Mukadimah: EKONOMI SIMETRIS

Mukadimah Juguran Syafaat Oktober 2019

Naluri dasar orang hidup adalah survive. Bertahan hidup, menyelamatkan diri. Hari ini, timpangnya ekonomi sudah miring bukan kepalang, memprihatinkan. Karenanya wajar apabila hari ini banyak terpotret pemandangan disekeliling kita, orang mengerjakan pengupayaan ekonomi walau hasilnya tidak cukup tetapi tetap dikerjakan. Mengapa? Sebab setidaknya ia sedang memenuhi dorongan naluri bertahan hidup.

Orang yang dorongan nalurinya terpenuhi, ia lebih bisa berpikir lebih luas dan lebih ke depan. Lagi, orang yang nalurinya terpenuhi akan terhindar dari kecemasan-kecemasan. Ia bergembira. 

Orang yang bergembira seperti demikian itu, selanjutnya ia akan tergerak untuk membuat orang lain gembira pula. Sekedar senyum pun ia simetris. Motivasinya tidak lain adalah menggembirakan orang lain. Senyum seperti itu menjadi bernilai sedekah. Orang yang seperti demikian itu akan semakin merasa gembira ketika ia kemudian memberi bersedekah lebih banyak. Berawal dari senyuman yang simetris meningkat hingga membuat kegiatan sosial, aksi filantropis bahkan sampai mewakafkan hidup untuk sesama. 

Sampai di sini kita mengerti, tugas mengerjakan misi-misi sosial bukanlah tugas bagi orang yang naluri survive pada dirinya belum teratasi. Lantas selanjutnya, cek di diri masing-masing, kita hari ini yang masih anti-sosial, sebabnya adalah persoalan survive hidup yang belum teratasi atau ada sebab lain berupa kecemasan-kecemasan yang tidak naluriah alias dibuat-buat?