Imsak Informasi

Overdosis informasi kian mewabah. Mentang-mentang informasi adalah barang gratis—yang bayar paket datanya, lantas orang-orang tak bisa menakar pada dosis seberapa yang paling tepat informasi harus diasup. Pada batas mana saya harus mengabaikan sebuah informasi. Kalau perlu bahkan menutup diri. Libur atau ambil cuti dari koneksi informasi.

Dalam kondisi seperti itu, kita mungkin butuh untuk mencanangkan sebuah bulan yakni bulan puasa informasi. Di bulan itu, yang pertama diidentifikasi adalah kapan waktu imsaknya. Informasi harus di-imsak-i ketika rak-rak di dalam ‘aql dan qulb kita yang mestinya tidak perlu diisi informasi menjadi ikut-ikutan ketumpahan informasi. Misalnya hanya 40 rak saja yang mestinya diisi informasi, jagalah agar 1,2 juta rak lainnya tidak ikut ketumpahan informasi dari internet. Karena apabila hal itu terjadi, menjadi tidak sehat adanya.

Sebab 1,2 juta rak lainnya itu, kompatibelnya dengan sistem jaringan teknologi internal, bukan teknologi eksternal macam internet yang hari ini kita dewa-dewakan itu. Teknologi internal tidak mentransmisikan informasi receh-receh semacam semangat haters dan idolatry yang lazim beredar di timeline media sosial teknologi eksternal bernama internet. Di sana juga tidak terdapat warning dan ancaman palsu, yang nampaknya baik padahal itu alat kepentingan bagi segelintir pihak.

Sistem teknologi internal di dalam diri kita mentransmisikan jenis informais yang berbeda. Paling remeh ia menginformasikan suka atau tidak sukakah citarasamu dengan buah durian, langsab atau kesemek. Atau transmisi informasi berupa seberapa kompatibel tubuhmu dengan jumlah asupan tembakau. Hingga hal-hal yang luhur terdapat dalam koneksi internal antar manusia, yakni simpati, empati hingga mawas diri.

Sehingga kita bisa sedikit memahami bahwa peta kosmik kebangsaan kita hari ini tidak sesederhana menyoal fans A dan anti B. Itu sudah selesai di hari pencoblosan. Hari ini menunjuk-nunjukkan pengidolaan sudah tidak ada efeknya. Peta yang mesti ditengarai hari ini adalah bagaimana kita bisa paham dengan daya simpati dan empati kita, mana yang sedang berbuat dhzolim dan mana yang sedang di-dhzolim-i. Mawas dari kebenaran yang ditutup-tutupi dengan sesuatu yang dipoles seolah-seolah sebagai kebenaran tandingan.

Semua itu tidak ada di internet. Maka, aktifkan koneksi internal di diri masing-masing. Syukur-syukur bangunlah hub : “Wong kang sholeh kumpulono”.[] Rizky D. Rahmawan