Amru Saddong: Kami Menerima Cak Nun Tidak Sebagai Orang Hebat

Cerita tentang Emha, kata Abah Amru Saddong, banyak beliau dengar dari Bang Alisjahbana. Beliau tahu bahwa orang bernama Emha Ainun Nadjib itu penulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Lalu setelah sekian lama sering menceritakan tentang orang yang bernama Emha, Bang Ali akhirnya bisa mengajak Mbah Nun datang ke Mandar. Abah Amru yang saat itu ada di antara orang-orang yang menyambut kedatangan Mbah Nun di Mandar bersikap biasa saja terhadap Mbah Nun. Baru setelah Abah Amru mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah orang yang tulisannya sering beliau baca lewat fotokopian, beliau berubah sikap. Sebab, bertemu dengan orang yang tulisannya sering beliau baca selalu memiliki kesan tersendiri. Dengan Mbah Nun, Abah Amru memiliki pengalaman itu.

Selama dua malam, kami—rombongan Rihlah ke Mandar—sering bertemu beliau di beranda rumah Pak Abu Bakar.  Jumat malam, 22 November 2019, setelah dijamu makan malam di rumah salah satu penggiat Papperandang Ate, kami bercakap-cakap dengan beliau tentang pengalaman beliau bergaul dengan Mbah Nun. Kata Abah Amru Saddong,”kami menerima Cak Nun tidak sebagai orang hebat atau orang terkenal.”

Saat itu Abah Amru hanya tahun bahwa Mbah Nun adalah penulis cerpen, puisi, dan naskah drama. Sama sekali beliau tidak tahu kalau Mbah Nun orang hebat dan namanya diketahui banyak orang. Kehebatan Mbah Nun baru Abah Amru dan teman-temannya ketahui setelah berhari-hari bergaul dengan Mbah Nun. Selama bergaul itu Mbah Nun meladeni anak-anak anggota Teater Flamboyant diskusi banyak hal sampai larut malam.

Pengalaman tidak terlupakan bersama Mbah Nun, kenang Abah Amru, tentang putrinya bernama Munira. Sebab, bersama Munira ada dua kedatangan Mbah Nun yang dikenang Abah Amru. Pertama, kedatangan Mbah Nun pada 1995. Saat itu, kedatangan Mbah Nun di Mandar berbarengan dengan kelahiran putrinya Abah Amru. Abah Amru memberi nama putrinya Munira. Bayi yang masih mungil itu kemudian diperlihatkan ke Mbah Nun.

”Siapa namanya, Mru?” tanya Mbah Nun.

”Munira, Cak.” Jawab Abah Amru.

Abah Amru menyilakan Mbah Nun memberi nama bayi itu dan bersedia mengganti namanya jika Mbah Nun yang meminta. Tetapi Mbah Nun mengatakan tidak perlu mengganti nama, sebab nama ”Munira” sudah bagus. Mbah Nun lalu menggendong bayi itu dan berkata:

”Mru, ini anakmu punya hubungan emosional dengan saya.”

Abah Amru tentu senang mendengar pernyataan itu. Tetapi keadaan suka berubah menjadi duka, ketika 16 tahun kemudian pada 2011, Mbah Nun dan rombongan ”Safinatun Najah” datang ke Mandar. Saat itu pula Munira secara tidak diduga meninggal karena kecelakaan. Mbah Nun yang mengetahui kabar duka itu turut melayat ke rumah Abah Amru. Dua kedatangan Mbah Nun itu dikenang Abah Amru sebagai kedatangan yang menyambut kelahiran Munira dan kedatangan yang mengantarkan Munira ke tempat peristirahatan.

Cerita-cerita Mbah Nun di Mandar hampir tidak ada yang hambar. Kadang cerita itu di luar akal sehat. Kadang juga cerita begitu haru, sebagaimana yang dialami Abah Amru. Cerita haru itu teringat terus di ingatan Abah Amru. Sebab, saat itulah Mbah Nun membersamainya saat suka dan duka.  

Asal Mula Cinta

Pada 28 Oktober 2018, Abah Amru termasuk dalam rombongan 40 orang yang berangkat dari Mandar ke Samarinda. Di sana, para penggiat Papperandang Ate itu ikut guyub dalam sinau bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di pelabuhan Samarinda. Pertemuan dengan Mbah Nun di Samarinda untuk memupus rasa rindu yang sangat mendalam. Mbah Nun menyilakan rombongan dari Mandar naik ke atas panggung. Di atas panggung itu, Mbah Nun mengenalkan kepada jamaah,”Ini Amru, murid pertama saya di Mandar.” Mendengar Mbah Nun berkata seperti itu, Abah Amru justru merasa gelisah. Abah Amru membayangkan betapa beratnya menjadi murid Mbah Nun nantinya. Bahkan, kata Abah Amru, bisa diterima dan dikenal oleh Mbah Nun saja sudah cukup. Tetapi kini malah diumumkan sebagai muridnya.

Kegelisahan itu bisa kita pahami sebagai bentuk dari kerendahhatian Abah Amru. Juga secara tersirat mengkritik kami-kami yang mendaku sebagai murid atau santri Mbah Nun tetapi tidak mau meneladani laku Mbah Nun. Barangkali, bagi Mbah Nun, tingkah Abah Amru saat awal bertemu dulu masih teringat sampai kini. Menurut Bang Udin Majudin, Abah Amru ”Satu-satunya orang yang berani melawan Emha waktu awal-awal (dulu).” Abah Tammalele juga menceritakan bahwa Mbah Nun dan Abah Amru sering ”berkelahi”. Tetapi yang perlu diingat dari perkelahian itu, kata Abah Tammalele, tidak ada orang yang melukai dan dilukai. Maka dari itu, hasil dari ”pertikaian” Mbah Nun dan Abah Amru berakhir dengan kemesraan. Bahkan, kemesraan itu terjalin sampai kini.

Abah Tammalele mengatakan bahwa Abah Amru adalah orang keras tetapi tersamarkan dengan sikapnya yang tenang dan irit bicara. ”Perlawanan” yang dilakukan Abah Amru dulu terhadap Mbah Nun adalah ekspresi kekritisan anak muda yang tidak gampang memamah pendapat orang lain. Abah Amru sosok orang yang berdaulat atas pikirannya. Beliau tegas dalam berpendapat dan memegang teguh pendirian.

Saya yang di depannya malam itu juga berpikiran sama. Sorot mata Abah Amru tajam sekali. Ditambah dengan intonasi suara bicara yang berat dan pelan. Tetapi di sisi raut muka wajah yang diam itu tersembunyi kebaikan.

Abah Amru kini bekerja sebagai guru PNS di salah satu sekolah dasar di Mandar. Sebanarnya pekerjaan ini tidak pernah Abah Amru bayangkan. Sebab, saat dulu Abah Amru menerima surat pekerjaan sebagai guru, Abah Amru menanyakan pekerjaannya kepada Mbah Nun. Lalu, Mbah Nun menyarankan agar Abah Amru jangan meninggalkan pekerjaan itu dan tetap melanjutkannya. Atas saran itu, kini Abah Amru menjadi orang—yang dalam bahasa Jawa—digugu dan ditiru alias guru.

Itulah yang membuat Abah Amru paham bahwa Mbah Nun menerima anak-anak Teater Flamboyant apa adanya. Sama sekali tidak memandang remeh. Dari itu sikap itulah timbul cinta antara Abah Amru dengan Mbah Nun, begitu juga sebaliknya. (M. Yunan Setiawan)