Targetphobia

Apa alasan orang sehingga ia takut membuat target? Alasannya adalah karena gagal itu tidak enak. Ketika sebuah goal sudah dibuat lengkap dengan rincian targetnya, lalu target itu tidak terpenuhi, aduh sakit rasanya.

Memang, gagal itu menyakitkan, walaupun motivator bilang bahwa gagal hanyalah sukses yang tertunda. Tertunda entah sampai kapan, tak ada informasi yang jelas seberapa lama masa tunggunya.

Kalau saya pergi ke toko buku, saya paling senang berada berlama-lama di rak buku biografi. Forum yang paling banyak saya konsumsi semasa kuliah dulu adalah forum-forum inspirasi sukses. Menyenangkan mendengar kisah perjalanan seseorang yang sudah mencapai sukses. Kesamaan cerita yang didapat adalah mereka mencapai sukses tidak terjadi seketika, tetapi melalui perjalanan yang panjang, berliku dan penuh cerita jatuh bangun.

Enak sekali kalau di seseorang sudah di panggung talkshow, tugasnya tinggal menertawakan kegagalan dirinya di masa lalu. Enteng saja hal itu dilakukan, sebab memang semua itu sudah berlalu. Itulah hak bagi seorang yang sudah mencapai sukses.

Saya kemudian membayangkan, andai saya adalah bagian dari orang-orang yang berada di sekeliling mereka sewaktu mereka belum sukses, sewaktu masih menghadapi kegagalan demi kegagalan yang tidak jelas hingga kapan batas waktunya, kira-kira apakah peran saya pada saat itu? Apakah saya berperan menjadi motivator mencerami dengan fatwa-fatwa ‘sukses yang tertunda’ dan semacamnya. Atau justru saya berperan ikut di dalam barisan pasukan pencibir?

Daya pandang saya tak ubahnya seperti mainstream zaman, yang memandang sukses dan gagal seperti dua sisi dari uang koin. Sukses dan gagal melekat pada identitas, tidak pada prosesnya. Dengan cara pandang itu, maka proses ulat menjadi kepompong itu tidak ada determinasinya. Orang-orang yang baru pra-sukses meski ia memiliki segenap kesungguhan, akumulasi pengetahuan,kegigihan experimental learning-nya dan kecakapan kuda-kudanya tidak dilirik bagaimana penumbuhan diri mereka. Pokoknya kalau belum jadi kupu-kupu, maka tetap abai saja pandangan kita terhadapnya.[] Rizky D. Rahmawan