Menjadi Kelas Menengah Lokal yang Solutif

Pada Sabtu pagi, 19 Desember 2020 Saya ikut mendampingi Mas Agus Sukoco menghadiri sebuah sarasehan yang diikuti sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Purbalingga. Acara yang kami hadiri ini diinisiasi oleh Organisasi Masyarakat Lowo Ireng (LI). Acara ini menjadi bagian dari tahap ‘pendinginan’ paska sudah berlangsung lancarnya Pilkada.

Berlangsung di Warung DPR di daerah Karangsentul Purbalingga, ikut terlibat hadir di acara ini sejumlah Ormas, diantaranya Laskar Sangga Langit, Pemuda Pancasila, BPPI, Granat, GMBI, Banser Dan Kokam. Acara ini mengambil tagline “Merawat Kebersamaan Dengan Persaudaraan Pasca Pilkada Tahun 2020”.

Bertindak sebagai moderator adalah Mas Andi Pranowo. Kemudian narasumber selain Mas Agus Sukoco hadir pula Pak Dr. Indaru Setyo Nurprojo, akademisi dari Unsoed. Mas Yulianto selaku pimpinan Lowo Ireng Purbalingga sekaligus yang mbahurekso acara pagi itu mengawali dengan sambutan dan ucapan terima kasih kepada segenap kawan-kawan lintas elemen.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan sebuah teks deklarasi. Deklarasi tersebut bunyinya adalah, “Kami Ormas dan LSM di Kabupaten Purbalingga siap berperan aktif dalam menjaga Kondusivitas pasca Pilkada dan saling menjaga kebersamaan serta kerukunan antar Ormas  dan LSM di Kabupaten Purbalingga. Purbalingga Perwira NKRI Harga Mati.”

Seperti diketahui bersama, Pilkada di Purbalingga sudah berlangsung lancar dengan aman dan damai. Namun demikian, sudah menjadi tugas bersama-sama setiap elemen masyarakat apalagi kalangan pemuda penggerak untuk mengantisipasi setiap kemungkinan buruk. Deklarasi ini adalah bagian dari kegiatan antisipasi itu.

Kita tahu bagaimana lalu lintas isu hari ini dipenuhi dengan hempasan narasi-narasi yang seringkali berbenturan antara satu narasi dengan narasi lainnya. Sedangkan setiap anggota masyarakat sudah sedang sibuk dengan periuk nasinya sendiri-sendiri, mana sempat untuk merunut dari mana asal-usul sebuah narasi dan kemana anak panah narasi hendak dihempaskan.

Moderator mengalasi diskusi di awal sesi. “Di dalam kata kebersamaan tentu ada lawan katanya, perbedaan. Maka kemudian dari dua unsur ini kita bisa melihat pasti semua yang tercipta di dunia ini pasti ada lawan katanya. Maka kemudian sebagai insan yang kita berharap bisa jauh lebih dewasa untuk bisa menghargai perbedaan itu”, ujarnya.

Kemudian Pak Dr. Indaru menyampaikan, “Saya sebagai warga, saya titip kepada teman-teman yang punya basis jaringan, punya organisasi secara terstruktur, bisa membantu saudara-saudara kita di Purbalingga untuk kemudian bisa terwakili kepentingannya. Saya berharap kemudian teman-teman tidak kemudian terjebak pada proses Pilkada semata dan Kembali pada posisi dan visi-misi organisasi, kembali ke Langkah-langkah apa yang seharusnya oleh organisasi dan tentu kepentingan bersama yang harus dicapai bersama”.

Tiba giliran narasumber berikutnya yakni Mas Agus Sukoco. “Kita di modali nilai-nilai lokal untuk mendasari dan memotivasi semangat bersaudara. Nilai lokal yang saya maksud adalah ada prinsip-prinsip kebudayaan Jawa dan Nusantara yang sesugguhnya sudah sejak lama mengawal dan merawat kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa.”, Mas Agus menyampaikan.

“Saya ambil contoh, ada prinsip dalam jawa, “mangan ora mangan asal kumpul”. Pepatah ini selama ini di curigai sebagai sesuatu yang pesimis dan sumber kemunduran. Karena “mangan ora mangan asal kumpul” dimaknai sebagai grabyag-grubyug tidak produktif, akan tetapi jika di kaji lebih dalam itu wanti-wanti dari leluhur bahwa yang primer adalah kumpul. Jadi kumpul atau bersama itu diletakan sebagai sesuatu yang lebih penting dari mangan, atau sesuatu yang sifatnya material, kepentingan pragmatis”, lanjutnya.

“Ormas, LSM itu kalo kita posisikan, ia bagian dari kelas menengah di dalam struktur sosial dan budaya kita. Jadi ada keniscayaan alamiah di dalam bangunan sosial. ada kelas mapan atau elit, kelas bawah dan kelas menengah. Motor penggerak dan pengawal dinamika peradaban itu selalu kelas menengah”, paparnya lagi. Acara berlangsung dengan gayeng dan meriah. Mudah-mudahan inisiatif kecil semacam ini bisa menjadi bagian dari langkah solutif di tingkat lokal. Mengingat jika kita memandang skala nasional sepertinya persoalan sudah teramat ruwet. Kita nyicil-nyicil solusi-solusi sederhana saja di sini.