Roller Coaster Kesusahan-Kegembiraan

Setiap orang adalah narasumber. Sebab pengalaman berproses yang dialami seseorang adalah ayat-ayat Tuhan yang tidak berharokat yang mestinya tidak satupun dilewatkan dari proses mengambil pelajaran. Masih memakai zoom untuk virtual forum, pada selasaan kali ini (28/04/2020) penggiat yang kebagian menjadi narasumber adalah Azis dan Fikry.

Work from home dimanfaatkan oleh Azis untuk mempraktekkan ilmu yang dia peroleh dari Sekolah Alam Cilacap tempat kedua anaknya menimba ilmu. Ilmu yang dimaksud yakni menyemai benih sayuran dengan media gedebog pisang (kulit pohon pisang).

Bagi si anak, kegiatan pembelaran ini berguna untuk memenuhi tugas belajar dari sekolah. Bagi si orang tua, kegiatan belajar ini adalah saluran kegiatan positif untuk eh siapa tahu angan-angannya terwujud. “Ada loh, orang yang hidup dari tanaman sawi. Kebunnya tidak luas, tetapi tiap hari panen, tiap hari ia jual sendiri ke pasar. Tanpa perantara”, ujarnya. Aih, siapa tidak kepincut menjadikan itu angan-angan coba, tiap hari panen, tiap hari menjual dan tiap hari mendapatkan uang.

Kegiatan bisnis tetap berjalan. Tambak udang vanamei yang ia geluti sedang terdampak lesu. Terpaksa ia harus merumahkan dua orang karyawannya. Kegelisahan tak berbeda jauh diungkapkan sang narasumber kedua, Fikry. Bagaimana ia mengusahakan dengan maksimal agar karyawannya di Studio Foto tidak sampai dirumahkan.

Ia pun memakai skala prioritas, yang paling harus dipertahankan adalah karyawan yang mempunyai tanggungan keluarga. Di tengah dampak sepi usaha, ia masih bersikukuh memegang value, “Mosok setiap kali mendapat omzet gedhe, Saya yang paling gedhe menikmati. Ini keadaan sedang begini, mosok Saya cari aman sendiri. Juragan capa apa?”, ungkapnya.

Fikry juga sharing tentang pengalamannya bergaul dengan big bos-big bos bisnis telekomunikasi. Terkait recovery keadaan hari ini, ia berpendapat bahwa bisnis-bisnis besar ketika sudah membaik akan memberi dampak yang lebih signifikan. Misalnya ada 6-7 perusahan telekomunikasi dengan perputaran 7-10 M perbulan membaik keadaannya, dampaknya baru akan sebanding kalau itu pedagang rumahan, butuh ribuan jumlah usaha. Oleh karena itu, peran pemerintah membuat aturan-aturan yang mendukung geliat bagi perusahaan nantinya sangat berpengaruh.

Dari realitas usaha, proyeksi keadaan, kemudian bergeser ke realitas berkomunitas. Ia mengaku kemampuan berbagi untuk sesama sudah sangat terbatas. Tapi ia komit, bentuk bantu teman yang ia lakukan adalah kalau ada teman yang jualan di whatsapp misalnya, ia upayakan untuk ikut nglarisi.

Hari ini ‘semua’ orang jualan di akun masing-masing. Entah meningkat berapa kali lipat. Sedangkan jumlah orang yang mampu beli menurun. Sebab masing-masing tentu saja memperketat skala prioritas belanjanya.

Penggiat lain merespons, Anggi, ia bercerita tentang ibunya, “Ibuku tuh orangnya nggak enakan sama orang. Jadi kalau ada yang jualan ya selalu dibeli”. Jadi terbaca, segmentasi penjual dadakan di era pandemi setidaknya ada dua: 1) orang yang ingin bantu teman, 2) orang yang nggak enakan. Mungkin masih bisa dianalisis lagi berapa lapis segmen lain yang belum terdeteksi.

Kemudian, Rizky merespons. Di balik kabar sedih-sedih di atas. Ada kabar gembira yang bisa kita kulik dari era Pandemi ini. Setidaknya ada dua: 1) Orang sekarang berbondong-bondong untuk hidup bersahaja. Jadi, kita yang sudah terbiasa hidup alakadarnya selama ini, gagap gaya hidup, minim ornamen dan fakir piknik, sekarang jadi banyak temannya. Enggak perlu minder lagi. Lalu, 2) Nilai uang meningkat berkali lipat. Sama-sama 100ribu, hari ini lebih terasa berharga dibanding beberapa bulan lalu. Jadi, coba buka lagi peluang-peluang usaha masa lalu yang malas mengambil karena cuan sedikit. Jangan-jangan margin yang remah-remah hari ini begitu berharga.

Pembahasan yang mestinya membikin kepyar malahan menjadi agak sepaneng. Sebab memang begitu dinamisnya realitas yang mesti dihadapi bagi beberapa orang saat ini betul-betul nyata adanya. Namun ada kenyataan yang dienyam secara berbeda pula. Febri dan Anjar misalnya, mereka masih melihat disekelilingnya, masyarakat masih nampak biasa saja. Tetap bepergian, tetap meramaikan pasar. Apa yang tidak normal dari keadaan ini? Itu mungkin yang terpikir dibenak mereka.

Yah, begitulah orang Indonesia, yang oleh Mbah Nun disebut ndemenake alias nyenengin. Sudah DNA-nya orang kita untuk membawa diri dengan baik-baik saja. Sebut saja pengalaman sehari-hari masing-masing kita pasti pernah mengalami, ada orang bertamu ke rumah kita, lalu kita menawarinya makan, jawabannya pasti menolak dengan keras, “Ah, sudah terima kasih. Masih kenyang. Baru saja makan”. Mana tahu orang itu tadi belum sarapan atau tadi malam berangkat tidur dengan lupa makan? Nyenengke tenan.

Lebih nyenengke lagi apa yang diceritakan oleh Huda. Atensi dia justru tersedot oleh pemandangan disekeliling rumah yang kebetulan lingkungan alim-alim. Orang terbelah antara aliran ibadah di masjid, dan ibadah di rumah. Gimana nggak nyenengke, di tengah roller coaster ekonomi, kondisi tidak stabil yang sering berubah mendadak, masih saja ada orang-orang yang dengan selow meributkan agama pada sisi-sisi yang rentan eksistensialisme.

Lepas dari semua itu, ini kondisi mungkin masih berubah dengan serba cepat. Tak perlu pusing kita mandeg memikirkian suatu hal. Cepat membaca keadaan. Cepat mengambil sikap. Itu lebih memberdayakan. (Rizky D. Rahmawan) 

Melangkahlah, Maka Engkau Menginspirasi

Nampak rapih berjejer, sepeda motor berpuluh-puluh jumlahnya di pelataran Pendopo Cahyana di Kompleks Rumah Jabatan Wakil Bupati Purbalingga. Beberapa petugas berseragam membantu menata dengan sabar dan riang hati membuat tertibnya urusan perpakiran. Semata-mata ia melaksanakan apa kata pepatah, “Adil semenjak dari parkiran”.

Pada Sabtu, 7 September 2019 lalu, pada siang menjelang sore hari, sekitar 200 orang pemuda dari Karang Taruna Kabupaten Purbalingga dari berbagai level kepengurusan desa, kecamatan dan kabupaten mereka semua berkumpul. Dengan antusias mereka menghadiri kegiatan Purbalingga Youth Discussion yang kali itu mengangkat tema “Maximazing Creativity in Creative Economy Era”.

Foto: Budi Santoso

Ada dua pembicara tampil di depan. Yang pertama Mas Bambang Irawan, Ketua DPRD Kabupaten Purbalingga yang sekaligus juga menjabat sebagai Ketua Umum Karang Taruna Kabupaten Purbalingga. Pembicara berikutnya adalah Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh atau kerap disapa pula Noe Letto. Mas Sabrang diundang di Purbalingga selaku tokoh pemuda multi kreasi. Mas Sabrang menjadi magnet tersendiri pada sore itu. Tentu yang pertama karena beliau adalah artis nasional. Kemudian lagi para peserta belum banyak yang tahu kiprahnya di dunia kreatif. Dari musik, film dan aplikasi digital yang sudah dilahirkan dari gagasan Mas Sabrang.

Mas BI demikian sapaan akrab Mas Bambang Irawan, dipersilahkan oleh Mas Imam selaku moderator untuk mengawali paparan siang hari itu. Dengan apik Mas BI memaparkan bahwa Pemerintah Kabupaten Purbalingga sudah menggandeng industri kreatif yang ada dengan berbagai macam pembinaan dan kegiatan di dalamnya. Ketika salah seorang mengusulkan beberapa pelatihan untuk pemuda di Purbalingga, Mas BI dengan sigap mempersilakan mereka untuk mengajukan apa saja yang mereka butuhkan. Selama disusun dengan baik, terhitung dan bertanggungjawab. Forum siang hari itu menjadi sebuah link and match forum yang tepat antara rakyat dengan pemangku kebijakan.

Foto: Budi Santoso

Kemudian tiba giliran Mas Sabrang, Ia mengawali dengan mendasari arti tentang apa itu ekonomi kreatif. Dari situ berkembang hingga industri kreatif, pariwisata yang kreatif dan strategi dasar bisnis. Beberapa peserta menanyakan terkait motivasi, bagaimana memulai usaha, hingga bagaimana mengubah mindset teman-teman di sekitarnya.

“Siapa bilang ada yang mewajibkan Anda untuk mengubah mindset. Tidak. Sebab Anda bukan nabi. Kemampuan Anda adalah menjadi contoh atau teladan, sehingga kemudian menginspirasi orang dan membuktikan diri bahwa Anda bisa. Dari situlah mereka akan mengikuti langkah-langkah Anda.”, ujar Mas Sabrang. Kalimat ini menyentuh hati para pemuda yang selalu punya hasrat untuk mengubah cara berfikir orang lain, tapi lupa bahwa yang sejatinya wajib diubah adalah dirinya sendiri.

Sore bertambah gayeng, ketika Mas Sabrang menyanyikan dua lagu dari Letto, yaitu Ruang Rindu dan Sebelum Cahaya. Smartphone berjejer mengabadikan moment tersebut. Layaknya koor paduan suara, hampir semua turut menyanyikan lagu yang pernah hits di beberapa tahun silam.

Foto: Budi Santoso

“Semoga anda menjadi generasi pembaharu Indonesia yang memulai memperbaiki Indonesia sekarang.”, akhir kata dari Mas Sabrang memungkasi kegiatan sore itu.

Menjelang pukul 17.00 acara kemudian dipungkasi. Peserta kemudian pulang membawa perolehan yang berbeda-beda. Wajah cerah sumringah tampak dari mereka yang hadir. Apalagi bagi mereka yang sempat berswafoto bersama Mas BI dan Mas Sabrang. Kegiatan ini mudah-mudahan bisa menjadi alat asah bagi cara berfikir yang lebih lantip dan makin akurat atas tidak tertebaknya perubahan-perubahan apa yang ada di masa depan kelak. (Hilmy Nugraha)

Santiaji Pancasila

Kayaknya, sih, acuan moral mengenai pola hidup bersih sudah tertanam sejak kala usia sekolah dasar. Seingat Saya, nasehat mulia “Kebersihan adalah sebagian dari Iman” malah pernah terpacak pada lembar halaman tepi bawah buku tulis. Nyatanya, menginjak dewasa menuju tua, secara periodik Saya selalu saja khilaf menempatkan puntung rokok tidak pada tempat semestinya. Mohon maaf atas blunder yang saya lakukan ini.

Menyimak lalu lintas percakapan media sosial, terutama obrolan yang mengangkat tema-tema sensitif, saya tak ubahnya seperti nonton atraksi Limbad. Meresahkan, ngeri dan detak ritmik jantung berdentum kencang bersaing dengan notifikasi “beep” Wa Group Alumni SMP dan SMA. Hal itu saya alami manakala nemu penyebutan pekok! Koplak! bego dipeliara! anjing loe! dan ungkapan emosional yang se-famili lainnya.

Sebenarnya mereka paham kok, kalau itu perbuatan yang kurang menyenangkan. Sebagai mantan Buzzer Poros Kecepret–sintesa Kecebong dan Kampret, saya juga pernah fasih melantunkan “hate speech” semacam itu. Hingga kemudian saya berkenalan dengan Maiyah.

Dari fenomena masalah sosial di atas, terbentang dua variabel berjarak yang menimbulkan celah alam kesadaran, yaitu fakta atau keadaan (matter) dan makna (value) sebagai variabel tetap, sedangkan kesadaran (mind) merupakan variabel yang bebas.

Sabrang Mowo Damar Panuluh dalam khotbahnya pada Seminar dan Dialog Interaktif bertema Generasi Milenial Mengenal Pancasila yang dihelat DEMA IAIN PURWOKERTO pada Senin, 14 Januari 2019 kemarin mendeskripsikan dengan istilah pulau dan selat. Jelasnya, tong sampah adalah pulau fakta. Lalu  “Kebersihan sebagian dari Iman” serupa pulau makna. Selat yang tercipta dari pulau imajiner tersebut tentu tidak terisi air laut, tapi oleh kesadaran individu manusia.

Bagaimana kesadaran individu terbentuk? lanjut Mas Sabrang, banyak sebab yang melatarbelakanginya. Pengalaman inderawi, basis dan setting sosial sangat mempengaruhi kesadaran individu manusia sebagai produk sosial masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya kita jangan sampai terlalu gegabah untuk mem-vonis orang lain sebagai, katakanlah, “Tidak Pancasilais!” dengan tanpa terlebih dulu melacak riwayat historis-sosiologisnya.

Sesuatu yang jauh hari sebelumnya telah diingatkan Carl Gustav Jung, murid Sigmund Freud, “Thinking is difficult, that’s why most people judge“.

Kasus faktual dari Totman, nama samaran, ABG tua berambut gondrong yang nekad mbethot gas Vespa butut kesayangannya saat lampu merah menyala usai menyaksikan kekalahan Timnas adalah contoh kesadaran yang tak perlu kita “copy paste”.

Karyanto, nama samaran juga, suatu malam kehujanan, sendirian dan Pos Polisi kosong. Akan tetapi, Dia istiqomah memilih berhenti mengikuti petunjuk tulisan “Belok kiri ikuti lampu” sembari berdendang lirih beberapa bait lagu “Sandaran Hati” milik Band Letto. Usut punya usut, Karyanto baru saja “jadian” dengan wanita sholehah. Bentuk kesadaran jenis ini masih perlu untuk diseminarkan lagi.

Memasuki puncak seminar pada perjumpaan agung di Aula GSC Kampus IAIN kemarin, Saya malah sibuk dengan pikiran saya sendiri, berusaha mencari kepastian jawaban atas wacana yang dibangun Mas Sabrang sampai ketika tiba-tiba terbersit dalam ingatan quote dari Mbah Guru Emha Ainun Najib yang saya temukan via Instagram : “Bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu tidak terutama tergantung pada keadaan-keadaan yang baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu”.

Semoga orang-orang seperti Totman dan Karyanto di atas bisa menghayati quote ini secara arif.

Melangkah sesi diskusi, seorang audiens mengajukan pertanyaan yang seolah biasa saja tetapi memantik jawaban yang mengusik mindset kita selama ini : “Sebagai mahasiswa, kontribusi nyata seperti apa yang bisa dilakukan dalam hubungannya dengan Pancasila sebagai pandangan hidup?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Sabrang hanya tersenyum. Menurut Beliau, selama ini dalam memandang dan memahami Pancasila Kita terlalu terpukau dengan teori politik kenegaraan yang canggih dan dipusingkan dengan nilai-nilai filosofi yang njlimet. Padahal, lanjutnya, hakekat Pancasila secara sederhana adalah bagaimana mengubah sesuatu yang kacau (chaos) menjadi lebih teratur (order).

Tak harus melulu tentang action setinggi bintang di langit malam. Cukup dengan merapikan kain sprei dan bantal usai bangun tidur, itu sudah Pancasila banget. Contoh kecil dari Mas Sabrang ini lantas disambut gelak tawa peserta seminar.

Pancasila sebagai hasil ijtihad politik Para Bapak Bangsa pendiri Republik berfungsi sebagai fundamen bernegara  atau united value dalam istilah Mas Sabrang. Sekaligus hal itu menjadi payung besar yang menaungi realitas kemajemukan Bumi Nusantara yang sudah sepatutnya kita tegakan bersama dengan penuh kesadaran “holopis kuntul baris”.

Kapolda Jateng yang pada kesempatan acara kemarin diwakilkan oleh Wakapolres Banyumas Kompol Heru Budiharto, S.I.K., M.I.K. yang juga turut serta menjadi narasumber menceritakan tentang pengalamannya ketika studi banding ke Jepang untuk mempelajari sistem pendidikan bagi Kepolisian.

Namun ternyata sistem yang dicangkok dari model pendidikan kepolisian Jepang gagal diterapkan di Indonesia. Menurutnya, hal itu lantaran bangsa Jepang dalam hal apapun lebih homogen, berbeda jauh dengan karakteristik bangsa Indonesia yang sangat heterogen dalam bentangan Sabang sampai Merauke, dari Rote hingga Miangas.

Dari “curhat” Pak Wakapolres itu, menjadi penting untuk kita garis bawahi bahwa dalam perumusan kebijakan publik hingga ijtihad politik seyogyanya tidak pernah lupa dengan sejarah dan akar sosiologis masyarakat kita yang begitu beragam.

Tak ketinggalan, atmosfir hangat dialog interaktif hari itu tak bisa lepas dari keceriaan Mas Bro Zulfikar Abdullah Iman Haqiqi alias Omen selaku moderator yang doyan ceplas-ceplos melempar jokes segar. Lewat leluconnya, Ia dengan sangat sukses berulang kali merapikan kerutan kening audiens, efek samping dosis materi obrolan yang memang rada berat.

Kiranya, patut kita apresiasi dengan memberikan “Like” beribu jempol untuk DEMA IAIN PURWOKERTO yang dengan begitu tega menyelenggarakan forum edukasi publik pada momen libur kuliah. Situasi yang semasa saya dulu menjadi mahasiswa lebih memilih untuk mudik ke kampung halaman.

Akhirnya, catatan dhuafa ini saya pungkasi dengan mengutip pernyataan dari Wakil Rektor III IAIN PURWOKERTO, Dr. H. Supriyanto, Lc., M.S.I. saat menyampaikan sekelumit pembukaan seminar, bahwa “Dulu dan sekarang, sebenarnya masalahnya hampir sama. Tak jauh dari urusan itu-itu saja. Yang beda hanya pemahaman dan sudut pandang yang dipakai.” []Febri/RedJS

Belajar Alamiah ala Anak Alam

“Di sini ada Sekolah Taman Siswa?”, Tanya Pak Toto kepada saya. Saya menggeleng tidak tahu. Saya baru tahu kalau Sekolah Taman Siswa ada di sini setelah besok harinya diantara peserta bedah buku yang hadir adalah guru di Sekolah Taman Siswa di Purwokerto.

Bapak Pendidikan kita adalah Ki Hajar Dewantoro. Tetapi apa yang Ki Hajar laksanakan di Taman Siswa yang ia dirikan, kita tidak tahu menahu. Yang mainstream berlaku hari ini adalah sistem pendidikan yang masih segaris dengan apa yang menjadi haluan pendidikan Gubernur Jenderal Daendeles, ketika tanah ini masih berpemerintahan Hindia-Belanda.

Kesempatan yang langka, Pak Toto Raharjo hadir lengkap bersama Bu Sri Wahyaningsih atau Bu Wahya, istri Beliau. Pak Toto dan Ibu hadir dalam rangka memenuhi agenda kegiatan bedah buku yang diprakarsai oleh Pemkab Purbalingga.

Buku yang didiskusikan adalah buku “Sekolah Biasa Saja” yang baru saja cetak ulang untuk kedua kalinya. Tidak mainstream, nyleneh dan berkebalikan dengan yang wajar berlangsung, itulah Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, wahana pendidikan yang menjadi pokok bahasan di dalam buku yang menurut saya justru menyuguhkan sejatinya pendidikan itu harus diselenggarakan seperti apa.

Sejak malam hari sebelum acara, Pak Toto sudah mewedar cara berfikir yang beyond yang membuat saya berkali-kali terbelalak. Dengan runut dan sederhana, meskipun melalui diskusi santai di beranda rumah transit, tetapi Pak Toto bisa membuat saya tersadar harus bagaimana berposisi terhadap realitas hari ini. Realitas keluarga, realitas pendidikan, realitas sosial, hingga realitas politik.

Tanpa doktrin dan tanpa afirmasi, Pak Toto menyadarkan saya bahwa ternyata saya masih terlalu “anggur-angguran”, sehingga menyediakan waktu yang melebihi porsinya untuk menyimak berita politik. Akibatnya, realitas yang lebih penting untuk diperhatikan, justru menjadi terabaikan.

Memang pendidikan itu bukan hanya kewajiban anak-anak saja. Sepanjang kita masih membutuhkan ilmu untuk menghadapi realitas-realitas hidup, sepanjang itu pula kita masih harus terus belajar mendidik diri sendiri.

Acara diskusi berlangsung di Pendopo Cahyana, Rumah Dinas Wakil Bupati Purbalingga. Peserta yang hadir mulai dari kalangan pendidik, mahasiswa hingga ibu rumah tangga. Para penggiat Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dan penggiat Taman Baca Masyarakat (TBM) juga banyak yang hadir pada acara di hari Minggu (7/10) kemarin. Bukan hanya dari wilayah Purbalingga, tetapi juga Purwokerto, Banjarnegara, Cilacap dan Pemalang.

Dari sistem pendidikan di Salam Jogjakarta, salah satunya Pak Toto dan Bu Wahya menyampiakan bahwa siswanya melakukan riset atau penelitian langsung dalam hal-hal yang nyata. Juga, interaksi langsung dengan para ahli di bidangnya. Jarang sekali sistem belajar-mengajar dilakukan di kelilingi tembok-tembok, papan tulis, dilakukan dengan mendikte dan metode yang mempersulit anak-anak lainnya.

Naelul Fauzi selaku pembedah buku menyampaikan intisari dari bab-bab di dalam buku dengan runut dan dikomparasikan dengan realitas yang Ia hadapi di keseharian sebagai pengajar di daerah terpencil. Sangat menarik apa yg di sampaikan para narasumber, ketika siswa turun ke kebun milik pak tani, melihat langsung, mengamati, meneliti dan apabila ada pertanyaan terkait bisa langsung tanya ke ahlinya, yaitu pak tani. Dan ketika siswa turun ke kebun, ternyata tidak melulu belajar mengenai tanaman, tapi belajar menulis, hitung-hitungan matematika, interaksi sosial dengan kondisi lingkungan, ilmu pengetahuan alam, dan banyak sekali dalam waktu sekaligus termasuk pelajaran agama, karena apabila di simpulkan dari hasil pengamatannya akan mengerucut kepada Sang Maha Pencipta.

Bagaimana semua aspek pembelajaran yang banyak, namun dikonsep menarik bagi para siswa, seperti halnya mainan, menyenangkan namun dasar-dasar mengenai apa itu belajar, tersampaikan dengan apik. Seperti bagaimana falsafah pendidikan sejak awal yang di gaungkan oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantoro, bahwa sekolah itu ada untuk mengisi waktu luang di tengah masa-masa bermain anak, dan sekolah yang pertama kali berdiri adalah taman, bukan sekolah, yakni Taman Siswa.

Kata taman identik dengan keindahan, menyenangkan suasananya dan alamiah. Bukan suasana penjara dimana tembok, pagar besi yang mengelilingi berdirinya sebuah sekolah. Tembok dari segi bangunan, juga tembok pembatas dalam berkreasi, bernalar dan dalam menempuh pendidikan.

Peserta begitu aktif merespon dan bertanya. Hingga acara ditutup tentu masih banyak yang belum terpuaskan, Rizky sebagai moderator acara menyampaikan bahwa Sanggar Anak Alam terbuka untuk siapa saja yang hendak berkunjung atau sekedar mampir, untuk menuntaskan ketidakpuasan di acara tersebut.

Sanggar Anak Alam memang tidak seperti sekolah alam pada umumnya. Yakni bukan sekolah yang harus ada di alam, tetapi bagaimana Pak Toto dan Bu Wahya mengembangkan pemebelajarn untuk anak alam, yakni sesuai kodrat anak, sesuai alamiahnya bakat, modalitas dan gaya belajar anak.[]

Berfikir dengan Ramping ala Lean Canvas

Di cuaca dingin seperti di sini, saya membayangkan kalau ada api unggun. Tetapi karena ini bukan acara malam keakraban, ini acara workshop, jadi jangan harap bayangan saya benar-benar ada.

Menjelang Maghrib saya berangkat dari Kota Purwokerto menuju Villa Karang Penginyongan untuk mengikuti Workshop Lean Canvas. Lokasi workshop ditempuh sekitar satu jam dengan sekali berhenti sholat Maghrib. Berlokasi di perbukitan sekitar 40 km di sebelah barat Purwokerto, workhsop malam hari itu memang secara khusus diselenggarakan oleh Penggiat Juguran Syafaat.

Saya tertarik untuk ikut karena dari informasi yang saya dapatkan mengenai Workshop Lean Canvas ini, yang saya pikirkan adalah saya bisa memperoleh ilmu tentang bagaimana saya bisa nandur di kebun Maiyah sebagaimana yang Mbah Nun inginkan dari anak cucunya.

Berbagai metode canvas memang sedang marak di kalangan milenial. Mas Rizky memandu workshop ini dengan dimoderatori oleh Mas Kukuh. Acara berlangsung dengan gayeng dan mengalir. Dimulai dari Jam 19.30 didahului dengan santap malam, peserta kemudian duduk melingkar menyimak paparan, sharing dan melakukan berbagai simulasi.

Tidak serumit yang saya bayangkan ternyata Lean Canvas itu. Bagan berbahasa Inggris yang asing di telinga saya itu ternyata begitu menarik ketika diterapkan pada studi kasus yang dekat dengan yang saya hadapi. Menurut mas Rizky, Lean Canvas adalah bentuk ramping dari Business Model Canvas yang banyak dipraktekkan dalam analisa pengembangan bisnis. Kreatornya bernama Ash Maurya.

Malam hari itu peserta diajak untuk memahami alur berfikir dari canvas jenis ini dan menerapkannya untuk kebutuhan mendesain program kegiatan.  Saya yang sehari-hari berkecimpung di dunia pendidikan memang bersentuhan dengan berbagai program-program kegiatan. Kalau dituruti semua gagasan, saya bisa kelelahan kehabisan tenaga. Kehabisan waktu juga. Maka pengetahuan mengenai bagaimana mendesain program memang saya membutuhkannya.

Pak Titut yang paling sepuh malam hari itu terlibat aktif sedari awal hingga akhir acara. Pengalaman Beliau dalam menjalani roller coaster kehidupan sangat menjadi pelajaran yang berguna nyata bagi saya. Pak Titut ini memang terlibat sedari awal pembangunan kawasan outbond area Villa Karang Penginyongan, tempat di mana workshop dilangsungkan malam hari itu.

Kiprah Karang Penginyongan mengembangkan wisata pendidikan karakter sekaligus menjadi study kasus yang sangat membantu memudahkan saya memahami alur kerja Lean Canvas. Terlebih Mas Damar, owner dari Villa ini juga secara spontan memilih melibatkan diri bergabung di dalam jalannya workshop. Villa Karang Penginyongan ini memiliki apa yang disebut unfair advantages seperti yang terdapat pada Lean Canvas.

Mendoan hangat dan wedang jahe membantu mengusir hawa dingin yang menyelimuti peserta sepanjang acara. Hadir juga dua peserta dari penggiat Maiyah Poci Maiyah, jauh-jauh datang dari kota Tegal dengan mengendarai sepeda motor. Saya salut dengan semangat mereka menuntut ilmu.

Ada banyak hal yang saya dapat dari workshop malam hari itu. Pada kolom Problem, Mas Rizky memandu peserta untuk sahut-menyahut menganalisa mana problem yang berpotensi ditumbuhkan menjadi suatu value proposition tertentu, entah bentuknya sebuah kolaborasi bisnis, atau sebuah desain program acara. Saya jadi menyadari bahwa sebuah program acara haruslah berangkat dari problem yang memang sudah dipetakan dengan baik. Mas Kukuh mencontohkan bagaimana instansi pemerintah membuat pelatihan sablon berulang setiap tahun, padahal yang peserta butuhkan bukanlah hal itu.

Termasuk juga dielaborasi malam hari itu adalah mana problem riil, dan mana problem yang diada-adakan. Yakni ketika saya ngurusin problem orang lain yang tidak jelas juntrungannya. Pak Titut juga mengurai bagaimana perjalanan Beliau berkarya tidak berhitung untung rugi materiil. Sebab yang Pak Titut kejar yakni kepuasan batin dan keuntungan non materiil lainnya.

Di sini saya setuju dengan yang Mas Rizky sampaikan bahwa dalam mendesain program haruslah, satu: untung (profit), dua: bertumbuh (growth), tiga: berkelanjutan (Sustainable). Untung di sini bukan untung materiil semata, tetapi bagaimana hasil kemanfaatan harus lebih besar dari biaya atau modal yang dikeluarkan: waktu, tenaga, kreativitas, kesabaran, dll.

Lean Canvas juga memudahkan untuk menghitung sebuah program itu akan sustainable atau tidak. Ini sesuai dengan perenungan saya atas dhawuh Mbah Nun bahwa kita ini hendaknya maraton, jangan cuma sprint. Di sesi terakhir yakni sesi puncak, acara semakin gayeng karena antar kelompok yang sudah melakukan simulasi saling menanggapi bahkan ada yang mencela program yang dirancang satu sama lain. Meskipun kelompok saya juga dapat celaan, tetapi tidak apa-apa, karena menurut saya itu masukan yang masuk akal. Memang bertukar pandangan satu sama lain itu berguna sekali.

Tepat jam 02.00 hawa dingin sudah tidak bisa berkompromi. Workshop kemudian diakhiri. Usai jog wedang jahe dan ngobrol santai, semua peserta menuju bungalow masing-masing untuk beristirahat. Sayangnya, saya harus pulang Subuh karena pagi hari harus kembali beraktivitas, sehingga tidak ikut bersama teman-teman pagi harinya nge-trip keliling desa di sekitaran villa, yakni ke Peternakan Sapi dan ke Curug Cipendok.

Dari workshop ini selain saya mendapat metodologi baru, saya juga belajar dari pengalaman hidup peserta lain, baik pengalaman pahit, manis, asin dan nano-nano. (Hirdan Ikhya/RedJS)

Upgrade Penggiat Juguran Syafaat II

Upgrading II Penggiat JS : Memperbaharui Syahadah “kemahalan” berada di Maiyah

Bagi orang-orang yang memilih bergiat di Maiyah, yang pertama-tama mesti di-upgrade adalah kesadarannya. Mas Agus Sukoco di awal sesi Upgrading II Penggiat Maiyah Juguran Syafaat tempo hari menyampaikan bahwa kita ini tidak serta-merta begitu saja berada di tengah-tengah lingkaran Maiyah seperti hari ini. Ada proses panjang yang sudah kita tempuh berupa pencarian-pencarian.

Oleh karenanya, Mas Agus mengajak penggiat yang hampir semuanya hadir malam hari itu untuk menyadari arti “kemahalan” untuk membahasakan nilai keistimewaan atas diterimanya kita di tengah-tengah lingkaran Maiyah.

Sengaja ditradisikan di Juguran Syafaat setiap memasuki Bulan Ramadhan diselenggarakan kegiatan Upgrading. Pada Kamis malam Jumat, 1 Juni 2017 bertepatan dengan 7 Ramadhan 1438 H para penggiat Maiyah Juguran Syafaat berkumpul untuk mengikuti Upgrading yang kedua. Acara berlangung secara bersahaja tidak di hotel mewah sebagaimana lazimnya kegiatan upgrading, tetapi acara dilangsungkan di halaman belakang kediaman Mas Agus Sukoco. Beliau adalah ‘Sifat’ dari Simpul Juguran Syafaat.

Mas Agus sangat menekankan pentingnya menjaga kesadaran “kemahalan” berada di dalam Maiyah.Tujuannya adalah agar kita tidak salah memosisikan diri. Ajakan tersebut dimonumentalisasi dengan pengistilahan yakni, memperbaharui syahadah atau persaksian kita dalam ber-Maiyah.

Diulas pada malam hari itu adalah bagaimana Penggiat Maiyah memperbaiki skala-skala prioritas. Bermaiyah tidaklah sama dengan kita bergabung di dalam organisasi, komunitas, perkumpulan atau club apapun, demikian Mas Agus menandaskan. Bergabungnya seseorang di tengah-tengah lingkaran Maiyah lebih pada orientasi nilai-nilai substantif, bukan perkara identitas komunalitas belaka.

Maka penerapan dalan interpretasi personalnya adalah, apabila seseorang telah menyadari “kemahalan” arti diterima di tengah-tengah Maiyah dan juga menyadari bahwa orientasi berkumpulnya kita adalah sebab nilai-nilai substantif, ketika ada pertengkaran, perselisihan atau pertentangan dengan orang yang sama-sama berada dia tengah-tengah lingkaran Maiyah, kita dapat mengerem, mengalah dan mengeyampingkan itu.

Sebab, yang primer adalah menjalankan tugas-tugas dalam ber-Maiyah. Perselisihan yang timbul jangan sampai menganggu hal yang lebih primer, anggap saja itu dinamika komununalitas belaka. Sebelum tampil keras kepala, lebih baik masing-masing yang sedang berselisih bertanya ke dalam diri, apakah betul yang paling mahal dan bernilai adalah anugerah Maiyah atau ego diri sendiri?

Pada sudut pandang lain Rizky, salah seorang penggiat turut merespon. Bahwa kaitannya dengan syahadah atau persaksian Maiyah kembali, maka PR kita ke depan adalah bagaimana kita menepatkan kaliber.

Sebab kita telah diberi modal yang begitu mahal dan bernilai, misalnya dianalogikan bahwa kita ini kalibernya BUMN, maka hendaknya jangan kita memiiki cara berfikir, sikap mental dan kalkulasi-kalkulasi yang kalibernya adalah pedagang kaki lima. Sebab hal itu sama saja kita telah memboros-boroskan modal mahal yang telah dianugerahkan kepada kita.

Piweling soal menepatkan kaliber juga telah diamanatkan oleh Mbah Nun pada kesempatan internalan di Owabong Cottage pada Sabtu, 8 April 2017 yang lalu. Mbah Nun dalam kesempatan internalan saat itu menyampaikan bahwa posisi Maiyah adalah sebagai keris, maka tetaplah menjadi keris. Yakni dengan tidak ikut gaduh bersama mainstream. Sebagai keris, Mbah Nun memberi teladan bahwa selama ini Beliau tidak pernah ‘meminta’ kepada orang lain. Kecuali yang beliau lakukan adalah ‘memintakan untuk orang lain’.

Pada menjelang sesi akhir, Herman, salah seorang Penggiat ikut urun suara, ia mengajak untuk kita memetakan potensi masing-masing. Sebab di Maiyah memiliki sumber daya yang sangat kaya. Ada yang bergerak di bidang seni budaya, lalu pendidikan, kemudian perniagaan, juga agrobisnis serta pergerakan sosial.

Kalau semua itu bisa diramu, saling berbagi peluang dan jejaring satu sama lain, maka betapa semua itu menjadi potensi yang sangat luar biasa.

Pada malam hari itu diulas pula mengenai hakikat Perang Badar. Hakikat perang badar tidak ada motivasi lain selain menolong orang-orang yang lemah. Maka kontekstualisasinya adalah, bagaimana kita akan sangat terbantu untuk menolong diantara kita yang lemah, apabila kita meramu dan membangun potensi yang luar biasa yang dimiliki diantara kita sendiri.

Hingga menjelang Shubuh, kegiatan upgrading yang dimulai pukul 20.00 itu kemudian dipungkasi. Masing-masing tentu saja mendapatkan ‘sangu’ yang berbeda satu sama lain sesuai dengan konteks dan situasi pribadi masing-masing. Tidak ada kesimpulan, maklumat atau petisi apapun yang dihasilkan. Tulisan inipun hanya sebuah potret saja dari sisi redaksi. [] RedJS