Ekspresi Cinta berupa Iming-Iming

Betapa rempongnya seorang Ibu kalau melihat anaknya ndak mau mandi seharian. Keadaan dapat menjadi heboh kalau aksi ndak mau mandinya berlangsung berhari-hari. Bagi si anak, keadaaan apapun dia nyaman-nyaman saja. Walau susah disuruh mandi, sekalinya mau mandi, main air terus dia, susahnya minta ampun diajak mentas.

Kenapa Ibu begitu hebohnya melihat anak ndak mau mandi? Karena ibu sangat peduli terhadap kesehatan anaknya. Ia yang paling khawatir terhadap sekecil apapun resiko yang mungkin menimpa si anak. Kalau si anak kemudian menjadi tidak penurut, jangan-jangan perkembangan dirinya nanti ndak dalam kondisi yang baik.

Termasuk juga khawatir pada masalah fisik. Takut badan si anak terkena gatal di badannya atau sakit gigi karena ndak mandi itu sepaket juga dengan susah diajak menyikat gigi. Hingga persoalan pandangan tetangga, mempunya anak kok kucel sebab jarang mandi, jangan-jangan ibunya kurang cerdas ngurusi anak.

Seorang Ibu menjadi semakin repot ketika si anak sudah mulai mampu berdebat. Penolakan untuk berangkat mandi diadu dengan argumentasi. Pada saat itu biasanya Ibu pakai jurus andalannya, yakni memberikan iming-iming. Ayo mandi, nanti dibelikan es krim. Atau, ayo mandi, nanti habis mandi kita jalan-jalan. Saat semua iming-iming membiasa sehingga tidak mempan, sesekali ditambah dosisinya: Ayo kita beli mercon. Maka, Cuussss…!!! Si anak langsung dengan semangat minta untuk mandi.

Salut untuk Ibu yang disamping harus menata dan mengurus semua pekerjaan rumah, juga ia sekaligus yang tak kalah penting dan tak kalah menguras energi ngembati si buah hati. Begitu repotnya, itu saja baru hanya untuk urusan mandi.

Menjadi sebuah perenungan untuk kita bersama, betapa untuk terjadinya sebuah kebaikan diperlukan pihak yang memberikan iming-iming. Meskipun kebaikan itu manfaatnya kembali kepada si pelaku sendiri. Mandi itu untuk kebaikan dan kesehatan si anak, yang merasakan manfaatnya juga si anak, kok pihak lain yang repot harus memikirkan berbagai iming-iming itu.

Apakah gerangan yang menggerakkan? Tidak lain adalah rasa peduli, rasa sayang dan cintalah yang melandasi pihak lain mengkondisikan agar yang di sayang dalam keadaan baik-baik saja.

Begitupun dengan iming-iming pahala dan surga yang sepaket dengan ancaman neraka. Semua itu Allah berikan untuk tujuan membawa kebaikan bagi diri pelaku amaliahnya. Namun, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa Allah adalah pihak yang sangat sayang sekali kepada kita umat manusia. Sampai-sampai Dia harus menawarkan iming-iming sedemikian melimpah, terlebih di bulan Ramadhan ini.

Perintah-Nya kalau tidak dilaksanakan dengan baik, yang rugi dan mendapat efeknya ya diri manusia sendiri. Namun, dasarnya memang nalar kita terbatas, diberi iming-iming malahan berhenti pandangannya sebatas pada perolehan iming-iming itu. Tidak juga paham bahwa iming-iming hanyalah sarana atau mekanisme untung ruang perkembangan diri umat manusia sendiri.

Ini sekelumit perenungan saya, saat bersama istri tercinta sedang rempong ngurusi anak yang ndak mau mandi. Kok ya sampai nyambung ke Cinta Tuhan kepada kita umat manusia ya. Eh, tapi bukankah memang segala urusan kita itu hendaknya tidak boleh terlepas dari persambungan diri kita dengan Allah Ta’ala. (Karyanto)

Kesempatan Meng-Upgrade Kesadaran

Rindu Jumatan, rindu Shalat berjamaah ramai-ramai di Masjid, demikian satu dua tagline di status WA, FB atau media sosial lainnya. Tentu ini menghadirkan sebuah “penelangsan” tersendiri. Saya kira sebagian banyak orang, termasuk kita merasakannya sendiri sesuai dengan dosisnya masing-masing. Lebih-lebih apabila kita teruskan perasaan tadi dalam menyambut bulan Ramadhan yg tinggal hitungan jari lagi.

Jamaah shalat taraweh yg biasanya akan berjubel di masjid dan mushola di minggu pertama sampai tidak tertampung akan kita rindukan, suara guris anak-anak di tengah prosesi shalat taraweh juga akan menghadirkan rasa rindu. Sudah terbayang besok akan timbul pertanyaan dalam hati, “kok sepi”.

Dan akan lebih baik jangan kita terus-teruskan membayangkan rasa “penelangsan” tadi pada momentum idhul fitri kelak. Karena apa? Itu akan menghadirkan perasaan yg berkecamuk lagi. Itu nyata dan hampir bisa dipastikan terjadi kalau melihat dr larangan berkerumun oleh semua pihak dalam upaya menanggulangi wabah ini.  

Berkaca pada apa yg sedang di alami oleh negara-negara di belahan dunia sana, karena keteledoran dan menganggap enteng Virus ini, mengedepankan keyakinan tapi aslinya ngawur tanpa perhitungan, kuburan massal, orang meninggal terpapar virus setiap waktu, setiap hari.

Sungguh tidak bisa kita bayangkan 150 orang meninggal setiap hari, dan dalam proses pemakaman butuh SOP yg tidak sembarangan, krna akan beresiko penularan yg lebih mengerikan lagi, sementara sumber daya terbatas, lalu ketika berganti hari mayat terus bertambah, dan bertambah terus berlipat-lipat.

Kemudian kita berdoa kepada Allah SWT agar segera diangkat Virus ini dr dunia. Wabah yg memberikan kita kritik paling ekstrem, paling bertentangan dengan apa yg ideal selama ini kita gaungkan tentang utama-utamanya dalam menjalani kehidupan.

Hari ini, anjuran bijak untuk memperbanyak silaturahmi karena itu akan memanjangkan umur dan menambah rezeki, adalah sebuah hal yang bertentangan dengan kondisi. Utamanya kita shalat adalah berjamaah, karena dengan jamaah maka kita akan mendapatkan 27 derajat apabila dibandingkan shalat munfarid atau sendirian.

Pun begitu dengan berjabat tangan lambang keramahan, menebar senyum kepada siapa saja tanpa pandang bulu pun menjadi sebuah pelanggaran karena kita diwajibkan memakai masker, kalau tidak akan ditegor dan di cap pembangkang, ngeyel. Hukum fiqh bergeser karena dalam keadaan darurat seperti ini. Apa yang dulu lumrah menjadi larangan, apa yg diwajibkan dan fatal apabila ditinggalkan, sekarang dibolehkan. Ada apa ini? 

Tentu kita sudah tahu semua bahwa Allah SWT itu sangat ekstrem. Kepada kaumnya Nabi Nuh AS, Allah begitu ekstrem menyadarkan manusia dengan menenggelamkan seisi dunia dengan banjir. Seisi dunia, musibah dunia, demikian orang menyebutnya. Jika kaumnya Nabi Musa AS, Nabi Luth AS, Nabi Sholeh dengan badai yg menghancurkan  tubuh seprti halnya kapuk itu bersifat regional, seperti halnya musibah Tsunami di Aceh, tapi kalau banjirnya kaum Nabi Nuh AS itu skalanya global. 

Dan saya pernah mendengar tentang hal ekstrem yang mungkin akan terulang lagi, apakah seperti halnya banjir seluruh dunia tenggelam, atau ada 10 bahkan lebih gunung berapi meletus secara bersamaan sehingga abu vulkanik akan menggelapkan dunia. Atau pilihan yg ketiga, adalah perang saudara seperti yang pernah terjadi di dunia ini dahulu kala, antara Pandawa dan Kurawa yg kita kenal dengan epos Mahabarata.

Atau pilihan ekstrem lainnya adalah pendemi. Wabah yg akan mengguncangkan seluruh tatanan dunia. Kehidupan ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan negara akan terguncang dan sangat mungkin akan terjadi tatanan baru yg bisa jadi, tatanan sekarang adalah tatanan yang paling tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Sebagai makhluk yg ber-Ketuhanan, tentu kita tidak bisa mengingkari bahwa semua yang terjadi atas kuasa Allah SWT, kemauan, ijin dan kehendak Allah SWT. Apa yang sedang Allah kritik dan apa yg sedemikian hancur di tatanan kehidupan kita yg sekarang sampai Allah SWT mengkritik kita dengan hal yg mengerikan seperti yang sedang kita alami ini?

Tentu ini jadi muhasabah kita bersama. Di samping dengan memperbanyak istighfar sebagaimana para Kyai menganjurkan, sepertinya ini jadi kritikan atas kesombongan-kesombongan kita selama ini. Kesombongan terhadap prinsip hidup yg selama ini kita pegang. Kesombongan bernegara, kesombongan dalam hal kekuatan, kepintaran atau bisa jadi kesombongan dalam hal beragama. Wallahualam.

Kalau bukan kesombongan yang Allah kritik terhadap kita lalu adakah sebab lainnya? Tentu sangat disayangkan apabila kita mampu bebas dari wabah ini dan mampu melewatinya tetapi tidak ada kesadaran yang berubah dalam jiwa kita. Seperti kejadian yang menimpa kaum Nabi Musa AS, atas peristiwa besar ditenggelamkannya Qorun ke dalam bumi bersama semua harta kekayaannya, lambang penguasa modal, kaum kapitalis yg menyengsarakan dalam hal ekonomi, dan setelah pasukan yg sangat besar dan hampir mustahil dilawan dengan akal manusia pada saat itu, kekuasaan Firaun lenyap ditenggelamkan air laut.

Dan hanya 40 hari berselang atas peristiwa besar, mukjizat, hujjah yg Allah tunjukan di depan mata mereka, kaum Nabi Musa AS kembali kafir lagi. Menyembah patung Samiri yg dibikin oleh tangan Haman, sang politikus yang sangat cerdas dalam mengambil setiap kesempatan untuk melakukan pencitraan-pencitraan. Lalu sekembalinya Nabi Musa AS ber-uzlah setelah 40 hari, dan menyaksikan kaumnya kembali berpaling dari Allah SWT, sekali lagi hanya berselang 40 hari setelah peristiwa besar itu.

Kembali pada apa yg sedang kita khawatirkan bersama ini, kita berdoa kepada Allah SWT, agar segera diangkat wabah ini dari dunia, sehingga paling dekat kita bisa menikmati bulan puasa dengan khidmat dan khusu’. Serta bisa berkumpul dengan anggota keluarga dalam keridhoan masing-masing. Namun pertanyaanya, apakah setelah wabah ini diangkat, Allah kabulkan doa kita semua, kita mampu menjamin kita tidak akan berpaling lagi seperti halnya kaumnya Nabi Musa AS? Di saat mengerikan kita merintih perlindungan mohon ampun, tetapi ketika dalam keadaan aman kita kembali menyombongkan diri. (Karyanto)

Cilongok, Banyumas, 17 April 2020.

Belajar Alamiah ala Anak Alam

“Di sini ada Sekolah Taman Siswa?”, Tanya Pak Toto kepada saya. Saya menggeleng tidak tahu. Saya baru tahu kalau Sekolah Taman Siswa ada di sini setelah besok harinya diantara peserta bedah buku yang hadir adalah guru di Sekolah Taman Siswa di Purwokerto.

Bapak Pendidikan kita adalah Ki Hajar Dewantoro. Tetapi apa yang Ki Hajar laksanakan di Taman Siswa yang ia dirikan, kita tidak tahu menahu. Yang mainstream berlaku hari ini adalah sistem pendidikan yang masih segaris dengan apa yang menjadi haluan pendidikan Gubernur Jenderal Daendeles, ketika tanah ini masih berpemerintahan Hindia-Belanda.

Kesempatan yang langka, Pak Toto Raharjo hadir lengkap bersama Bu Sri Wahyaningsih atau Bu Wahya, istri Beliau. Pak Toto dan Ibu hadir dalam rangka memenuhi agenda kegiatan bedah buku yang diprakarsai oleh Pemkab Purbalingga.

Buku yang didiskusikan adalah buku “Sekolah Biasa Saja” yang baru saja cetak ulang untuk kedua kalinya. Tidak mainstream, nyleneh dan berkebalikan dengan yang wajar berlangsung, itulah Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, wahana pendidikan yang menjadi pokok bahasan di dalam buku yang menurut saya justru menyuguhkan sejatinya pendidikan itu harus diselenggarakan seperti apa.

Sejak malam hari sebelum acara, Pak Toto sudah mewedar cara berfikir yang beyond yang membuat saya berkali-kali terbelalak. Dengan runut dan sederhana, meskipun melalui diskusi santai di beranda rumah transit, tetapi Pak Toto bisa membuat saya tersadar harus bagaimana berposisi terhadap realitas hari ini. Realitas keluarga, realitas pendidikan, realitas sosial, hingga realitas politik.

Tanpa doktrin dan tanpa afirmasi, Pak Toto menyadarkan saya bahwa ternyata saya masih terlalu “anggur-angguran”, sehingga menyediakan waktu yang melebihi porsinya untuk menyimak berita politik. Akibatnya, realitas yang lebih penting untuk diperhatikan, justru menjadi terabaikan.

Memang pendidikan itu bukan hanya kewajiban anak-anak saja. Sepanjang kita masih membutuhkan ilmu untuk menghadapi realitas-realitas hidup, sepanjang itu pula kita masih harus terus belajar mendidik diri sendiri.

Acara diskusi berlangsung di Pendopo Cahyana, Rumah Dinas Wakil Bupati Purbalingga. Peserta yang hadir mulai dari kalangan pendidik, mahasiswa hingga ibu rumah tangga. Para penggiat Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dan penggiat Taman Baca Masyarakat (TBM) juga banyak yang hadir pada acara di hari Minggu (7/10) kemarin. Bukan hanya dari wilayah Purbalingga, tetapi juga Purwokerto, Banjarnegara, Cilacap dan Pemalang.

Dari sistem pendidikan di Salam Jogjakarta, salah satunya Pak Toto dan Bu Wahya menyampiakan bahwa siswanya melakukan riset atau penelitian langsung dalam hal-hal yang nyata. Juga, interaksi langsung dengan para ahli di bidangnya. Jarang sekali sistem belajar-mengajar dilakukan di kelilingi tembok-tembok, papan tulis, dilakukan dengan mendikte dan metode yang mempersulit anak-anak lainnya.

Naelul Fauzi selaku pembedah buku menyampaikan intisari dari bab-bab di dalam buku dengan runut dan dikomparasikan dengan realitas yang Ia hadapi di keseharian sebagai pengajar di daerah terpencil. Sangat menarik apa yg di sampaikan para narasumber, ketika siswa turun ke kebun milik pak tani, melihat langsung, mengamati, meneliti dan apabila ada pertanyaan terkait bisa langsung tanya ke ahlinya, yaitu pak tani. Dan ketika siswa turun ke kebun, ternyata tidak melulu belajar mengenai tanaman, tapi belajar menulis, hitung-hitungan matematika, interaksi sosial dengan kondisi lingkungan, ilmu pengetahuan alam, dan banyak sekali dalam waktu sekaligus termasuk pelajaran agama, karena apabila di simpulkan dari hasil pengamatannya akan mengerucut kepada Sang Maha Pencipta.

Bagaimana semua aspek pembelajaran yang banyak, namun dikonsep menarik bagi para siswa, seperti halnya mainan, menyenangkan namun dasar-dasar mengenai apa itu belajar, tersampaikan dengan apik. Seperti bagaimana falsafah pendidikan sejak awal yang di gaungkan oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantoro, bahwa sekolah itu ada untuk mengisi waktu luang di tengah masa-masa bermain anak, dan sekolah yang pertama kali berdiri adalah taman, bukan sekolah, yakni Taman Siswa.

Kata taman identik dengan keindahan, menyenangkan suasananya dan alamiah. Bukan suasana penjara dimana tembok, pagar besi yang mengelilingi berdirinya sebuah sekolah. Tembok dari segi bangunan, juga tembok pembatas dalam berkreasi, bernalar dan dalam menempuh pendidikan.

Peserta begitu aktif merespon dan bertanya. Hingga acara ditutup tentu masih banyak yang belum terpuaskan, Rizky sebagai moderator acara menyampaikan bahwa Sanggar Anak Alam terbuka untuk siapa saja yang hendak berkunjung atau sekedar mampir, untuk menuntaskan ketidakpuasan di acara tersebut.

Sanggar Anak Alam memang tidak seperti sekolah alam pada umumnya. Yakni bukan sekolah yang harus ada di alam, tetapi bagaimana Pak Toto dan Bu Wahya mengembangkan pemebelajarn untuk anak alam, yakni sesuai kodrat anak, sesuai alamiahnya bakat, modalitas dan gaya belajar anak.[]

Yel Pancasila

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”
QS. At Taghabun: 12

Ma’asyirol Jum’ah Rohimakumullah,

Dalam kesempatan Sholat Jumat siang hari ini, Khotib mengajak Jamaah sekalian untuk tidak ada bosan-bosannya mengingat dan mensyukuri Rahmat Allah, yang tentu tidak ada habisnya kalo kita hitung dan rasakan.

Setidaknya selama kita hidup,  baik di keluarga, di dalam masyarakat maupun di dalam bernegara, di mana kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Dan dari rasa syukur itulah semoga menjadi pintu untuk kita semakin beriman dan semakin bertaqwa kepada Allah SWT. Shalawat salam kita sanjungkan kepada junjungan Baginda Nabi Agung Muhammad SAW.

Jamaah Jum’ah yang berbahagia,

Mohon ijin kepada Jamaah sekalian, kali ini Khotib akan membahas permasalahan yg agak ndakik, ngayawara agak tinggi yaitu tentang negara, tetapi semoga pembahasan Khotib masih dalam sudut pandang yang mungkin bisa dijangkau oleh setiap pribadi kita, yaitu ruang kesadaran dalam beragama yaitu Islam.

Karena saya Islam maka saya cinta negara ini, tidak bisa dibenturkan antara memilih beragama atau bernegara, memilih Islam atau pancasila. Darimana ide butir-butir Pancasila kalau tidak berasal dari Rukun Islam?

Jamaah Jum’ah,

Salah satu pedoman atau rukun negara kita baru-baru ini sedang dibuat ramai baik di media cetak, televisi maupun internet adalah mengenai Pancasila.

Dengan bermodalkan memahami makna rukun maka semoga bisa kita terapkan dalam memahami Pancasila sebagai rukunnya negara kita.

Kita ketahui rukun itu bersifat saling berkait, saling mendukung, saling menguatkan diantara satu dengan yang lainnya. Tidak bisa hanya berpedoman pada sholat saja, kemudian kita mengabaikan rukun Islam yg lainnya, karena akan berakibat pada rusaknya atau batalnya keislaman kita.

Pun dalam memahami Pancasila, tujuan negara ini berdiri sudah disepakati oleh para pendahulu kita terletak pada sila yang terakhir, yaitu sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Namun kita lihat di kanan-kiri, apakah prinsip keadilan sudah terwujud? Melimpahnya kekayaan negara seyogyanya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat diseluruh negeri dengan berprinsip pengelolaan yang berkeadilan.

Sila kelima bisa terwujud harus ditopang oleh sila sebelumnya yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Hendaknya sila ini dijalankan dengan benar oleh wakil rakyat, dengan pedoman hikmah kebijaksanaan untuk terwujudnya keadilan sosial.

Kalau keadilan sosial belum terwujud, berarti ada yang tidak benar pada sila keempat yang di emban oleh para wakil rakyat. Drama korupsi menjadi pemandangan rakyat setiap hari. Pemandangan yang tidak jarang membikin kita geleng-geleng kepala sendiri.

Dan kalau sila yang keempat bermasalah maka sumber masalah ada pada sila sebelumnya yaitu sila yang ketiga: Persatuan Indonesia. Ini tugasnya partai politik atau parpol yang seharusnya mendidik kadernya agar mampu menciptakan kebersatuan nasional, bukannya malah memperjelas terbentuknya gerombolan-gerombolan, geng-geng, kubu-kubu.

Bukannya bersatu demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat, yang ada aksi tipu, jual beli layaknya perdagangan, jegal menjegal, saling bunuh, dan pagelaran perang sesama saudara.

Dan tidak tercapainya sila ketiga berarti jelas ada yang salah dengan sila Kemanusiaan Yang Adil dan beradab. Sila yang kedua dan ini tugas dari Dinas Pendidikan Nasional. Dunia pendidikan dimandati tugas untuk menghasilkan manusia-manusia dengan kepribadian yang adil dan beradab.

Dan gagalnya dunia pendidikan dalam menghasilkan manusia yang beradab disebabkan oleh sila yang pertama yaitu ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan-jangan masih ada yang gagal dalam kita beragama.

Mengapa misalnya, semakin kita beragama makin keras akhlak kita. Mayoritas kita adalah pemeluk agama tapi kenapa kerusakan lingkungan di mana-mana? Dimanakah rahmatan lil ‘alamin-nya Islam?

Jamaah Jum’ah,

Islam pasti benar. Tetapi yang harus kita cari adalah apa yang belum tepat, apa yang tidak seharusnya di dalam kita berislam.

Dimanakah letak adanya hal yang tidak tepat dan tidak seharusnya? Mari kita cari bersama-sama dengan penuh kerendahan hati, hilangkan sombong-sombong dengan merasa paling benar, paling suci, paling masuk surga sehingga berakibat menyalah-nyalahkan orang lain, mengkafirkan satu dengan yang lainnya.

Jamaah Jum’ah,

Dengan pedoman memahami rukun semoga menjadi modal untuk bisa memahami butir-butir Pancasila sehingga dapat diambil beberapa kesimpulan, meskipun kesimpulan ini berlaku hanya pada kedalaman diri kita masing-masing.

Dalam berwudhu, ada syarat sah dan rukun yang harus kita tunaikan, apabila ada salah satu saja rukun yang kita abaikan, tidak kita lakukan maka batallah wudhu kita, tidak sah wudhu kita.

Pun demikian dengan sholat, tentu ada syarat sah dan rukun untuk bisa disebut kita telah mendirikan shalat. Dari takbir, berdiri, ruku’ hingga salam kanan kiri merupakan syarat rukun sah-nya sholat. Apabila ada yang tidak kita tunaikan maka hakikatnya sholat kita telah batal.

Jamaah Jum’ah,

Maka rukun negara kita adalah pancasila. Manakah rukun pancasila yang telah batal ditunaikan? Manakah yang gagal untuk diwujudkan? Apakah kegagalannya disebabkan ketidakmampuan ataukah disebabkan oleh kecurangan dan keserakahan?

Apabila dikarenakan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan semoga Allah memberikan pemakluman dan pengampunan. Namun, apabila dikarenakan kesengajaan berupa kecurangan dan keserakahan, kita serahkan kapada Allah SWT dan kita berlindung terhadap murka-Nya yang telah melenyapkan umat Nabi Nuh AS, Nabi Luth AS, Nabi Sholeh AS, Firaun beserta bala tentaranya dan kaum-kaum  terdahulu yang telah melampaui batas.

Jamaah Jum’ah,

Dengan memahami sesuatu yang mendasar dari ajaran Islam ini, semoga menjadi pedoman dalam memahami permasalahan-permasalahan, baik yang sifatnya kecil maupun yang lebih besar, mengenai negara, mengenai Pancasila atau apapun saja secara benar.

Terkecuali status negara hanya kita jadikan sekedar papan nama, Pancasila hanya kita berlakukan sebatas untuk slogan dan yel-yel saja. Kita bangga memperlakukan Pancasila justru untuk gagah-gagahan tanpa berusaha memahami apalagi menjalankannya. []

 

Mentadabburi Dinamisnya Al Quran dan Kehidupan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 2 Juni 2017

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
(QS. AL Baqarah: 30)

Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah,

Di bulanRamadhan yang penuh dengan keberkahan ini, Khatib mengajak diri Khatib dan Jamaah sekalian, marilah untuk terus menerus berupaya meningkatkan keimanan kita menuju derajat taqwa. Iman atau percaya adalah cara terbaik untuk bisa sampai kepada derajat yg kita sebut taqwa.

Bahwa segala ajaran Islam, sebisa mungkin kita harus mencari kebenarannya dengan cara direngeng-rengengi, diilmui, dinalarkan. Meski sudah begitu, harus kita sadari bahwa tetap ada banyak hal di mana akal tidak akan sanggup menjangkaunya. Di situlah kemudian Allah memberikan metode yang disebut Iman.

Jangkauan ilmu di dalam Islam itu mencakup pengetahuan yang merupakan hal-hal sederhana berupa kegiatan keseharian, hingga pada pengetahuan Islam yang rumit.Bahkan meliputi pengetahuan langit yang butuh kekuatan ekstra untuk menjangkaunya.

Untuk pengetahuan tingkat langit ini, kita menggunakan iman. sedangkan untuk pengetahuan yang masih bisa dinalarkan, marilah kita sebisa-bisa untuk berupaya mengakali atau mengilmuinya.

Jamaah Jum’ah,

Pada kesempatan siang hari ini, Khatib mengajak untuk kita semua slulup, jebar-jebur mentadabburi kandungan dari Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 30.

Bahwasannya di dalam memahami isi kandungan Al Quran itu ada 2 cara, yang pertama dengan pendekatan ‘tafsir’. Pendekatan tafsir adalah wilayahnya para ahli kitab, cendekiawan, alim ulama yang mumpuni di dalam disiplin ilmu tafsir. Kita menyebut orang yang memenuhi kriteria tersebut sebagai seorang mufasir.

Sementara itu, wilayah yang tersedia bagi orang awam seperti Khatib dan kebanyakan kita umat Muslim di dalam memahami kandungan ayat Al Quran, Allah memberi cara bernama ‘taddabur’.

Adanya pendekatan tadabbur menegaskan kepada kita bahwa Al Qur’an bukanlah monopoli bagi kaum alim ulama atau ahli kitab saja. Namun Allah memberikan ruang bagi kita, siapa saja untuk berinteraksi secara akrab dengan Al Quran, sehingga siapa saja dapat meniti kebenaran dan menikmati keindahan dari Al Quran.

Tadabbur bentuknya bisa berupa rengeng-rengeng semampunya. Patokannya bukan pada definisi formal sebagaimana tafsir yang analitis dan sistematis. Namun, patokannya adalah ketika seseorang bertadabbur Al Quran, seseorang dapat menangkap pesan baik dari ayat-ayat Al Quran yang produknya adalah kebaikan bagi Allah, Rasulullah SAW dan bagi sesama.

Maka orang yang rajin bertadabbur bisa dikenali dari cirinya yang makin hari makin giat dalam menjalankan ibadah selaras pula dengan makin baik akhlaknya terhadap sesama.

Jamaah Jum’ah,

Mentadabburi Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 30, kita akan menemukan sebuah ‘drama’ peristiwa di mana Allah dan Malaikat bercakap-cakap menjelang terjadinya penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika Allah menyampaikan rencana penciptaan tersebut, malaikat menyanggah. Menyanggah karena menganggap manusia hanya akan membuat pertumpahan darah saja sebagaimana yang malaikat saksikan pada sebelum-sebelumnya. Namun, Allah menjawab sanggahan itu dengan “Inni a’lamu ma la ta’lamun”, yang artinya “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”

Jamaah Jum’ah,

Khatib jadi teringat drama pada malam-malam awal Ramadhan di Masjid kita tercinta ini, di mana anak-anak begitu gaduh dan ribut. Saat itu semua orang mungkin berfikiran bahwa anak-anak di keesokan malamnya juga hanya akan membuat gaduh dan ribut suasana tarawih.

Akan tetapi, lihatlah kejadian pada malam-malam selanjutnya, anak-anak perlahan lebih tenang dan khusyuk mengikuti tarawih. Khatib rasa anak-anak yang tadinya gaduh dan ribut tidak permanen berbuat demikian, sebab anak-anak juga mempunyai potensi untuk berfikir dan berkembang. Sehingga teguran dari Imam Taraweh, dan pemandangan dari orang dewasa yang merasa terganggu membuat mereka menyadari untuk berubah sikap, tidak lagi membuat gaduh dan ribut.

Jamaah Jum’ah,

Refleksi dari ‘drama’ penciptaan manusia dan drama shalat Tawarih tersebut adalah bahwa sering kali kita berlaku merasa sudah tahu bahkan merasa paling tahu.  Ketika menyaksikan sebuah kemungkaran dihadapan kita, kita menganggap selamanya pelaku kemungkaran itu akan tetap mungkar selamanya. Tak ada kesempatan insyaf, tak ada kemungkinan untuk berproses berubah.

Begitulah kehidupan manusia yang berlangsung dengan begitu dinamis. Pagi kafir, siang beriman, dan seterusnya berbolak-balik. Bukan wilayah kita untuk memasti-mastikan, karena hanya Allah saja yang tahu potensi perubahan seperti apa yang mungkin terjadi pada masa depan seseorang.

Sebab kehidupan yang kita jalani, juga Al Quran yang kita jadikan panutan bukanlah sesuatu yang statis dan linear, sebuah contoh tadabbur atas ayat dan atas peristiwa di atas semoga membuat kita lebih luwes bercengkerama dengan Al Quran dan lebih lincah menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan.

Di dalam bertadabbur kita tak elok tergesa-gesa membuat kesimpulan. Serta di dalam bertadabbur kita tidak bisa meninggalkan akhlak yang baik sebagai outputnya. Maka mari kita berdoa semoga kita senantiasa tetap dalam lindungan-Nya dari sifat ketergesa-gesa dan hasrat untuk memberi cap jelek kepada orang lain.

Semoga bermanfaat. []

Menggapai Sebenar-Benar Taqwa, Sesuai Batas Kesanggupan

Materi Khutbah Edisi Jumat Pon, 28 April 2017

Jamaah Jum’ah rohimakumullah,

Di awal khutbah kali ini, masih dalam suasana dan barokah bulan Rajab, Khatib mengajak diri Khatib dan Jamaah sekalian untuk sejenak khusyuk, yakni dengan cara diantaranya sejenak mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan keseharian, dengan menjalankan kegiatan sholat jumat sebagaimana yang sedang kita kerjakan saat ini.

Shalawat dan salam tetap kita sanjungkan kepada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. Beliau yang tiada lain adalah andalan kita ketika kelak kita harus menghadapkan wajah kepada Allah SAW, yang dari beliau syafaatnya senantiasa kita nanti-nantikan.

Jamaah Jum’ah,

Pada kesempatan siang hari ini Khotib akan mencoba mentadaburi firman Allah yang termaktub di dalam Al Qur’an yakni pada surat Al Baqarah ayat 208 :  “Yaa ayyuhaalladzina aamanuud khuluu fis silmi kaaffatan walaa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithon, innahu lakum ‘aduwwum mubiin”, yang artinya “Wahai orang-orang yg beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan, sungguh ia musuh yg nyata.”

Jamaah Jum’ah,

Khatib mengajak jamaah sekalian untuk mencermati mengapa pada ayat tersebut yang digunakan adalah kata “Silmi”, bukan kata “Islam”? Meskipun antara Islam dan Silmi memiliki akar kata yg sama, tetapi bukankah pada setiap kata yang terpilih pada susunan ayat Al Quran mengandung maksud tertentu yang patut untuk ditadabburi?

Pada susunan kata di dalam ayat tersebut terdapat kata “Silmi”, juga kita jumpai kata “Kaffah”. Silmi mengandung pengertian rasa aman, damai, tenang, muthmainah, yaitu inti nilai dari kesadaran yang dikandung oleh Islam. Sedangkan Kaffah mengandung arti total atau menyeluruh. Tetapi Kaffah juga dapat dimaknai sebagai masuklah secara bersama-sama.

Jamaah Jum’ah,

Perbedaan Islam dan Silmi, Islam itu struktur formalnya sedangkan Silmi adalah kandungan nilai-nilainya. Keseimbangan seseorang dalam beragama adalah membangun struktur formalnya tanpa meninggalkan mengerjakan nilai-nilainya.

Mengerjakan ibadah mahdhah dan muamalah adalah Islam, menebarkan kemanfaatan dari mengerjakan hal tersebut adalah Silmi. Menampilkan Identitas Islam, menebarkan kebermanfaatan Silmi.

Peningkatan kualitas Islam dan Silmi kita kemudian diukur dengan derajat taqwa. Allah SWT sendiri memberi pilihan-pilihan jalan taqwa yang memungkinkan untuk ditempuh, yang antara pilihan-pilihan tersebut harus dijalankan secara seimbang pula.

Pertama, taqwa diupayakan melalui pendekatan ilmu, sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat Ali Imron 102,  Ittaqullah haqqa tuqatihi”,   yakni “Bertakwalah kpd Allah dg sebenar-benar taqwa.”

Kedua, Taqwa diupayakan melalui pendekatan amal, sebagai manusia yang merasa penuh  dengan keterbatasan, berhadapan dengan berbagai kelemahan diri, panduannya adalah “Ittaqullah Mustatho’tum” sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat At Taghabun:16, yakni “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah sesuai kemampuanmu”.

Jamaah Jum’ah,

Secara ilmu,  kita dihadapkan pada samudera kebaikan yang diajarkan Islam yang nampaknya tidak mungkin ada yang sanggup diantara kita menjalankannya secara total, secara menyeluruh. Maka marilah kita temukan amal kebaikan yang sesuai batas kemampuan diri kita masing-masing, yang terpenting dalam kita beragama berbuah kemanfaatan bagi sekeliling.

Bahwa yang harus total itu Silmi-nya. Bahwa Silmi harus dimasuki secara bersama-sama. Totalitas dan kebersamaan itu adanya pada ruang nilai, bukan pada dimensi formalistis Islam yang lebih cenderung pada identitas-identias. Maka, hendaknya kita jangan sampai terjebak dalam upaya menuntut diri termasuk juga menuntut orang lain dalam kaitannya beragama secara melampaui batas.[]