Photos

Memenuhi Undangan, Sebatas Study Kasus

Mas Agus Sukoco ditemani beberapa teman penggiat Juguran Syafaat pada Senin (5/2) lalu memenuhi undangan sarasehan budaya dalam rangka harlah salah satu DPC Parpol di Purbalingga.

Simpul Maiyah terbuka belajar terhadap apa saja. Undangan semacam ini dipenuhi dalam rangka proses study kasus belaka, bagian dari keterbukaan kita belajar dari apa saja. Titik obyektif belajar study kasus dari bidang politik adalah berada di tengah-tengah antara sikap anti-antian dan sikap terbeli oleh deal dan kontrak-kontrak politik yang pragmatis. Bekalnya adalah kemampuan berfikir seimbang.

Photos

Membumikan Bahasa Arab di Kota Batik

Yayasan Al Ma’soem yang dipandegani para penggiat Suluk Pesisiran hari ini berulang tahun yang ke-1. Hadir Cak Fuad dan juga penggiat simpul-simpul Maiyah dari berbagai daerah, diantaranya Kenduri Cinta, Maneges Qudroh dan Juguran Syafaat.

Berbagai kegiatan keagamaan bagi masyarakat telah diselenggarakan oleh Yayasan, termasuk program pengajaran Bahasa Arab untuk praktik keseharian anak-anak di rumah masing-masing melalui program Taman Bahasa Arab.

Photos

2018 Tidak Lagi Menunda Untuk Berkarya

Mas Agus Sukoco dan Ki Ageng Juguran diundang dalam acara bertajuk “Semangat Berkarya” hari Minggu (14/1) lalu di Function Hall Dominic Hotel Purwokerto. Acara ini merupakan ulang tahun pertama dari PT Mahdzab Karya Indonesia, perusahaan konstruksi pimpinan Samsul Umar usahawan muda Purbalingga. Bersama Bapak Supriyanto seorang praktisi akademisi, Mas Agus mengurai banyak hal diantaranya mengenai pentingnya membangun karya tanpa meninggalkan nilai-nilai.

Memasyarakatkan Ebeg, Tidak meng-ebeg-kan masyarakat

Kesenian Ebeg atau Kuda Lumping adalah salah satu warisan berharga dari leluhur. Minggu (24/12), di kompleks Kebun Strawberry, Dataran Tinggi Serang, Purbalingga Mas Agus Sukoco berbaur bersama anggota komunitas ebeg se-Purbalingga.

Mas Agus mengurai bahwa ebeg adalah bentuk seni teater dimana bukan hanya manusia yang diajak berteater tetapi juga unsur-unsur dari dimensi yang lain. Tujuannya bukan untuk ‘wuru’ atau ‘trans’. Adanya pemain ebeg wuru itu sebab terpaksa, demi menyampaikan pesan bahwa pada saat seseorang wuru haruslah segera mengingat asal-usul. Itu kenapa lagu yang mengiringi pada saat wuru adalah lagu ‘eling-eling’ (ingat-ingatlah!)