Jer Bertumbuh Mawa Bea

Juguran Syafaat edisi 79 yang bertemakan Ekonomi Simetris adalah perjumpaan pertamaku dengan maiyah. saat itu aku duduk di belakang mengamati dunia baru di dalam kepala yang menyenangkan, aneh dan baru pertama kalinya menyaksikan forum yang menggabungkan semua komponen serta komposisisi keseimbangan antara diskusi, sholawatan, spiritual dan humor sangat efektif menyegarkan suasana.

Pada edisi berikutnya aku mencoba berangkat lebih awal agar bisa duduk di depan dan seperti biasanya di sesi awal akan ada perkenalan, perkenalan waktu itu dipandu oleh Mas Naim yang pada saat itu juga betanya padaku apa tujuan mengikuti forum ini? Kemudian Aku menjawab ingin menggali potensi akal pikiran yang ada di otakku. Jawaban itu muncul waktu menikmati nuansa diskusi yang berbeda dari biasanya dihari pertama. Sejak saat itu aku mempunyai sebuah horizon yang ingin dituju. Aku tau kalau aku mau kemana.

Edisi demi edisipun terus berlalu. Cara belajar terbaik adalah dengan bertanya atau menciptakan pertanyaan dan biarkan Tuhan melalui kebijaksanaan waktu yang akan menjawabnya. Mencari apa itu Maiyah beserta komprehensi apa saja yang ada di dalamnya tersedia sangat banyak di internet. Bagiku aplikasi Symbolic menjadi simulasi yang paling tepat sebagi wahana untuk menggali ilmu, berinteraksi dan memberi manfaat dengan cara berbagi atau saling membantu memecahkan masalah orang lain. Sehingga output-nya menjadi bangga karena telah berkontribusi dan saling menyangga.

Aku merasakan pertumbuhan diri selama di Maiyah, menemukan jawaban jawaban atas pertanyaan dan kegelisahan. Di Maiyah aku diajari untuk berfikir kritis, skeptis dan konfirmatif, agar dapat memuculkan altruisme untuk melakukan hal hal yang bermanfaat. Itulah outputnya, karena sehebat apapun ilmu akan di uji pada skala sosial. Waktu adalah alat tukar untuk mendapatkan apa yang diinginkan, itulah menurutku bea, biaya atau pengorbanan yang sesungguhnya yang rela dan gembira hati aku kerjakan di Maiyah.

Terus Berdialektika

Apabila kita membaca artikel atau mendengar ceramah para cendekiawan, sering kita temui istilah-istilah asing yang berat. Berat di telinga dan berat di mulut. Sangat sophisticated sekali. Ada sederet istilah seperti civil society, bourgeois and proletariat, good goverment, oligarki, paradigma, floating mass, semantik, semiotika, hermeneutika, dan masih banyak istilah sulit lainnya.

Berbeda dengan tradisi lisan dan tulisan para intelektual umumnya, Mbah Nun hampir tidak pernah melempar istilah yang bikin kepala kita pusing tujuh keliling. Namun ada satu istilah dari khazanah pengetahuan Eropa yang kerap kali digunakan Mbah Nun dalam setiap forum Sinau Bareng, yaitu ‘dialektika’.

Ada apa dengan dialektika? Apa itu dialektika? Dialektika dipopulerkan oleh filsuf Jerman yang bernama Friedrich Hegel. Sebenarnya dialektika sudah dikenalkan ribuan tahun sejak era filsuf Yunani kuno. Dialektika berasal dari kata ‘dialegesthai’ yang artinya dialog. Bukan hanya dialog lisan, tapi juga dialog antar materi atau kenyataan. Tan Malaka menyebutnya: perbincangan antar materi.

Secara ringkas dialektika dirumuskan dengan tesis, anti tesis, lalu menjadi sintesis, dan akan terus bergerak maju atau spiral. Sebab posisi sintesis bisa menjelma menjadi tesis setelah muncul anti tesis baru.

Contoh kongkrit yang pernah terjadi di komunitas Juguran Syafaat, misalnya, tesis (Ikhda) ketemu anti tesis (Luqman) menjadi sintesis (pernikahan). Dan semoga sintesisnya tidak bergerak maju (tambah anu) atau mundur (layu). Kita berdoa dan berharap semoga sintesisnya akan langgeng sampai akhir hayat.

Contoh lain yang lebih kompleks dialami oleh Kukuh Prasetiyo. Proses dialektisnya bersama teman-teman komunitas Juguran Syafaat mengantarkannya pada proses penumbuhan diri di arena sosial dan organisasi yang digelutinya. Bermula dari moderator forum Juguran Syafaat (tesis), Kukuh mendapat kepercayaan di organisasi kepemudaan di Banyumas (anti tesis), lalu Kukuh sering didapuk menjadi moderator acara-acara diskusi ekonomi dan seputar UMKM (sintesis).

Mengutip nasehat bijak dalam dunia pendidikan: kuda dilahirkan, sedangkan manusia dibentuk. Bayi kuda dalam jangka waktu singkat bisa langsung makan rumput, berdiri, dan lari. Sedangkan bayi manusia memerlukan proses dialektika yang panjang untuk bisa makan nasi, berdiri, lari, lalu menjadi insan, abdullah, dan terus berjuang agar sampai pada derajat khalifatullah.

Delapan tahun usia Juguran Syafaat pada tanggal 13 April 2021. Masih belia, tapi sudah bukan bayi. Teruslah berdialektika!

Jangan Terlambat Belajar

Kampus almamater saya terdiri dari lima fakultas (Hukum, Ekonomi, FISIP, Teknik, dan Peternakan). Namun demikian, lalu lintas grup whatsapp tak ada satupun yang mengangkat diskursus lima studi tersebut.

Seperti grup whatsapp yang lain, isinya kebanyakan dakwah dan motivasi.

Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa menebak-nebak. Bahwa memang usia menjelang 40-50an, bila tidak disertai pemahaman agama yang ontologis maka penderitaan hidup dan bayang-bayang kematian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.

Ini yang memberi saya jawaban mengapa para hero seperti Tan Malaka, Soe Hok Gie, Kartosuwiryo, DN Aidit, Munir, Diponegoro, Sudirman, dll tidak takut mati. Sebab mereka sudah paham hakekat hidup dan penciptaan alam semesta.

Dalam pikiran saya dulu, mereka orang-orang yang hebat itu, mendingan hidup menjalani karir saja. Mendapatkan uang, berkeluarga, plesiran, dan rebahan. Ngapain susah-susah berjuang, apalagi ancamannya nyawa.

Begitulah, jangan sampai kita menjadi golongan orang-orang yang terlambat belajar. Yang kualitasnya sebatas mantan mahasiswa cap fotokopian. Sudah berumur tetapi baru membaca bab kehidupan, agama, dan dalil. (Febri Patmoko)

Orang Baik v Orang Lugu

Apakah benar stigma bahwa orang baik itu lebih banyak dikadalin alias dibohongin?

Di indonesia dari dulu selalu krisis sosok figur yang bisa dijadikan kebanggaan. Sehingga mengakibatkan minim sekali tipe kepemimpinan yang bertajuk loyalitas merakyat, saat ini yang banyak malahan tipe pemimpin yang banyak pencitraan atau mereka yang hanya sibuk mencari nafkah. Sehingga, definisi baik atau becik pun semakin bergeser dari koordinat yang semestinya.

Entah kebetulan atau memang sudah disetting, dari dulu kita selalu disuguhi figur seperti Jono dan Lono, kemudian ada juga Bang Mandra yang katanya anak yang baik, berperangai lugu, suka menolong walaupun secara kecerdasan ditampilkan pas-pasan alias biasa saja.

Fenomena di dunia sekolah pun sering kita jumpai, anak yang rajin mencatat tidak pernah mbolos rambute klimis, anteng dan ora metakil, seringkali dibully, dimintai uang, di kadalin, diprentaih tumbas jajan, di berkicot’i bahkan di keongi.

Dari keadaan itu munculah stigma jadi orang baik itu percuma, selalu ditindas, dikadalin dan gampang dibohongin. Hal itu membuat jadi menjadi orang baik bukanlah pilihan favorit di dalam kehidupan hari ini.

Entah sampai kapan stigmatisasi negatif dari pilihan berperangai baik ini akan berakhir, kita bisa mulai dengan mengidentifikasi pembeda antara orang baik versus orang lugu. (Agus Ginanjar)

Ben Ora Kesasar Bae

Perjalanan manusia dari gua garba sampai ke liang lahat adalah suatu perjalanan yang penuh ketidakpastian. Dari rentetan pristiwa ketidapastian itu hanya satu yang pasti, yaitu kematian.

Sebagai ikhtiar agar selamat dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian, manusia membekali dirinya dengan instrumen ilmu (science) dan ageman (din). Meski Allah sendiri memberi pilihan: faman syaa-a falyu’min waman syaa-a falyakfur. Yang beriman, berimanlah. Yang kafir, kafirlah.

Ilmu dipakai untuk memprediksi dan merancang sebab-akibat dalam pristiwa hukum alam (sunatullah). Ageman atau agama dipakai sebagai jimat selama perjalanan manusia menempuh sirath al mustaqim. Ilmu dan agama adalah sesuatu yang kohern.

Innaddina Indallahil Islam, sungguhnya agama di sisi Allah itu hanyalah Islam. Islam dari Allah, lalu di-breakdown menjadi formula Maiyah. Di tengah peradaban manusia yang salah ilmu dan salah ageman sekarang ini maka Maiyah menjadi sangat penting agar hidup manusia bisa berarti, ora mubah uripe lan ora kesasar bae. Sekali berarti sesudah itu mati.

Punyailah Mentor

Di dalam keluarga ada mentor. Siapakah yang seharusnya menjadi mentor? Hendaknya ialah kepala rumah tangga yang menjadi mentor. Ia yang menetapkan arah dan tujuan. Berperan menjadi navigator. Menyalakan cahaya agar jalan ke depan tidak gelap.

Begitu pula di dalam bisnis, sebaiknya tiap-tiap kita mempunyai mentor. Carilah mentor. Pilihlah ia yang fokus, totalitas dan juga ikhlas. Sekali lagi, mentor yang fokus, totalitas dan juga ikhlas. Mau membina tiap-tiap kita dengan tanpa pamrih.

Apabila seorang mentor tidak mengerjakan sesuatu dengan fokus, biasanya berakibat tim yang sedang ia bina menjadi ikut-ikutan tidak fokus pula.

Terbayang bagaimana apabila kita yang masih pemula tetapi tidak bisa fokus di dalam bekerja? Berjualan segala macam alias palugada seringkali menjadi pilihan. Ya, palugada, alias “Apa lu mau, gue ada!”.

Memang sih semuanya ada. Tetapi hanya satu yang tidak ada. Apa itu? Yang tidak ada adalah: PROFIT.

Sudah belasan tahun saya berbisnis dan mengajari orang-orang berbisnis, tetapi saya belum pernah melihat seorang pemula yang mengerjakan sesuatu dengan tidak fokus kemudian bisa sukses besar.

Pemula, apabila ia gagal fokus, yang sering saya lihat, so-so hasilnya. Memang sih mendapatkan hasil, tetapi alakadarnya. Mentornya mungkin aman-aman saja, tetapi kasihan para pemula yang dimentori olehnya.

Sekali lagi saya ulangi, temukan dan tentukan mentor yang all out juga ikhlas sepenuh hati mau membina kita. Kalau mentor hanya memikirkan dirinya sendiri, bisa-bisa tim yang ia bina hanya akan menjadi sapi perah saja.

Semoga teman-teman menemukan mentor yang tepat.