Gotong Royong adalah Kunci

Gotong Royong adalah kunci. Sayangnya selama ini tidak ada yang mengerjakan mensistematisasi gotong royong. Yang ada gotong royong hanya dijadikan jargon-jargon. Begitu Mas Sabrang menyampaiakan pada sebuah edisi Maiyahan di Majelis Mocopat Syafaat.

Saya sepakat dengan hal tersebut. Mensistematisasi memang bukan pekerjaan mudah, tidak pula keren. Yang keren itu teriak-teriak dengan jargon yang bagus-bagus yang indah-indah. Misalnya “Ayo Nukoni barange balane dhewek!”, sebuah jargon tentang menggotong kemajuan kemandirian bersama-sama. Akan tetapi, jargon itu tidak serta merta membuat bala alias teman kita itu menjadi maju, kalau ia tidak disentuh dengan sistematisasi misalnya melalui scale up business step. Tanpa itu, melarisi dagangan teman hanya sebuah bentuk romantisme kesetiakawanan belaka, “Ini loh saya sudah menemani teman saya membangun bisnis”.

“Menemani” itu juga ada bentuk sistematisasinya. Kalau tahapnya masih gagasan, cara menemaninya berbeda ketika tahapannya sudah uji coba jualan. Saat masih gagasan cara menemaninya adalah membantu membreakdown menjadi konsep yang realistis dikerjakan. Kalau tahapannya uji coba jualan cara menemaninya adalah dengan memberi testimoni syukur-syukur menghimpun testimoni orang. Pun begitu ketika tahapannya sudah pada tataran bisnis yang established atau lebih tinggi lagi pada posisi di mana saat itu bisnis sudah layak direplikasi.

Meskipun kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk dapat bekerja secara individual, akan tetapi siapa saja menurut saya akan sepakat bahwa kita butuh bersama satu sama lain untuk mengerjakan hidup yang bisa tumbuh dan meningkat.

Itulah kenapa berkomunitas menjadi keniscayaan. Namun begitu, di dalam komunitas misi menumbuhkan diri tidak boleh kalah oleh tuntutan solidaritas dan kesetiakawanan yang sekedar romantisme semua. Tidak boleh pula kita terjebak menerka bahwa majunya sebuah komunitas adalah ketika ia mempunyai banyak padatan-padatan, bendera-bendera dan kesibukan-kesibukan yang makin banyak.

Majunya sebuah komunitas adalah ketika sistem-sistem dibentuk bertahap dan meningkat hingga akhirnya tercipta iklim yang kondusif untuk masing-masing menumbuhkan diri. Iklim kondusif pada tataran awal misalnya terlihat di mana anggota komunitas memiliki keleluasaan untuk uji coba hal baru. Pada tataran lebih lanjut adalah ketika hasil eksperimentasinya itu bisa mendapatkan bentuk-bentuk dukungan yang relevan sesuai apa yang benar-benar ia butuhkan.

Di sinilah paradigma sedekah itu melihat siapa yang sedang butuh, bukan melihat apa yang sedang ingin kita beri menjadi penting. (Rizky D. Rahmawan)