Stamina Mendengarkan

Di rezim ini, ada aturan bahwa pidato pejabat dibatasi untuk tidak lebih dari 7 menit. Ini berlaku di acara peresmian, sambutan seminar, dll. Masuk di akal, sebuah acara bisa saja disambut oleh tiga, empat hingga lima pejabat, kalau tidak diberi batasan waktu bayangkan betapa borosnya durasi habis di sesi sambutan.

Batasan tujuh menit ini setara dengan setengah dari durasi rata-rata maksimal bagi seseorang mampu berkonsentrasi, yakni 15 menit. Sebuah topik yang diulas lebih panjang dari durasi itu, potensi terbesarnya adalah: ambyar.

Namun teorema durasi seperti itu nampaknya tidak berlaku dikala orang-orang sedang duduk melingkar mengikuti Maiyahan. Sama seperti tidak berlakunya rumus umum yang mengatakan tidur yang sehat harus sepetiga hari alias 8 jam, yang dilanggar habis-habisan oleh Jamaah Maiyah yang tetap segar walau tidur hanya 2-3 jam. Beberapa bahkan kuat lebih dari sehari tidak tidur. Ampuh.

Berjam-jam orang datang duduk melingkar di Juguran Syafaat, setia mendengarkan untuk menyimak, tidak ada nafsu untuk berbicara dan didengarkan. Meski tak haram untuk ikut berpartisipasi bicara, sebab ini adalah forum diskusi bukan majelis orasi.

Meski rumus batas durasi maksimal kemampuan konsentrasi tidak berlaku di Maiyahan, tetapi tetap saja sebagai tuan rumah yang baik, penyelenggara acara mestilah tetap menyuguhkan unggah-ungguh yang baik. Pengaturan selang-seling pembicara, bridging musik, puisi atau teater kecil-kecilan tetap dihunjukkan.

Ada moment dimana bridging ditabrak, atau yang sedang berbicara lupa berselang-seling durasi. Tetapi tatapan mata dan sikap duduk antusias tidak bergeming. Maka, saya tidak setuju kalau disebut orang duduk melingkar Maiyahan itu mencari yang santai-santai. Tidak, orang-orang yang datang justru sangat serius, sangat sungguh-sungguh.

Kesungguhan tidak selalu berwujud pada perolehan materi dari hasil transfer kognisi. Tetapi bagaimana satu sama lain sungguh-sungguh melibatkan diri di dalam konektivitas lingkaran, dalam rangka masing-masing menstimulasi insight di dalam batinnya untuk menikmati pemahaman dan permenungan baru yang bermanfaat bagi hidupnya.

Itulah kenapa kesimpulan di akhir acara mejadi tidak penting-penting amat. Sebab lebih penting yang terjadi adalah masing-masing memformulasi dan menyimpulkan sendiri sesuai konteks masalah dan kahanan hidup yang sedang dialami.[] Rizky D. Rahmawan