Pak Titut Menghidupkan Lagi Wayang Cumplung

Minggu 7 Mei 2023, Abah Titut bersama sejumlah seniman kenamaan Banyumas, mengadakan acara Panen Waluh (Labu). Tanaman yang ia tanam di kebun yang letaknya di belakang Balai Desa Pangebatan ini sudah saatnya untuk dipanen. Acara panen sengaja dibuat meriah, dihadiri oleh Warga masyarakat sekitar, Sanak saudara, Petani, Pak Kades, serta Pak Wabup Banyumas, Pak Sadewo.

Konsep dari acara tersebut adalah menyampaikan kegembiraan dan edukasi semangat bertani kepada masyarakat dan anak cucu sebagai bentuk ketahanan pangan. Waluh waluh yang dipanen nantinya akan langsung dijual kepasar dan sebagian akan dikeringkan, yang nantinya akan dijadikan bahan baku untuk pertunjukan seni melukis waluh di rangkaian acara berikutnya.

Unik idenya Abah Titut memang, peristiwa panen sekaligus digunakan untuk menghidupkan lagi sebuah kesenian lokal yakni Wayang Cumplung. Sekilas tentang wayang ini adalah jenis wayang yang bahan utamanya terbuat buah kelapa yang sudah tua hampir kering, kemudian dikupas, dilubangi dan diambil saripatinya, kemudian dikemas dan dirangkai seperti boneka, boneka ini disebut boneka cumplung.

Batok kelapa kosong jika sudah diberi pegangan seperti wayang dan di mainkan menjadi pertunjukan, namanya menjadi wayang cumplung yang memiliki makna orang yang tidak memiliki pikiran sehat secara moral sehingga perilakunya tidak mencerminkan nilai nilai kebijaksanaan, bahasa jawanya ora ndue utek/uteke-utek cumplung (buah kelapa tua yang isinya kosong).

Wayang cumplung sudah tidak familiar di masyarakat. Kali ini dibawakan lagi dengan format yang berbeda. Yakni yang dimainkan kali ini bukan batok kelapa kosong, melainkan wayang cumplung versi wayang orang. Abah Titut sengaja mengganti peran boneka cumplung menjadi manusia beneran yang menjadi wayang pada pementasan tersebut. Ini merupakan penampilan wayang cumplung versi wayang orang yang pertama kali ada di dunia. Bukan Abah Titut namanya kalau tidak memberikan “daya ganggu”.

Setelah pertunjukan selesai, acara dilanjut dengan tembang dan joged joged kegembiraan, minum teh serta praktek edukasi cara mbedul boled (memanen singkong). Bergulir acara medang dan ngobrol – ngobrol santai, para hadirin pun dipersilakan melihat-lihat kebun dan diperbolehkan membawa isi kebun seperti waluh, boled, bibit boled, jeruk, pare dan jambu kristal secukupnya yang ada di kebun secara gratis sebagai oleh oleh.

Indahnya berbagi dan indahnya bertani sebagai bentuk kemakmuran. Abah Titut berharap dengan adanya kegiatan hari itu, generasi muda yang hadir dapat memiliki semangat untuk mencintai pertanian. Generasi muda diberi pengalaman langsung, bahwa sebetulnya dengan bertani yang benar hidup terasa makmur dan lebih leluasa untuk berbagi.

Acara hari itu sekaligus juga sebagai seremoni peresmian dimana lahan tersebut akan dijadikan obyek riset disertasi oleh adik dari Ibu Titut. Pak Wabup Sadewo mengaku senang ikut hadir dan merasa bangga atas kiprah dan kebermanfaatan dari apa yang dikerjakan oleh abah Titut.

Info Kegiatan: WELAS ASIH ING BUWONO

Ada banyak jalan untuk bisa bersilaturahmi, salah satunya melalui musik. Untuk itulah para pecinta musik yang tergabung dalam komunitas Banyumas Rock Community berupaya memberi wujud syukur bersama atas anugerah bermusik dalam bentuk pagelaran drama musikal dengan tema Welas Asih ing Buwono. Dengan berbagai perbedaan kultur, disiplin seni, musikalitas yang dianut para talenta yang tergabung pagelaran ini, diharapkan bisa menjadi salah satu ruang ekpresi tentang bagaimana pentingnya menemukan titik-titik keindahan dalam perbedaan.

Pegiat Medsos Purwokerto dan Purbalingga dalam Gathering yang Nge-Blend Banget

Selasa, 28 Juni 2022 kemarin, Waroeng Juguran menginisiasi Gathering Pegiat Medsos di wilayah  Banyumas, Purbalingga dan sekitarnya. Sebagai kolaborator dari event ini terlibat juga teman-teman dari KJS Organizer. Forum berlangsung dalam suasana gayeng dan nge-blend banget, figure-figur dunia digital para admin medsos dan influencer ajur-ajer, dalam vibe kolaborasi yang begitu terasa. Sebagai bagian dari KJS Organizer saya sangat bersemangat untuk hadir lebih awal, nawaitu menambah relasi pertemanan.

Peserta yang hadir sekitar 40 orang dari berbagai wilayah terdekat, dan acara dimulai pukul 13.00 hingga senja hari. Acara dipuncaki dengan santap makan bersama sembari ngobrol santai, hingga yang tak boleh terlewatkan adalah sesi foto bersama.

Mas Irfan Bahtiar kerap disapa Irfan Bawor atau dikenal juga dengan sapaan Mas IB bertindak sebagai Narasumber. Sedangkan Mas Kukuh Prasetyo sebagai Moderator.

Beberapa hal menarik yang saya tangkap dari Tema “Membangun Personal Branding di Era Society 5.0” yang disampaikan oleh Mas IB adalah bahwa manfaatkanlah medsos sebijak mungkin dan se-cuan mungkin. Kenapa harus cuan? Karena cuan akan memberi kita semangat dan energi yang lebih, punya greget, sehingga kita tidak bermalas malasan dalam membuat konten, dan Mas IB pun berpesan agar tidak bingung hari ini mau buat konten apa, maka milikilah tabungan konten, punya 30 tabungan cukup untuk mengatasi kebingungan ide konten, begitu ungkap beliau.

Lalu point kedua adalah tentang Bagaimana caranya menghasilkan cuan dari media sosial? Caranya adalah melalui  “Branding, Marketing, dan Selling”. Branding agar kita atau produk kita diingat oleh orang lain. Marketing agar spesifikasi kita di kenal oleh orang lain, dan Selling agar orang lain belinya ke kita aja.

Dalam membangun akun Instagram, pisahkan antara akun pribadi dan akun bisnis. Akun pribadi untuk personal branding mengenai aktifitas kita sehari dan akun bisnis untuk endorsment, penyedia layanan/jasa, atau produk yang kita tawarkan ke publik. Portofolio kedua jenis akun tersebut akan saling membantu dalam membentuk branding yang kuat di mata masyarakat.

“Di Facebook, Instagram, Tiktok atau medsos lainnya orang berkerumun disana banyak sekali. Mereka berkerumun dan gratis. Lalu apa alasan kita tidak ikut nimbrung? Ada apa malah memilih menyingkir”, Mas IB memotivasi tentang betapa besar potensi utilitarian dari kerumunan digital bernama Medsos.

Setelah mendapat pencerahan, inspirasi dan vibes dari Mas IB cara pandang saya terhadap medsos jadi lebih seimbang. Kemarin itu saya hampir anti-medsos tertentu gara-gara gagal menemukan manfaat. Terlebih saya sangat antusias mencermati documenter “Social Dilema” yang benar-benar menelanjangi sisi kontraproduktif bermedsos. Sekarang saya seperti menemukan titik koordinat yang lebih netral. Dan memang sangat masuk akal sih. Bahwa untuk memanfaatkan media sosial se efektif mungkin dengan dosis yang tepat dan kalau bisa harus cuan dalam bentuk materi ataupun bentuk yang lainnya. Seperti itu, Terimakasih Kang Bawor, Terimakasih Sedulur Pegiat Medsos, Terimakasih Waroeng Juguran.

Menjaga Tetap di Garis Uptrend

Refleksi Akhir Tahun Pengurus KJS di CAUB Baturraden

Di penghujung tahun lalu kami berkumpul di sini, kali ini kami berkumpul lagi di Camp Area Umbul Bengkok di Kawasan desa wisata Karang Salam, Baturraden. 

Sedikitnya ada dua hal yang dibahas tahun lalu, yang satu sudah terwujud dan yang satu tidak. Membangun infrastruktur dasar datakrasi desa adalah yang terwujud, dan membuat podcast adalah yang tidak terwujud. 

Podcast dalam artian tontonan orang omong-omong memanglah tidak terealisasi di tahun 2021 ini. Akan tetapi, kami satu sama lain saling omong-omong berinteraksi dan mengelaborasi tidak pernah itu ada liburnya setahun ini. 

Salah satu buah penerapan dari omong-omong itu adalah terbentuknya sebuah wadah usaha mandiri berbentuk koperasi yang hari ini dikenal dengan nama KJS. Koperasi Kanca Jumbuh Sedaya (KJS) diinisiasi dan dirintis oleh teman-teman penggiat dan jamaah aktif Juguran Syafaat. 

Mengusung misi kemandirian, koperasi ini dalam setahun sudah menyelesaikan proses legalisasi badan usaha. Bukan sebagai koperasi simpan pinjam, melainkan koperasi Jasa Telekomunikasi. 

***

Apa yang bagi kita adalah progress, bagi orang lain bisa jadi merupakan masalah. Itulah mengapa kerja-kerja keperintisan mestilah bersifat sukarela. Karena menciptakan sesuatu yang baru selalu mendatangkan berbagai sudut pandang yang multi. 

Positif, netral dan negatif. Tiga spektrum itu menjadi bahan refleksi akhir tahun pengurus KJS petang hari kemarin. Momen menjelang peralihan tahun selalu menjadi hal yang penting untuk kita murojaah, membaca kembali dan mencermati lagi apa-apa yang sudah berjalan pada sekali putaran revolusi bumi yang sudah berjalan kemarin. 

Setidak-tidaknya kita tidak bisa mencanangkan hal yang besar di tahun mendatang, tetapi paling tidak kita memastikan proses yang sedang berjalan ini masih pada garis uptrend. Bukan sebaliknya, downtrend. 

Refleksi akhir tahun kali ini dilaksanakan di saung Sinergi, di Kawasan Camp Area Umbul Bengkok atau popular dengan nama Caub. Berada di dataran tinggi Baturraden, bisa memandang view kota Purwokerto dengan kerlap kerlip lampu kotanya membuat obrolan tidak sepaneng. 

Titik berapt program pada tahun pertama KJS adalah menggiatkan anggota untuk menabung dulu. Sembari memenuhi batas minimal modal yang bisa dioperasionalisasi untuk menjalankan bisnis internet.

Semangat menabung sebagaimana pada lazimnya koperasi difasilitasi dalam tiga bentuk simpanan, yakni Simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Simpanan pokok ibaratnya adalah biaya pendaftaran anggota, dibayarkan sekali di awal. Kemudian, simpanan wajib rutin disetorkan setiap bulan. 

Generasi zilenial mungkin lebih familiar dengan konsep ‘tabungan rencana’ dibandingkan dengan simpanan wajib. Banyak bank-bank menawari tabungan wajib bulanan, nanti setelah setahun diberikan bunga. Mekanismenya hampir sama, bedanya kalau simpanan wajib hasilnya bukan bunga, tetapi sisa hasil usaha (SHU). 

Lalu adalagi simpanan sukarela. Ini adalah jenis simpanan tambahan, yang jumlahnya tidak ditentukan dan juga bisa diambil sewaktu-waktu. Begitulah proses kapitalisasi atau pembentukan modal di KJS berlangsung dalam kurun setahun ini.

Selain proses pembentukan modal, apalagi yang sudah ditempuh dalam kurun setahun ini? Dari awalnya pra-koperasi dengan pendampingan dari penyuluh Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah, kini KJS sudah memiliki badan hukum resmi ditandai dengan sudah keluarnya NIB. Selain itu, juga sudah memiliki rekening bank atas nama Lembaga. 

Desa Karanggintung sebagaimana diamanatkan oleh Mbah Nun untuk dijadikan sebagai salah satu laboratorium sosial bagi Juguran Syafaat telah berhasil menerapkan usaha jaringan internet mandiri. Peran KJS di tahun 2022 adalah mendukung proses replikasi untuk pengembangannya. 

Karena koperasi diperbolehkan oleh regulasi untuk memiliki lebih dari satu unit bisnis, maka KJS juga memiliki unit bisnis berikutnya yakni KJS Organizer. Event perdana yang sukses digelar pada pertengahan tahun lalu yakni event pembentukan Lumbung Bumi Alas Pakedjen. 

Selain itu, di dalam kepengurusan, ada tim kecil yang saat ini tengah mempelajari penerapan peer to peer (P2P) lending. Targetnya tidak akan membuat platform investasi seperti Santara atau Tanifund, tetapi minimal bisa memanfaatkan sisa modal yang tidak terserap menjadi fasilitas bantuan modal kerja jangka pendek bagi anggota yang memiliki project atau order tertentu. 

P2P lending atau berbagai skema kolaborasi pembiayaan usaha pemula memang pengetahuan aktual yang saat ini sedang in, amat sayang kalau kita tidak ikut mempelajari dan menguasai ilmunya. 

***

Sejumlah topik menjadi diskursus petang kemarin. Lepas dari prediksi ketercapaian target-target tersebut, kerangka besar dari progress yang sedang ditempuh tidak lain adalah mewujudkan semangat kemandirian. 

Kenapa kemandirian ini penting untuk bukan hanya digagas, tetapi juga diterapkan? Karena di sini adalah lingkungan intrinsik tempat kita berada. Ini bukan persinggahan atau tempat ampiran ngopi, tetapi karena memang kita hidupnya di sini. 

Tanpa berjibaku mewujudkan semangat kemandirian. Maka kita manaruh diri pada kerangjang resiko sebagai komunitas yang bergantung pada kebaikan hati orang lain. Yang harus selalu merengek pada mereka yang lebih berpunya. Ini tidak aman secara martabat. Padahal di Maiyah, martabat adalah satu dari tiga hal paling penting untuk dijaga. 

Nampaknya memang suhu dingin dataran tinggi Baturraden sudah tidak bisa diajak kompromi juga.  Menjelang tengah malam, forum refleksi diakhiri. 

Selamat menyambut tahun baru 2022. 

Wejangan dari Mbah Nun pada Launching Desa Mandiri Internet

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Terima kasih teman-teman semua yang menginsiatifi perintisan Desa Mandiri Internet. Nanti kita akan mengupas segala kemungkinannya di acara Sinau Bareng.

Jadi yang pertama, wong urip iki ndelok opo-opo nek iso sing jangkep, nek ndelok uwoh kudu ngerti godhonge, kudu merhatekke kembange, rantinge, uwite sak oyode sak lemaeh. Lemah karo bumi kan bedo. Lemah kuwi berkait dengan bumi yang besar. Nek wis tekan bumi kuwi berarti ono wulan, ono srengege, ono  galaksi dan seterusnya.

Jadi kita befikirnya selalu berkait-kait, jangan sampai berfikir fokus itu kowe melihat sesuatu tidak melihat kiri-kanannya atau latar belakangnya.

Ketika saya didatangi temen-temen ke Jogja kemarin. Terus bilang kepada saya untuk bersama sama kita resmikan desa mandiri internet. Saya mikire langsung iki opo yo? Saya terus teringat Kanjeng Nabi: Iki sing jenenge fathonah.

Jadi fathonah itu terjadi kalau, itu kan empat ya: sidhiq, amanah, tabligh, fathonah, itu ora dhewe-dhewe. Jadi ora ono uwoh nek ora kembang ndisik, Kembange ya ora metu nek godhonge ora mendukung.

Jadi fathonah itu adalah hasil terakhir dari disiplinnya Rasulullah dengan watak atau mental sidhiq sehingga Beliau amanah secara sosial, sehingga Beliau punya kompetensi untuk tablig. Terus hasilnya pasti fathonah.

Jadi, rintisan desa mandiri internet ini pasti berasal dari sidhiq, pasti berasal dari kesunggguh sungguhan, jadi pasti ada satu kelompok masyarakat sing tenanan. Nganti pak lurahe, pak camate kabeh tenanan.

Sidhiq itu selama ini di artikan oleh para ulama sebagai jujur. Jujur itu outputnya, ibarat entut iku ambune dudu entute. Nah sidhiq itu artinya tenanan, dadi Bupati tenanan, dadi lurah tenanan, dadi pengusaha tenanan, dadi wong Islam tenanan.

Dari tenanan itu akan menghasilkan amanah. Nek kacang tenanan kacang yo kowe iso payu sebagai kacang, nek pitik tenanan pitik mengko dibeleh sebagai pitik. Jadi kita itu akan bermanfaat dan berfungsi kalau kita sungguh-sungguh menjadi yang ditugaskan kepada kita. Nek kene dadi menungso yo ojo njur ngewan, ojo njur malaikat. Nek menungso yo menungso, ora malikat, ora jin, ora sing bedo-bedo.

Menurut saya desa mandiri internet ini adalah salah satu hidayah Allah yang berupa fathonah kepada masyarakat Banyumas. Karena di seluruh dunia yo lagi ono siji iki, dadi iku nek ora fathonah yo ora mungkin, neng Amerika ora ono neng Rusia ya ora ono, neng planet ndi ndi ya ora ono. Onone ning banyumas, onone ning Desa Karanggintung.

Jadi, saya kesini ini dengan perasaan bersyukur kepada Allah, seneng ndelok Banyumas, karo bangga ndelok konco-konco sing nggawe desa mandiri internet. Saya bangga. Bangga artinya ada sesuatu yang membuat saya tidak sekedar seneng, tapi ono mongkog-e, ada plus-nya.

Jadi ini adalah fathonah. Itu berarti sejak awal Pak Luraeh, masyarakat desane, karo konco-konco sing nggawe iki mesti wong tenanan. Tenanan mesti jujur. Nek ora jujur ora tenanan berarti.

Tenanan dengan jujur menghasilkan dipercoyo uwong, amanah. Maka pesan Pak Bupati sangat bagus, tolong amanah keuangannya dijaga.

Nek njenengan nyicuk banyu memakai tangan, airnya bocor-bocor, kalau Kanjeng Nabi tidak. Makanya Beliau orang yang sangat amanah. Utuh. Itu secara fisik seperti itu, secara simbolik.

Kanjeng Nabi ngurusi opo-opo ora ono sing keteter, ora ono sing ketelingsut, ora ono sing keri. Nek Kanjeng Nabi ngendiko pokoke ning ndunyo iku ono barang sing jenenge wajib, ono sing sunah, ono sing mubah, ono sing makruh, ono sing harom. Liyane wis ora ono. Semua hal dalam kehidupan ini mencakup lima hal itu.

Misale Pak Bupati iki dia punya kualitas wajib di hatinya orang Banyumas, dadi nek bupati nganti ganti nangis mengko iku, ojo nganti wis kae wae ojo liane, kan berati beliau punya kualitas dan mutu wajib.

Nek mutunya sunnah itu yo nek iso kae, Pak Bupati kalau bisa dia lagi, nek ora iso yo piye meneh wong jenege wong urip, iku sunnah.

Nek Bupati ngisore kui, arep kae yo ben ora kae yo ben. Ono ra ono ora masalah. Nek iso ojo dadi menungso koyo ngono kuwi. Nek iso dadio wong sing ditangisi wong liyo nek njenengan ora ono. Apa pemimpin, atau anggota masyarakat kalau bisa kualitasnya kualitas wajib. Ojo nganti ora ono wong kae , kae top tenanan, nek ana kae top tenang uripku.

Nah ojo nganti dadi manusia makruh, makruh iku yo jelas toh, ojo kae Bupati mbok nggolet wong liyo sing leweih nggenah. Kalau ada pikiran seperti itu di masyarakat berarti Bupati itu makruh.

Nek diemohi tenan berarti Bupati haram. Moh aku, moh tenan nek kae bupatine, cingker bungker mati ngadeg moh, itu berarti dia mempunyai kualitas haram.

Jadi mari kita menjadi manusia yang wajib. Manusia sing dieman karo wong, manusia sing nek kelangan awake dewek do nangis. Dalam posisi apapun.

Nah, menurut saya desa mandiri internet ini kualitasnya tidak hanya sunnah, kualitsnya sudah wajib. Jadi nek ora ono desa mandiri internet, suk suk gela banget kowe iki, mulane saiki mergo wis mulai ono, wis arep diresmekke, ayo dijoogo bareng-bareng, kanti amanah kanti sidhiq.

Desa mandiri internet ini kan sebuah tema. Kabeh opo wae neng urip kuwi kan tetep ono manfaate ono mudharate. Bisa harapan, bisa ancaman. Atau unsur harapannya apa saja, unsur ancamannya apa saja, itu harus kita fahami. Maslahatnya apa saja, mudharatnya apa saja harus kita fahami semua, kalau nggak nanti kita keselimpet di tengah jalan terntyata mudharatnya tidak bis akita atasi.

Tapi intinya adalah menurut saya ini kan revolusi keempat. Bangkitnya dunia dimulai dari revolusi Prancis zamannya Renaisance abad 16-18 diteruskan di Italia dan seterusnya. Itu Namanya revolusi pengetahuan. Orang Barat menganggap itu revolusi pencerahan.

Kalau menurut saya terbalik, iku dudu pencerahan, itu merenggut manusia dari Gusti Allah. Karena sejak itulah menungsa wis ora nganggep Gusti Allah. Manusia itu menjadi pemimpin dunia dan menguasai dunia.

Jadi hubungane karo wit-witan adalah menguasai, terhadap hewan juga demikian, bukan Kerjasama sesama makhluk Tuhan.

Kalau di Maiyah kan kewan kuwi kangmasmu, wit-witan kuwi kangmasmu. Itu saudara kita bersama, kita harus bekerjasama, tidak boleh mengeksploitasi alam.

Nah, Indonesia ini sejak lahir sampai reformasi kan mengeksploitasi alam. Hutan dihabisi, dan seterusnya. Itu karena kita ikut Renaisance.  Kemudian diresmikan pada revolusi kedua yang namaya globalisasi. Kemudian revolusi IT, revolusi informasi dan komunikasi. Sekarang ini kita memasuki untuk menjelang revolusi berikutnya yaitu pembutaan informasi dan komunikasi.

Jadi, ojo lali yo, iki nandur internet iki apik untuk suatu hal tapi juga mengancam hal lainnya. Pokoknya aku njaluk maring konco-konco Juguran Syafaat yang mengawal ini untuk sinambi nyinauni opo wae kira kira hal-hal sing ojo nganti awake dhewe kecolongan. hubungannya tentu saja dengan kemasyarakatan dengan atine wong, kelakuane wong, akhlake wong, dan seterusnya.

Karena revolusi ketiga komunikasi ini kan merusak silaturrahmi. Ora iso ngomong bener sampai-sampai saya sejak awal ada medsos iku aku emoh. Jadi sampean tidak bisa menemukan twitter saya, facebook saya.

Facebook sedang ganti nama menjadi Meta. Dan itu akan lebih dahsyat. Iso lewih nyamleng, nanging iso lewih nyilakaake.

Tetapi harap kita hitung bersama-sama nanti tolong Juguran Syafaat sama Bapak-Bapak pemimpin di desa ini, termasuk ke Pak Bupati juga selalu dinamis melaporkan dan mempertimbangkan langkah-langkah berikutnya karena iki katoke ampuh ning ati-ati lho yo iki, iki ono cilakane, ono Memolo-memolone. Jadi ini adalah harapan tetapi juga ancaman. Urip yo ngono kui.

Saiki njenegan setiap kali hadir teknologi itu akan berfungsi ganda pada manusia. Mbiyen durung ono motor, ngepit 10 km ora masalah. Saiki jumatan 200 meter nganggo motor. Wis wegah mlaku, wegah ngepit.

Jadi teknologi memanjakan kita. Jaman mbiyen handphone awal-awal 90-an itu belum ada smartphon. Baru ada provider terbatas, 2G. Sekarang sudah 5G.

Jaman mbiyen ono handphone wis apik. Saiki nek koe nggawa handphone jadul utawa nganggo smartphone tapi ram nya masih 2 GB, merasa ketinggalan. Karena kita itu mentalnya sudah berubah sudah lebih manja, telpon itu memanjakan kita.

Jadi bapak ibu sekalian, intinya adalah ayo bersyukur lan seneng neng yo waspodo. Karena waspodo iku Bahasa Arabnya Taqwa. Taqwa itu bukan wedi. Nek wedi, takut kepada Allah itu khauf atau yakhsa. Jadi misalnya ulama itu cirinya menurut Allah adalah wong sing wedi marang Gusti Allah, dudu sing pinter agama.

Pintero kayangopo agama ceramahe apik tenan ning nek kelakuane ketoke ora wedi karo Gusti Alloh dudu ulama menurut Allah.

Maka saya menterjemahkan taqwa itu adalah waspodo. Waspodo uripmu, ono Allah, ono malaikat, ono iblis, waspodo terus. Nek kowe ngene, iso akibat ngono ngono, waspodo terus. 

Begitu ya bapak ibu sekalian. Saya doakan mudah-mudahan kalau ada yang tidak cukup di dalam proses desa mandiri internet ini mudah-mudahan Allah yang akan mencukupi. Karena semuanya orang ikhlas, semuanya orang sidhiq, amanah, mudah-mudahan tabligh dan mendapat fathonah.

Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’mannasiir 4x. Itu ucapan yg diajarakan oleh allah sendiri di dalam surat Ali Imran. Cukup Gusti Allah sing mengatasi segala sesuatunya. Semoga semuanya menjadi maslahat.

Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh.

Verbatim: Agus Ginanjar

LumbungBumi Alas Pakedjen

Purbalingga memang Kabupaten dengan berlimpah Sumber daya agrarisnya. Bersamaan dengan komunitas petani muda organik Harvestmind diangkat liputannya oleh media nasional, di pucuk gunung Kec. Kutasari, Kab. Purbalingga pada 31 Agustus 2021 kemarin dibentuk entitas lainnya lagi yakni LumbungBumi Alas Pakedjen. 

Semangat organik didorong oleh kebutuhan untuk meninggalkan ketergantungan pada bahan-bahan kimia buatan tanpa harus mengorbankan produktivitas. Semangat organik juga dilandasi oleh pemahaman bahwasannya hasil terbaik bisa dihasilkan ketika kita bisa memuliakan tanaman dan media tanamnya, yakni tanah beserta mikroba dan unsur hara yang terkadung di dalamnya. 

Pembentukan LumbungBumi diacarai dengan workshop yang dipandu oleh Kang Ahmad Syawaludin dari Bengkel Bumi Mandiri, Bogor. Kang Syawal adalah pendamping model pertanian sehat di lebih dari 800 titik dampingan di seluruh Indonesia. 

Workshop ini diinisiasi Bersama oleh Bengkel Bumi Mandiri, Koperasi KJS dan Griya Petualang Indonesia. Peserta sebanyak 30 orang dari Penggiat Juguran Syafaat, Anggota Kelompok Tani Alas Pakedjen dan Penggiat pertanian dari luar daerah juga ikut hadir. 

Petani jagung, kentang, pisang, nanas, dan berbagai jenis komoditas pertanian lainnya berdiskusi dan bersama-sama membuat formula ‘jamu bumi’ yang berkhasiat untuk meningkatkan hasil panen tanpa membutuhkan bahan kimia buatan. Bahan-bahan pembuat formulasi tersebut dibawa dengan bergotong royong oleh sejumlah peserta, diantara bahan-bahannya yakni buah labu dan buah maja. Karena tidak di semua daerah ada, beberapa peserta sepulang acara membawa biji untuk bisa ndeder di rumah. 

Harapan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah petani yang hadir yang separohnya masih berusia muda ini dapat saling bertukar pengalaman sesama peserta, sekaligus ke depannya akan mendapatkan pendampingan berkelanjutan dari tim Bengkel Bumi Mandiri. 

Tahap terdekat setelah ini adalah menentukan varietas prioritas dari sejumlah potensi sumber daya yang selama ini sudah digarap oleh masing-masing peserta. Varietas prioritas tersebut harapannya dapat dikembangkan secara bersama-sama sehingga meningkat skalanya. 

Sesi terakhir dari workshop yang di gelar di aula dan di halaman Griya Petualang Indonesia ini diisi dengan briefing rencana tidak lanjut dan tanya jawab santai. Formula yang sudah dibuat pada sesi sebelumnya akan siap dipanen setelah 21 hari dan akan dibagikan kepada masing-masing peserta yang hadir. Nantinya masing-masing akan bereksperimen mengaplikasikannya di ladang, niteni dengan teliti dampak peningkatan yang terjadi. (Redaksi Juguran Syafaat)