Kekhawatiran Yang Memecah Perhatian

Catatan Juguran Syafaat edisi ke-73, April 2019

Minggu dini hari. Badanku terasa letih, tapi sepasang bola mata ini tak kunjung mau terpejam. Arloji ponsel menunjukkan jam tiga lebih tigapuluh menit ketika sayup-sayup terdengar percakapan enam mata di luar kamar. Obrolan nampak gayeng dan serius.

“Untuk penggadaan buletin dan penjilidan blocknote siang tadi, aku harus keluar-masuk fotokopian, nyari yang agak sepi biar langsung digarap”. Ucap Hirdan, memecah kesunyian di hening malam di sebuah komplek perumahan yang menjadi tempat berkumpul penggiat Maiyah Banyumas dan Purbalingga itu.

Lho, bisane?” Solih menyahut.

“Perasaanku gugup, nggak seperti biasanya” jawab Hirdan dengan suara datar.

Lantas seseorang menimpali, “Mangsude anu kepriwe kuwe, Dan?” Pemilik suara itu sepertinya Okka. Khas dengan logat medoknya.

“Jadi begini”, Hirdan mulai menjelaskan duduk permasalahan secara runut, terukur, dan sistematis.

“Siang tadi, saya merasa perlengkapan acara Juguran Syafaat harus cepat-cepat saya antar sebab sudah di tunggu kawan-kawan di lokasi acara. Saya juga khawatir si Rohman kelamaan menunggu mobil yang sedang saya bawa, sebab Rohman sudah standby sedari tadi di tempat load in ubarampe alias equipment  kegiatan”.

“Hehehe…”, Solih hanya merespon hirdan dengan tertawa cekikikan.

“Berarti kamu gagal menjalankan manajemen perhatian, Brox. Urusan buletin dan blocknote menjadi beban kerja yang terasa begitu berat akibat terlalu perhatian pada Ifa ‘Viral Damage’ dkk yang justru sedang tertidur pulas di lokasi acara usai men-display puluhan poster pameran ‘6 Tahun Juguran Syafaat’. Dan si Rohman juga sedang selonjor leyeh-leyeh di samping uborampe sembari bermain gadget.”, Tukas Solih.

“Iya, itu benar sekali. Padahal hari juga masih terlalu siang untuk prepare acara. Toh biasanya seting tempat acara baru dimulai jam empat sore”, Hirdan nampak sangat menghayati proses-proses yang baru dilakoninya hari itu.

Sabtu 13 April 2019, Juguran Syafaat memasang pathok untuk topik obrolan: “Manajemen Perhatian”. Kiranya tak perlu disangkal, ini adalah tema yang sangat “seksi”. Betapa derap langkah kita dalam menyusuri jalan ‘vertikal’ dan jalan ‘horisontal’ tak akan selalu lempeng laiknya laju mobil di jalan tol. Ada banyak detail-detail peristiwa yang siap menyapa manusia di setiap etape perjalanan hidup yang menuntut kita untuk lihai mengelola perhatian. Kacau mengelola perhatian, gagal finish resikonya.

Poster Juguran Syafaat bulan ini bergambar dua ekor burung dalam sangkar yang tergantung di plafon samping rumah. Cerdik sekali pembuat posternya, Hilmy dalam menarik perhatian mata kita. Burung, iya burung. Ngomongin burung selalu saja membuat kita mengulum senyum, karena kosa kata ini bermakna ambigu. Burung dalam artian ‘ini’ ataukah burung dalam arti ‘itu’. Meminjam istilah Titut Edi Purwanto, poster ini memiliki ‘daya ganggu’ yang luar biasa.

Selama enam tahun penyelenggaraan Juguran Syafaat, tema dan poster pada tiap edisinya memang dirancang menjadi ‘daya ganggu’ untuk memantik nalar berpikir para penggiat Maiyah. Meskipun kemudian bukan sesuatu yang terlarang, seandainya lalu lintas obrolan Juguran keluar dari topik yang telah ditetapkan.

Maiyah adalah forum bebas, bukan forum terbatas. Maiyah adalah forum dialog, bukan monolog. Siapapun boleh menumpahkan uneg-uneg dan kegelisahan. “Jangan terbiasa memendam permasalahan, mbok nantinya malah dituduh sedang menimbun harta karun”, begitu kata Agung Totman.

Malam hari itu, Arif penggiat Maiyah dari Sumpiuh, menyampaikan sedikit kegelisahannya terkait bagaimana caranya menjalin kemesraan dengan Tuhan berdasar cinta yang tulus (mahabbah). Kemesraan yang bukan berbasis pencitraan, iming-iming surga (roja’), dan bukan pula karena ancaman panas api neraka (khauf).

Saya rasa, kegelisahan yang diungkapkan Arif adalah kegelisahan kita semua, kegelisahan anak muda yang rindu dengan keberagamaan sejati.Agus Sukoco tertegun sesaat usai mendengar curhat spiritual Arif, sejurus kemudian mematikan rokok kreteknya dengan menekan ke dasar asbak, lantas beliau memegang mic.

“Memikirkan tentang hakekat Tuhan dan menjalin komunikasi yang intim dengan-Nya adalah pembahasan mengawang-awang, ini wilayah pelajaran Tauhid. Mungkin ini wacana yang kurang menarik bagi manusia zaman modern. Mendingan berpikir tentang bagaimana caranya agar hidup kita bisa kaya raya.”Sentilan pada kalimat terakhir dari Mas Agus, memaksa para penggiat Maiyah yang hadir kala itu nyengeges.

Tak kenal maka tak sayang. Bagaimana kita bisa bersikap sayang, cinta, dan mesra jika kita sendiri tak mengenal siapa Dia. Tuhan hanya bisa kita kenali dengan melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Ruang, waktu, tangis, tawa, gelap malam, jingga sore hari itu bagian dari makhluk Tuhan yang sering kali terasa asing dalam nalar berpikir kita. Semenjak kecil kita lebih diakrabi oleh gunung, laut, petir, hujan sebagai manifestasi kebesaran Tuhan.

Melalui pengalaman hidup keseharian yang membekas di hati, Mas Agus berkisah bagaimana dirinya menemukan Tuhan saat hendak buang hajat.

Bermula dari rasa lelah tubuh usai bekerja, beliau langsung istirahat dan tidur pulas, melewatkan rutinitas biologis makan sore. Tapi alarm rasa lapar mengusik dirinya dari lelap malam, terbangun dan bergegas menuju meja makan. Sial menimpa, malang tak bisa ditolak. Sebagai perokok aktif, ritual bakar tembakau adalah kebutuhan wajib usai santap nasi. Apa daya, rokoknya habis. Yang dilakukannya hanya bisa pasrah sambil menahan rasa kecut.

Panggilan alam kemudian membimbingnya ke kamar belakang : buang hajat. Baru beberapa langkah menuju kamar kecil di halaman belakang rumah, nampak sekelebat bayangan seraut wajah tetangga dengan sebatang rokok terselip di bibir. Rencana “semedi” urung dilakukan, basa-basi khas orang desa membawanya berbincang empat mata, lebih dari sekedar bertegur-sapa, malah sekalian berbagi rokok. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Pucuk dicinta ulam pun tiba, Mas Agus akhirnya secara ajaib bisa melampiaskan rasa rindunya pada sensasi gurih-pedas cengkih yang terbakar, “Ni’matul udud ba’da dhahar“.

“Jadi kesimpulannya, ada momentum yang tercipta antara saya yang sedang kebelet buang hajat dengan seorang tetangga yang kebetulan lewat di dekat rumah saya”, jelas Agus Sukoco.

“Andai kaki saya terlalu cepat, atau terlalu lambat sepersekian detik saja saat melangkah ke kamar kecil, tentu peristiwa bersejarah itu mustahil terjadi. Kuwe mengko-mengkone mesti selisiban.” Tandas Agus Sukoco berapi-api.

“Pertanyaannya : siapakah aktor di belakang layar yang sanggup mendesain peristiwa dramatis semacam itu selain tangan-tangan tak kelihatan (The Invisible Hands)?” Lanjutnya.

Audiens terdiam, mengernyitkan dahi. Tak ada suara. Semua larut terbang ke angkasa, berimajinasi tentang eksistensi Tuhan.

Selepas menyusuri wacana ke-Tuhan-an yang meliuk-liuk dan menjulang tinggi bak tanjakan Baturaden, audiens yang duduk melingkar khidmat dikejutkan oleh Sugeng Barkop yang mondar-mandir sambil menenteng tumpeng slametan dan termos jumbo berisi nasi kuning hasil olahan dapur Puput Rusian.

April bulan ini menggenapi usia komunitas Juguran Syafaat yang ke-6 tahun. Usia yang relatif belia jika kita hanya menilik angka enam, padahal di balik angka enam telah tersimpan file 73 edisi perhelatan Juguran Syafaat. Kerja-kerja pengorganisiran komunitas yang cukup panjang dengan memori suka-duka pastinya.

Rentang masa enam tahun Juguran Syafaat telah menorehkan banyak jejak sejarah, salah satu jejak sejarah itu adalah Alm. Hardi Pambudi, penggiat Maiyah asal desa Pekunden yang pada bulan Maret lalu dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Pak Hardi, begitu nama akrabnya, merupakan salah satu narasumber handal yang turut mewarnai khazanah dan dinamika keilmuan di internal komunitas Juguran Syafaat. Untuk mengenang dan mengharap kebahagiaan Alm. Pak Hardi di alam barzakh, seluruh jamaah membaca surat Al Fatihah dan memanjatkan doa yang dipimpin oleh Luqman Hakim.

Nuansa mewah yang sederhana pada syukuran “6 Tahun Juguran Syafaat” tak luput atas andil “Ampas Kopi”, kelompok musik dari Teater Didik, IAIN Purwokerto. Anak-anak muda kreatif (Sufi Maksum alias Burik, Fafa Mushafa, dan Citra Novita) ini menghibur sekaligus membuka mata kita untuk selalu peduli pada lingkungan lewat lagu-lagu bertema kritik sosial, yaitu “Tanda Tanya”, “Proyek Sialan” dan “Dendang Melawan” yang dinyanyikan pada sesi awal sebagai pemanasan sesi Juguran.

Di penghujung acara, alunan bait-bait spiritual lagu Kidung Wahyu Kolosebo yang dilantunkan Agung Totman feat KAJ mengiringi proses pengendapan bulir-bulir ilmu yang menyelusup masuk menembus pori-pori di ubun-ubun kepala seluruh jamaah. [] Febri Patmoko/RedJS