Trabas!

Sebuah perubahan yang terjadi akibat desakan keadaan itu lebih nampol ketimbang perubahan karena target atau keinginan tertentu. Sudah lebih 60 hari orang dipaksa untuk patuh pada tertib sosial yang baru, efeknya membuat banyak yang harus diubah pula di dalam diri dan keseharian banyak orang—tidak berlaku bagi mereka yang membandel atau karena tuntutan pekerjaan harus berkeseharian secara biasa-biasa saja.

Pada sekian tahun yang lalu, Mas Sabrang pada teman-teman di forum diskusi Martabat pernah men-challenge untuk masing-masing membuat sebuah perubahan pada diri meskipun kecil. Caranya sederhana, pilihlah satu kebiasaan baru dan kerjakan itu dengan sadar tanpa putus selama 21 hari.

Misalnya, kita yang terbiasa membuka gadget setiap bangun tidur tetapi ingin menciptakan kebiasaan baru membuka gadgetnya baru sesudah sarapan pagi. Kerjakan itu dengan sadar tanpa putus selama 21 hari. Contoh lainnya lagi, yakni yang di-“ijazahkan” Mas Sabrang pada saya adalah duduklah dengan punggung yang lebih tegap setiap berhadapan dengan orang. Pesannya, pembiasaan itu akan menciptakan sikap yang lebih percaya diri.

Nah, pertanyaannya adalah, Sudah dua bulan lebih masing-masing kita diberi waktu begitu leluasa oleh dicanangkannya status pandemi oleh dunia. Kebiasaan baru apa yang sudah kita bikin? Betapa ruginya kalau tidak ada kebiasaan positif baru yang dibentuk sedangkan Tuhan sudah memberi “ayat” melalui momentum ini. Bahwa momentum ini adalah trigger perubahan berkualitas tinggi. Yakni perubahan yang timbul karena desakan keadaan, bukan karena ingin saja, bukan pula karena angan-angan belaka.

Selain urusan tuntutan pekerjaan dan sikap membandel sehingga berkeseharian secara biasa-biasa saja, sebetulnya ada masalah lain lagi yang menjadi penyebab. Yakni karena seseorang gagal atau hanya rendah saja kadarnya dalam menghadirkan sence of crisis.

Kesadaran akan situasi atas krisis tidak melulu soal terciptanya kecemasan yang dimitoskan ia menggerus imunitas—padahal yang menggerus imunitas itu berita tentang sengkarut penanganan pandemi yang terjadi setiap hari. Akan tetapi, Sense of crisis melahirkan pantikan kewaspadaan ekstra, kejelian yang tidak biasa dan dinamika adrenalin yang berbeda.

Sebab kewaspadaan yang ekstra, seseorang menjadi lebih sungguh-sungguh berbenah menemukan apa-apa saja yang harus diperbaiki di dalam diri dan kehidupannya. Sebab kejelian yang tidak biasa, apa-apa yang saat situasi normal dulu disepelekan, saat ini nampak lebih berharga untuk ditempuh dikerjakan. Sebab dinamika adrenalin yang berbeda, pencapaian yang selama ini terhambat oleh sikap serba gamang dan gojak-gajek menjadi bisa ditrabas saja. Situasi sudah begini, kenapa pula kita harus terus mempertahankan ragu atas sesuatu?

Maka, amati lagi keadaan, buka jendela lebih lebar untuk memandang lebih luas tentang apa saja yang sedang terjadi di tahun ini. Dan kita ada di dalamnya, bukan? Hingga kemudian tersadarkan bahwa ternyata kita bukan sebatas sebagai penonton dari sebuah bencana. (Rizky D. Rahmawan)

Idulfitri Biji-Bijian Tasbih

Ada teknologi sederhana bernama tasbih. Biji-bijian yang diuntai dengan tali, umumnya terdiri dari 99 buah bulatan. Pada setiap setelah bulatan yang ke-33, ada sebuah bulatan yang lebih besar. Ini digunakan untuk penanda berganti bacaan wirid. Break section.

Dengan menggunakan tasbih, orang dapat tetap khusyuk ber-dzikir memejamkan mata hingga larut menempuh inner journey tanpa perlu risau perihal jalannya hitungan. Tak hanya dalam ritual wirid, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang pun begitu larut. Larut pada rutinitas keseharian sampai tidak terasa oleh berjalannya waktu. Wah, Cepat sekali yah sudah tahun baru. Loh, kok sudah mau puasa lagi. Tidak terasa yah puasa sudah selesai. Dan seterusnya.

Untunglah kita dikaruniai Allah momentum bernama hari raya. Kita mempunyai Idulfitri, sebuah hari yang menjadi bulatan besar di antara bulatan-bulatan kecil hari-hari dalam tahun kehidupan yang kita lalui. Kalau saja tidak ada hari yang bernilai bulatan besar, jangan-jangan kita terlalu asik dengan rutinitas tak henti kita, larut dalam tuntutan profesi peran hidup kita, larut mengejar target-target yang tak ada ujungnya.

Saking cepatnya terasa waktu berjalan, tanpa ada pengingat untuk sejenak untuk melakukan murojaah, menghitung kembali, mengulang untuk meneliti lagi. Tak ada pengingat untuk berpindah dari satu sesi ke sesi berikutnya dalam proses penumbuhan diri.  

Hari senin itu banyak, selasa juga sama banyaknya, dan seterusnya. Tetapi senin di pekan ini adalah satu-satunya senin di hidup kita yang berbeda dengan senin lalu atau senin depan. Pun begitu dengan Idulfitri, puluhan hari raya sudah kita alami, tetapi Idulfitri tahun ini adalah hari yang berbeda dengan Idulfitri tahun lalu juga tahun yang akan datang.

Khusus tahun ini kita dibuat sadar oleh peristiwa pandemi. Bahwa Idulfitri bukan rutinitas belaka yang tiap tahun harus dikerjakan secara sama.

Selamat hari raya, selamat memasuki sesi baru penumbuhan diri. (Rizky D. Rahmawan)

Insting, Inspirasi, skill transfer

Industri melahirkan simplicity. Apa-apa yang repot dikerjakan diubah menjadi simpel dengan dibuatkan tombol. Namun, Pertanian tidak bisa seperti itu. Menanam tanaman itu ya harus selalu repot. Setiap hari menyiram, dua atau tiga hari sekali mencabuti rumput dan dari waktu ke waktu memperhatikan kurva pertumbuhannya. Namun, ‘repot’ itu kan bahasa industri, bagi petani sejati mengerjakan semua kerepotan itu adalah kegembiraan. Mosok bergaul dengan alam tidak bergembira sih?

Modernitas menghadirkan pembangunan. Membangun itu banyak yang menyangka tidak sepaket dengan merawat. Oleh karenanya dari program tingkat nasional, daerah hingga tingkat RT sekalipun, cek saja berapa banyak benda mangkrak setelah selesai pembangunannya. Lain halnya dengan bercocok tanam, stressing pada merawat bahkan harus lebih kuat, ketimbang kegiatan menanamnya.

Sebuah pohon petai besar di pekarangan sebelah rumah tetangga saya tak tahu siapa yang menanamnya dahulu. Entah warisan dari kakek, buyut, canggah atau wareng, tetapi karena tetangga saya pandai merawatnya, tiap musim panen pohon itu menjadi jalan rezeki yang terus-menerus. Itulah hasil dari ketekunan menjaga dan merawat.

Kesuksesan adalah tentang tercapainya sebuah target hasil. Namun, di alam hijau tidaklah berlaku begitu. Target kita adalah target terhadap proses saja. Bagaimana seluruh proses sudah dikerjakan, selanjutnya urusan menumbuhkan itu wilayah ‘kolaborasi’ dengan malaikat-malaikat pertumbuhan yang sudah ditugasi Tuhan.

Kita ini anak-anak dari negeri maritim dan agraris sekaligus. Namun, berapa banyak dari kita yang lebih akrab dengan tombol ketimbang dengan dunia tanaman. Yang bergairah dengan pembangunan tetapi tak punya bakat berupa ketekunan merawat. Yang 5 cm di depan dahi kita terbentang target-target hasil, tak ada jarak untuk menyemai proses.

Semenjak SD barangkali, kita sudah diajak untuk industry minded. Kebun singkong di halaman belakang sekolah itu adalah insignificant object. Sarang laba-laba di plafon ruang kelas bukan obyek observasi, melainkan harus lekas ditangani dengan alat-alat kebersihan. Semua itu karena tidak ada hubungannya dengan jalur industri.

Hari-hari ini berbagai lini industri dilanda collaps, setingkat industri penerbangan yang begitu supernya saja tak luput dari kecemasan atas kebangkrutan. Mestinya para pembuat kurikulum terhenyak oleh kenyataan tersebut. Bahwa semengagumkan apapun itu makhluk bernama industri, tetap saja ia memiliki keterbatasan. Janganlah diandalkan habis-habisan untuk seluruh manusia diajak numpang hidup padanya.

Untuk kembali mengajak populasi merambah dunia agraris kembali, ternyata tak cukup dimulai dengan kursus menanam. Harus mundur beberapa langkah sebelum skill transfer pertanian, yakni menghidupkan insting-insting paling dasar untuk bertani.

Mengakrabi kerepotan, menikmati berproses dan ketekunan merawat adalah diantara insting yang harus dihidupkan. Kalau sudah hidup insting itu, baru merambah bertahap pada kegiatan yang memantik inspirasi. Itu loh, ada lahan secuil, bisa diolah untuk apa yah?

Proses meng-ide semacam itu jika dijual dalam paket kelas inspirasi bertani bisa ber-Rupiah mahal tuh. Padahal warga agraris jaman dulu sudah auto saja, setiap jengkal pekarangan bisa untuk tidak dibiarkan menganggur, selalu ada saja ide alamisasinya, walau sekedar dilempari tongkat tumbuh tanaman–singkong. (Rizky D. Rahmawan)

Subsidi Harapan

Orang desa jaman dulu akrabnya dengan benih dan semaian. Dan orang modern jaman sekarang akrabnya dengan saldo dan credit remaining. Benih tanaman kalau disemai, lalu tumbuh berikutnya ada yang bisa dipanen dan ada yang bisa dijadikan benih lagi. Begitulah mendaur terus-menerus. Sedangkan saldo, tidak begitu. Semakin dipantengin, semakin berkurang terus saja dia.

Kalau sebuah keluarga mendapat taruhlah sepuluh kilo beras bantuan. Itu bernilai benih atau saldo? Jawabannya adalah saldo. Atas bantuan yang keluarga itu peroleh, kewajiban pertama adalah bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada perantara pemberi rezeki yakni si penyalur bantuan. Kewajiban berikutnya adalah untuk keluarga tersebut berhitung, atas bantuan yang telah diperoleh tersebut bisa ditanak menjadi nasi untuk berapa kali masak. Lalu, dalam setiap kali menyiapkannya untuk disantap harus banyak, sedang atau sedikit.

Maka setelah menempuh kewajiban tersebut, sebuah keluarga akan mempunyai konstruksi doa yang lebih presisi untuk dimunajatkan kepada Allah. “Ya, Allah, hari ke-10 nanti berikanlah rezekimu lagi supaya kami bisa terus menanak nasi dan bersantap makan”.

Setelah menengadahkan tangan, maka doa berupa langkah-langkah upaya menanti untuk segera dikerjakan. Sebab tidak mungkin seseorang hanya berpangku tangan menunggu edisi bantuan berikutnya. Mana tahu Allah menyiapkan rezeki berikutnya melalui jalur yang berbeda.

Manusia adalah makhluk berbadan, berpikiran, sekaligus ber-Ketuhanan. Memberi bantuan supaya saudara kita yang lain bisa makan bukanlah puncak dari segala-galanya. Hal itu tidak membuat masalah selesai seketika. Memang urusan makan untuk mereka beres, tetapi pengetahuan bahwa sisa untuk mengisi periuk ada batasnya akan habis lagi adalah sumber kecemasan tersendiri.

Manusia butuh disubsidi makannya. Lebih dari itu, manusia juga butuh disubsidi harapannya. Itulah mengapa anjuran solidaritas sosial dalam bentuk bantuan bahan pangan harus berjalan beriringan dengan bantuan penyiapan lumbung hidup berupa benih dan semaian untuk tanaman halaman.

Supaya sebuah keluarga tak terforsir cemas pada pikiran saldo beras dan minyak goreng, tetapi setidaknya ada pengalihan kecemasan menjadi harapan pada perhatiannya terhadap ketersediaan tanaman pangan di halaman. Karena dari waktu ke waktu, kalau dirawat dengan baik, tanaman-tanaman itu bisa terus menerus diremajakan keberadaannya.

Dalam situasi yang berat, apabila orang masih bisa memelihara harapan maka masalah-masalah lebih mungkin diatasi. Hal-hal memberdayakan lebih masuk akal untuk dikerjakan. Peluang perubahan menjadi lebih besar untuk terjadi.

Komunitas di berbagai daerah bahkan sudah mempersiapkan atisipasi kalau-kalau beras nanti menjadi langka. Jika masa itu beneran terjadi, entah tanaman porang, atau berbagai polo pendem alias umbi-umbian akan menjadi primadona. Secuil lahan dan skill alakadarnya untuk bisa menanam akan menjadi begitu berharga.  (Rizky D. Rahmawan)

Spirit DIY!

Pemandangan yang saya dapati sewaktu Saya berada dalam satu rombongan dengan Letto pada sebuah roadshow di Sulawesi Barat adalah all about keakraban. Yang nampak akrab bukan hanya antar musisi Letto, tetapi juga keluarga dan anak-anaknya. Setiap ngumpul sebelum manggung, kalau ada video call dari anak salah satu dari mereka, maka ramai semuanya menyapa. Senang tentu si anak, sebab om-nya banyak.

Sebagai komunitas, Mas Sabrang menyampaikan bahwa value ‘kebersamaan’ adalah yang paling tinggi dijunjung diantara mereka. Baru kemudian berikutnya karya, produktivitas dan seterusnya. Maka pantas, sejak 2004 mereka bersama-sama, tidak pernah ada ‘bongkar-pasang’ anggota.

Value adalah sebuah fundamental dari apa yang dimiliki oleh komunitas. Sedangkan, family holiday, buka puasa bersama, camping, touring, dll adalah ekspresinya. Ada fundamental komunitas, ada ekspresi komunitas. Berapa banyak dari kita yang berkumpul bersama tetapi hanya sibuk pada urusan ekspresi? Sebab tidak bisa mengurai dua itu, sehingga banyak orang memilih mengambil jalan pintas: Lebih mudah mengerjakan segala sesuatu sendiri, tambah ruwet doank kalau dikerjakan bareng-bareng. Ya iyalah, bagaimana tidak ruwet kalau hari-harinya disibukkan hanya untuk urusan ekspresi-ekspresi saja.

Nah, menghadapi situasi seperti hari-hari krisis pandemi ini, ada aktualisasi dari value komunitas yang saat ini mendapatkan challenge. Apa challenge-nya? Masih kata mas Sabrang, ketika ia mendifinisikan apa itu komunitas. Apa itu komunitas? Komunitas adalah ia yang mampu bertahan sendiri.

Ya, mencukupi apa-apa yang merupakan kebutuhan dari lingkaran terkecil sehari-hari kita pada masa-masa yang lalu tidaklah penting. Akan tetapi, siapa yang tahu tentang keadaan setengah tahun, setahun atau dua tahun mendatang? Perhitungan hari ini atas ketidakstabilan kondisi masyarakat yang kita alami memaksa kita juga harus berfikir tentang ancaman scarcity alias kelangkaan.

Sekarang banyak yang beternak ayam, kalau ingin ayam tinggal beli. Pemerintah selalu mengimpor gula dan garam dalam jumlah yang fantastis, sediaan di warung selalu ada. Sayuran? Kita tak perlu melihat wujudnya, ada banyak warung rames, makanan kita tahunya tinggal santap saja.

Keadaan di tahun-tahun belakangan ini seolah sudah sedemikian stabilnya, sampai semua orang shock dengan datangnya pandemi. Terlebih kaum milenial. Yakni generasi yang lahir hampir bersamaan bersama lahirnya dekade plastik. Sebelum memasuki dekade plastik, do it yourself (DIY!) masih membudaya di masyarakat. Kalau mau membuat pancuran, dibikin padasan dari tanah liat. Kalau mau alat menyiduk air dibikin siwur dari batok kelapa. Tali rafia belum lahir, kulit bambu disayat panjang dijadikan tali ketika membutuhkan.

Hari-hari ke depan ada baiknya kita mulai bersiap untuk menghidupkan lagi spirit DIY! itu. Efek minimal adalah membantu kita berhemat, apa yang bisa dibuat sendiri tidak perlu kita merogoh kocek membelinya. Efek yang lebih advanced adalah kita bisa membangun sirkulasi barang dan jasa di lingkaran kita sendiri. Maka sebagai komunitas, kita mempunyai bekal untuk terus bertahan karena memiliki banyak sumber daya sendiri. (Rizky D. Rahmawan) 

Lebih ‘Sekolah’ daripada Sekolah

Sewaktu akan kuliah, saya mendaftar di UGM. Diterima pilihan ke-2 waktu itu yakni Geografi. Saya jadi teringat, pelajaraan saat kecil pra-sekolah dari Ibu Saya adalah belajar Iqro. Dan dari bapak saya adalah semua yang ada di RPUL dan RPAL. Saya paling excited dengan globe, peta buta, bendera negara-negara. Geografi.

Apa yang terjadi dengan Pandemi? Para orang tua hari muda hari ini dipaksa untuk hand on pendidikan bagi anak-anak mereka sendiri. Pak Toto Raharjo menyebutkan, sumber primer belajar yang selama ini diletakkan pada guru di sekolah, mau tidak mau hari ini harus digeser. Sumber primer belajar adalah orang tua.

Bagi para orang tua yang selama ini diam-diam ber-mindset sekolah adalah tempat penitipan anak di saat ia harus kerja dengan tidak terganggu, keadaan ini pastilah membuat kaget. Akan tetapi, bagi orang tua yang selama ini intensif menjadi fasilitator anak belajar di rumah, maka tinggal mengubah dosis peran saja. Supaya rumah hari ini lebih ‘sekolah’ daripada sekolah.

Bagi orang tua yang merasa bahwa belajar itu cukup sampai wisuda. Akan kewalahan mereka memutar kembali ‘diesel’ di otak. Akan tetapi, bagi mereka para orang tua pembelajar, keadaan hari ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Mereka termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi, supaya lebih banyak bisa memformulasi ekosistem belajar buat anak. Tak apalah kalau punya iming-iming supaya anak nanti bilang, “Wah, orang tua saya keren!”

Selain sumber primer belajar yang bergeser dari sekolah ke rumah, yang berubah berikutnya adalah zona bahan belajar. Selama ini episentrum belajar adalah diktat, buku paket, kisi-kisi ujian. Sampai dibela-belain les mahal tak apa sepulang sekolah. Ketika kerawanan kesehatan masih berlangsung mungkin beberapa tahun mendatang, masih nyamankah orang tua melepas anaknya berangkat les?

Tidak les tidak apa-apa, toh itu bukan yang terpenting. Kesadaran baru seharusnya muncul, belajar kisi-kisi ujian juga bukan yang terpenting. Yang lebih penting adalah memahami alam sekitar kita. memahami ekosistem sosial di tempat seorang anak bertempat tinggal. Memang, kita ini belajar meloncat kejauhan. Mempelajari dinosaurus, tetapi tidak mempelajari jangkrik di kebun belakang rumah. Menguasai teknik wawancara kerja, tetapi tidak mencoba-coba teknik mengolah singkong di belakang rumah jadi tepung mocaf yang banyak dicari orang.

Ini mungkin akan jadi pembangunan program entrepeneurship yang sesungguhnya. Yakni bukan motivasi cepat sukses, atau pelatihan tips dan trik jalan cepat menuju kaya raya, tetapi bagaimana setiap orang mempelajari potensi terdekat di sekitarnya. Segala sesuatu yang memungkinkan ia tekuni, ia curahkan waktu dengan optimal. Sehingga daya saing pada obyek itu terbangun dibandingkan orang lain yang tempat tinggalnya lebih jauh. Ia kemudian bisa mengolahnya menjadi bahan produktif. Terus menerus perlahan menjadi konstan. Sehingga tidak perlu lagi mengintip-intip lowongan industri yang pabriknya, gudangnya jauh dari rumah tinggalnya.  (Rizky D. Rahmawan)