Tidak Ada Peran yang Sekedar

Tentang peran, bahkan yang tidak terlihat seringkali justru lebih berat juga ruwet. Oleh karenanya, disiplin pada pos peran masing-masing adalah kunci dari berjalan berhasilnya sebuah program. Apalagi kalau program tersebut adalah sesuatu yang berkelanjutan.

Rumus teamwork berikutnya setelah setia pada pos peran masing-masing, adalah tidak meremehkan pos peran satu sama lain. Dan rumus pamungkasnya adalah sungguh-sungguh pada seremeh apapun pos peran, sekalipun ia adalah pos peran yang tidak terlihat.

Begitulah monthly virtual gathering Juguran Syafaat diupayakan. Yang di depan kamera bersungguh-sungguh mengerjakan manajemen forum, yang dibalik kamera bersungguh-sungguh men-setup kualitas video, audio dan jaringan dengan optimal.

Mukadimah: RUANG TUMBUH

Bertumbuh adalah bagian dari fitrah manusia. Keadaan jejaring sel-sel di dalam otak, pilihannya hanya dua, terus-menerus ditumbuhkan oleh stimulasi pengetahuan-pengalaman baru atau dibiarkan satu demi satu sel mati.

Ruang komunalitas juga dituntut untuk bertumbuh. Ruang-ruang yang stagnan yang enggan untuk bertumbuh akan ditinggalkan. Juguran Syafaat berterima kasih kepada setiap individu-individu yang berada di dalamnya dan terus khusyuk mengerjakan penumbuhan diri. Sehingga Juguran Syafaat tumbuh oleh akumulasi energi dari proses penumbuhan diri yang dikerjakan oleh masing-masing.

Resultan ide dan inisiatif positif yang disambut dengan dukungan positif lainnya. Sehingga terbangun pola sinergi yang berkesinambungan. Tumbuh di dalam sinergi yang sehat. Bukan satu pihak menyantuni dan pihak lain menggantungkan diri, melainkan semua komponen urun energi positif bersama-sama.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi Februari 2021 LIVE di Youtube dan Instagram : Juguran Syafaat.

Mukadimah: TADARUS PENGALAMAN

Pikiran kita lebih banyak dibentuk oleh pengalaman yang sudah kita lalui ketimbang oleh pengetahuan yang kita kumpulkan. Di dalam pengalaman seseorang terdapat bekas-bekas emosi positif dan negatif, karenanya seseorang dapat melakukan nostalgia. Di dalam pengalaman seseorang juga terdapat simpulan-simpulan benar dan salah atas banyak keputusan dan tindakan. Di dalam pengalaman seseorang juga terdapat bukit dan lembah, titik tertinggi dan titik terendah, representasi dari kurva penumbuhan diri yang sedang dikerjakan.

Seringkali seseorang melangkah ke depan tetapi tanpa sadar ia hanya berputar-putar di pusaran masalah yang sama dengan berulang dan terus berulang. Sebab pengalaman hanya diintip melalui spion, alih-alih menderasnya, membacanya berulang-ulang. Supaya dapat menemukan pembelajaran berupa pola-pola dari baik dan buruknya emosi, titik tertinggi dan titik terendahnya pencapaian yang pernah diraih lengkap dengan hukum sebab-akibat yang melekat di dalamnya, perolehan momentum keberuntungan dan kesialan serta ilham dan fadhilah yang Allah anugerahkan pada garis waktu yang sudah kita lalui.

Sehingga kita bisa menjadikan hari ini sebagai sebab yang lebih baik bagi pencapaian esok hari. Karena hari ini sejatinya kita sedang menuliskan pengalaman baru yang akan dibaca dengan berulang di masa depan, yang akan lebih membentuk diri kita di masa depan ketimbang pengetahuan.

Pengalaman adalah ayat-ayat dari Allah yang diturunkan kepada manusia secara unik dan sangat personal. Yang terjemahannya berupa pola-pola keputusan dan tindakan di masa lalu, tentu saja ada yang berkualitas ada yang tidak, ada yang berhasil ada yang gagal, ada yang berangkat dari kesungguh-sungguhan ada yang alakadarnya. Memang hendaknya diri kita jangan sampai memiliki nasib seperti nasibnya sebuah bangsa yang ditimpa oleh masalah yang sama dan terus berulang, yakni sebuah bangsa yang tidak pandai belajar dari pengalamannya sendiri.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi bulan Januari 2021 secara LIVE! melalui youtube: Juguran Syafaat.

MENTAKJUBI 2020

Selain metode Pendidikan guru-siswa dan mursyid-murid, ada tawaran model alternatif pendidikan yakni metode tawashau. Ini adalah metode peer learning dengan dua medium pembelajaran, yakni tawashau bil haq dan bis shobri. Metode peer learning memungkinkan proses belajar lebih berlangsung secara kultural, tanpa hirarki siapa mengajari dan siapa diajari. Proses peer learning adalah masing-masing khusyuk dengan KURIKULUM DIRI SENDIRI dan menjadikan social cyrcle tempat ia berada menjadi instrumen, inspirasi, referensi dan imajinasi dari penumbuhan diri yang dikerjakan.

Dengan semangat tawashau itulah tahun berangka kembar dimulai, 2020. Frasa penumbuhan diri menjadi sesuatu yang menjemukan di forum dapur Juguran Syafaat sebab sudah berestafet pergantian tahun demi tahun frasa tersebut selalu saja muncul dan muncul lagi menjadi bahan elaborasi. Penumbuhan diri adalah misi yang harus dikerjakan. Dengan menumbuhkan diri berarti seseorang mengerjakan SEDEKAH PRIORITAS ditengah-tengah kesibukan berbagai kegiatan sedekah regular mengisi kotak amal, berkontribusi pada komunitas, terlibat di aneka gerakan moral dan bhineka aksi sosial. Sebab dengan seseorang menumbuhkan diri, maka ia akan dapat menolong orang lain lebih optimal.

Muncul keharusan menjadi diri yang terus tumbuh asalnya dari dua dorongan, dorongan naluri di dalam diri, sekaligus dorongan dari luar diri berupa kewajiban sosial bahwa setiap kita yang telanjur terlibat pada sebuah komunalitas mau tidak mau berarti masing-masing memiliki peran menjadi PEMBAWA CUACA. Kalau saya gagal tumbuh, saya tidak mau merusak cuaca sekeliling tempat saya berada.

Dan tahun kembarpun hadir sepaket dengan peristiwa besar bernama pandemi. Siapa yang menyangka dan membayangkan sebelumnya hal ini terjadi. Menjadi adaptif dan lebih resilien menjadi tantangan. Atas sesuatu yang masih gelap akan menjadi apa terjadi dan sampai seberapa lama, orang-orang ditantang kesungguh-sungguhannya untuk memproyeksi masa depan, bahkan lebih dari sekedar memproyeksi, kalau bisa sampai MENGALAMI MASA DEPAN.

Menuju masa depan menggunakan kendaraan berupa angka dan grafik dijumpailah bahwa AGRARIS POPULIS yang terabaikan justru menjadi sektor yang paling selamat dari hempasan ekses sosial ekonomi dari ayat kauniah Tuhan bernama Covid-19. Kembali pada naluri agraris yang bersahaja, meninggalkan peradaban riuh penuh pesta, over-seremoni dan jenuh kerumunan. Juga kembali semua pihak sama-sama menyelamatkan nasib populasi dengan bantuan dan stimulus, sebab separuh lebih ekonomi bangsa ditopang oleh sektor konsumsi domestik.

Yang penting tidak sampai terpuruk, yang penting tidak sampai putus asa, sebisa-bisa membuat LONCATAN TERUKUR. Tidak keren bagi orang lain, tetapi kan yang tahu diri sendiri bagaimana tetap sehat jasmani dan rohani di tengah perubahan besar sosiokultural pandemi yang ternyata berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan kebanyakan orang pada awalnya.

Secara lahiriah orang dipaksa menjaga jarak. Tetapi secara hakikat orang-orang digiring untuk mengerjakan SINDIKASI KEBAIKAN. Berbuat baik dengan masing-masing khusyuk pada fungsi-fungsi individu sebagai bagian elementer dari sebuah komunalitas, bukan sekedar seremoni kebaikan, ini loh saya sudah berbuat baik, ini loh saya sudah menyumbang, ini loh saya sudah ikut grubyag-grubyug.

Bersyukur kita berada di MULTIVERSITAS Maiyah yang sedari awal mendapat sederet panduan bukan hanya protocol kesehatan melainkan protokol taqwa. Bagaimana adab dan sikap batin berlaku kepada virus, tatapan pandang yang sepresisi mungkin terhadap manajemen kepemimpinan di kala pandemi, mitos keseimbangan ekonomi-kesehatan, hingga pembatasan forum yang sedari awal diteladankan oleh Marja’ Maiyah hingga kemudian pemerintah bereaksi ketat terhadap kerumunan di waktu yang sebetulnya sudah begitu terlambat.

Pada akhirnya kita menyadari bahwa skenario ini bersifat global. Ayat yang begitu besar dari Dia Yang Maha Besar. Arus kejut yang menyadarkan bahwa kita adalah bagian dari masyarakat global yang semestinya selalu BERTINDAK GLOBAL. Malu rasanya kalau masih berperilaku ikut-ikutan, berbuat kecil-kecilan, terlelap di dalam narasi-narasi produk konspirasi apalagi terus-terusan over-worried terhadap keadaan.

Dari postulat hidup yang begitu rumit yang diajarkan mainstream modern, mumpung arus besar hari ini mengarah pada simplicity dan kebersahajaan, maka ada baiknya kita kembali menggenggam FILSAFAT ORANG BIASA. Yakni cara pandang terhadap kehidupan dari orang-orang yang memilih hidup sakmadya. Jernih membedakan batas pemisah antara sungguh-sungguh dan ngoyo, juga antaravisioner dan ngoyoworo, tidak lagi mengambil nrima ing pandum untuk tameng hidup nglentruk, berhenti memilah quote-quote yang hanya membuat nyaman pembenaran diri dan menakar dosis POPULER EFEKTIF.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita hati yang ridho, atas sesederhana apapun pencapaian yang mampu diraih di 2020 ini. Dari hal istiqomah sesederhana apapun yang sudah kita kerjakan, semoga menjadi penegas ALAMAT KEBERMANFAATAN letak titik koordinat bagi silaturahmi rezeki.

Santri An-Nahl Sinau Jahe Merah

Santriwan Pondok An-Nahl Purbalingga belajar tentang budidaya Jahe Merah di Kebon Jahe milik Abah Jumad.

Jahe Merah adalah tanaman rimpang rempah yang banyak gunanya. Semenjak pandemi, harganya merangkak tinggi. Sempat bahkan komoditas ini amat sulit didapatkan.

Pada periode tanam kali ini, Abah Jumad membudidaya 3 kuintal bibit Jahe Merah yang ditanam dalam 1300 kandi.

Gubug Sawah Cowong Sewu

Abah Titut baru saja menyelesaikan pembangunan gubug Sawah Cowong Sewu. Gubug seluas 6 x 6 meter ini berdiri di tengah lahan tetanduran yang selama ini Beliau openi.

Pemfungsian gubug adalah untuk wahana anak-anak belajar memesrai alam. “Sebagai wahana eduwisata, Dik”, ujarnya.

Selain tetanduran berupa umbi-umbian, saat ini sudah merambah juga budidaya Lemon.