Memasyarakatkan Ebeg, Tidak meng-ebeg-kan masyarakat

Kesenian Ebeg atau Kuda Lumping adalah salah satu warisan berharga dari leluhur. Minggu (24/12), di kompleks Kebun Strawberry, Dataran Tinggi Serang, Purbalingga Mas Agus Sukoco berbaur bersama anggota komunitas ebeg se-Purbalingga.

Mas Agus mengurai bahwa ebeg adalah bentuk seni teater dimana bukan hanya manusia yang diajak berteater tetapi juga unsur-unsur dari dimensi yang lain. Tujuannya bukan untuk ‘wuru’ atau ‘trans’. Adanya pemain ebeg wuru itu sebab terpaksa, demi menyampaikan pesan bahwa pada saat seseorang wuru haruslah segera mengingat asal-usul. Itu kenapa lagu yang mengiringi pada saat wuru adalah lagu ‘eling-eling’ (ingat-ingatlah!)

Photos

Duduk Melingkar dengan Rapat, Pertemuan Kerinduan

Sore hari sebelum Sinau Bareng di Alun-alun Purbalingga dihelat (16/11), Mbah Nun menyempatkan duduk melingkar bersama Jamaah Maiyah Juguran Syafaat.

Ketika dipersilakan beristirahat, Mbah Nun justru meminta untuk membuat lingkaran lebih rapat, “Mumpung ada waktu, saya ingin mendengar kenapa kalian ber-Maiyah, kenapa kalian ber-Juguran Syafaat?”, tanya Beliau.

Photos

Berbahagia bersama di Juguran Syafaat Desember

Juguran Syafaat Desember 2017. Foto: Anggi

Niat saya berangkat ke Juguran Syafaat adalah untuk menemukan kebahagiaan, begitulah Pak Titut berulang menyampaikan dalam banyak kali hadir di Juguran Syafaat. Demi menemukan kebahagiaan dan membagi kebahagiaan bersama, di Juguran Syafaat malam tadi (9/12) Pak Titut dan Mbah Hadiwijaya duet beraksi.

Photos

Selamatan di Tepian Serayu

Malam tadi (7/12) Mas Agus Sukoco hadir memenuhi undangan paguyuban penambang pasir di Desa Karang Gedang, Bukateja, Purbalingga.

Mas Bayu, jamaah Juguran Syafaat sekaligus ketua Paguyuban Penambang Pasir sengaja mengundang Mas Agus untuk memimpin doa bersama sekaligus memberikan pesan-pesan mengenai pentingnya menjaga hidup yang selaras alam.