Agar Diskusi Jangan Stuck

Jalannya diskusi tak selamanya mulus. Maklumi saja, sebab kita lahir dari proses pendidikan yang tidak mementingkan amat-amat tradisi elaborasi. Kompetisi itu lebih penting, agar bisa mendapat ranking terbaik di kelas, untuk bisa lolos passing grade masuk kuliah atau supaya bisa menandingi Dekisugi mengambil hati Sizhouka.

Komunikasi dihadapan umum yang lebih dilatihkan adalah presentation skill. Bagaimana kiat sukses menyampaikan paparan yang tanda suksesnya adalah ketika audiens tidak ada yang bertanya sesudahnya. Maka sekali lagi, maklumi saja, untuk berdiskusi kita perlu berlatih lagi supaya lebih mahir. Atau minimal tidak stuck. Berikut ini beberapa sebab proses diskusi menjadi tidak elaboratif versi Saya sendiri :

Pertama : Parade presentasi. Memang diskusi dicirii ada pembicaraan dua orang atau lebih yang dilakukan secara bergantian. Berapa banyak forum digelar justru menjadi parade presentasi. ‘Mensano incore pore sane’, pembicara pertama bicara ke sano, pembicara berikutnya ngomongnya ke sane. Moderator yang bingung diujungnya kemudian berkilah: “Kesimpulan silahkan dibuat masing-masing saja”. Padahal aslinya sendirinya bingung.

Kedua : Out of topic. Untuk orang dengan modalitas visual seperti Saya, ketika menyimak orang berbicara di samping telinga kanan orang itu selalu muncul sebuah layar hologram yang menampilan pohon topik (topic tree) pembicaraan. Ini ada kontinuasi antar topik apa tidak, percabangannya rapih atau awut-awutan, atau bahkan sebuah topik ditimpali dengan topik yang ‘Jaka Sembung bawa pit, kagak nyambung, stupit!’.

Ketiga : Playing Victim. Kalau ada dua orang berdiskusi masing-masing membawa argumentasi, itu diibaratkan satu orang membawa alpukat dan satunya susu cokelat. Tahap selanjutnya adalah mem-blender sehingga tercipta pengetahuan baru bernama jus alpukat.

Tapi jus alpukat menjadi tidak tercipta, kalau satu pihak enggan menyerahkan argumentasinya kepada forum dengan cara yang eufimistik, “Sebenarnya saya tidak setuju pendapatmu, tetapi karena Saya dipojokkan ya sudah deh, terserah!”, sambil nangis di pojokan. Itu mau nge-jus, blender sudah siap tapi malahan, “Alpukat saya busuk, enggak usah ikut diblender ya, mau saya bawa pulang lagi!”.

Sering bukan sebuah kontra-pendapat saling beradunya lebih tajam dari saling adu pedang?

Keempat : Denial alias penyangkalan. Tidak selalu bentuk sangkalannya ‘keras’. Celetukan, ‘Woi bentar lagi Jumatan Woi! Junub dulu!” apabila berakibat rentetan proses diskusi membuat jadi terhenti itu juga bukan sikap yang terpuji. Moraly itu keren, mencairkan suasana yang mungkin sedang tegang. Padahal aslinya mau ngeles.

Kelima : Washting time alias buang-buang waktu. Sadarilah partner diskusi kita, terlebih audiens itu juga punya batasan stamina berfikir. Boros menggunakan waktu bisa saja membuat hilangnya antusiasme. Terlebih kalau EO forum itu menyewa gedung yang bayarnya hitungan jam. Yang ada was-was musti bayar sewa lebih sebab kena over-charge.

Dari proses diskusi yang baik, terjadi proses elaborasi, maka lahirlah pengetahuan yang baru. Tidak melulu berupa diktat referensi baru. Minimalnya lahir cara pandang yang lebih presisi atas sebuah konteks permasalahan yang dekat dengan kita.

Apabila tanpa proses itu, hanya mengandalkan menelan mentah-mentah referensi, kita hanya akan tertinggal pada gerbong generasi post-truth yang taklid meyakini sesuatu dari informasi yang sepenggal. Padahal generasi itu sudah terputus dari sambungan lokomotif pergerakan zaman. (Rizky D. Rahmawan)