Alamiah Mentradisikan Diskusi

Menuju meja konsumsi untuk menyeduh segelas kopi sudah menjadi kebiasaannya saat datang ke acara Maiyahan di Juguran Syafaat. Pria yang lebih sering mengenakan celana pendek ini kemudian bergeser mundur memilih duduk di sekitar tiang pojok belakang. Ruang yang lebih lega ia cari, menjadi bagian dari upaya dia untuk menyempurnakan ritual rokokan sembari menyimak jalannya diskusi.

Momen sebulan sekali ini betul-betul ia manfaatkan dengan baik untuk menghidupkan malam. Sembari menyimak jalannya diskusi, orang-orang di kiri-kanan ia sapa-sapa. Orang Jawa menyebut sebagai grapyak, untuk orang yang ringan menyapa seperti dia ini.

Tak heran, kawan-kawannya pun menjadi banyak di mana-mana. Menambah perkawanan adalah buah yang baik dari digelarnya acara Maiyahan. Suasana yang cair begitu leluasa dan tidak membuat sepaneng membuat kondusif perkawanan-perkawanan baru terbentuk.

Terlebih, setiap sehabis acara ditutup, petugas penggulung karpet seringkali harus mengalah sebab orang-orang masih berkerumun. Membentuk lingkaran kecil-kecil mereka membangun pembicaraan-pembicaraan berbagai topik.

Kala itu ketika saya berkerumun di dalam salah satu lingkaran kecil seusai acara, pria penghobi duduk di tiang pojok belakang itu pun kemudian ikut nimbrung. Kepada saya dan teman-teman yang sedang melingkar ia men-sharing-kan sudut pandangnya tentang tema pembahasan Maiyahan malam hari itu. Kemudian, satu sama lain saling menimpali. Begitu hangatnya diskusi, seolah-olah malahan Maiyahan baru dimulai.

Begitulah tradisi diskusi hidup ditengah-tengah jamaah Maiyah. Secara alamiah orang-orang dibuat aman untuk melontarkan gagasannya. Pembelaran diskusi tidak perlu melalui proses tutorial yang bertele-tele. Alamiah mengalir saja.  [] Rizky D. Rahmawan