Mukadimah: KRISIS KEJUTAN

Mukadimah Juguran Syafaat edisi Mei 2019

Konon, hidup adalah sebuah peristiwa mutakhir. Asal-muasal penciptaan kehidupan menjadi obyek penelitian yang terus berkepanjangan dan berbiaya mahal dari para filsuf hingga para scientist dari berbagai belahan dunia. Baik kelompok yang mengakui eksistensi Ilahi maupun yang meniadakannya sama-sama belum bisa memecahkan dengan tuntas apa maksud sebenarnya dari diadakannya peristiwa bernama: kehidupan.

Begitu menakjubkannya jika hal itu tersingkap. Baru mengerti tentang atom-atom dan galaksi-galaksi saja, tidak ada yang tidak takjub. Lantas, apakah kita manusia merupakan bagian dari hal yang menakjubkan itu? Kok hidup ya terasa begini-begini, datar-datar saja. Mengharapkan perubahan nasib diri saja seolah-olah lebih kecil peluangnya ketimbang memenangkan undian berhadiah. Mengharapkan min haitsu la yahtasib pun hanya dengan keberanian pengharapan tidak lebih dari 0,00003 persen untuk terwujud. Duh, beratnya memenuhi kualifikasi menjadi orang yang beriman.  

Nasib manusia sebagai peradaban juga tidak berbeda jauh, tidak ada pencapaian yang menakjubkan dari konsesi-konsesi yang dibuat baik sebagai umat manusia sedunia, sebagai satu bangsa hingga sebagai satu RT. Dua dekade sudah berlalu dari peristiwa krisis qubro yang melahirkan cita-cita reformasi. Dan hingga hari ini reformasi tetap saja masih menjadi cita-cita. Meskipun sebagian mensyukuri apa yang sudah kita raih hari ini sebagai bangsa, tetapi banyak lainnya masih berpandangan sebaliknya.

Lepas dari bagian yang memandang pembangunan sudah berhasil atau belum. Setidaknya satu hal yang bisa kita syukuri bersama-sama adalah Bangsa kita masih terus tumbuh kecerdasan kolektifnya.  Sehingga kalau ingin membenturkan diantara kita, harus membuat upaya yang lebih keras dibanding tahun-tahun yang lalu. Kalau hendak membuat pengalihan isu, mesti mencari cara yang lebih jitu. Hari ini mungkin kita krisis dari kejutan-kejutan, akibat begitu tingginya ekspektasi kita atas hadirnya perubahan. Namun, syukurilah sebab kita tidak krisis dari diturunkannya anugerah Ilahi berupa pertumbuhan collective consiusness.