Juara Knalpot

Suatu hari kami yang saat itu sedang nongkrong santai sambil ngopi, tiba- tiba dikagetkan oleh raungan suara knalpot motor yang sangat keras. Knalpot itu memang sengaja dimodifikasi sedemikian rupa oleh pemiliknya hingga suaranya memekakan telinga. Kami langsung terdiam sesaat.

Seorang teman terpantik membahas soal knalpot. Sudah bisa dipastikan obrolan pasti berangkat dari rasa mangkel. Tapi tak ada pilihan bagi kami selain mengarifi teror semacam itu. Kami sadar tak memiliki kuasa atas perilaku orang lain. Kami hanya berkuasa menghikmahinya.

Secara naluriah, setiap orang butuh berekspresi dan memerlukan pengakuan diri. Tentang caranya dalam memenuhi kebutuhannya itu, ini perkara lain. Seandainya pemilik knalpot “radikal” itu punya modal lain, saya yakin ia tak akan sesembrono itu.

Ada anak yang kebutuhan eksistensinya terpenuhi karena juara Fisika dan Matematika. Ada orang yang dengan bakat besarnya kemudian diidolakan publik sebagai juara-juara di ragam festival. Sementara anak dengan hobi menggeber-geber knalpot itu tak berdaya memenuhi kebutuhan jiwanya dengan cara yang lebih kita anggap sebagai adab sosial.

Maka, kemangkelan kami tiba-tiba redup. Suara knalpot itu tak lagi memancing rasa marah. Kami akhirnya bisa berdamai dengan perasaan kami sendiri. Setelah kami menyimpulkan bahwa anak dengan knalpot keras tersebut hanyalah manusia yang sedang naas nasibnya.

Semakin keras ia menggeber knalpotnya, semakin tegas kekalahanya dengan anak- anak yang telah menemukan caranya memertabatakan diri dengan prestasi-prestasi. (Agus Sukoco)

Atmosfir Saling Tidak Percaya

Musyawarah. Istilah ini sering kita dengar dan ucapkan. Namun sebagai sebuah konsep solusi dalam mengurai masalah-masalah, musyawarah seperti telah menjadi masa silam. Tak lagi kita jumpai spirit musyawarah sebagai mekanisme komunikasi antar kelompok dalam hal penentuan keputusan bersama. Yang terjadi adalah “perang tanding”.

Mekanisme perang tanding adalah atraksi saling melumpuhkan pihak lain. Padahal jelas amanat para pendiri bangsa yang tertuang dalam sila keempat adalah “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Sebuah sistem yang mempeluangi prosedur pencarian titik temu dalam merespon berbagai kecenderungan yang ada dengan hasil kebijaksanaan.

Dalam Pilpres atau Pilkada misalnya, satu-satunya yang dianggap relevan adalah perang tanding. Kekuatan-kekuatan yang ada tidak memiliki gairah untuk meriung dalam sebuah majelis yang disemangati oleh usaha-usaha menemukan hikmah.

Masing-masing kelompok hanya bersiap pasang kuda-kuda. Kita memang telah berada pada ruang sosial yang diatmosfiri oleh rasa saling tidak percaya. Maka, satu-satunya yang dianggap sebagai kebenaran adalah melumpuhkan lawan.

Jika diibaratkan Lebah, kita memang sedang kehilangan ratu. Pemimpin atau sesepuh yang mampu “mempawangi” semua pihak. Kita hanya memiliki tokoh golongan dan pemuka gerombolan. Maka, tak mungkin musyawarah bisa dijalankan sebagai prosedur untuk mengambil keputusan.

Sejarah yang dikelola dengan spirit perang tanding hanya akan menghasilkan darah dan kelelahan yang tak berkesudahan. Yang ironik adalah, kita merasa sama-sama sedang menjalankan amanat kebangsaan dan keagamaan sambil terus mewariskan sejarah traumatik ini kepada anak cucu. (Agus Sukoco)

Berpapasan di Tengah Jalan

Di tengah asumsi kebanyakan orang tentang arti bahagia, selalu saja ada orang dengan keyakinan yang berbeda dalam memaknai kebahagiaan. Salah satu diantaranya adalah Ki Ageng Suryo Mentaram yakni seorang pangeran putra Sultan Hamengkubuwono VII. Keputusannya meninggalkan keraton dan meletakan gelar kebangsawanan adalah sebuah sikap yang ganjil jika ditilik dari kecenderungan banyak orang yang justru sedang memburunya.

Apa yang terbersit dalam pikiran beliau atas keputusan ekstrem itu. Apakah di setiap jaman memang selalu ada orang yang diloloskan Tuhan dari kecenderungan umum? Membaca sejarah Beliau, saya seperti sedang berpapasan di tengah jalan. Saya dan jutaan orang sedang menuju ke suatu arah, sementara beliau sedang menuju arah sebaliknya.

Padahal kita sedang mengejar sesuatu yang sama, yaitu bahagia. Perbedaan arah itu pasti akibat dari ketidaksamaan dalam memprasangkai kebahagiaan. Puluhan abad silam ada juga fenomena semacam itu. Sebutlah kisah Sidharta Gautama. Tokoh yang juga pergi dari kemewahan istana demi melepaskan diri dari penderitaan.

Pengetahuan dan keyakinan semacam ini tentu berbeda dari kebanyakan orang. Bukankah orang lain justru berpikir bahwa cara menyudahi penderitaan adalah dengan masuk ke istana?

Bahkan Nabi Muhammad SAW memilh menjadi jelata ketika Tuhan menawarinya menjadi raja yang berkuasa. Lebih dari itu, dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin.”

Apa yang sedang terjadi dalam kebudayaan kita hari ini? Seluruh simbol-simbol hidup kita adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan sikap yang dipilih oleh para tokoh di atas.

Atau jangan-jangan fenomena dan peragaaan ideal tersebut hanya sebatas hiasan-hiasan di di dalam imaginasi keagamaan kita? Selebihnya kita selalu berusaha menghibur diri dengan kredo klasik, bahwa kita hanya orang awam yang boleh tidak sama seperti mereka. (Agus Sukoco)

Tawakal Ayunan Cangkul

Uang banyak, mobil mewah, popularitas dan jabatan, adalah sesuatu yang amat sangat memukau hati semua orang. Ke arah itu fokus dan imajinasi umat manusia menuju. Tak ada pilihan lain yang dianggap sebagai cita-cita yang benar selain itu semua.

Maka, tempat dan jenis pekerjaan yang tak menjanjikan pencapaian itu akan ditinggalkan. Mendekat dan menghamba di pusat-pusat kekuasaan telah menguasai segenap minat dan kesadaran. Ke titik itu sujud sembahyang mengkiblat.

Pada sisi lain, di pojok sejarah yang sepi, beberapa orang masih menyetiai etos kerja keras. Bapak-bapak tua yang perkasa. Dalam sengatan matahari yang terik, ayunan cangkul mereka terus memesrai sisa petak sawah yang belum digusur kebrutalan kebijakan takhayul pembangunan.

Pembangun yang tak sedikipun memiliki sopan santun ekologis. Bertemu dengan para pekerja keras yang berani hidup dengan berpenghasilan tak seberapa ini, seluruh “ge-er” keagamaan dan takabur nasionalisme saya luluh lantak. Tak bisa saya bayangkan jenis tawakal seperti apa yang dimiliki mereka. Bekerja dari pagi dengan banjir keringat dan resiko kulit legam melepuh dijalani dengan tenang. Wajah yang sama sekali tak memancarkan rasa gusar kepada hari depan.

Pupuk mahal, ancaman hama dan harga jual hasil tani yang tak pasti, tak menyurutkan kegesitan ayunan-ayunan cangkul mereka. Orang-orang yang terjaga dari “bisikan-bisikan” subversif ingin berjaya, sukses dan dianggap lebih gagah dari orang lain.

Dalam pandangan modernitas, silahkan engkau menganggap meraka adalah orang-orang kalah, gagal bersaing, dan terpojok. Namun, ketangguhan hati dan tawakal yang mereka miliki adalah jenis kesuksesan dan kemenangan yang mungkin lebih bermakna di hadapan Tuhan.

Tampaknya seluruh pengetahuan keagaman yang berkutat pada ritus-ritus peribadatan harus dibenahi. Gegap gempita sok Pancasilais tapi sambil diam-diam ingin paling berkuasa adalah hama destruktif bagi eksistensi negara.

Orang-orang kecil para pentawakal kehidupanlah yang sesungguhnya merupakan ustadz-ustadz tempat belajar hakekat iman. Mereka jugalah penjaga nilai Pancasila meskipun tak pernah menjadi peserta diklat dan upacara-upacara berbiaya mahal.(Agus Sukoco)

Naluri Kanak-Kanak, Naluri Saling Memaafkan

Mengenang masa kecil adalah rileksasi tersendiri. Semacam “pijat kejiwaan” untuk meregangkan saraf- saraf otak. Hidup yang kian tegang oleh beban-beban membutuhkan suasana istirahat khusus. Sejenak pulang ke masa kecil tampaknya bisa menjadi cara untuk mengistirahatkan diri.

Pergi ke sawah, bermain di sungai, dan bermain gobag sodor adalah kenangan yang terlanjur membekas di bawah sadar. Bagi yang mengalami masa kecil di era tahun 80-an, sawah dan sungai adalah tempat yang begitu digemari. Betapa anak-anak tak bisa dipisahkan dari tempat itu. Maka, kedudukan sawah dan sungai bagi saya telah menjadi “keramat sejarah” tersendiri.

Suasana sawah kerap membayang sampai usia saya sekarang. Bau lumpur dan daun-daun jagung serta aroma rerumputan, sering saya rindui. Setiap kali ketika tak sengaja melewati jalan yang melintasi sawah-sawah, aroma alam itu seperti menyeret saya jauh ke masa silam.

Mengingatkan kepada sejumlah wajah teman-teman kecil yang sekarang entah ada dimana. Pertemanan yang romantik. Sore bertengkar, pagi telah bersama lagi. Begitu seterusnya. Tak ada kelebatan dendam sama sekali.

Jikapun ada pertengkaran, ia hanya penegas kemesraan setelahnya. Kesalahpahaman tak memerlukan klarifikasi apapun. Karena masing-masing akan segera saling melupakan masalah penyebabnya. Kembali bermain bersama lebih menarik minat anak-anak dari pada mengingat- ingat persoalan.

Begitulah dunia anak. Sebuah dunia yang hanya berisi keinginan untuk saling bertemu dan bersama-sama. Anak-anak tak kuat menyendiri. Maka, nalurinya kuat sekali untuk saling memaafkan.

Beberapa kali saya sempat berjumpa dengan teman-teman masa kecil. Ada yang sudah jadi pejabat dan pengusaha, ada juga yang masih setia di desa menjadi petani. Tak mudah memulai kembali suasana masa silam pada perjumpaan saat ini.

Tetapi kerinduan itu masih saling memancar diantara kami. Meskipun ada semacam sopan santun tertentu karena urusan-urusan atribut sosial. (Agus Sukoco)

Kuota Stamina Batin

Hanya karena telah memiliki beras satu hingga dua kilogram untuk periapan makan sekeluarga sehari ke depan, Kang Karmin dan Mbok Kiyah merasa tenang. Sesederhana itu kebutuhan hidup saat itu.

Namun, Era itu telah berlalu. Saya pernah mengalami atmosfir jaman yang sedemikian bersahaja. Sebuah kenangan masa kecil yang kerap menjadi pemantik gugatan keruhanian saya ketika melihat keadaan masa kini.

Artinya, hari ini keadaan tak lagi sesederhana itu. Terlalu banyak sesuatu yang harus dipersiapkan untuk “apa” yang disebut masa depan. Bagi generasi Kang Karmin, masa depan hanya sebatas sekilo dua kilo beras untuk besok, bukan lusa, bukan minggu depan, bukan bulan depan apalagi tahun depan.

Kang Karmin dan generasinya memiliki beban sangat ringan. Tak pernah harus membayangkan dan mencemaskan lusa dan tahun depan. Lalu apakah Kang Parmin menjadi pemalas? Oh tidak.

Ia bekerja dari Shubuh hingga sore di sawah. Bahkan di sela-sela pekerjaan utamanya sebagai petani, lelaki paruh baya ini selalu meluangkan waktu untuk membuat kerajinan dari bambu.

Kang Karmin bekerja bukan oleh dorongan kecemasan atas masa depannya. Ia giat bekerja karena jiwanya merdeka. Sementara hari ini, seluruh aktifitas manusia digerakan oleh imajinasi pemenuhan masa depan hinga tujuh turunan. Terlalu banyak yang harus dipenuhi, dan terlalu jauh ketakutan manusia dibentangkan hingga puluhan tahun ke depan.

Kang Karmin hanya berpikir beras untuk esok pagi, kita bepikir sangat banyak soal untuk puluhan tahun ke depan. Dampaknya adalah, Kang Karmin dan generasinya hidupnya sangat longgar dan jiwanya merdeka. Kang Karmin sangat banyak memiliki kuota stamina batin untuk memperagakan persaudaraan dalam kehidupan sosial.

Orang modern adalah kaum yang sudah kelelahan oleh imajinasi masa depannya. Jiwanya menyendiri di pojok kesibukan. Orang lain dipandang sebagai lawan dan saingan. Kuota untuk bercinta dengan sesama telah habis tersedot oleh teror berupa ilusi kebutuhan masa depan. (Agus Sukoco)