WUJUD KEIKHLASAN KIAIKANJENG

Sejak jumpa pertama kali dengan KiaiKanjeng tahun 2013 di Alun-alun Trenggalek, hati saya langsung berucap “wah iki ampuh banget”. Ampuh dalam arti perpaduan bentuk gamelan dan yang memainkannya. Gamelan yang beda dengan gamelan pada umumnya. Mulai dari bentuk, bunyian nadanya, sampai kolaborasi seluruh alat musiknya. Juga pada pemain yang sangat menyatu dengan alat yang dimainkan. Mengisyaratkan gamelan itu sudah menjadi karakter dari sang pemain itu sendiri.

Memang itu awal perjumpaan. Namun sebelum waktu itu, telinga ini sudah bersinggungan dengan alunan musik KiaiKanjeng. Kapan? Pada awal SD dulu, Ibu saya sering mendengarkan acara kholbu sore melalui radio. Nah, pada saat itu tembang Lir ilir yang dinyanyikan Mbah Nun dan KiaiKanjeng menjadi keakraban saban sore. Walaupun waktu itu tanpa tahu siapa yang menyanyikannya. Tembang itu juga yang membuat saya penasaran pada keaslian penyanyinya. Alhamdulillah, Allah mewujudkan rasa penasaran itu melalui acara Sinau Bareng.

Memang berbeda rasa persentuhan jamaah dengan acara sinau bareng. Ada yang melalui Mbah Nun, egaliternya dalam sinau bareng, diskusinya, bahkan kesederhanaan dalam acara. Kalau saya pribadi selain kunci-kunci ilmu yang diwejangkan Mbah Nun, ada yang membuat daya getar tersendiri dalam bersinau bareng. KiaiKanjeng tentunya.

Sangat banyak ilmu yang bisa kita wedarkan dari KiaiKanjeng. Mulai namanya yakni KiaiKanjeng. Bukan nama seseorang, bukan gelar juga. Melainkan nama gamelannya itu sendiri. Itu bisa kita telusuri bersama Pak Novi Budianto. Sang pimpinan KiaiKanjeng.

Bentuk gamelannya pun berbeda dengan gamelan pada umumnya. Perbedaan itu bisa dilihat dari bahan dasar pembuatan. Gamelan KiaiKanjeng berbahan besi, untuk gamelan Jawa berbahan kuningan. Bisa disebut Metal Literally. Maka jangan heran bila warnanya hitam pekat. Karena bahan dasarnya dari besi. Konsep nadanya pun berbeda dengan gamelan Jawa. Pada gamelan Jawa ada Slendro dan Pelog. Namun, di Gamelan Kiaikanjeng bukan Slendro juga bukan Pelog. Melainkan nada-nada yang nantinya bisa mengalami penyesuaian dengan susunan nada musik Barat, tradisional Jawa, dan Arabian musik.

Persentuhan jamaah dengan KiaiKanjeng sangat beragam. Sebab, KiaiKanjeng sangat unik dan fenomenal. Lain dari yang lain. Kadang saya sendiri mempunyai pertanyaan dari apa yang nampak pada KiaiKanjeng tersebut. “sak jane kanggo opo to bedo gamelan KiaiKanjeng karo liyane?” (Sebenarnya buat apa perbadaan antara gamelan KiaiKanjeng dengan pada umumnya?)

Pertanyaan itu sirna tatkala hadir dalam acara sinau bareng. Ketika alunan musik KiaiKanjeng sudah menggema. Membersamai proses sinau bareng. Bernyanyi dan bersholawat, KiaiKanjeng memberikan bentuk kekhusyukan pada hati tiap jamaah yang datang. Kehadiran KiaiKanjeng sebagai bukti kerelaan semakin dekatnya kepada Allah SWT.

Bagaimana tidak rela? Wong tiap sinau bareng KiaiKanjeng pasti hadir bersama Mbah Nun. Sejak akhir tahun 80an Komunitas Pak Kanjeng lahir, hingga bertamorfosis menjadi Gamelan KiaiKanjeng di tahun 1994. Dari tahun itu, Sudah berapa titik daerah-daerah se-Indonesia yang pernah didatangi, membersamai, menemani rakyat kecil. Sampai ke pelosok desa. Bersinau bareng. Karena prinsipnya adalah geguyub.

Mbah Nun pernah menyampaikan kepada jamaah yang menyinggung soal tarif dari KiaiKanjeng. Mbah Nun menjelaskan bahwa apa yang dilakukan KiaiKanjeng adalah bentuk puasa. Puasa akan kepopuleran, kemewahan, kepunyanyaan. Karena Kiaikanjeng tidak mengejar kepopuleran. Kepopulerannya hanya lewat cinta kepada jamaah maiyah.

Bahkan pemegang biola KiaiKanjeng adalah lulusan Institut Seni Indonesia. Pak Ari Sumarno namanya atau jamaah kenalnya Ari Blothong. Namun beliau juga memilih bersama kiaikanjeng demi pengabdian cinta kepada kita semua jamaah maiyah.  

Itu semua adalah bentuk kerelaan, keikhlasan yang dimiliki oleh Kiaikanjeng. Seperti apa yang digambarkan oleh Mas Islamiyanto di Mocopat Syafaat “KiaiKanjeng itu ibarat pemerolehan santan kelapa. Bila sang pemilik inginkan kelapa, tidak mungkin diambil kemudian dibopong turun, pasti dijatuhkan. Kelapa yang jatuh cara pengambilannya pun pasti mnggunakan ujung sabit. Kemudian sampai proses pemarutan, peras santan hingga mendapatkan santannya. Santan tersebut sudah siap digunakan bahan kolak pisang. Sampai kolak pisangpun jadi. Mengapa penamaan pada kolak tersebut bukan kolak santan melainkan kolak pisang?” Bagaikan santan, begitulah wujud keikhlasan KiaiKanjeng selama ini.

Bentuk keikhlasan yang diwujudkan pada sebuah pelayanan kepada masyarakat kecil. Pelayanan dalam arti berbagi kebahagiaan. Membersamai dalam Sinau Bareng demi pemerolehan nilai-nilai hidup yang harmoni.

Trenggalek, 28 Januari 2020

Andrik Waluyo

Simpul SEGI WILASA AGUNG, Tulungagung