Generasi Gagap

Pemilihan Bupati di daerah tempat tinggal Saya di Banyumas diisi oleh incumbent vs mantan incumbent. Alias, kedua calonnya adalah wajah lama. Banyumas gagap untuk memunculkan wajah baru kepemimpinan.

Beberapa daerah lain pun demikian. Jago yang lolos menjadi Gubernur Jawa Timur misalnya, adalah Ia yang sudah maju Pileg sebanyak tiga periode. Setalah 15 tahun bersaing, akhirnya wis wayahe, Ia pun kini menjabat.

Pun sampai dengan level Pilpres, tidak ada wajah baru kepemipinan. Cawapresnya mungkin baru, tetapi dipilih dengan rasionalitas argumentasi lama. Begitulah, kita gagap menghadapi keniscayaan demokrasi di mana pemimpin harus teregenerasi, dan kita masih gagap mencipta ‘pabrik-pabrik’ pemimpin baru.

Alih-alih kita menyadari pentingnya ada ruang untuk memproduksi kader-kader pemimpin, kita malah sibuk oleh iming-iming menjadi negara maju. Dengan fundamental ekonomi yang berbeda, dengan problematika sosial dasar yang berbeda, akhirnya semua kemajuan hanya lipstik. Indikasinya diantaranya, beban pembayaran utang luar negeri yang dari tahun ke tahun terus membengkak porsinya di APBN.

Ruang kita habis untuk politik praktis. Itu bukan kesibukan kalangan elit kita? Sementara di level rakyat, tidak sedikit yang terseret euforianya. Hanya sebab terlalu banyak menonton televisi dan men-scroll timeline media sosial

Padahal, tanpa ruang-ruang regenerasi kepemimpinan. Akan ada banyak anak muda yang gagap, nervous, sebab mereka ujug-ujug dimandati peran-peran kepemimpinan. Tentu saja di berbagai level dan segmennya. Setiap hendak membuat kebaruan di suatu hal, di tempat lain sudah lebih dahulu melaksanakannya. Merasakan betapa repotnya mencipta uniqueness, sebab internet benar-benar membuat cepat sekali orang meniru.

Jadi apa sebetulnya tanda pemimpin yang berhasil itu? Gagap kita hingga tidak menemukan definisi yang lebih relevan dengan zaman. Tapi tak apa, Maiyah telah memodali setiap mereka dengan hal-hal yang prinsip dan penting adanya. Diantara modal untuk gemar mensetiai itikad baik.

Seandainya kelak 5-10 tahun lagi krisis kepemimpinan ini makin akut, kondisi gagap makin parah, generasi tua makin tidak bisa mengisi posisi-posisi strategis kepemipinan, dan seandainya bekal ilmu kepemimpinan tidak cukup, setidak-tidaknya modal kita adalah memastikan diri masing-masing menjaga itikad baik. Tidak culas batin di dalam mengemban amanat untuk seluas-luasnya maslahat. [] Rizky D. Rahmawan