Tak Perlu Ngotot Mempertahankan Cara-Cara Lama

World become flat. Kesempatan kini lebih terbuka bagi siapa saja, tidak lagi bagi pucuk-pucuk piramida. INKLUSIF! Feodalisme di seluruh bidang sedang memproses keluluhannya, bukan oleh revolusi sosial, melainkan oleh evolusi zaman. Seminar, workshop, symposium, diseminasi karya ilmiah, rapat-rapat di hotel berbintang bobot hasilnya kini bisa dicapai setara dengan sekedar duduk-duduk njugur di bangku angkringan.

Eksibisi di alun-alun kota hingga di gedung pameran super-mahal perlahan harus dicoret dari rencana anggaran belanja pemerintahan, sebab Google MyBusiness dan berupa-rupa platform yang menunjang kini hadir dengan membanjir untuk menawarkan mekanisme eksibisi produk dan jasa yang super-efisien.

Badan Nasional Standardisasi Profesi akan semakin padat tugasnya ke depan ditengah makin berjubelnya para graduated yang mutunya hanya tepat pada batas garis rata-rata. Profesi tidak lagi berbanding lurus dengan kepemilikan ijazah oleh seseorang. Pun demikian sama halnya dengan tahap perjalanan menjadi seorang artis, tak lagi sepanjang yang ditempuh artis papan atas 1-2 dekade yang lalu. Kini dengan membuat Youtube Channel, kemudian mau untuk sedikit belajar videografi dan social network analysys, maka viral-pun menjadi lift pengerek seseorang untuk menjadi super-populer.

Ini bukan perubahan sosial semata. Bukan juga perubahan gaya hidup. Tetapi memang perubahan yang sangat jauh lebih besar lagi. Yakni sebuah perubahan tata nilai yang berlangsung universal, serempak dari langit ke-1 bersumber dari langit ke-7. Itu bagi mereka yang meyakininya. Sedangkan bagi yang tidak meyakini, setidaknya mulai berfikir ulang ketika masih keukeuh untuk mempertahankan cara-cara lama, sedangkan zaman baru telah tiba.

Di zaman yang baru, berekonomi tidak harus memenangkan kompetisi, tidak pula harus melibas siapapun. Berupayalah untuk efisien dan menjadi yang mudah ditemukan, maka orang-orang pun akan datang dan membeli kepada kita. Di zaman yang baru, podium tidak lagi mengemis narasumber. Siapapun diantara mereka adalah narasumber satu bagi lainnya. Berbagi perspektif atas sebuah fenomena yang dihadapi, disitulah kita akan menemukan resultan ilmu.

Pun begitu di dalam bersosial. Sosial bukanlah sebuah “isme” sebagaimana yang Barat bisik-bisikkan kepada kita selama ini. Hiduplah dengan selalubertumbuh, maka dengan sendirinya sekeliling kitapun akan menjadi terayomi. Kecuali memang yang kita butuhkan adalah pengakuan-pengakuan, bahwa “Ini loh saya orang yang nyosial!.”

Perubahan ini entah level zaman, atau kurun, atau dekade. Kita memantik-mantik saja sembari terus mensinkronisasi diri dengan geraknya. Biarkan alam semesta mengerjakan tugasnya.[] Rizky D. Rahmawan