Gado-Gado Juguran Syafaat

Gado-gado dikenal sebagai makanan khas Betawi. Makanan yang termasuk jenis salad ini memiliki pembeda pada saus dressing-nya, yakni menggunakan asian peanut, bumbu kacang. Tidak seperti kebanyakan salad yang banyak melibatkan mayones di dalamnya.

Gado-gado terdiri dari sayuran hijau seperti selada, kubis, bunga kol, kacang panjang dan taoge. Sering juga ditambahkan dengan sayuran lain yakni pare dan mentimun. Di dalam gado-gado juga terdapat kentang rebus, telur rebus, tempe dan tahu serta kadang-kadang terdapat pula jagung pipil. Kapan Anda terakhir makan gado-gado?

Dengan analogi gado-gado di atas saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk mengenali Juguran Syafaat bukan hanya sebatas ke-khas-anannya sebagai forum diskusi yang ruhani minded. Namun, bahwa di dalam Juguran Syafaat tersusun oleh social cyrcle yang begitu kompositif.

Dengan analogi gado-gado pula, saya ingin mengajak pembaca sekalian mengganti obyek bahasan tentang keberagaman yang selama ini disetir hanya untuk membahas Islam dan minoritas, Pribumi dan Chinese, dll. Padahal, keberagaman profesi, kepakaran, konsentrasi keilmuan dari masing-masing nama di kontak ponsel kita, hal itu lebih menarik untuk dikulik, digali dan kemudian disambung-sambungkan.

***

Forum dapur penggiat Juguran Syafaat di penghujung tahun sengaja mengambil tempat berbeda, supaya bisa refresh sekaligus nyicil-nyicil merefleksi perjalanan setahun 2020 ini. Di Desa Wisata Karang Salam, Baturraden (23/12/2020) sejumlah penggiat berkumpul. Tepatnya di Kedai milik Pak Asong, salah seorang pegiat Desa Wisata di sana.

Forum dibuka dengan Hilmy ngudarasa kepada Pak Asong. Memang sebagai pamong desa ia berkeinginan keras bagaimana agar di desanya ada sesuatu yang dapat to attract perhatian publik. Pak Asong pun dengan antusias ber-sharing tentang serba-serbi Desa Wisata. Yang dapat  berkelanjutan adalah yang melibatkan komponen organik lokal, dan yang sudah bisa ditengarai pendek umur adalah yang hanya latah belaka.

Menurut Pak Asong, potensi agro di suatu desa adalah sesuatu yang masih bagus dibangun sebagai sebuah attraction. Tidak latah membangun agrowisata. Hilmy dengan tim-nya di Desa saat ini sedang menyiapkan infrastruktur IT Data Desa. Ini sesuai dengan challenge dari Pak Toto Raharjo ketika singgah di sana dahulu: membangun Datakrasi Desa. Nantinya sektor agro menjadi bagian yang signifikan akan terdongkrak pula.

Hadir juga di forum yang berlangsung sore hingga malam hari itu yakni Hirdan. Penggiat Juguran Syafaat yang ikut mewarnai suasana dengan petikan gitarnya. Ia sehari-hari adalah pelaku usaha di bidang agro. Efek dari pandemi membuat ia all out men-cemplung-kan diri pada perdagangan komoditas telur ayam. Dari yang awalnya hanya belasan peti telur ia jual, kini sudah nampak growth penjualannya hingga ratusan peti tiap bulan. Selain sudah mengerjakan retensi penjualan, yang mahal ia dapatkan adalah jejearing yang makin luas di komunalitas rantai nilai perdagangan telur ayam, toko grosiran, agen, peternak pemilik kendang, asosiasi wilayah, dll. yang harus terus menerus dijaga keberlangsungannya secara jangka panjang.

Kemudian Febri dan Anjar, keduanya sama-sama pelaku di bisnis retail. Meskipun petang hari itu tidak banyak berkisah tentang Penggiat Updates atas kahanan keseharian terkini mereka. Tetapi kesah Febri cukup terrefleksikan dari perjalanan hidup seorang Sosrokartono yang ia ceritakan panjang dan lebar kala itu. Bagaimana Beliau menjalani hidup dengan prestasi dan kegundahan yang silih berganti, pencarian peran diri di dalam hidup yang tak pernah berhenti.  Betapa gundahnya menelaah apa yang sebenarnya sedang terjadi di bisnis retail akibat sistem dagang yang begitu kapitalistik yang hari ini berlangsung.

***

Orang-orang dengan gulawentah yang begitu beragam sehari-hari masih sempat menyisakan waktu untuk berpikir mendekonstruksi dan mendiskusikan berbagai elaborasi itu kan sebetulnya sesuatu yang kontras. Namun seringkali kontras itu tidak terlihat jelas, sebab pada sebuah kumpulan yang dilihat hanya backdrop dan taglinenya saja, tidak melihat kentang rebus dan mentimun sepertihalnya pada gado-gado. Padahal masing-masing dari sayuran itu sebetulnya bisa kok disambungkan dengan bahan masakan lain sehingga tercipta makanan yang berbeda.

Kita bergeser 20 KM ke arah selatan, tepatnya di Desa Pangebatan. Seperti pada kabar sebelumnya, Pak Titut baru saja mendirikan gubug belajar bagi anak-anak, “Gubug Sawah Cowong Sewu”. Seorang ahli kebun yang mencoba hidup dengan “nyeni” ini memang membuat gado-gado Juguran Syafaat makin buket dan lezat rasanya. Kalau ditelusuri lebih jauh, “anak-anak asuh” Pak Titut ini banyak dan beragam, saudaranya ada di lintas kalangan, lintas komunitas. Gubug yang menurut saya tidak ada mewah-mewahnya itu saja yang meresmikan tidak tanggung-tanggung, Wakil Bupati.

Yang baru saja merilis karya ada M. Faisal, sebuah album musik bertajuk “Hymne Kehancuran”. Meskipun alirannya ‘bawah tanah’ tetapi tetap ada Allah dan Kanjeng Nabi disematkan di cover albumnya. Kemudian yang sedang merilis karya berikutnya yakni Mas Agus Sukoco, saat ini sedang pre-launcing novel “Lahir Kembali”. Melalui Novel ini, Mas Agus ingin nilai-nilai Maiyah mengalir lebih luas, utamanya untuk aplikasi self-empowerment bagi generasi muda.

Ketika saya sedang menyelesaikan tulisan ini, saya juga sedang ber-whatsapp dengan Pak Yusro. Seorang politisi senior Purbalingga yang selalu ngemong kita semua, yang memilih mandito menjadi Kepala Madrasah Aliyah (MA) El Qosimi di Purbalingga. MA ini adalah bagian dari Ponpes An-Nahl Asuhan Abah Fitron Ali Sofyan, salah satu pusaran lingkaran Jamaah Maiyah sedari sebelum forum Juguran Syafaat lahir.

Pusaran lainnya di dalam cyrcle Jamaah Maiyah Banyumas-Purbalingga adalah Majelis Kemis Pahing yang diinisiasi oleh Abah Jumad. Jadi selain kita mempunyai forum bulanan, juga ada forum selapanan setiap Rabu Legi malam Kemis Pahing. Kabar dariAbah Jumad, Ia sedang menanam 1.300 tanaman jahe merah. Dalam cyrcle bisnis jahe merah ini, ada juga Kang Amin yang dari hikmah pandemi ia merilis produk minuman serbuk jahe merah siap seduh.

Sohib kentalnya Abah Jumad yakni Kang Wanto. Kerap tampil di Juguran Syafaat dengan alunan sulingnya. Ia sedang menekuni budidaya Burung Murai. Lalu ada Kang Barno yang khas dengan blangkon dan kain luriknya. Ia bukan budayawan meskipun penampilannya seperti itu, tetapi ia adalah seorang penggerak koperasi yang saat ini sedang mengembangkan produk air minum alkali. Saat ini ia amat getol menggiatkan jejaring resellernya, nampak amat berbakat di dalam membekali reseller dengan trik dan tips marketing.

***

Karena tulisan ini nampaknya sudah terlalu panjang, kita kembali ke Kedai Pak Asong di Desa Wisata Karang Salam lagi saja. Tidak terasa sudah berjam-jam duduk-duduk di sana. Saya tidak jog kopi, tetapi menambah memesan air putih panas dan pisang goreng saja. Menemani refresh dan relaks sambil menikmati gemerlap kota Purwokerto dari ketinggian yang terlihat penuh lampu-lampu. “Wah, kalau Purbalingga dilihat dari atas ya paling yang terlihat cuma lampu Toko ABC, Toko Harum dan alun-alun. Haha”, Febri berkelakar memamerkan kerendah-dirinya.

“Ini harusnya kita sudah nyicil bikin audio-podcast ini”, ujar Hilmy. Melihat begitu banyaknya unsur penyusun gado-gado yang membuat tulisan ini terasa kepanjangan, saya sih setuju saja itu, nantinya bisa dicicil edisi per edisi, dijadikan program baru Juguran Syafaat di 2021.

Trabas!

Sebuah perubahan yang terjadi akibat desakan keadaan itu lebih nampol ketimbang perubahan karena target atau keinginan tertentu. Sudah lebih 60 hari orang dipaksa untuk patuh pada tertib sosial yang baru, efeknya membuat banyak yang harus diubah pula di dalam diri dan keseharian banyak orang—tidak berlaku bagi mereka yang membandel atau karena tuntutan pekerjaan harus berkeseharian secara biasa-biasa saja.

Pada sekian tahun yang lalu, Mas Sabrang pada teman-teman di forum diskusi Martabat pernah men-challenge untuk masing-masing membuat sebuah perubahan pada diri meskipun kecil. Caranya sederhana, pilihlah satu kebiasaan baru dan kerjakan itu dengan sadar tanpa putus selama 21 hari.

Misalnya, kita yang terbiasa membuka gadget setiap bangun tidur tetapi ingin menciptakan kebiasaan baru membuka gadgetnya baru sesudah sarapan pagi. Kerjakan itu dengan sadar tanpa putus selama 21 hari. Contoh lainnya lagi, yakni yang di-“ijazahkan” Mas Sabrang pada saya adalah duduklah dengan punggung yang lebih tegap setiap berhadapan dengan orang. Pesannya, pembiasaan itu akan menciptakan sikap yang lebih percaya diri.

Nah, pertanyaannya adalah, Sudah dua bulan lebih masing-masing kita diberi waktu begitu leluasa oleh dicanangkannya status pandemi oleh dunia. Kebiasaan baru apa yang sudah kita bikin? Betapa ruginya kalau tidak ada kebiasaan positif baru yang dibentuk sedangkan Tuhan sudah memberi “ayat” melalui momentum ini. Bahwa momentum ini adalah trigger perubahan berkualitas tinggi. Yakni perubahan yang timbul karena desakan keadaan, bukan karena ingin saja, bukan pula karena angan-angan belaka.

Selain urusan tuntutan pekerjaan dan sikap membandel sehingga berkeseharian secara biasa-biasa saja, sebetulnya ada masalah lain lagi yang menjadi penyebab. Yakni karena seseorang gagal atau hanya rendah saja kadarnya dalam menghadirkan sence of crisis.

Kesadaran akan situasi atas krisis tidak melulu soal terciptanya kecemasan yang dimitoskan ia menggerus imunitas—padahal yang menggerus imunitas itu berita tentang sengkarut penanganan pandemi yang terjadi setiap hari. Akan tetapi, Sense of crisis melahirkan pantikan kewaspadaan ekstra, kejelian yang tidak biasa dan dinamika adrenalin yang berbeda.

Sebab kewaspadaan yang ekstra, seseorang menjadi lebih sungguh-sungguh berbenah menemukan apa-apa saja yang harus diperbaiki di dalam diri dan kehidupannya. Sebab kejelian yang tidak biasa, apa-apa yang saat situasi normal dulu disepelekan, saat ini nampak lebih berharga untuk ditempuh dikerjakan. Sebab dinamika adrenalin yang berbeda, pencapaian yang selama ini terhambat oleh sikap serba gamang dan gojak-gajek menjadi bisa ditrabas saja. Situasi sudah begini, kenapa pula kita harus terus mempertahankan ragu atas sesuatu?

Maka, amati lagi keadaan, buka jendela lebih lebar untuk memandang lebih luas tentang apa saja yang sedang terjadi di tahun ini. Dan kita ada di dalamnya, bukan? Hingga kemudian tersadarkan bahwa ternyata kita bukan sebatas sebagai penonton dari sebuah bencana. (Rizky D. Rahmawan)

Idulfitri Biji-Bijian Tasbih

Ada teknologi sederhana bernama tasbih. Biji-bijian yang diuntai dengan tali, umumnya terdiri dari 99 buah bulatan. Pada setiap setelah bulatan yang ke-33, ada sebuah bulatan yang lebih besar. Ini digunakan untuk penanda berganti bacaan wirid. Break section.

Dengan menggunakan tasbih, orang dapat tetap khusyuk ber-dzikir memejamkan mata hingga larut menempuh inner journey tanpa perlu risau perihal jalannya hitungan. Tak hanya dalam ritual wirid, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang pun begitu larut. Larut pada rutinitas keseharian sampai tidak terasa oleh berjalannya waktu. Wah, Cepat sekali yah sudah tahun baru. Loh, kok sudah mau puasa lagi. Tidak terasa yah puasa sudah selesai. Dan seterusnya.

Untunglah kita dikaruniai Allah momentum bernama hari raya. Kita mempunyai Idulfitri, sebuah hari yang menjadi bulatan besar di antara bulatan-bulatan kecil hari-hari dalam tahun kehidupan yang kita lalui. Kalau saja tidak ada hari yang bernilai bulatan besar, jangan-jangan kita terlalu asik dengan rutinitas tak henti kita, larut dalam tuntutan profesi peran hidup kita, larut mengejar target-target yang tak ada ujungnya.

Saking cepatnya terasa waktu berjalan, tanpa ada pengingat untuk sejenak untuk melakukan murojaah, menghitung kembali, mengulang untuk meneliti lagi. Tak ada pengingat untuk berpindah dari satu sesi ke sesi berikutnya dalam proses penumbuhan diri.  

Hari senin itu banyak, selasa juga sama banyaknya, dan seterusnya. Tetapi senin di pekan ini adalah satu-satunya senin di hidup kita yang berbeda dengan senin lalu atau senin depan. Pun begitu dengan Idulfitri, puluhan hari raya sudah kita alami, tetapi Idulfitri tahun ini adalah hari yang berbeda dengan Idulfitri tahun lalu juga tahun yang akan datang.

Khusus tahun ini kita dibuat sadar oleh peristiwa pandemi. Bahwa Idulfitri bukan rutinitas belaka yang tiap tahun harus dikerjakan secara sama.

Selamat hari raya, selamat memasuki sesi baru penumbuhan diri. (Rizky D. Rahmawan)

Insting, Inspirasi, skill transfer

Industri melahirkan simplicity. Apa-apa yang repot dikerjakan diubah menjadi simpel dengan dibuatkan tombol. Namun, Pertanian tidak bisa seperti itu. Menanam tanaman itu ya harus selalu repot. Setiap hari menyiram, dua atau tiga hari sekali mencabuti rumput dan dari waktu ke waktu memperhatikan kurva pertumbuhannya. Namun, ‘repot’ itu kan bahasa industri, bagi petani sejati mengerjakan semua kerepotan itu adalah kegembiraan. Mosok bergaul dengan alam tidak bergembira sih?

Modernitas menghadirkan pembangunan. Membangun itu banyak yang menyangka tidak sepaket dengan merawat. Oleh karenanya dari program tingkat nasional, daerah hingga tingkat RT sekalipun, cek saja berapa banyak benda mangkrak setelah selesai pembangunannya. Lain halnya dengan bercocok tanam, stressing pada merawat bahkan harus lebih kuat, ketimbang kegiatan menanamnya.

Sebuah pohon petai besar di pekarangan sebelah rumah tetangga saya tak tahu siapa yang menanamnya dahulu. Entah warisan dari kakek, buyut, canggah atau wareng, tetapi karena tetangga saya pandai merawatnya, tiap musim panen pohon itu menjadi jalan rezeki yang terus-menerus. Itulah hasil dari ketekunan menjaga dan merawat.

Kesuksesan adalah tentang tercapainya sebuah target hasil. Namun, di alam hijau tidaklah berlaku begitu. Target kita adalah target terhadap proses saja. Bagaimana seluruh proses sudah dikerjakan, selanjutnya urusan menumbuhkan itu wilayah ‘kolaborasi’ dengan malaikat-malaikat pertumbuhan yang sudah ditugasi Tuhan.

Kita ini anak-anak dari negeri maritim dan agraris sekaligus. Namun, berapa banyak dari kita yang lebih akrab dengan tombol ketimbang dengan dunia tanaman. Yang bergairah dengan pembangunan tetapi tak punya bakat berupa ketekunan merawat. Yang 5 cm di depan dahi kita terbentang target-target hasil, tak ada jarak untuk menyemai proses.

Semenjak SD barangkali, kita sudah diajak untuk industry minded. Kebun singkong di halaman belakang sekolah itu adalah insignificant object. Sarang laba-laba di plafon ruang kelas bukan obyek observasi, melainkan harus lekas ditangani dengan alat-alat kebersihan. Semua itu karena tidak ada hubungannya dengan jalur industri.

Hari-hari ini berbagai lini industri dilanda collaps, setingkat industri penerbangan yang begitu supernya saja tak luput dari kecemasan atas kebangkrutan. Mestinya para pembuat kurikulum terhenyak oleh kenyataan tersebut. Bahwa semengagumkan apapun itu makhluk bernama industri, tetap saja ia memiliki keterbatasan. Janganlah diandalkan habis-habisan untuk seluruh manusia diajak numpang hidup padanya.

Untuk kembali mengajak populasi merambah dunia agraris kembali, ternyata tak cukup dimulai dengan kursus menanam. Harus mundur beberapa langkah sebelum skill transfer pertanian, yakni menghidupkan insting-insting paling dasar untuk bertani.

Mengakrabi kerepotan, menikmati berproses dan ketekunan merawat adalah diantara insting yang harus dihidupkan. Kalau sudah hidup insting itu, baru merambah bertahap pada kegiatan yang memantik inspirasi. Itu loh, ada lahan secuil, bisa diolah untuk apa yah?

Proses meng-ide semacam itu jika dijual dalam paket kelas inspirasi bertani bisa ber-Rupiah mahal tuh. Padahal warga agraris jaman dulu sudah auto saja, setiap jengkal pekarangan bisa untuk tidak dibiarkan menganggur, selalu ada saja ide alamisasinya, walau sekedar dilempari tongkat tumbuh tanaman–singkong. (Rizky D. Rahmawan)

Subsidi Harapan

Orang desa jaman dulu akrabnya dengan benih dan semaian. Dan orang modern jaman sekarang akrabnya dengan saldo dan credit remaining. Benih tanaman kalau disemai, lalu tumbuh berikutnya ada yang bisa dipanen dan ada yang bisa dijadikan benih lagi. Begitulah mendaur terus-menerus. Sedangkan saldo, tidak begitu. Semakin dipantengin, semakin berkurang terus saja dia.

Kalau sebuah keluarga mendapat taruhlah sepuluh kilo beras bantuan. Itu bernilai benih atau saldo? Jawabannya adalah saldo. Atas bantuan yang keluarga itu peroleh, kewajiban pertama adalah bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada perantara pemberi rezeki yakni si penyalur bantuan. Kewajiban berikutnya adalah untuk keluarga tersebut berhitung, atas bantuan yang telah diperoleh tersebut bisa ditanak menjadi nasi untuk berapa kali masak. Lalu, dalam setiap kali menyiapkannya untuk disantap harus banyak, sedang atau sedikit.

Maka setelah menempuh kewajiban tersebut, sebuah keluarga akan mempunyai konstruksi doa yang lebih presisi untuk dimunajatkan kepada Allah. “Ya, Allah, hari ke-10 nanti berikanlah rezekimu lagi supaya kami bisa terus menanak nasi dan bersantap makan”.

Setelah menengadahkan tangan, maka doa berupa langkah-langkah upaya menanti untuk segera dikerjakan. Sebab tidak mungkin seseorang hanya berpangku tangan menunggu edisi bantuan berikutnya. Mana tahu Allah menyiapkan rezeki berikutnya melalui jalur yang berbeda.

Manusia adalah makhluk berbadan, berpikiran, sekaligus ber-Ketuhanan. Memberi bantuan supaya saudara kita yang lain bisa makan bukanlah puncak dari segala-galanya. Hal itu tidak membuat masalah selesai seketika. Memang urusan makan untuk mereka beres, tetapi pengetahuan bahwa sisa untuk mengisi periuk ada batasnya akan habis lagi adalah sumber kecemasan tersendiri.

Manusia butuh disubsidi makannya. Lebih dari itu, manusia juga butuh disubsidi harapannya. Itulah mengapa anjuran solidaritas sosial dalam bentuk bantuan bahan pangan harus berjalan beriringan dengan bantuan penyiapan lumbung hidup berupa benih dan semaian untuk tanaman halaman.

Supaya sebuah keluarga tak terforsir cemas pada pikiran saldo beras dan minyak goreng, tetapi setidaknya ada pengalihan kecemasan menjadi harapan pada perhatiannya terhadap ketersediaan tanaman pangan di halaman. Karena dari waktu ke waktu, kalau dirawat dengan baik, tanaman-tanaman itu bisa terus menerus diremajakan keberadaannya.

Dalam situasi yang berat, apabila orang masih bisa memelihara harapan maka masalah-masalah lebih mungkin diatasi. Hal-hal memberdayakan lebih masuk akal untuk dikerjakan. Peluang perubahan menjadi lebih besar untuk terjadi.

Komunitas di berbagai daerah bahkan sudah mempersiapkan atisipasi kalau-kalau beras nanti menjadi langka. Jika masa itu beneran terjadi, entah tanaman porang, atau berbagai polo pendem alias umbi-umbian akan menjadi primadona. Secuil lahan dan skill alakadarnya untuk bisa menanam akan menjadi begitu berharga.  (Rizky D. Rahmawan)

Spirit DIY!

Pemandangan yang saya dapati sewaktu Saya berada dalam satu rombongan dengan Letto pada sebuah roadshow di Sulawesi Barat adalah all about keakraban. Yang nampak akrab bukan hanya antar musisi Letto, tetapi juga keluarga dan anak-anaknya. Setiap ngumpul sebelum manggung, kalau ada video call dari anak salah satu dari mereka, maka ramai semuanya menyapa. Senang tentu si anak, sebab om-nya banyak.

Sebagai komunitas, Mas Sabrang menyampaikan bahwa value ‘kebersamaan’ adalah yang paling tinggi dijunjung diantara mereka. Baru kemudian berikutnya karya, produktivitas dan seterusnya. Maka pantas, sejak 2004 mereka bersama-sama, tidak pernah ada ‘bongkar-pasang’ anggota.

Value adalah sebuah fundamental dari apa yang dimiliki oleh komunitas. Sedangkan, family holiday, buka puasa bersama, camping, touring, dll adalah ekspresinya. Ada fundamental komunitas, ada ekspresi komunitas. Berapa banyak dari kita yang berkumpul bersama tetapi hanya sibuk pada urusan ekspresi? Sebab tidak bisa mengurai dua itu, sehingga banyak orang memilih mengambil jalan pintas: Lebih mudah mengerjakan segala sesuatu sendiri, tambah ruwet doank kalau dikerjakan bareng-bareng. Ya iyalah, bagaimana tidak ruwet kalau hari-harinya disibukkan hanya untuk urusan ekspresi-ekspresi saja.

Nah, menghadapi situasi seperti hari-hari krisis pandemi ini, ada aktualisasi dari value komunitas yang saat ini mendapatkan challenge. Apa challenge-nya? Masih kata mas Sabrang, ketika ia mendifinisikan apa itu komunitas. Apa itu komunitas? Komunitas adalah ia yang mampu bertahan sendiri.

Ya, mencukupi apa-apa yang merupakan kebutuhan dari lingkaran terkecil sehari-hari kita pada masa-masa yang lalu tidaklah penting. Akan tetapi, siapa yang tahu tentang keadaan setengah tahun, setahun atau dua tahun mendatang? Perhitungan hari ini atas ketidakstabilan kondisi masyarakat yang kita alami memaksa kita juga harus berfikir tentang ancaman scarcity alias kelangkaan.

Sekarang banyak yang beternak ayam, kalau ingin ayam tinggal beli. Pemerintah selalu mengimpor gula dan garam dalam jumlah yang fantastis, sediaan di warung selalu ada. Sayuran? Kita tak perlu melihat wujudnya, ada banyak warung rames, makanan kita tahunya tinggal santap saja.

Keadaan di tahun-tahun belakangan ini seolah sudah sedemikian stabilnya, sampai semua orang shock dengan datangnya pandemi. Terlebih kaum milenial. Yakni generasi yang lahir hampir bersamaan bersama lahirnya dekade plastik. Sebelum memasuki dekade plastik, do it yourself (DIY!) masih membudaya di masyarakat. Kalau mau membuat pancuran, dibikin padasan dari tanah liat. Kalau mau alat menyiduk air dibikin siwur dari batok kelapa. Tali rafia belum lahir, kulit bambu disayat panjang dijadikan tali ketika membutuhkan.

Hari-hari ke depan ada baiknya kita mulai bersiap untuk menghidupkan lagi spirit DIY! itu. Efek minimal adalah membantu kita berhemat, apa yang bisa dibuat sendiri tidak perlu kita merogoh kocek membelinya. Efek yang lebih advanced adalah kita bisa membangun sirkulasi barang dan jasa di lingkaran kita sendiri. Maka sebagai komunitas, kita mempunyai bekal untuk terus bertahan karena memiliki banyak sumber daya sendiri. (Rizky D. Rahmawan)