Kompak dengan Semesta

Bukan hanya badan yang mempunyai kemampuan untuk memilih sebuah sikap tertentu, tetapi batinmu juga. Sikap yang ada terbetik di batinmu itu sesungguhnya mempengaruhi alam semesta yang kemudian hal itu akan menentukan langkahmu ke depan.

Di sebuah kesempatan kawan saya bercerita, ketika sedang berkendara dan berniat membalas pesan di ponsel di lampu merah di depan, kejadiannya adalah lampu lalu lintas yang ia temui hijau dan hijau terus sehingga tidak ada kesempatan berhenti. Di kali lain, justru ketika ia sedang terburu-buru untuk cepat sampai, kejadiannya adalah seringkali lampu lalu lintas justru menyala merah.

Lalu, kawan saya yang lain menimpali cerita. Hasil dari ia me-niteni begini, kalau ia berkendara untuk tujuan yang baik, yang meng-Allah maka lampu lalu lintas yang dijumpainya banyak meng-hijau. Sebaliknya, kalau berkendara untuk tujuan yang aneh-aneh, dihadang lampu merah berkali-kali adalah nasib yang harus ia timpa.

Baiklah, sah-sah saja seseorang mengerjakan sebuah titen atas segala sesuatu, termasuk untuk urusan sepele seperti lampu lalu lintas merah atau hijau. Untuk cerita yang kedua di atas penghikmahannya sudah dapat langsung ditarik, yakni berkendaralah hanya untuk urusan yang baik-baik, niscaya perjalananmu dilancarkan, lampu merahnya di-hijau-kan. Perkara di jalan nanti masih ada ketemu merah, jadikanlah itu wirid untuk meyakini bahwa Allah tidak tunduk pada hukum apapun.

Kemudian menjadi menggelitik buat saya untuk men-simulasi justru adalah cerita yang pertama di atas. Bagaimana kejadiannya kalau Saya pura-pura saja dalam hati di perempatan depan hendak membalas pesan di ponsel sehingga butuh lampu berwarna merah supaya bisa berhenti. Toh, menurut kawan saya itu kalau inginnya merah, kejadiannya hijau dan kalau inginnya hijau kejadiannya merah. Dasar watak semesta memang tidak mau kompak dengan kebanyakan kita.

Lalu, kawan saya itu merespons bahwa dirinya sudah seringkali mencoba itu. Sekali-dua kali memang berhasil, tetapi berkali-kali dikerjakan agaknya alam semesta mulai “mengerti” bahwa dirinya hanya berpura-pura. “Halah! Modus saja kan pura-pura request lampu merah padahal batinnya sebetulnya ingin supaya hijau?!”, gumam si alam semesta.

Akhirnya perjuangan mengirim vibrasi batin kepada alam semesta supaya menghijaukan sederet lampu lalu lintas di depan sana gagal total. Pura-pura butuh berhenti untuk membuka ponsel sudah ketahuan bahwa itu hanya kedok.

Maka, cara yang lebih ampuh adalah, kepada alam semesta mbok sudahlah kita tidak usah berpura-pura. Ingat rumus di awal cerita tadi yah, kalau ingin lampu lalu lintas hijau, berpura-puralah butuh merah misalnya untuk berhenti sejenak membalas pesan. Sebab watak alam semesta itu enggan mau kompak dengan kebanyakan kita.

Maka, niatkan dalam hati menjelang sebuah lampu merah bahwa beneran tidak pura-pura lagi di lampu merah depan ingin, perlu bahkan penting untuk berhenti karena perlu membalas pesan dengan segera. Dan alam semesta akan menyajikan lampu hijau to? Namun, sedetik setelah menyala hijau seketika ikhlaskan “Tidak jadi membalas pesan dengan segera, tidak apa-apa!!”

Sehingga polanya menjadi di awal sungguh-sungguh berniat, lalu tidak terjadi, lalu ikhlas tidak terjadi. Sembari mensyukuri diberi nyala lampu hijau terus sehingga perjalanan langsam lancar. Engkau bathi dua sekaligus, yakni wirid bersyukur dan kedua adalah latihan ilmu ikhlas berkali-kali sebab berkali-kali pula engkau harus ikhlas untuk gagal membalas pesan dengan segera.

Pertanyaan berikutnya di perbincangan itu muncul, lalu bagaimana ketika si alam semesta juga sudah mendeteksi kebiasaan kita semacam itu? Alam semesta nyonangi kebiasaan kita lagi.

Lalu kawan saya itu menimpali memberikan konklusi, kalau alam semesta sudah berusaha sedemikan itu untuk mengerti dirimu, berarti engkau sudah sangat akrab dengan alam semesta, walah ya sudah lha wong sudah akrab kok buat apa memain-mainkan taktik strategi lagi. Sudah enggak butuh itu lagi. Alam semesta sudah mengerti.

Demikian, selamat mencoba. Pesan moral yang sesungguhnya adalah: selalu eling lan waspada pada saat berkendara. (Hirdan Ikhya)

Maiyah tapi Arogan

Pada saat pertama ber-Maiyah kita akan mendapatkan ketenangan hati. Ketenangan hati didapat karena kita dibuat untuk bisa memiliki cara berpikir yang berbeda. Diantara cara berpikir yang berbeda adalah cara pandang kita terhadap kebahagiaan. “Kita bahagia itu terserah-terserah kita, yang membuat kita bahagia itu bukan orang lain”, banyak yang bilang seperti itu. Misal kita sudah lelah-lelah kerja tapi kita anggap kelelahan itu adalah nikmat. Jadi bahagia itu ada di dalam cara berpikir kita.

Ber-Maiyah bukan hanya sebatas membangun kemampuan berpikir berbeda, tetapi juga membangun cara berpikir yang lebih mendalam. Sehingga dalam peristiwa keseharian, kita mengalami apa saja mampu menemukan kedalaman. Dari peristiwa sedang duduk di dalam bus misalnya, ketika melihat ada satu buah salak yang menggelinding ke depan melewati kaki temanku, selang beberapa menit salak kembali lagi kebelakang dan terhenti tepat dikaki temanku. Iya, rejeki ya seperti itu tanpa kita sibuk berebut tapi akan datang sendiri seperti salak yg menggelinding tadi tapi tidak akan terjadi jika tidak menaiki bus itu. Dapat menemukan, melihat apa saja, ada sesuatu dibalik setiap peristiwa atau yang disebut hikmah.

Apakah berhenti hanya disitu, dengan kenikmatan batin kita sendiri. Ternyata ada tahap berikutnya, kita perlu membaca hukum sosial yg berlaku dan menerapkan kadar yang pas antara cara pandang dengan hukum yg berlaku. Contohnya, sebenarnya sudah cukup bagi kita dengan kenikmatan batin dapat melihat Allah, melihat kedalaman hikmah di dalam segala sesuatu. Mau orang lain menganggap kita terasing dan aneh juga tidak apa-apa. Tapi ada hukum yang berlaku dimana orang asing akan sulit membuat perubahan. Maka kita cari duit, menjadi kaya, agar disegani, agar tidak dianggap asing. ‘Tangi gasik’ agar dianggap sregep dan tidak aneh, menjadi orang wajar.

Mengikuti hukum sosial yang berlaku. Tapi tetap dalam kesadaran kenikmatan batin. Jangan sampai larut dalam kenimatannya sendiri dan tidak mau memahami hukum yang berlaku. Karena itu namanya arogansi ber-Maiyah.[] Hirdan Ikhya