Mukadimah: MEROBEK SELUBUNG DELUSI

Dalam kehidupan yang serba kompleks, penuh dengan ketidakpastian, dan laju perkembangan zaman yang demikian cepat ini, seringkali kita terjebak dalam selubung delusi yang diciptakan oleh harapan, ketakutan, dan kenyataan yang kita bangun sendiri maupun yang sudah secara turun-temurun terwarisi. Delusi ini dapat berbentuk keyakinan tak berdasar common sense, harapan yang tidak realistis, pemahaman yang keliru tentang kehidupan, atau bahkan mungkin keliru dalam memahami diri kita sendiri. Selubung delusi ini tentu dapat berakibat pada semakin terbatasnya pikiran kita, menghalangi pandangan untuk dapat melihat kebenaran dengan jernih sehingga sulit memahami realitas secara utuh.

Merobek Selubung Delusi” adalah upaya untuk membuka pikiran kita terhadap hal-hal yang mungkin telah lama tersembunyi di balik tirai keyakinan yang tidak akurat. Pada tema kali ini, kita akan mengeksplorasi berbagai bentuk delusi yang sering kita hadapi, baik dalam ranah pribadi, maupun kolektif. Bersama-sama mencoba memahami bagaimana delusi terbentuk, bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku kita sehari-hari, serta memformulasi cara untuk merobek dan melepaskan diri dari selubung delusi.

Dengan harapan masing-masing dapat membangun kerangka berpikir yang lebih kokoh agar lebih berpeluang mencapai keputusan yang lebih akurat dan semoga dapat melahirkan kebijaksanaan yang lebih dalam. Maka, di Juguran Syafaat edisi 134 ini, kita bersama-sama berkumpul lagi, merobek selubung delusi, menemukan yang esensi lalu mengaktivasinya kembali.

Mukadimah: RUANG RINDU

Sejauh- jauh burung terbang, ia akan pulang juga ke sarangnya. Pepatah itu seolah sedang menjelaskan betapa penting makna pulang. Pulang menjadi penting karena ia merupakan jodoh dari kepergian. Setiap yang pergi pasti membutuhkan pulang. Begitulah hukum kehidupan.  Kepergian yang tanpa kepulangan, adalah gentayangan. Seperti laut yang tak menemukan pantai, pagi yang tak menjumpai senja, lelaki yang tak menemukan wanita dan hidup yang tak  menemukan mati husnul khotimah.

Setiap hari jiwa kita bepergian. Bergerak dengan cita- cita dan diseret oleh harapan. Dunia sedang membangun sejenis impian memalui propaganda dan hasutan- hasutan. Manusia berlarian mengejar hingga jauh meninggalkan keluarganya, kampungnya, sejarah dan asal usulnya. Impian- impian yang dipersepsikan sebagai kejayaan, kemakmuran dan kehebatan itu tak pernah selesai dikejarnya. Manusia saling berlomba agar bisa mengungguli orang lain.

Kepergian umat manusia telah membawa mereka ke tempat yang sangat jauh dari rumah sejatinya. Termangu- mangu di hamparan padang yang tak dikenalinya. Dan pada momen- momen tertentu ketika sukma mereka berontak, dorongan untuk pulang terasa menggebu. Ada sesuatu yang dirindui. Namun sesuatu itu telah menjadi samar- samar dan tak bisa dengan jelas dirumuskan.

Pada saat mereka mencoba mencari tempat pulang,  rumahnya tak lagi memberi rasa kepulangan, kampungnya telah kehilangan wajah sejarahnya, negaranya sudah bukan lagi negerinya,  pemimpin- pemimpinnya sudah tak memancarkan wajah pengayom,  agama- agama telah menyempit menjadi industri madzab dan aliran- aliran yang mempertegas permusuhan, bahkan tempat- tempat ibadah juga tak lagi dihuni oleh Tuhannya.

Manusia sedang membutuhkan arus balik dari langkah kepergian, yakni kepulangan. Juguran Syafaat membuka pintu bagi kedatangan para pembelajar untuk menemukan atmosfir kepulangan. Juguran Syafaat mengembarai ilmu Maiyah sebagai jalan menemukan rasa kepulangan yang tentram. Seperti perantau yang pulang menjumpai kampung halamannya, sanak keluarganya, orang tuanya dan habitat budaya yang membesarkan sejak masa kanak- kanak.

Di Juguran Syafaat tak ada akrobat kemewahan dan pamer kealiman. Tak ada unjuk kebolehan kepakaran yang saling menuduh orang lain sebagai ahli neraka. Sebelas tahun perjalanan Juguran Syafaat tidak sedang ingin mencapai apa- apa. Kecuali menemukan makna dan titik pijak yang tepat bagi setiap keberangkatan. Agar ketika harus pulang setelah pergi, tak kebingungan melacak jejaknya kembali.

Mukadimah: JEJAK KEBAIKAN

Jejak kebaikan dalam kita berproses posisinya persis dengan orang yang sedang menanam. Menanam sesuatu itu harus dipastikan sudah tergarap dulu tanah, cuaca dan perairannya.

Tiga hal tersebut sama dengan niat pada diri kita, sebagai mana yang sering diungkapkan Mbah Nun, “Dengan keberangkatan niat baik, niat baik dan niat baik Insya Allah berbuah”.

Mari kita selaku rekan seperjalanan membawa ini dengan semangat sosial spiritual menjadi penyumbang. Seperti yang kita lihat para penggiat simpul menyumbangkan baik waktu, tenaga, finansial dan pemikiran, itu semua demi tergelarnya Juguran Syafaat terkondisikan tidak ada yang kapiran dalam proses teman-teman Sinau bareng.

Semoga Para Penggiat ini menjadi prototipe keberlangsungan kita di masyarakat entah itu skala RT, desa, kecamatan dan skala yang lebih luas lagi.

Bersama-sama kita akan melingkar di Juguran Syafaat edisi ke-132 untuk merancang jejak-jejak kebaikan baru di masa depan.

PERSIAPAN TERBAIK

Gamelan, perangkat sound & backdrop mulai ditata disiapkan untuk persiapan Sinau Bareng malam nanti (18/1).

Bertepatan pelaksanaan Juguran Syafaat ke-130, KiaiKanjeng insyaallah hadir membersamai, melingkar bersama-sama di halaman Ponpes An-Nahl, Kutasari, Purbalingga.

Tugas kita melaksanakan persiapan semaksimal mungkin. Gusti Allah kemudian yang menyempurnakan dengan hasil yang mudah-mudahan sebaik-baiknya.

Bismillah diberi kelancaran. Semoga Gusti Allah ngijabahi.

Mukadimah: MANUSIA ADALAH HATINYA

Yang paling terlihat dari seseorang adalah profesinya, jabatannya, kedudukannya. Semua itu adalah baju, jubah dan aksesoris untuk setiap kehebatan, kekuatan dan kehormatan. Padahal, esensi manusia adalah hatinya. Hati yang mengandung sifat-sifat manusia manusiawi: arif, lemah lembut dan tidak tegaan hatinya adalah diantaranya.

Antara baju dan yang esensi dari manusia itu, mana yang lebih membawa pada kemanfaatan? Sikap arogan atau hati yang empati? Merasa paling mumpuni atau tak pernah jemu mencerdasi setiap yang terjadi? Bertindak untuk hari ini atau memproyeksi ikhtiar untuk sepanjang mungkin generasi? Adalah contoh-contoh pertanyaan yang mudah-mudahan dapat memantik kemanfaatan lebih diri.

Di zaman ini seolah sudah hilang perbendaharaan hati. Apa itu luhur, apa itu mulia, apa itu pusaka, apa itu orang tua. Maka, di Juguran Syafaat kita berkumpul kembali, untuk bersama-sama mendudah obat hati, mengaktivasi yang esensi. Dan kepada teman & sahabat yang selama ini memilih menjauh pergi, hari ini kami terbuka untuk menerima sepenuh hati untuk datang dan berkumpul lagi.

Mukadimah: TITIK NADIR DEMOKRASI

Apabila kita membicarakan politik dan negara, yang itu tidak ada hubungannya dengan kebutuhan dan kehidupan sehari-hari kita, kita bisa terjebak pada politik-tainment. Menemukan garis dan pola hubungan antara kahanan makro bangsa, dengan problematika mikro yang sedang dihadapi oleh kita sebagai individu, sebagai keluarga kecil, sebagai social circle, itu adalah ijtihad pengupayaan ilmu yang baik.

Kedewasaan seseorang tidak semata-mata terwujud pada sikap santun, tidak pernah marah, nir-protes, anteng mantheng. Kedewasaan dibangun melalui asoasiasi problematika sehari-hari yang diperluas terus-menerus, hingga menemukan pola: ini adalah masalah yang akan lebih ringan bila kita mau memecahkannya secara bersama-sama.

Di Juguran Syafaat edisi ke-129, bersama-sama kita akan berkumpul dan melingkar di sebuah ruang bicara dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pada titik nadir tantangan hidup masing-masing yang harus terus dijalani, meskipun negara tak pernah hadir menghampiri dan menguatkan kita, setidak-tidaknya kita sebagai teman, sahabat dan saudara masih ada itikad untuk tetap saling hadir di hati satu sama lain.