Celengan Rindu dan Celengan Pengetahuan

Catatan Maiyahan Juguran Syafaat Edisi September 2019

Ada pemandangan yang tidak lazim pada Juguran Syafaat edisi 7 September 2019 lalu. Di tengah-tengah jamaah nampak sosok berbaju loreng dan seorang lagi berbaju seragam warna coklat. Ya, mereka adalah Babinsa dan Babinkamtibmas kelurahan Sokanegara, kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas. Bapak Camat, selaku pemangku wilayah kecamatan Purwokerto Timur juga tidak ketinggalan, turut srawung menyapa jamaah yang duduk melingkari forum.

Kehadiran Bapak-bapak dari Forkompimcam ini tentu menjadi bukti materil bahwa pendopo kelurahan Sokanegara yang menjadi lokasi alternatif penyelenggaraan Juguran Syafaat bisa diterima dengan tangan terbuka.

Foto: Anggi Sholih

Force majeure, begitu kiranya yang menjadi alasan Juguran Syafaat tidak diagendakan di pendopo Wakil Bupati sebagaimana rutinan bulanan seperti biasanya. Tanpa bermaksud otak-atik gathuk, faktor force majeure pula Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh berhalangan hadir pada Juguran Syafaat edisi Agustus 2019.

Beban hutang Mas Sabrang untuk datang ke Juguran Syafaat kini sudah dituntaskan. Agenda padat seorang Penghulu Ilmu, menyambangi muda-mudi penggiat Maiyah Banyumas Raya dan daerah sekitarnya, setelah pada siang harinya beliau menjadi narasumber utama dalam seminar Karang Taruna Purbalingga yang bertema Maximizing Creativity in Creativ Economy Era.

Foto: Anggi Sholih

Saya terpantik dengan istilah ‘Penghulu Ilmu’—termaktub pada Panduan Workshop Simpul-Simpul Jamaah Maiyah yang ditulis oleh Mbah Nun, sekiranya patut untuk kita simak petikan tulisan Pak Dhe Toto Rahardjo dalam sebuah tajuk yang berjudul Kesadaran Organisme Maiyah : “Untuk bekerjanya Maiyah, hampir dua tahun belakangan ini, Cak Nun memperkenalkan konsep yang diambil dari khasanah tasawuf untuk menjadi pedoman pengelolaan Maiyah: Dzat-Sifat-Isim-Jasad. Dzat melambangkan ilmu/ide/gagasan, Sifat melambangkan pengolah ilmu/ide/gagasan, Isim melambangkan pentransformasi ilmu/ide/gagasan yang sudah diolah Sifat menuju Jasad di mana Jasad akan melaksanakannya dalam praktik, implementasi, pelaksanaan, dan penciptaan.”

Seperti telah kita ketahui bersama, “Dzat” meliputi tiga guru kita : Mbah Nun, Yai Fuad, dan Syeikh Kamba. Mas Sabrang melambangkan “Sifat”. Dan, kita-kita ini yang dalam ungkapan hiperbolik Mas Agus Sukoco sebagai kaum jomblo-dhuafa-tawakal berposisi sebagai “Jasad”.

Kemudian Saya juga ingin mengutip tulisan dari Caknun.com yang berjudul “Khalifah Islam dan Khilafah Silmi”. Potongan tulisan ini sengaja saya comot agar kita tidak lupa pada tujuan Maiyah sebagai sebuah majelis ilmu, disamping tujuan dan manfaat positif yang lain, tentu saja. Kutipannya seperti berikut ini, “Karena tugas kemakhlukan manusia adalah menghimpun ilmu dan menyusun strategi, agar ia lolos kembali ke kampung halaman aslinya, yakni Kebun Surga, di mana kemerdekaan mengalir, meruang, melebar, meluas, dan manusia memegang kendali aliran itu dalam dua rentang waktu: kekekalan dan keabadian. “Tajri min tahtihal anharu kholidina fiha abada”, begitu Allah mengindikasikan pintu pengetahuan tentang Surga.”

Foto: Anggi Sholih

Saya menarik dua poin dari kutipan tulisan tersebut di atas : ilmu dan strategi. Ikhtiar menghimpun ilmu sebagai bekal menyusun strategi dalam menyusuri perjalanan penuh ranjau agar bisa pulang ke negeri akherat dengan selamat. Kita hendaknya tak pernah bosan berburu ilmu dan piawai menyusun strategi supaya tidak gampang terombang-ambing dengan realitas atau keadaan di luar diri kita. Beririsan pada tema Juguran Syafaat, penguatan pondasi keilmuan dan strategi kuda-kuda menjadi penting di tengah arus deras informasi yang membanjiri gadget kita sehari-hari.

Ruang publik (public sphere) telah beralih rupa, tak lagi sekedar wujud fisik hamparan alun-alun kota, gardu pos ronda, emperan teras balai desa, atau lincak bambu di pengkolan depan rumah Kaki Darimun. Zaman telah berganti, mengubur tradisi dan kebiasaan manusia belakang zaman. Komunikasi guyub di atas lincak Kaki Darimun sudah menjelma cuitan atau komen-komen simpang siur nan gaduh di atas touchscreen.

Foto: Anggi Sholih

Kehadiran media sosial sebagai imbas perkembangan teknologi merupakan keniscayaan. Kita sulit untuk mengelak atau bersikap skeptis dengan memilih menjadi manusia gua yang tetap keukeuh pada pola interaksi ‘face to fece’, urai Hilmy Nugraha mengantarkan sesi obrolan juguran malam itu.

Mirisnya, fenomena ‘like and share’ belakangan ini telah menumbuh-suburkan peredaran berita-berita hoax, viral hasil penelitian yang terkategori junk science atau pseudo science, serta teori-teorian ala pakar madzhab medsos-iyah yang membahas beragam persoalan Ipoleksosbudhankam yang sangat rentan menjadi polusi yang menjalari alam pikiran masyarakat, ungkap Kusworo menambahkan hantaran diskusi.

“Berbagi atau sharing itu sudah menjadi naluri manusia”, Mas Sabrang mengawali pembicaraan dengan santai.

Nafsu berbagi kisah usai mendapat hal baru dan pengalaman baru, itu lumrah. Laiknya orang yang baru belajar pencak silat, biasanya kepengin segera menjajal kemampuan olah kanuragan, adu atos. Berkebalikan dengan jiwa seorang pendekar, sungkan beradu fisik. Mengalahkan diri sendiri menjadi obsesi terbesar bagi manusia level pendekar.

Pada dasarnya otak itu tempat “sampah”. Sebenarnya, kita susah sekali mengatur otak kita sendiri. Susah mengatur apa yang kita lihat dan dengar. Maka diperlukan kemampuan memilah informasi yang sudah terlanjur masuk. Pastikan kita punya kontrol penuh pada otak kita.

“Coba, kalian jangan membayangkan sapi warna putih berkepala dua! Jangan dibayangkan!”, pinta Mas Sabrang kepada audiens.

Meski perintahnya jelas “jangan membayangkan sapi putih berkepala dua”, imajinasi tentang sapi putih berkepala dua sudah keburu menjalari “tempat sampah” kita.

Foto: Anggi Sholih

Untuk itu, lanjut Mas Sabrang, kemampuan mendaur ulang “sampah” sangat diperlukan. Kemampuan ini yang perlu kita asah. Di sosial media, biarkan orang lain berteori. Yang diperlukan adalah sikap diri untuk mengontrol dan memilah mana yang berpotensi menumbuhkan diri kita, dan mana yang tidak berpotensi menumbuhkan diri kita, karena pada intinya jika kita sudah saling menumbuhkan maka akan tercipta society yang kuat.

Berangkat dari premis awal bahwa sharing itu naluri manusia dan pada dasarnya otak itu tempat “sampah”, saya pribadi menyimpulkan agar kita tetap selow ditengah gempuran informasi yang menyerbu perangkat digital kita. Seperti dikatakan Mas Sabrang, biarkan mereka berteori di sosmed. Sewagu apa pun bobot teori yang mereka unggah via sosmed, akan lebih banyak kegaduhan yang sia-sia jika kita menghadapi secara frontal. Membalas karya dengan karya, itu sikap yang lebih elegan dan beradab.

Respon-respon dari audiens yang hadir malam itu sungguh aduhai, ini diakui sendiri oleh Mas Sabrang. “Takone podo jero-jero, iki!”, ujarnya spontan.

Tercatat, Sulistiyo dari Cilongok, menanyakan perihal pola alam sadar dan pola alam bawah sadar manusia ; Maulana Arifin dari Kebasen, menanyakan relasi manusia dengan peradaban ; Alfan dari Karanglewas, menanyakan seputar eksistensi manusia versus kehendak Tuhan ; Abimanyu dari Kalibagor, menyoal pendidikan kritis. Arif Muchlasin dari Sumpiuh, bertanya mengenai psikologi Sigmund Freud dan Gordon Allport ; Jazuli dari Purbadana curhat soal makna; dan Ahmad alias Kenthung mengungkapkan kegelisahan tentang peran sosial pemuda di tengah masyarakat.

Beruntung sekali, Anung ‘Lodse’ Sumargo yang istiqomah mengawal juguran sampai tuntas bisa meredam gejolak pikiran kita melalui alunan musik cengkét-cengkét alias reggae. Lelaki berambut gimbal asal Sokaraja itu jamming dengan Ki Ageng Juguran, mensedekahkan kemampuan bermusiknya lewat nomor-nomor lagu yang berjudul “Kembali”, “Tempe Bongkrek”, “Bebas Merdeka”, dan “Di Tepinya Sungai Serayu”.

Foto: Anggi Sholih

Demikianlah reportase singkat ini kami buat, dan bilamana memiliki cukup energi, kami akan mengulas pembahasan Mas Sabrang saat merespon pertanyaan dari Mas Kenthung dan kawan-kawan dalam artikel pendek per topik wacana.

Semoga, banyaknya lalu lintas informasi pada majelis Juguran Syafaat edisi 78 tidak mengendap seperti “Celengan Rindu”-nya Ikhda Nurul Khasanah (vokalis Pena Pagi), tapi menjadi “celengan pengetahuan” di kepala kita masing-masing yang selanjutnya mengkoneksikan seluruh dot dot informasi atau pengetahuan tersebut menjadi pola baru yang bisa memecahkan masalah kita saat ini dan di masa mendatang. Semoga! [Febri Patmoko/RedJS]