Selangkah Lebih Maju dari Ikhlas-Tidak Ikhlas

Catatan Maiyahan Juguran Syafaat Edisi Februari 2020

Kampal-Kumpul Mencari Apa?

Hari masih pagi, Jumat 14 Februari pukul 08.27 waktu Banyumas dan sekitarnya. Hirdan memulai percakapan Whatsapp Application Group, “Pagiii gaesss… Nanti malam Juguran Syafaat…”.

Hirdan merupakan Penggiat Maiyah yang usianya paling muda. Aliran darah muda mendorong keberaniannya untuk mengambil inisiatif mengobarkan semangat teman-temannya agar bangkit dan bahu-membahu mempersiapkan agenda bulanan Simpul Maiyah di Banyumas Raya. Narkim, rekan penggiat yang ahli Pewayangan, memberinya julukan “Hirdan Parikesit”.

Aksi berbalas pesan pagi itu berlanjut panjang laksana teks dialog naskah drama. Saling cek dan ricek. Koordinasi sana-sini. Update kesiapan minuman kopi, termos pemanas, karpet, sound system, sampai dengan kesiapan mobil pengangkut.

Semua persiapan boleh dibilang lancar jaya meski sebagian penggiat diliputi perasaan cemas. Juguran Syafaat edisi ke-83 tidak digelar di akhir pekan seperti biasanya, tapi dimajukan sehari karena alasan non teknis.

Selepas Isya, rasa cemas pergeseran jadwal berefek pada ketidakhadiran jamaah mulai pupus. Berangsur pelan Jamaah Maiyah mendatangi balai pendopo Wakil Bupati Banyumas, njugur lesehan di Jumat malam. Musim hujan dan perubahan jadwal ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap antusiasme jamaah.

Dari informasi yang kami terima, hanya Ikhda yang teledor membaca publikasi pergeseran jadwal. Guru muda sebuah Madrasah Ibtidaiyah yang sering mensedekahkan alunan vokalnya di Juguran Syafaat ini tidak mencermati kolom tanggal acara yang tertera di poster. Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Ikhda Nurul Khasanah kudu rela kehilangan malam bertabur cinta.

Terkait kehadiran jamaah, ada sedikit cerita menarik dari Hamzah. Demi malam juguran, pria asal Sokaraja tersebut sejak sore hari sudah harus momong anak balitanya keliling blusukan kampung. Taktik ini diterapkan supaya anaknya lelah dan bisa cepat tidur pulas di malam hari, lantas dirinya bisa leluasa pergi ke forum juguran dengan hati tenang. Taktik cerdik, mungkin layak ditiru bagi anda yang punya balita.

Lha, memangnya kampal-kumpul Maiyahan mau mencari apa atau siapa? Mengutip baris pertanyaan Hilmy Nugraha dalam tulisannya di Caknun.com bulan kemarin.

Bersama-sama mencari kegembiraan dan mencari ilmu kehidupan. Hidup hanya sekali, sesudah itu mati. Hidup harus dijalani dengan gembira dan ikhlas biar bernilai ibadah. Mas Anung “Lodse” Sumargo yang malam itu menebar atmosfir kegembiraan melalui nyanyian reggae juga salah satu bentuk laku ibadah.

Ikhlas, Menginspirasi, Aksi Kolektif, Merajuk kepada Allah

Mencari ilmu itu keharusan. Pembekalan ilmu akan menambah bobot atau kualitas ibadah yang akan dan sedang dilakoni. Harapannya adalah bisa semakin presisi dalam menempuh perjalanan “sangkan-paraning”. Perjalanan melingkar “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un” yang licin dan terjal.

Majelis ilmu Maiyah irit melontar kosa kata “benar-salah”. Maiyah lebih sering menggunakan kata “presisi”. Pijakan mana yang paling presisi dalam menghadapi sejembreng fenomena sosial yang mengemuka.

Perbincangan malam itu mengupas tema “Sedekah Prioritas”. Ada ragam pendapat dari masing-masing jamaah dan mereka semua mencari titik temu yang paling pas.

David, mahasiswa dari Unsoed, mengawali sharing session soal perilaku manusia yang cenderung kepo saat melihat orang lain memasukan uang ke dalam kotak infaq. Padahal, menurut David, infaq merupakan privasi masing-masing orang. Fahmi, dari SMU 2 Purwokerto, menegaskan ajaran moral tentang keikhlasan: jika tangan kanan memberi sesuatu kepada orang lain hendaknya tangan kiri tidak melihatnya.

Berikutnya, Dian dari Hijabers Community, menceritakan seputar akitivitas sedekah yang diposting via media sosial yang menurut pengalamannya dapat memberi inspirasi kepada masyarakat luas. Ada kalanya pelaku sedekah itu sebetulnya ikhlas, namun sengaja dipajang di media sosial biar orang lain mengiranya tidak ikhlas, tambah Jalal yang mengutip uraian Mbah Nun saat Sinau Bareng.

Saat perbincangan berkutat soal riya, pamrih, dan ikhlas, Bachtiar menyuguhi wacana sedekah dari sisi yang berbeda. Menurut pengakuannya, ngelarisi dagangan wong cilik merupakan panggilan batin yang kerap kali dilakukan dalam sedekah kesehariannya. Tapi mengingat uang sakunya pas-pasan, dengan jujur diakui, kadang terbersit pikiran balasan sedekah dari Tuhan.

Perespon terakhir, Niki dari Kalimanah, mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa diatasi lewat sedekah saja. Kemiskinan, terutama kemiskinan struktural perlu ditanggulangi dengan aksi kolektif untuk mengembalikan keberdayaan masyarakat dengan membuat kebijakan-kebijakan yang sifatnya sistemik.

Kejernihan hati dan sikap batin menjadi penting untuk meredam gejolak atau dilema ‘kepo-privasi’. Rasa ingin tahu atau kepo atas besaran infaq orang lain bisa menjadi motivasi kita dalam rangka mengikhtiari fastabiqul khoirot. Walaupun pada sisi sempit yang lain malah hati kita bisa tersundut panas.

“Aduh, deneng infaq-e enyong lewih cilik, ya! Berarti surgane enyong lewih endep kiye tah!” Ungkap moderator Kukuh Prasetiyo sambil guyonan.

Pamrih dalam bersedekah itu lumrah. Asalkan pamrih yang ditujukan kepada Tuhan. Ada koneksi batin antara manusia dengan Tuhan. Mengharap dan merajuk kepada Allah, ya nggak apa-apa. Pancen nyatane Allah Maha Kaya. Lagian ke mana lagi harus mengadu selain kepada Allah?

Yang berbahaya adalah pamrih kepada rumus hitung-hitungan sedekah. Rumusan lipat ganda bilangan sedekah. Karena rumusan ini hanya penafsiran buatan manusia saja. Begitu, seperti disampaikan Rizky yang menjadi tandem Kukuh malam hari itu di dalam ber-cas-cis-cus.

Mengejar Akhirat, Dunia Mengikuti

Himpitan ekonomi dan beban hidup merupakan kondisi rentan yang dapat mengikis nalar sehat. Oleh karenanya wajar jika sebagian masyarakat tergelincir pada konsep sedekah yang transaksional. Mereka juga kepengin hidup berkecukupan. Dan yang sudah cukup, terobsesi nambah kekayaannya lagi. Demi amannya hidup.

Mungkin di dunia ini hanya Abdurrahman bin Auf yang memiliki tekad hidup melarat. Kisah manusia langka sahabat nabi ini diceritakan oleh Mas Agus Sukoco yang malam itu berjibaku “rebutan” mic dengan Pak Titut Cowongsewu. Alkisah, Auf merasa resah setelah dirinya mengetahui hizab orang kaya lebih berat ketimbang orang miskin. Lalu, dengan segala cara, seluruh harta kekayaanya dihabiskan supaya kelak di akherat tanggungg jawabnya enteng.

Kesempatan emas untuk hidup melarat datang menghampiri saat ia menjumpai kurma-kurma busuk di sebuah pasar. Dengan percaya diri, Auf memborong seluruh kurma busuk di seantero pasar. Ia puas dan bahagia sampai kemudian datang seorang utusan Raja Yaman yang berniat membeli seluruh kurma busuk yang dimilikinya dengan harga berpuluh kali lipat. Auf tak bisa mengelak, karena kurma busuk itu akan digunakan sebagai obat wabah penyakit yang tengah menjangkiti negeri Yaman.

Dalam satu fakta, ada sejuta makna. Peristiwa yang dialami Abdurrahman bin Auf bisa kita ambil pelajaran dan hikmah. Sosok Auf bisa jadi adalah representasi ajaran moral agama yang berbunyi : “kejarlah akherat maka dunia akan mengikuti”.

Di sisi yang sekuler, jika mengejar dunia mungkin kita berhasil meraih dunia dan mungkin gagal, tapi yang pasti akhiratnya mental.

“Urip pada nguber-uber ndunya bae. Mikiri ndunya bae. Kuwe sing merekna wong jaman siki pada gampang konslet. Mobile tah iya Pajero, jebule panas njaba-njero…. Numpake mobil mewah. Becere maring Mall, entonge limangatus ewu. Mbarang bayar parkir limangewu perak, ngerasa eman-eman…. Jijeih pisan. Bakhil…!”, begitu nasehat Pak Titut yang dengan segenap daya ganggu visual penampilannya terlampau sulit untuk dijabarkan melalui aksara.

Yang jelas, apalah artinya Juguran Syafaat tanpa kehadiran Pak Titut.

Tulung keproki, keproki, keproki…!

Perlunya Sistem Distribusi

Ngomong-ngomong soal sedekah, entah mengapa jamaah yang mensedekahkan argumentasi banyak banget. Dua kali lipat dari biasanya. Pun dengan nomor-nomor lagu yang disedekahkan Ki Ageng Juguran (KAJ). Tak tanggung-tanggung pula, empat vokalis KAJ hadir menghangatkan suasana. Sebagian jamaah tentu sudah tidak asing dengan wajah Ujang dan Fadel, tapi Abah Slamet dan dik Alda masih memunculkan tanda tanya dibenak pemirsa.

Rangkaian sesi demi sesi telah dilewati. Tadarusan, tawasul, sholawatan, nyanyi-nyanyi, jual-beli argumen, ngopi, ngerokok, ngemil, dan yang sekadar duduk melamun sambil pencet-pencet HP juga boleh. Malam Sabtu yang meriah penuh warna. Surga yang tersembunyi, kata Pak Titut.

Oleh-oleh kesimpulan yang bisa menjadi bahan renungan bersama adalah mayoritas masyarakat kita itu ahli sedekah, namun populasi penduduk dengan taraf hidup kurang layak tidak serta-merta berkurang. Hal ini ditengarai lantaran kita masih sibuk dengan urusan ikhlas dan tidak ikhlas. Alih-alih berpikir maju selangkah untuk merancang sistem distribusi sedekah yang optimal. “Perlu kecermatan dan kehati-hatian, seperti effort sedekah perusahaan (CSR) yang minimal namun menuai corporate branding yang maksimal”, begitu analogi Kusworo.[Febri Patmoko/RedJS]