Niteni Jalan Rezeki

Pada waktu-waktu belakangan ini perhatian sebagian kita tertuju pada ribut di masyarakat akibat tidak tepatnya sasaran perolehan bantuan sosial. Situasi ekonomi yang merosot yang dialami banyak orang menjadikan masing-masing tertuntut untuk memikirkan nasib dirinya sendiri ketimbang berpikir untuk kepentingan yang lebih luas. Meskipun begitu, orang-orang yang tetap mengedepankan kepentingan bersama juga tidak sedikit. Semua itu tergantung pada beberapa faktor, tingkat rasa bersyukur, ketangguhan menghadapi keadaan dan kemampuan mengelola diri yang diantara kita berbeda satu dengan lainnya.

Hampir semua lapisan masyarakat terdampak secara ekonomi oleh Pandemi ini. Dari tukang bangunan, sopir, pegawai swasta, buruh pabrik. Pandemi juga memberi dampak pada sebagian mereka yang memiliki status menengah ke atas. Tidak sedikit dari mereka yang menanggung beban cicilan yang besar, termasuk tanggungan dari belanja barang mewah. Kondisi seperti hari ini seketika menjadi beban yang berat bagi sebagian mereka.

Dalam keadaan seperti ini, alangkah baiknya apabila kita mau meluangkan waktu untuk niteni lagi jalan-jalan perolehan rezeki kita selama ini. Dari proses itu, barangkali akan lahir secercah harapan untuk menentukan jalan mana yang masih dapat ditempuh untuk menjemput rezeki esok hari. Meskipun pada hakikatnya rezeki adalah sebuah “misteri” dari Tuhan. Rezekinya orang  beriman oleh Al-Quran diungkapkan sebagai minhaitsu la yahtasib. Jalan datangnya tidak diduga-duga, tidak disangka-sangka.

Pada Bulan April 2020 yang lalu, banyak beredar di medsos saya meme dengan kutipan KH. Maemoen Zubair (Mbah Moen), “Titeni yo, angger wulan April kok nyekel duwit, alamat setaun nggowo duwit. Iki ora ono kitabe, tapi keno gawe titenan”. Cobalah amati, apabila di bulan April memegang uang—dalam jumlah yang cukup banyak, maka kamu akan memegang uang dalam setahun. Ini tidak ada kitabnya, tetapi bisa menjadi bahan pengamatan.  

Saya tidak bermaksud menganalisis kebenaran kutipan tersebut. Akan tetapi, dari berseliwerannya kutipan tersebut di medsos saya, membuat saya memperoleh insight. Yakni bahwa ada perlunya kita niteni rezeki kita sendiri. Tentang darimana jalan rezeki itu hingga sampai pada kita. Cukupkah rezeki itu untuk setahun ini. Dan seterusnya. Situasinya tepat untuk niteni, sebab di suasana Pandemi ini, bukan hanya ekonomi individu-individu yang terpapar efeknya. Tetapi ekonomi negara juga ikut terpuruk. Kesemuanya akan terus saling mempengaruhi. Dan kita sama-sama tidak tahu akan sampai kapan keadaan ini berlangsung.

Tuhan menciptakan makhluk di bumi itu sepaket dengan rezekinya. “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi, melainkan dijamin Allah rezekinya” (QS Hud: 6). Setiap orang telah memiliki rezekinya masing-masing dan rezeki tersebut tidak tertukar di dalam kuasa Allah Ta’ala. Kedatangan rezeki itu pasti. Walaupun rezeki datang entah dari jalan mana, atau melalui siapa rezeki itu dititipkan, semua itu adalah “misteri” dari Tuhan.

Sangat mungkin di dalam rezeki kita terdapat titipan rezeki Allah untuk orang lain. Ketika seseorang menggeluti usaha, kemudian melibatkan orang lain untuk ikut bekerja, maka usaha yang seseorang geluti tersebut menjadi jalan dari datangnya rezeki dari Allah untuk para karyawan. Maka melibatkan orang lain ikut bekerja, atau juga termasuk mengerjakan kegiatan pemberdayaan sosial, hal itu tidak sebatas peristiwa horisontal hubungan manusia dengan manusia pula, tetapi terdapat nilai vertikal sebagai mekanisme jalan rezeki dari Tuhan.

Persambungan silaturahmi adalah hal yang sangat baik. Dari silaturahmi kemudian orang-orang satu sama lain akan mengetahui kekurangan dan potensi masing-masing. Mana yang perlu dibantu, saya bisa membantu apa, dan seterusnya. Dari interaksi tersebut kemudian orang-orang satu sama lain dapat saling berbagi pekerjaan. Saling mengisi dan melahirkan manfaat bersama-sama.

Misalnya ketika seseorang menekuni bidang pertanian. Mau tidak mau ia harus bersilaturahmi dengan orang-orang yang bisa mengerjakan lahan. Lalu berinteraksi dengan ahli tanaman, marketing serta konsumen. Lalu orang-orang diajak terlibat bekerja sehingga menimbulkan efek pemberdayaan. Maka, dari usaha yang seseorang geluti itu, mekanisme silaturahmi berlangsung, kegiatan pemberdayaan juga terjadi, efeknya adalah usaha itu menjadi jalan rezeki bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Pelajaran yang bisa dipetik kemudian adalah, ketika usaha yang seseorang jalani mengalami bangkrut seketika, yang dilakukan adalah melakukan evaluasi teknis manajerial. Kemudian sesudah itu, yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi atas nilai silaturahmi dan kegiatan pemberdayaan yang berlangsung. Sudah adilkah kerjasama berjalan? Sudah fair-kah pembagian untuk semua yang terlibat?  

Dari proses niteni semacam ini memungkinkan seseorang yang mengalami keterpurukan usaha bisa meningkat pengalaman bisnisnya sekaligus menjadi meningkat pula kualitas hubungan horizontal dan vertikalnya. (Arif Muhlasin)