Atmosfer Bermain sambil Belajar yang Membikin Betah

Catatan Juguran Syafaat edisi ke-74, Mei 2019

Terik panas di bulan Ramadhan tidak mengurangi semangat para penggiat Maiyah dalam mempersiapkan acara Juguran Syafaat. Prepare dilakukan jam empat sore seperti biasa, mereka saling bahu-membahu dan berbagi peran.

Tidak ada yang berubah, justru nampak tambah romantis. Bukti suasana romantis itu terlihat pada saat buka puasa bersama usai men-seting tempat Maiyahan. Penuh senda gurau, ada kebersamaan yang nyata. Diselingi diskusi kecil sambil minum Es Dawet yang dibawa Fikry Anshory yang berlanjut santap nasi dengan lauk dan sop hadiah dari Puput Rusian. Suasana syahdu kemudian berpindah ke mushola kecil di belakang Pendopo Wakil Bupati untuk menunaikan shalat sunah tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Kukuh Prasetyo.

Budayawan sekaligus spiritualis asal Padamara, Purbalingga, Agus Sukoco, dalam Juguran Syafaat edisi Mei 2019 kemarin mengupas pengertian sejarah dari sisi filosofis. Menurutnya, asal kata sejarah diambil dari bahasa Arab “syajaro” yang artinya pohon. “syajaro” mengandung pengertian berupa makna dari pohon, dimana pohon memiliki kaitan satu sama lain hingga menjadi pohon tinggi menjulang yang memiliki akar, batang, ranting, daun, buah, dan lainnya.

Pohon meliputi tiga struktur bentuk yang utama : Akar, batang dan buah. Jika ditarik ke ranah filosofis, akar adalah masa silam. Batang identik dengan masa sekarang, dan buah merepresentasikan masa depan. Analisis praktisnya kemudian menjadi hipotesis bahwa ketimpangan ekonomi yang terjadi di negara ini sebagai akibat sikap alpha kita dalam memahami akar sejarah leluhur sebagai bangsa yang bercorak maritim dan agraris. Lantas, jika hari ini saja masih kehilangan orientasi, apa yang bisa diharapkan kelak di masa mendatang.

Nevi Budiyanto, salah seorang personil senior KiaiKenjeng, dalam Maiyahan di pelataran parkir Stadion Satria Purwokerto mengatakan bahwa arti penting mempelajari sejarah kebudayaan itu dapat diibaratkan melalui anak panah yang ditarik tali busur jauh ke belakang. Konsekuensinya, saat tali busur dilepas, maka mata anak panah akan melesat cepat jauh ke depan membelah angkasa. Maknanya adalah manusia yang memahami sejarah akan mampu bertindak sigap, cerdik, bijak, dan tidak gagap dalam menghadapi setiap kemungkinan. Sebaliknya, andai tali busur hanya ditarik pendek atau buta sejarah, mata anak panah hanya melintas pendek “mak crut”. Maknanya mencerminkan sosok manusia yang gumunan, bingungan, dan naif.

Banyak pelajaran berharga yang telah digoreskan oleh masa lalu untuk selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan dan kebijakan di masa kini atau mendatang. Seorang manager pemasaran akan sangat membutuhkan riwayat data- data penjualan perusahaannya sebelum membuat target dan strategi pemasaran. Sejarah bisa menjadi perangkat alarm tanda bahaya, jika itu sejarah kisah kelam. Sejarah pemikiran bisa bermanfaat sebagai pundak dan atau punggung untuk menggapai langit-langit kebenaran baru. Sejarah kebudayaan merupakan kaca spion untuk mengetahui hakekat siapa diri kita.

Rendahnya minat generasi penerus yang menekuni bidang pertanian sudah kita ketahui alasan penyebabnya, yaitu rendahnya penghasilan. Ini menjadi tugas bersama antara ulama dan umara. Saluran irigasi yang lancar, stok pupuk yang memadai dengan harga terjangkau pada musim tanam, harga gabah pasca panen yang berpihak pada kepentingan petani, penerapan teknologi pertanian, dan pengaturan kebijakan impor beras merupakan pembenahan sistemik yang menjadi domain umara.

Adapun ulama berkewajiban memberi suntikan moral dan pedoman teologis bahwa besar- kecilnya penghasilan finansial bukanlah parameter kesuksesan hidup manusia. Yang substansial adalah keberkahannya, ada atau tidaknya pertambahan nilai secara kualitatif dalam proses kehidupan kita, begitu yang dijelaskan oleh Agus Sukoco.

Sebetulnya bukan hanya kehidupan petani yang menghadapi bayangan ketakutan apakah panen padi 2 s/d 3 kali dalam setahun mampu mencukupi biaya hidup keseharian. Nasib buruh pabrik nyaris senasib-seirama. Pun dengan pejabat dan tokoh politik yang secara ekonomi kita persepsikan sangat mapan tak benar-benar tegar oleh ancaman krisis finansial rumah tangga. Sebagian politisi adakalanya tertekan oleh pertanyaan batinnya
sendiri : besok saya terpilih lagi apa tidak ya?

Melalui Surat Al Quraisy ayat 4, Allah SWT. Sudah mewanti-wanti : “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”.

Ada beban moral yang demikian berat ketika saya membuat reportase ini. Menulis tema pertanian dari sudut pandang orang yang tidak menggeluti pertanian itu bagi saya terlalu jumawa meski secara kebetulan kedua kakek saya juga seorang petani tulen. Rasanya seperti menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Beruntung sekali Juguran Syafaat memiliki dua sosok yang berani memilih jalan hidup menjadi seorang petani. Ini bisa menjadi suri tauladan sekaligus rujukan ilmu bagi teman- teman penggiat yang memiliki hasrat pada dunia pertanian.

Titut Edi Purwanto, pria berpenampilan sangar ini sangat menikmati rutinitasnya sebagai petani buah gandhul. Dari buah gandhul, dirinya berhasil menepis anggapan umum yang pesimis terhadap keamanan finansial profesi petani. Alhasil dapur tetap ngebul, berkesenian bisa jalan terus. Tidak hanya intens bersetubuh dengan alam di persawahan desa Pangebatan, Pak Titut juga aktif sebagai seorang pekerja seni lewat seni Cowongan.

Sosok yang kedua adalah Azis Cahyadi. Lelaki kalem ini adalah seorang petani udang vanamei di perairan pantai selatan Jawa. Tidak banyak yang saya ketahui dari lelaki asal Adipala, Cilacap, ini selain hari-hari sibuknya ngurusi tambak udang. Yang jelas, Mas Azis merupakan salah satu tokoh penting di dalam komunitas Juguran Syafaat Purwokerto.

Semenjak tempat Maiyahan boyongan ke tengah kota, ada perubahan yang cukup signifikan jika menilik tingkat kehadiran para penggiat. Semakin ramai. Semoga keramaian yang memberi manfaat untuk kita semua. Efek dari ramainya para penggiat membuat Sugeng Barkop sedikit kelimpungan karena harus berulang kali mengisi dua buah Water Jug (kopi dan teh, sajian khas Juguran Syafaat). Seperti yang terjadi kemarin, ia hendak menuang-ulang air panas dari pemanas elektrik ke dalam Water Jug namun serta merta dicegah oleh Rohman. Rohman menyarankan agar Sugeng membiarkan minuman kopi dan teh habis supaya Es Kelapa Muda bisa menjadi alternatif pengganti. Terbukti saran Rohman manjur sekali, Es Kelapa Muda dalam termos besar yang dibawa sukarela oleh Sugeng turut ludes. Laris manis tanjung kimpul.

Misi utama saya mendatangi Maiyahan Purwokerto, awalnya sekedar untuk menghayati dan menikmati sholawat yang dibawakan oleh kelompok musik Ki Ageng Juguran. Makin ke sini, bintang pentas yang ditampilkan bertambah semarak. Luar biasa.

Malam itu, kelompok seni calung Banyumasan unjuk kebolehannya dalam memainakan alat musik yang terbuat dari bambu. Calung artinya dicacah melung-melung, kata Agung Totman sebagai juru bicara kelompok musik calung dari desa Srowot, Kalibagor, Banyumas. Menampilkan musik calung menjadi ikhtiar untuk menghadirkan masa lalu di masa kini agar kita tidak lupa dengan akar sosial dan budaya kita, begitu kata Agung Totman.

Bermain sambil belajar bukan monopoli anak taman kanak-kanak saja. Nyatanya atmosfer semacam itulah yang membuat saya betah duduk lama-lama sampai pagi. [] Febri Patmoko/RedJS