersamaan Dengan Persaudaraan Pasca Pilkada Tahun 2020”.

Bertindak sebagai moderator adalah Mas Andi Pranowo. Kemudian narasumber selain Mas Agus Sukoco hadir pula Pak Dr. Indaru Setyo Nurprojo, akademisi dari Unsoed. Mas Yulianto selaku pimpinan Lowo Ireng Purbalingga sekaligus yang mbahurekso acara pagi itu mengawali dengan sambutan dan ucapan terima kasih kepada segenap kawan-kawan lintas elemen.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan sebuah teks deklarasi. Deklarasi tersebut bunyinya adalah, “Kami Ormas dan LSM di Kabupaten Purbalingga siap berperan aktif dalam menjaga Kondusivitas pasca Pilkada dan saling menjaga kebersamaan serta kerukunan antar Ormas  dan LSM di Kabupaten Purbalingga. Purbalingga Perwira NKRI Harga Mati.”

Seperti diketahui bersama, Pilkada di Purbalingga sudah berlangsung lancar dengan aman dan damai. Namun demikian, sudah menjadi tugas bersama-sama setiap elemen masyarakat apalagi kalangan pemuda penggerak untuk mengantisipasi setiap kemungkinan buruk. Deklarasi ini adalah bagian dari kegiatan antisipasi itu.

Kita tahu bagaimana lalu lintas isu hari ini dipenuhi dengan hempasan narasi-narasi yang seringkali berbenturan antara satu narasi dengan narasi lainnya. Sedangkan setiap anggota masyarakat sudah sedang sibuk dengan periuk nasinya sendiri-sendiri, mana sempat untuk merunut dari mana asal-usul sebuah narasi dan kemana anak panah narasi hendak dihempaskan.

Moderator mengalasi diskusi di awal sesi. “Di dalam kata kebersamaan tentu ada lawan katanya, perbedaan. Maka kemudian dari dua unsur ini kita bisa melihat pasti semua yang tercipta di dunia ini pasti ada lawan katanya. Maka kemudian sebagai insan yang kita berharap bisa jauh lebih dewasa untuk bisa menghargai perbedaan itu”, ujarnya.

Kemudian Pak Dr. Indaru menyampaikan, “Saya sebagai warga, saya titip kepada teman-teman yang punya basis jaringan, punya organisasi secara terstruktur, bisa membantu saudara-saudara kita di Purbalingga untuk kemudian bisa terwakili kepentingannya. Saya berharap kemudian teman-teman tidak kemudian terjebak pada proses Pilkada semata dan Kembali pada posisi dan visi-misi organisasi, kembali ke Langkah-langkah apa yang seharusnya oleh organisasi dan tentu kepentingan bersama yang harus dicapai bersama”.

Tiba giliran narasumber berikutnya yakni Mas Agus Sukoco. “Kita di modali nilai-nilai lokal untuk mendasari dan memotivasi semangat bersaudara. Nilai lokal yang saya maksud adalah ada prinsip-prinsip kebudayaan Jawa dan Nusantara yang sesugguhnya sudah sejak lama mengawal dan merawat kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa.”, Mas Agus menyampaikan.

“Saya ambil contoh, ada prinsip dalam jawa, “mangan ora mangan asal kumpul”. Pepatah ini selama ini di curigai sebagai sesuatu yang pesimis dan sumber kemunduran. Karena “mangan ora mangan asal kumpul” dimaknai sebagai grabyag-grubyug tidak produktif, akan tetapi jika di kaji lebih dalam itu wanti-wanti dari leluhur bahwa yang primer adalah kumpul. Jadi kumpul atau bersama itu diletakan sebagai sesuatu yang lebih penting dari mangan, atau sesuatu yang sifatnya material, kepentingan pragmatis”, lanjutnya.

“Ormas, LSM itu kalo kita posisikan, ia bagian dari kelas menengah di dalam struktur sosial dan budaya kita. Jadi ada keniscayaan alamiah di dalam bangunan sosial. ada kelas mapan atau elit, kelas bawah dan kelas menengah. Motor penggerak dan pengawal dinamika peradaban itu selalu kelas menengah”, paparnya lagi. Acara berlangsung dengan gayeng dan meriah. Mudah-mudahan inisiatif kecil semacam ini bisa menjadi bagian dari langkah solutif di tingkat lokal. Mengingat jika kita memandang skala nasional sepertinya persoalan sudah teramat ruwet. Kita nyicil-nyicil solusi-solusi sederhana saja di sini.

Belepotan Beletan di Pentas Ndaudbeletan 2020

Di hari minggu pagi yang cerah Saya menyaksikan sebuah karya seni dari Abah Titut Edi Purwanto. Sebuah pementasan di alam terbuka dengan tajuk, “Ndaudbeletan”. Sebuah pementasan yang menurut saya unik, karena tidak ditampilkan di atas panggung, melainkan di atas belet (lumpur). Pementasan ini menggambarkan bagaimana petani mengerjakan proses dan prosesi dari bercocok tanam di Sawah.

Saya datang lebih awal sebelum acara di mulai, melihat kehadiran saya, Wajah Pak Titut nampak senang. Walaupun saya tidak bisa bantu-bantu, setidaknya ikut nyengkutung energi positif sebelum sang lakon utama bersiap menuju pentas. Menurut Pak Titut, selain untuk Pertunjukan, “Ndaudbeletan” juga bertujuan untuk mengingatkan  pada anak cucu bahwa dahulu nenek moyang kita semua adalah seorang petani yang gemar bercocok tanam.

Acara tersebut diadakan di Sawah belakang Balai desa Pangebatan, pada hari minggu yang cerah di tanggal 20 Desember 2020. Acara ini sekaligus sebagai momentum peresmian gubug sawah yang baru saja Pak Titut bangun, yang diberi nama Gubung Sawah Cowongsewu.

Tidak tanggung-tanggung, gubug sawah dengan nuansa natural alamiah berukuran 6 x 6 meter ini pada hari itu diresmikan langsung oleh Bapak Sadewo, Wakil Bupati Banyumas. Acara dimulai sekitar pukul 09.30 WIB diawali dengan Pak Titut memberikan penjelasan maksud dan tujuan diadakannya acara dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Pak Wabup.

Beberapa menit setelah sambutan selesai, kemudian bergulir pada mata acara pembacaan puisi. Puisi menjadi pemantik dari dimulainya Pertunjukan yang dengan gaya khasnya Pak Titut selalu mampu menarik perhatian penonton agar mendekat dan atusias.

Dalam pertunjukan tersebut Pak Titut mengikutsertakan  sekitar 15 anak-anak kecil yang biasa belajar dan bermain bersamanya disawah. Ikut hadir juga teman-teman muda anak-anak “asuhan” Pak Titut, Ada seorang pemain biola, seorang pemain kendang,  beberapa pemain genjring untuk iring-iringan dan dua orang penari. Yang istimewa adalah salah seorang dari penari adalah istri Pak Titut sendiri, Ibu Tri Indarwati.

Hal yang bagi saya amat menari dari pertujukan ini salah satunya adalah filosofi dan makna “Tarian Jiwa” yang dilakukan Pak Titut bersama Istrinya. Di dalam tarian yang diselimuti Kain Putih tertutup rapat diatas lumpur sawah yang telah di bajak sehingga melambangkan antara bumi dan langit sedang bercocok tanam untuk kemudian memunculkan benih dan menghasilkan panen dari hasil bercocok tanam yang dilakukan.

Setelah pertunjukan dan puisi-puisi tentang alam selesai dilakukan, acara kemudian dilanjut dengan peresmian Gubug Cowongsewu oleh Pak Wabup. Gubug ini nantinya akan difungsikan sebagai tempat belajar  anak-anak desa setempat di setiap minggu pagi bersama Pak  Titut. Gubugnya pun unik banyak kata-kata bijak yang ditulis di papan kayu yang memiliki makna sebagai pengingat dan nasehat dari para leluhur.

Sambil beristirahat ditengah teriknya matahari di Gubug yang baru saja diresmikan, Pak Wabup dan penonton pun mulai menikmati suguhan jajanan pasar seperti klepon muntul dan aneka rasa gethuk berwarna warni yang memancing lidah untuk menyantapnya bersama segelas teh hangat, makanan yang berkah dan gratis itu memang sangat nikmat.

Setelah beberapa menit ngobrol santai dan menyaksikan duet antara Abah Titut dan Pak Wabup dalam menyanyikan lagu “Cempulek Gawe Mendoan” akhirnya Pak Wabup pun mohon undur diri dan berpamitan pulang.

Saya mengikuti acara hingga selesai dengan hati yang marem. Acara dipungkasi sekitar pukul 12.00 WIB. Kami semua pun merasa senang dan terhibur dengan pertunjukan tersebut. Dalam acara tersebut banyak seniman yang dulunya belum sempat bertemu akhirnya dapat berjumpa di acara tersebut. Pak Titut pun juga berharap jika di beri kesempatan dan berkah, kedepannya akan membuat lagi karya-karya yang di lahirkan di Gubug Cowongsewu tersebut.

Roller Coaster Kesusahan-Kegembiraan

Setiap orang adalah narasumber. Sebab pengalaman berproses yang dialami seseorang adalah ayat-ayat Tuhan yang tidak berharokat yang mestinya tidak satupun dilewatkan dari proses mengambil pelajaran. Masih memakai zoom untuk virtual forum, pada selasaan kali ini (28/04/2020) penggiat yang kebagian menjadi narasumber adalah Azis dan Fikry.

Work from home dimanfaatkan oleh Azis untuk mempraktekkan ilmu yang dia peroleh dari Sekolah Alam Cilacap tempat kedua anaknya menimba ilmu. Ilmu yang dimaksud yakni menyemai benih sayuran dengan media gedebog pisang (kulit pohon pisang).

Bagi si anak, kegiatan pembelaran ini berguna untuk memenuhi tugas belajar dari sekolah. Bagi si orang tua, kegiatan belajar ini adalah saluran kegiatan positif untuk eh siapa tahu angan-angannya terwujud. “Ada loh, orang yang hidup dari tanaman sawi. Kebunnya tidak luas, tetapi tiap hari panen, tiap hari ia jual sendiri ke pasar. Tanpa perantara”, ujarnya. Aih, siapa tidak kepincut menjadikan itu angan-angan coba, tiap hari panen, tiap hari menjual dan tiap hari mendapatkan uang.

Kegiatan bisnis tetap berjalan. Tambak udang vanamei yang ia geluti sedang terdampak lesu. Terpaksa ia harus merumahkan dua orang karyawannya. Kegelisahan tak berbeda jauh diungkapkan sang narasumber kedua, Fikry. Bagaimana ia mengusahakan dengan maksimal agar karyawannya di Studio Foto tidak sampai dirumahkan.

Ia pun memakai skala prioritas, yang paling harus dipertahankan adalah karyawan yang mempunyai tanggungan keluarga. Di tengah dampak sepi usaha, ia masih bersikukuh memegang value, “Mosok setiap kali mendapat omzet gedhe, Saya yang paling gedhe menikmati. Ini keadaan sedang begini, mosok Saya cari aman sendiri. Juragan capa apa?”, ungkapnya.

Fikry juga sharing tentang pengalamannya bergaul dengan big bos-big bos bisnis telekomunikasi. Terkait recovery keadaan hari ini, ia berpendapat bahwa bisnis-bisnis besar ketika sudah membaik akan memberi dampak yang lebih signifikan. Misalnya ada 6-7 perusahan telekomunikasi dengan perputaran 7-10 M perbulan membaik keadaannya, dampaknya baru akan sebanding kalau itu pedagang rumahan, butuh ribuan jumlah usaha. Oleh karena itu, peran pemerintah membuat aturan-aturan yang mendukung geliat bagi perusahaan nantinya sangat berpengaruh.

Dari realitas usaha, proyeksi keadaan, kemudian bergeser ke realitas berkomunitas. Ia mengaku kemampuan berbagi untuk sesama sudah sangat terbatas. Tapi ia komit, bentuk bantu teman yang ia lakukan adalah kalau ada teman yang jualan di whatsapp misalnya, ia upayakan untuk ikut nglarisi.

Hari ini ‘semua’ orang jualan di akun masing-masing. Entah meningkat berapa kali lipat. Sedangkan jumlah orang yang mampu beli menurun. Sebab masing-masing tentu saja memperketat skala prioritas belanjanya.

Penggiat lain merespons, Anggi, ia bercerita tentang ibunya, “Ibuku tuh orangnya nggak enakan sama orang. Jadi kalau ada yang jualan ya selalu dibeli”. Jadi terbaca, segmentasi penjual dadakan di era pandemi setidaknya ada dua: 1) orang yang ingin bantu teman, 2) orang yang nggak enakan. Mungkin masih bisa dianalisis lagi berapa lapis segmen lain yang belum terdeteksi.

Kemudian, Rizky merespons. Di balik kabar sedih-sedih di atas. Ada kabar gembira yang bisa kita kulik dari era Pandemi ini. Setidaknya ada dua: 1) Orang sekarang berbondong-bondong untuk hidup bersahaja. Jadi, kita yang sudah terbiasa hidup alakadarnya selama ini, gagap gaya hidup, minim ornamen dan fakir piknik, sekarang jadi banyak temannya. Enggak perlu minder lagi. Lalu, 2) Nilai uang meningkat berkali lipat. Sama-sama 100ribu, hari ini lebih terasa berharga dibanding beberapa bulan lalu. Jadi, coba buka lagi peluang-peluang usaha masa lalu yang malas mengambil karena cuan sedikit. Jangan-jangan margin yang remah-remah hari ini begitu berharga.

Pembahasan yang mestinya membikin kepyar malahan menjadi agak sepaneng. Sebab memang begitu dinamisnya realitas yang mesti dihadapi bagi beberapa orang saat ini betul-betul nyata adanya. Namun ada kenyataan yang dienyam secara berbeda pula. Febri dan Anjar misalnya, mereka masih melihat disekelilingnya, masyarakat masih nampak biasa saja. Tetap bepergian, tetap meramaikan pasar. Apa yang tidak normal dari keadaan ini? Itu mungkin yang terpikir dibenak mereka.

Yah, begitulah orang Indonesia, yang oleh Mbah Nun disebut ndemenake alias nyenengin. Sudah DNA-nya orang kita untuk membawa diri dengan baik-baik saja. Sebut saja pengalaman sehari-hari masing-masing kita pasti pernah mengalami, ada orang bertamu ke rumah kita, lalu kita menawarinya makan, jawabannya pasti menolak dengan keras, “Ah, sudah terima kasih. Masih kenyang. Baru saja makan”. Mana tahu orang itu tadi belum sarapan atau tadi malam berangkat tidur dengan lupa makan? Nyenengke tenan.

Lebih nyenengke lagi apa yang diceritakan oleh Huda. Atensi dia justru tersedot oleh pemandangan disekeliling rumah yang kebetulan lingkungan alim-alim. Orang terbelah antara aliran ibadah di masjid, dan ibadah di rumah. Gimana nggak nyenengke, di tengah roller coaster ekonomi, kondisi tidak stabil yang sering berubah mendadak, masih saja ada orang-orang yang dengan selow meributkan agama pada sisi-sisi yang rentan eksistensialisme.

Lepas dari semua itu, ini kondisi mungkin masih berubah dengan serba cepat. Tak perlu pusing kita mandeg memikirkian suatu hal. Cepat membaca keadaan. Cepat mengambil sikap. Itu lebih memberdayakan. (Rizky D. Rahmawan) 

Melangkahlah, Maka Engkau Menginspirasi

Nampak rapih berjejer, sepeda motor berpuluh-puluh jumlahnya di pelataran Pendopo Cahyana di Kompleks Rumah Jabatan Wakil Bupati Purbalingga. Beberapa petugas berseragam membantu menata dengan sabar dan riang hati membuat tertibnya urusan perpakiran. Semata-mata ia melaksanakan apa kata pepatah, “Adil semenjak dari parkiran”.

Pada Sabtu, 7 September 2019 lalu, pada siang menjelang sore hari, sekitar 200 orang pemuda dari Karang Taruna Kabupaten Purbalingga dari berbagai level kepengurusan desa, kecamatan dan kabupaten mereka semua berkumpul. Dengan antusias mereka menghadiri kegiatan Purbalingga Youth Discussion yang kali itu mengangkat tema “Maximazing Creativity in Creative Economy Era”.

Foto: Budi Santoso

Ada dua pembicara tampil di depan. Yang pertama Mas Bambang Irawan, Ketua DPRD Kabupaten Purbalingga yang sekaligus juga menjabat sebagai Ketua Umum Karang Taruna Kabupaten Purbalingga. Pembicara berikutnya adalah Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh atau kerap disapa pula Noe Letto. Mas Sabrang diundang di Purbalingga selaku tokoh pemuda multi kreasi. Mas Sabrang menjadi magnet tersendiri pada sore itu. Tentu yang pertama karena beliau adalah artis nasional. Kemudian lagi para peserta belum banyak yang tahu kiprahnya di dunia kreatif. Dari musik, film dan aplikasi digital yang sudah dilahirkan dari gagasan Mas Sabrang.

Mas BI demikian sapaan akrab Mas Bambang Irawan, dipersilahkan oleh Mas Imam selaku moderator untuk mengawali paparan siang hari itu. Dengan apik Mas BI memaparkan bahwa Pemerintah Kabupaten Purbalingga sudah menggandeng industri kreatif yang ada dengan berbagai macam pembinaan dan kegiatan di dalamnya. Ketika salah seorang mengusulkan beberapa pelatihan untuk pemuda di Purbalingga, Mas BI dengan sigap mempersilakan mereka untuk mengajukan apa saja yang mereka butuhkan. Selama disusun dengan baik, terhitung dan bertanggungjawab. Forum siang hari itu menjadi sebuah link and match forum yang tepat antara rakyat dengan pemangku kebijakan.

Foto: Budi Santoso

Kemudian tiba giliran Mas Sabrang, Ia mengawali dengan mendasari arti tentang apa itu ekonomi kreatif. Dari situ berkembang hingga industri kreatif, pariwisata yang kreatif dan strategi dasar bisnis. Beberapa peserta menanyakan terkait motivasi, bagaimana memulai usaha, hingga bagaimana mengubah mindset teman-teman di sekitarnya.

“Siapa bilang ada yang mewajibkan Anda untuk mengubah mindset. Tidak. Sebab Anda bukan nabi. Kemampuan Anda adalah menjadi contoh atau teladan, sehingga kemudian menginspirasi orang dan membuktikan diri bahwa Anda bisa. Dari situlah mereka akan mengikuti langkah-langkah Anda.”, ujar Mas Sabrang. Kalimat ini menyentuh hati para pemuda yang selalu punya hasrat untuk mengubah cara berfikir orang lain, tapi lupa bahwa yang sejatinya wajib diubah adalah dirinya sendiri.

Sore bertambah gayeng, ketika Mas Sabrang menyanyikan dua lagu dari Letto, yaitu Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya. Smartphone berjejer mengabadikan moment tersebut. Layaknya koor paduan suara, hampir semua turut menyanyikan lagu yang pernah hits di beberapa tahun silam.

Foto: Budi Santoso

“Semoga anda menjadi generasi pembaharu Indonesia yang memulai memperbaiki Indonesia sekarang.”, akhir kata dari Mas Sabrang memungkasi kegiatan sore itu.

Menjelang pukul 17.00 acara kemudian dipungkasi. Peserta kemudian pulang membawa perolehan yang berbeda-beda. Wajah cerah sumringah tampak dari mereka yang hadir. Apalagi bagi mereka yang sempat berswafoto bersama Mas BI dan Mas Sabrang. Kegiatan ini mudah-mudahan bisa menjadi alat asah bagi cara berfikir yang lebih lantip dan makin akurat atas tidak tertebaknya perubahan-perubahan apa yang ada di masa depan kelak. (Hilmy Nugraha)

Santiaji Pancasila

Kayaknya, sih, acuan moral mengenai pola hidup bersih sudah tertanam sejak kala usia sekolah dasar. Seingat Saya, nasehat mulia “Kebersihan adalah sebagian dari Iman” malah pernah terpacak pada lembar halaman tepi bawah buku tulis. Nyatanya, menginjak dewasa menuju tua, secara periodik Saya selalu saja khilaf menempatkan puntung rokok tidak pada tempat semestinya. Mohon maaf atas blunder yang saya lakukan ini.

Menyimak lalu lintas percakapan media sosial, terutama obrolan yang mengangkat tema-tema sensitif, saya tak ubahnya seperti nonton atraksi Limbad. Meresahkan, ngeri dan detak ritmik jantung berdentum kencang bersaing dengan notifikasi “beep” Wa Group Alumni SMP dan SMA. Hal itu saya alami manakala nemu penyebutan pekok! Koplak! bego dipeliara! anjing loe! dan ungkapan emosional yang se-famili lainnya.

Sebenarnya mereka paham kok, kalau itu perbuatan yang kurang menyenangkan. Sebagai mantan Buzzer Poros Kecepret–sintesa Kecebong dan Kampret, saya juga pernah fasih melantunkan “hate speech” semacam itu. Hingga kemudian saya berkenalan dengan Maiyah.

Dari fenomena masalah sosial di atas, terbentang dua variabel berjarak yang menimbulkan celah alam kesadaran, yaitu fakta atau keadaan (matter) dan makna (value) sebagai variabel tetap, sedangkan kesadaran (mind) merupakan variabel yang bebas.

Sabrang Mowo Damar Panuluh dalam khotbahnya pada Seminar dan Dialog Interaktif bertema Generasi Milenial Mengenal Pancasila yang dihelat DEMA IAIN PURWOKERTO pada Senin, 14 Januari 2019 kemarin mendeskripsikan dengan istilah pulau dan selat. Jelasnya, tong sampah adalah pulau fakta. Lalu  “Kebersihan sebagian dari Iman” serupa pulau makna. Selat yang tercipta dari pulau imajiner tersebut tentu tidak terisi air laut, tapi oleh kesadaran individu manusia.

Bagaimana kesadaran individu terbentuk? lanjut Mas Sabrang, banyak sebab yang melatarbelakanginya. Pengalaman inderawi, basis dan setting sosial sangat mempengaruhi kesadaran individu manusia sebagai produk sosial masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya kita jangan sampai terlalu gegabah untuk mem-vonis orang lain sebagai, katakanlah, “Tidak Pancasilais!” dengan tanpa terlebih dulu melacak riwayat historis-sosiologisnya.

Sesuatu yang jauh hari sebelumnya telah diingatkan Carl Gustav Jung, murid Sigmund Freud, “Thinking is difficult, that’s why most people judge“.

Kasus faktual dari Totman, nama samaran, ABG tua berambut gondrong yang nekad mbethot gas Vespa butut kesayangannya saat lampu merah menyala usai menyaksikan kekalahan Timnas adalah contoh kesadaran yang tak perlu kita “copy paste”.

Karyanto, nama samaran juga, suatu malam kehujanan, sendirian dan Pos Polisi kosong. Akan tetapi, Dia istiqomah memilih berhenti mengikuti petunjuk tulisan “Belok kiri ikuti lampu” sembari berdendang lirih beberapa bait lagu “Sandaran Hati” milik Band Letto. Usut punya usut, Karyanto baru saja “jadian” dengan wanita sholehah. Bentuk kesadaran jenis ini masih perlu untuk diseminarkan lagi.

Memasuki puncak seminar pada perjumpaan agung di Aula GSC Kampus IAIN kemarin, Saya malah sibuk dengan pikiran saya sendiri, berusaha mencari kepastian jawaban atas wacana yang dibangun Mas Sabrang sampai ketika tiba-tiba terbersit dalam ingatan quote dari Mbah Guru Emha Ainun Najib yang saya temukan via Instagram : “Bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu tidak terutama tergantung pada keadaan-keadaan yang baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu”.

Semoga orang-orang seperti Totman dan Karyanto di atas bisa menghayati quote ini secara arif.

Melangkah sesi diskusi, seorang audiens mengajukan pertanyaan yang seolah biasa saja tetapi memantik jawaban yang mengusik mindset kita selama ini : “Sebagai mahasiswa, kontribusi nyata seperti apa yang bisa dilakukan dalam hubungannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Sabrang hanya tersenyum. Menurut Beliau, selama ini dalam memandang dan memahami Pancasila Kita terlalu terpukau dengan teori politik kenegaraan yang canggih dan dipusingkan dengan nilai-nilai filosofi yang njlimet. Padahal, lanjutnya, hakekat Pancasila secara sederhana adalah bagaimana mengubah sesuatu yang kacau (chaos) menjadi lebih teratur (order).

Tak harus melulu tentang action setinggi bintang di langit malam. Cukup dengan merapikan kain sprei dan bantal usai bangun tidur, itu sudah Pancasila banget. Contoh kecil dari Mas Sabrang ini lantas disambut gelak tawa peserta seminar.

Pancasila sebagai hasil ijtihad politik Para Bapak Bangsa pendiri Republik berfungsi sebagai fundamen bernegara  atau united value dalam istilah Mas Sabrang. Sekaligus hal itu menjadi payung besar yang menaungi realitas kemajemukan Bumi Nusantara yang sudah sepatutnya kita tegakan bersama dengan penuh kesadaran “holopis kuntul baris”.

Kapolda Jateng yang pada kesempatan acara kemarin diwakilkan oleh Wakapolres Banyumas Kompol Heru Budiharto, S.I.K., M.I.K. yang juga turut serta menjadi narasumber menceritakan tentang pengalamannya ketika studi banding ke Jepang untuk mempelajari sistem pendidikan bagi Kepolisian.

Namun ternyata sistem yang dicangkok dari model pendidikan kepolisian Jepang gagal diterapkan di Indonesia. Menurutnya, hal itu lantaran bangsa Jepang dalam hal apapun lebih homogen, berbeda jauh dengan karakteristik bangsa Indonesia yang sangat heterogen dalam bentangan Sabang sampai Merauke, dari Rote hingga Miangas.

Dari “curhat” Pak Wakapolres itu, menjadi penting untuk kita garis bawahi bahwa dalam perumusan kebijakan publik hingga ijtihad politik seyogyanya tidak pernah lupa dengan sejarah dan akar sosiologis masyarakat kita yang begitu beragam.

Tak ketinggalan, atmosfir hangat dialog interaktif hari itu tak bisa lepas dari keceriaan Mas Bro Zulfikar Abdullah Iman Haqiqi alias Omen selaku moderator yang doyan ceplas-ceplos melempar jokes segar. Lewat leluconnya, Ia dengan sangat sukses berulang kali merapikan kerutan kening audiens, efek samping dosis materi obrolan yang memang rada berat.

Kiranya, patut kita apresiasi dengan memberikan “Like” beribu jempol untuk DEMA IAIN PURWOKERTO yang dengan begitu tega menyelenggarakan forum edukasi publik pada momen libur kuliah. Situasi yang semasa saya dulu menjadi mahasiswa lebih memilih untuk mudik ke kampung halaman.

Akhirnya, catatan dhuafa ini saya pungkasi dengan mengutip pernyataan dari Wakil Rektor III IAIN PURWOKERTO, Dr. H. Supriyanto, Lc., M.S.I. saat menyampaikan sekelumit pembukaan seminar, bahwa “Dulu dan sekarang, sebenarnya masalahnya hampir sama. Tak jauh dari urusan itu-itu saja. Yang beda hanya pemahaman dan sudut pandang yang dipakai.” []Febri/RedJS