Selangkah Lebih Maju dari Ikhlas-Tidak Ikhlas

Kampal-Kumpul Mencari Apa?

Hari masih pagi, Jumat 14 Februari pukul 08.27 waktu Banyumas dan sekitarnya. Hirdan memulai percakapan Whatsapp Application Group, “Pagiii gaesss… Nanti malam Juguran Syafaat…”.

Hirdan merupakan Penggiat Maiyah yang usianya paling muda. Aliran darah muda mendorong keberaniannya untuk mengambil inisiatif mengobarkan semangat teman-temannya agar bangkit dan bahu-membahu mempersiapkan agenda bulanan Simpul Maiyah di Banyumas Raya. Narkim, rekan penggiat yang ahli Pewayangan, memberinya julukan “Hirdan Parikesit”.

Aksi berbalas pesan pagi itu berlanjut panjang laksana teks dialog naskah drama. Saling cek dan ricek. Koordinasi sana-sini. Update kesiapan minuman kopi, termos pemanas, karpet, sound system, sampai dengan kesiapan mobil pengangkut.

Semua persiapan boleh dibilang lancar jaya meski sebagian penggiat diliputi perasaan cemas. Juguran Syafaat edisi ke-83 tidak digelar di akhir pekan seperti biasanya, tapi dimajukan sehari karena alasan non teknis.

Selepas Isya, rasa cemas pergeseran jadwal berefek pada ketidakhadiran jamaah mulai pupus. Berangsur pelan Jamaah Maiyah mendatangi balai pendopo Wakil Bupati Banyumas, njugur lesehan di Jumat malam. Musim hujan dan perubahan jadwal ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap antusiasme jamaah.

Dari informasi yang kami terima, hanya Ikhda yang teledor membaca publikasi pergeseran jadwal. Guru muda sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang sering mensedekahkan alunan vokalnya di Juguran Syafaat ini tidak mencermati kolom tanggal acara yang tertera di poster. Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Ikhda Nurul Khasanah kudu rela kehilangan malam bertabur cinta.

Terkait kehadiran jamaah, ada sedikit cerita menarik dari Hamzah. Demi malam juguran, pria asal Sokaraja tersebut sejak sore hari sudah harus momong anak balitanya keliling blusukan kampung. Taktik ini diterapkan supaya anaknya lelah dan bisa cepat tidur pulas di malam hari, lantas dirinya bisa leluasa pergi ke forum juguran dengan hati tenang. Taktik cerdik, mungkin layak ditiru bagi anda yang punya balita.

Lha, memangnya kampal-kumpul Maiyahan mau mencari apa atau siapa? Mengutip baris pertanyaan Hilmy Nugraha dalam tulisannya di Caknun.com bulan kemarin.

Bersama-sama mencari kegembiraan dan mencari ilmu kehidupan. Hidup hanya sekali, sesudah itu mati. Hidup harus dijalani dengan gembira dan ikhlas biar bernilai ibadah. Mas Anung “Lodse” Sumargo yang malam itu menebar atmosfir kegembiraan melalui nyanyian reggae juga salah satu bentuk laku ibadah.

Ikhlas, Menginspirasi, Aksi Kolektif, Merajuk kepada Allah

Mencari ilmu itu keharusan. Pembekalan ilmu akan menambah bobot atau kualitas ibadah yang akan dan sedang dilakoni. Harapannya adalah bisa semakin presisi dalam menempuh perjalanan “sangkan-paraning”. Perjalanan melingkar “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un” yang licin dan terjal.

Majelis ilmu Maiyah irit melontar kosa kata “benar-salah”. Maiyah lebih sering menggunakan kata “presisi”. Pijakan mana yang paling presisi dalam menghadapi sejembreng fenomena sosial yang mengemuka.

Perbincangan malam itu mengupas tema “Sedekah Prioritas”. Ada ragam pendapat dari masing-masing jamaah dan mereka semua mencari titik temu yang paling pas.

David, mahasiswa dari Unsoed, mengawali sharing session soal perilaku manusia yang cenderung kepo saat melihat orang lain memasukan uang ke dalam kotak infaq. Padahal, menurut David, infaq merupakan privasi masing-masing orang. Fahmi, dari SMU 2 Purwokerto, menegaskan ajaran moral tentang keikhlasan: jika tangan kanan memberi sesuatu kepada orang lain hendaknya tangan kiri tidak melihatnya.

Berikutnya, Dian dari Hijabers Community, menceritakan seputar akitivitas sedekah yang diposting via media sosial yang menurut pengalamannya dapat memberi inspirasi kepada masyarakat luas. Ada kalanya pelaku sedekah itu sebetulnya ikhlas, namun sengaja dipajang di media sosial biar orang lain mengiranya tidak ikhlas, tambah Jalal yang mengutip uraian Mbah Nun saat Sinau Bareng.

Saat perbincangan berkutat soal riya, pamrih, dan ikhlas, Bachtiar menyuguhi wacana sedekah dari sisi yang berbeda. Menurut pengakuannya, ngelarisi dagangan wong cilik merupakan panggilan batin yang kerap kali dilakukan dalam sedekah kesehariannya. Tapi mengingat uang sakunya pas-pasan, dengan jujur diakui, kadang terbersit pikiran balasan sedekah dari Tuhan.

Perespon terakhir, Niki dari Kalimanah, mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi lewat sedekah saja. Kemiskinan, terutama kemiskinan struktural perlu ditanggulangi dengan aksi kolektif untuk mengembalikan keberdayaan masyarakat dengan membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya sistemik.

Kejernihan hati dan sikap batin menjadi penting untuk meredam gejolak atau dilema ‘kepo-privasi’. Rasa ingin tahu atau kepo atas besaran infaq orang lain bisa menjadi motivasi kita dalam rangka mengikhtiari fastabiqul khoirot. Walaupun pada sisi sempit yang lain malah hati kita bisa tersundut panas.

“Aduh, deneng infaq-e enyong lewih cilik, ya! Berarti surgane enyong lewih endep kiye tah!” Ungkap moderator Kukuh Prasetiyo sambil guyonan.

Pamrih dalam bersedekah itu lumrah. Asalkan pamrih yang ditujukan kepada Tuhan. Ada koneksi batin antara manusia dengan Tuhan. Mengharap dan merajuk kepada Allah, ya nggak apa-apa. Pancen nyatane Allah Maha Kaya. Lagian ke mana lagi harus mengadu selain kepada Allah?

Yang berbahaya adalah pamrih kepada rumus hitung-hitungan sedekah. Rumusan lipat ganda bilangan sedekah. Karena rumusan ini hanya penafsiran buatan manusia saja. Begitu, seperti disampaikan Rizky yang menjadi tandem Kukuh malam hari itu di dalam ber-cas-cis-cus.

Mengejar Akhirat, Dunia Mengikuti

Himpitan ekonomi dan beban hidup merupakan kondisi rentan yang dapat mengikis nalar sehat. Oleh karenanya wajar jika sebagian masyarakat tergelincir pada konsep sedekah yang transaksional. Mereka juga kepengin hidup berkecukupan. Dan yang sudah cukup, terobsesi nambah kekayaannya lagi. Demi amannya hidup.

Mungkin di dunia ini hanya Abdurrahman bin Auf yang memiliki tekad hidup melarat. Kisah manusia langka sahabat nabi ini diceritakan oleh Mas Agus Sukoco yang malam itu berjibaku “rebutan” mic dengan Pak Titut Cowongsewu. Alkisah, Auf merasa resah setelah dirinya mengetahui hizab orang kaya lebih berat ketimbang orang miskin. Lalu, dengan segala cara, seluruh harta kekayaanya dihabiskan supaya kelak di akherat tanggungg jawabnya enteng.

Kesempatan emas untuk hidup melarat datang menghampiri saat ia menjumpai kurma-kurma busuk di sebuah pasar. Dengan percaya diri, Auf memborong seluruh kurma busuk di seantero pasar. Ia puas dan bahagia sampai kemudian datang seorang utusan Raja Yaman yang berniat membeli seluruh kurma busuk yang dimilikinya dengan harga berpuluh kali lipat. Auf tak bisa mengelak, karena kurma busuk itu akan digunakan sebagai obat wabah penyakit yang tengah menjangkiti negeri Yaman.

Dalam satu fakta, ada sejuta makna. Peristiwa yang dialami Abdurrahman bin Auf bisa kita ambil pelajaran dan hikmah. Sosok Auf bisa jadi adalah representasi ajaran moral agama yang berbunyi : “kejarlah akherat maka dunia akan mengikuti”.

Di sisi yang sekuler, jika mengejar dunia mungkin kita berhasil meraih dunia dan mungkin gagal, tapi yang pasti akhiratnya mental.

“Urip pada nguber-uber ndunya bae. Mikiri ndunya bae. Kuwe sing merekna wong jaman siki pada gampang konslet. Mobile tah iya Pajero, jebule panas njaba-njero…. Numpake mobil mewah. Becere maring Mall, entonge limangatus ewu. Mbarang bayar parkir limangewu perak, ngerasa eman-eman…. Jijeih pisan. Bakhil…!”, begitu nasehat Pak Titut yang dengan segenap daya ganggu visual penampilannya terlampau sulit untuk dijabarkan melalui aksara.

Yang jelas, apalah artinya Juguran Syafaat tanpa kehadiran Pak Titut.

Tulung keproki, keproki, keproki…!

Perlunya Sistem Distribusi

Ngomong-ngomong soal sedekah, entah mengapa jamaah yang mensedekahkan argumentasi banyak banget. Dua kali lipat dari biasanya. Pun dengan nomor-nomor lagu yang disedekahkan Ki Ageng Juguran (KAJ). Tak tanggung-tanggung pula, empat vokalis KAJ hadir menghangatkan suasana. Sebagian jamaah tentu sudah tidak asing dengan wajah Ujang dan Fadel, tapi Abah Slamet dan dik Alda masih memunculkan tanda tanya dibenak pemirsa.

Rangkaian sesi demi sesi telah dilewati. Tadarusan, tawasul, sholawatan, nyanyi-nyanyi, jual-beli argumen, ngopi, ngerokok, ngemil, dan yang sekadar duduk melamun sambil pencet-pencet HP juga boleh. Malam Sabtu yang meriah penuh warna. Surga yang tersembunyi, kata Pak Titut.

Oleh-oleh kesimpulan yang bisa menjadi bahan renungan bersama adalah mayoritas masyarakat kita itu ahli sedekah, namun populasi penduduk dengan taraf hidup kurang layak tidak serta-merta berkurang. Hal ini ditengarai lantaran kita masih sibuk dengan urusan ikhlas dan tidak ikhlas. Alih-alih berpikir maju selangkah untuk merancang sistem distribusi sedekah yang optimal. “Perlu kecermatan dan kehati-hatian, seperti effort sedekah perusahaan (CSR) yang minimal namun menuai corporate branding yang maksimal”, begitu analogi Kusworo.[Febri Patmoko/RedJS]

Nyengkuyung

Mbah Nun adalah sosok ilmuwan pelintas batas atau sosok multidisiplinier. Ada banyak sisi keilmuan yang bisa kita gali dari beliau : agama, politik, seni, sastra, teater, budaya, filsafat, sejarah, jurnalistik, tasawuf, ekonomi, kesehatan, dan silakan anda tebak atau gali sendiri.

Proses kita menyerap ‘absorbser’ ilmunya Simbah itu memiliki beberapa ragam cara. Ada cara biasa dan cara tidak biasa.

Kita memang bisa menempuh proses pembelajaran via jalur formal dengan membaca tulisan dari buah karya-karyanya atau intens mengikuti kajian Sinau Bareng. Kiai Fitron, pengasuh Ponpes An Nahl Purbalingga, menyebut cara belajar ini sebagai model ‘ngaji syariat’.

Namun jangan lupa, ada jalur lain yang bisa kita susuri, yaitu jalur mahabah. Cara yang ini agak kurang logis. Apa hubungan ‘mahabah’ (cinta) dengan ‘transfer ilmu’?
Ya memang susah dinalar. Kiai Fitron menyebutnya model ‘ngaji hakekat’.

Dengan turut nyengkuyung agenda Sinau Bareng atau berkontribusi membeli merchandise CNKK Limbangan, berarti anda menjadi bagian penempuh jalur mahabah.

Tapi kudu ikhlas, mengutip sebagaimana yang sering diungkapkan Mbah Nun : ‘harus dengan kesadaran akal dan kebeningan hati. Semoga bermanfaat. (Febri Patmoko)

Top Down Takwa dan Bottom Up Tawakal

Hakekat takwa adalah ‘waspada’, sedangkan tawakal memiliki makna ‘mewakilkan’. Dalam proses menapaki lika-liku jalan hidup, ada banyak hal yang bisa kita akali (tentu dengan pertimbangan ridho dan murka Tuhan).

Andai kita memutuskan A, kira-kira Tuhan ridho nggak, ya? Andai yang diputuskan rencana B, jangan-jangan Tuhan malah murka. Waspada atau takwa itu ‘Top down’ ; Kuasa langit ditautkan ke bumi manusia.

Janji ‘solusi’ dan ‘rizki tak terduga’ akan dikucurkan kepada siapa saja yang mau dan sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai landas pijak manusia dalam setiap ayunan langkah kaki kehidupan.

Beberapa hal bisa kita pantau dengan ilmu dan akal manusia, namun sebagian yang lain teramat susah untuk kita ilmui atau akali. Helm, pengetahuan tata-tertib lalu lintas, dan ‘safety riding’ bisa kita kuasai, hanya saja pengendara lain yang mungkin ugal-ugalan atau ngantuk dan secara tak terduga nyenggol bodi motor kita adalah satu variabel yang tidak bisa kita prediksi atau di luar nalar.

Untuk sesuatu yang tidak bisa kita jangkau dengan nalar, kita wakilkan (tawakal) pada Tuhan. Oleh sebab itu doa sebelum kita bepergian berbunyi ” Bismillahi tawakkaltu ‘alallah la hawla wala quwwata illa billah”. Tawakal itu ‘bottom up’ ; Dari bumi manusia dipancarkan menuju Kuasa Langit.

Berjalan senantiasa dalam alur dan panduan-Nya serta ditempatkan pada situasi dan kondisi yang dicita-citakan merupakan janji Tuhan bagi hamba-hamba yang ber-tawakal. (Febri Patmoko)

Tidak Sebab Urutan Waktu, melainkan Kesan

“November Rain”, sebuah judul lagu dari band lejen asal Amrik yang pastinya sudah akrab di telinga anda yang lahir di era 80-an. Tatkala meng-khilafah-i waktu dan jarak tempuh perjalanan pulang dari Sinau Bareng Caknun.com di Kadipiro, Bantul, saya merefleksi diri bahwa akhir bulan di tahun 2019 yang saya jalani serupa dengan “Desember Rain”. Ini hanya istilah konotatif hasil otak-atik-gathuk yang saya ciptakan sendiri. Mohon jangan gagal paham.

“Desember Rain” atau Hujan di bulan Desember, yang secara kasunyatan saya dihujani banyak curahan ilmu di Maiyah. Mulai dari pengalaman pertama mengikuti Silatnas Maiyah di Semarang (6-8/12/2019), Menghadiri Milad Gambang Syafaat di Masjid Baiturrahman (25/12/2019), Sinau Bareng Caknun.com di Rumah Maiyah (04/01/2020), Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di desa Karanggintung (06/01/2020), dan agenda rutinan Simpul Maiyah Juguran Syafaat Purwokerto (11/01/2020).

Foto: Anggi Sholih

Sejujurnya, tiga moment hujan ilmu Maiyah seperti yang tercantum di atas terjadi pada awal bulan Januari. Tapi biar tulisan ini tidak kehilangan sisi dramatisnya, anggap saja yang tiga moment terakhir juga terjadi pada bulan Desember. Jadi, mohon kerjasama dan pengertian anda.

Tetesan hujan ilmu Maiyah yang pertama saya terima langsung dari Marja Maiyah, Mbah Nun, kala beliau menyempatkan ngerawuhi Silatnas Maiyah di gedung UMKM Semarang. Dalam forum tersebut, Mbah Nun menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar. Menurut Mbah Nun, Maiyah itu seperti arus air sungai yang bergerak mengalir secara istiqomah hanya oleh dorongan mata air di hulu sungai.

Melalui pembelajaran di Maiyah, kita ditemani oleh para Marja untuk bisa menemukan dan mengenali hulu mata air sumber inspirasi kehidupan, yaitu Tuhan. Maiyah tidak mendidik manusia gerbong kereta yang melaju kesana-kemari kehilangan independensi dan otentitas diri. Takluk terombang-ambing tirani lokomotif kebudayaan jahiliyah.

Dari rutinan Maiyahan Gambang Syafaat yang bertepatan dengan milad ke-20, saya meraih setetes makna konsep “Persatuan dan Kesatuan”. Dijelaskan Mas Budi, “Persatuan” itu merupakan penyatuan dari banyak entitas yang majemuk. Masing-masing entitas saling menguatkan dan kolaboratif dengan tidak menghilangkan sifat serta karakter khasnya.

Beda dengan konsep “Kesatuan” yang menghapus sifat dan karakter khas dari masing-masing entitas. Mereka melebur menjadi satu entitas baru dengan sifat dan karakter yang baru pula. Maka dari itu, sila tiga Pancasila berbunyi “Persatuan Indonesia”, bukan “Kesatuan Indonesia”. Bhineka Tunggal Ika menjadi latar historis dan filosofisnya.

Ternyata, saya perlu menempuh perjalanan darat sejauh 208 KM untuk sampai pada pemahaman makna “Persatuan dan Kesatuan”. Andai saya tidak salah duga, konsep Sinau Bareng di Maiyah itu juga dilandasi oleh semangat Persatuan. Melingkar duduk bersama, menata hati dan menjernihkan pikiran. Dengan segala keunikan yang dimiliki setiap simpul, kita berproses bersama untuk saling menumbuhkan dan merawat kemanusiaan.

Tetesan hujan ilmu Maiyah yang ketiga saya dapati di Kadipiro pada kegiatan Sinau Bareng Caknun.com. Mas Sabrang dengan segala talenta yang dimilikinya itu ternyata kerap gagal menulis. Menurut Mbah Nun, Mas Sabrang sering gagal fokus. Kekayaan pengetahuan Mas Sabrang malah mengganggu fokus atau topik tulisan yang sedang digalinya. Isi tulisan melebar ke mana-mana, kacau. Berkebalikan dengan yang saya alami, saya malah bingung mau nulis apa. Terkendala referensi pengetahuan yang cuma selebar pelataran rumah.

Kisah Mas Sabrang yang pernah ngalami keruwetan dalam menyusun tulisan, bagi saya pribadi menjadi semacam suplemen obat pelipur lara. Berarti aku iki ono kancane, ora dewekan. Meski sebab masalahe jan-jane beda adoh banget.

Moment yang keempat sebetulnya bukan lagi tetesan ilmu Maiyah, tapi udan deres. Yang karena turun begitu deras, tubuh saya basah kuyup. Udan deres ilmu Maiyah melanda teras rumah Pak Kadus Hilmy di desa Karanggintung, Sumbang, Banyumas. Transit hampir tiga jam sebelum memulai Sinau Bareng di lapangan Karanggintung, Mbah Nun menebar banyak sekali benih-benih ilmu.

Mengingat apa yang disampaikan Kusworo dalam Juguran Syafaat di Pendopo Wakil Bupati Banyumas kemarin (11/01/2020), suatu peristiwa bisa awet tersimpan rapi di dalam memori kita karena ada yang mengesankan. Unsur kesan, bukan urutan waktu. Kusworo kemudian mencontohkan, baju yang dipakai seminggu yang lalu mungkin kita sudah lupa, tapi tidak akan pernah lupa dengan baju yang kita kenakan saat resepsi pernikahan puluhan tahun silam.

Sesuai teori yang dirumuskan oleh Kusworo, saya menangkap satu kesan “aneh” pada Mbah Nun saat beliau memimpin briefing singkat dengan Pak Rektor IAIN Purwokerto, Mas Helmy, Mas Dony, dan Kiki (Ketua Panitia CNKK dari IAIN). Kesan saya, Mbah Nun sangat profesional. Nggak main-main. Dengan ribuan jam terbang yang telah dikantongi KiaiKanjeng, Mbah Nun kok masih bisa menyempatkan kordinasi ini-itu.

Foto: Anggi Sholih

Dalam radius yang tidak memungkinkan untuk nguping secara utuh, samar-samar Mbah Nun menanyakan tema Sinau Bareng kepada Kiki. Lalu, Mbah Nun juga mengatakan bahwa dirinya tidak akan banyak memberikan mauidhoh hasanah. Ruang dakwah akan diberikan kepada anak-anak muda atau mahasiswa. Kita akan lebih banyak workshop, dan nanti lagu yang dibawakan KiaiKanjeng ini, ini, dan ini.

Kordinasi yang terjalin apik antara Mbah Nun, Mas Gandi, Mas Helmy, Mas Yudhis, dan Mas Dony patut menjadi teladan kita dalam merawat  Maiyah di internal Simpul. Detail, terencana, terukur, dan bersungguh-sungguh (tapi tidak lupa gembira).

Kordinasi dengan bingkai semangat Persatuan untuk mewujudkan misi Maiyah –  yang menurut Mas Tri Wahyu merupakan jalan revolusi sosial yang sangat halus.

Kordinasi dengan kanan-kiri (ukuwah) dan atas-bawah (spiritual), ibarat Tali Goci Layangan yang seimbang. “Layangan bisa mabur muluk duwur pisan, tegak lurus nang nduwur ubun-ubun sirah. Kuwe merga Tali Goci Layangan sing seimbang”, begitu kata Pendekar Cowongsewu, Kaki Titut, saat menjelentrehkan filosofi Tali Goci Layangan.

Foto: Anggi Sholih

Pak Sugeng Barkop turut memberikan uneg-uneg tentang Simpul Maiyah via jalur pribadi empat mata di belakang Pendopo Wakil Bupati. “Aku melu Juguran merga kepengin ngrewangi Mbah Nun. Ngrewangi ben ilmune Mbah Nun bisa nyebar maring bocah-bocah”, ungkap Pak Sugeng sambil ngelap cangkir dan piring-piring wadah jamuan Juguran.

Ngrewangi proses distribusi ilmune Si Mbah bagi anak-cucunya yang membutuhkan pencerahan dan pemahaman keilmuan yang lebih presisi, seperti Bahtiar Adi Febriantoro, yang sempat ngalami dilema saat berjabat tangan dengan kaum hawa yang bukan mukhrim. Ada juga Suprapto, yang merasakan urutan dzikir dari Mbah Nun sangat logis (Laa robba illalloh, Laa malika illalloh, Laa ilaha illalloh).

Lain lagi dengan cerita Mas Wakijo yang enggak tahu di Maiyah mau nyari apa, tapi malah sering menemukan hal-hal yang spesial dalam hidupnya. Satu contoh kongkrit, Mas Wakijo menemukan jodoh lewat medium Maiyah. Mas Wakijo juga menemukan kebahagiaan, kebersamaan, ruang, dan nambah seduluran. Benar-benar sosok Maiyah sejati, Saya doakan semoga Mas Wakijo bisa istiqomah ber-Maiyah sampai tua seperti Dewa Cupumanik Astagina : Mbah Hadiwijaya.

Foto: Anggi Sholih

Kebhinekaan Jamaah Maiyah itu kenyataan, persatuan Jamaah Maiyah itu ikhtiar. Juguran Syafaat Edisi-82 yang mengetengahkan tema “Kurikulum Diri Sendiri” sudah diobrolkan selama enam jam lebih. Mungkin saja di bulan depan –  seperti usulan Mas Yunan yang terpesona dengan keunikan poster-poster Juguran Syafaat – kita mengangkat tema “Kurikulum Poster Maiyah”. Atau mumpung masih di awal tahun, bisa juga kita mengusung tema “Kurikulum Juguran Syafaat”. [Febri Patmoko/RedJS]

Mimpi Atmosfir Pendidikan Ideal

Dampak buruk sistem ranking dalam dunia pendidikan sudah kita pahami bersama. Tapi diam-diam saya rindu dan mengagumi suasana “feodalisme intelektual” di sekolah. Singkat kata, saya dan kawan-kawan yang tak pintar dan tak pernah masuk ranking sepuluh besar bisa tahu diri. Kami mampu menahan diri dan tak banyak tingkah. 

Saya dan segenap kaum yang berada di bawah garis kemiskinan pengetahuan tidak akan pernah sembrono mengeluarkan argumen. Biarlah respon dan pertanyaan kritis kepada guru mata pelajaran disampaikan oleh bintang kelas. Bagi kami, alih-alih memberi respon, tidak ngantuk saja itu sudah pencapaian prestasi besar. Saat itu kami tak butuh amat yang namanya eksistensi. Suasana kelas sangat tenang. Kondusif.

Kerinduan saya bukan tanpa alasan. Sebuah kerinduan akibat rasa jengah seiring dengan fenomena kritis tanpa literasi dalam dunia sosial-media kita. Kaum “ruwaibidhah”, orang-orang lemah akal yang sok tahu bicara urusan orang banyak, begitu menurut Kiai Fuad dalam tajuk “Istiqamah Ber-Maiyah”.

Nyatanya, saat ini saya bukan remaja lagi. Oleh karena itu mimpi akan atmosfir pendidikan yang ideal saya taruh di pundak komunitas Juguran Syafaat Purwokerto. 

Bayangan saya, seketika Narkim dan Kusworo selaku moderator Juguran Syafaat membuka sesi tanya-jawab dan public hearing, suasana forum bisa berlangsung ramai seperti saat kita ber-sosmed ria. Namun faktanya, menumpahkan uneg-uneg di depan microphone tidak semudah di depan keypad. 

Jadi, secara tidak langsung dan tanpa kita sadari, Juguran Syafaat mengajak dan melatih kita untuk bertanggungjawab atas setiap kata dan argumen yang kita lontarkan. Juguran Syafaat dengan segala dinamikanya dalam kurun waktu setahun ke belakang perlu kita rawat sebagai wahana ruang berpikir, sebab menurut seorang filsuf Yunani kuno kita ini adalah binatang yang berpikir. (Febri Patmoko)